Menuju konten utama
Horizon

Dua Samurai, Dua Jalan: Kawakami Gensai Bukan Himura Kenshin

Kawakami Gensai kerap dikaitkan dengan Himura Kenshin, tetapi kisah nyata samurai era Edo itu berbeda: ia terlibat politik, mendidik, lalu dihukum mati.

Dua Samurai, Dua Jalan: Kawakami Gensai Bukan Himura Kenshin
Kawakami Gensai. wikimedia/A encontrei em um site de Ukyo-e
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Luka silang di pipi kiri, pedang bermata terbalik, dan sumpah untuk tidak membunuh lagi. Reputasinya sebagai hitokiri Battōsai terus membayangi kehidupannya, sementara luka di wajahnya menjadi pengingat bahwa jalan hidup barunya dibangun setelah kekerasan yang pernah ia lakukan.

Mantan pembunuh pada masa perang itu berusaha menebus masa lalunya dengan melindungi orang lain. Ia membawa pedang, tetapi justru menjadikan pantangan membunuh sebagai prinsip hidup.

Karakter itu melekat pada Himura Kenshin, tokoh utama Rurouni Kenshin. Kisahnya kerap dikaitkan dengan Kawakami Gensai, sosok nyata dari akhir zaman Edo yang juga dikenal sebagai pembunuh alias hitokiri.

Namun, anggapan itu terlalu sederhana. Hidup Gensai tidak mengikuti jalan Kenshin. Ia terlibat dalam pergolakan politik setelah Restorasi Meiji, sempat masuk pemerintahan baru, lalu terseret perkara politik hingga dihukum mati.

Dari Pelayan Daimyo Menjadi Hitokiri

Kawakami Gensai lahir di Kumamoto pada 1834 dengan nama kecil Komori Hikojirō. Ia merupakan anak kedua Komori Sadasuke, seorang samurai kelas bawah di Domain Kumamoto. Karena kakaknya menjadi penerus keluarga, Hikojirō pada usia sekitar 11 tahun diangkat sebagai anak oleh keluarga Kawakami. Lima tahun kemudian, ia mulai bekerja di kediaman keluarga Hosokawa sebagai osōji-bōzu, petugas pelayanan dan kebersihan.

Sebelum bekerja di kediaman daimyo, ia belajar di Jishūkan, sekolah domain Kumamoto. Di sana ia mempelajari ilmu pengetahuan dan seni bela diri. Tradisi mengenai masa mudanya menyebut Gensai bukan pendekar yang menonjol dalam latihan pertarungan bambu (shinai).

Fisiknya juga digambarkan tidak menyerupai bayangan tentang seorang pembunuh. Biografi yang ditulis menggambarkannya bertubuh pendek, berkulit putih, dan berpenampilan yang sekilas menyerupai perempuan.

Namun, sebagian detail mengenai kemampuan pedang dan penampilannya berasal dari biografi dan tradisi yang ditulis kemudian, sehingga perlu diperlakukan sebagai kesaksian historis, bukan fakta yang seluruhnya setara dengan dokumen sezaman.

Pekerjaan sebagai osōji-bōzu menempatkannya dekat dengan lingkungan elite Domain Kumamoto. Pada masa ini ia berhubungan dengan sejumlah tokoh yang memengaruhi pemikiran politiknya, antara lain Miyabe Teizō dan Todoroki Buhei. Ia mempelajari pemikiran sonnō jōi, gagasan yang menyerukan penghormatan kepada Kaisar dan penolakan terhadap pengaruh asing.

Gensai juga belajar kepada Hayashi Ōen, tokoh pemikir sonnō jōi di Kumamoto, serta mempelajari ilmu militer dari lingkungan yang lebih luas. Hubungannya dengan Miyabe dan jaringan sonnō jōi membawanya keluar dari lingkungan istana.

Menurut sumber biografi Kotobank, pada 1862, Gensai pergi ke Kyoto dan bergabung dalam gerakan sonnō jōi. Setahun kemudian, ia ikut mengawal Sanjō Sanetomi dan bangsawan istana lain ketika kelompok mereka meninggalkan Kyoto setelah perubahan politik pada 18 Agustus 1863. Rombongan itu menuju Chōshū.

Gensai tumbuh dalam lingkungan politik yang semakin radikal ketika bakufu (pemerintahan militer pimpinan Shogun) menghadapi tekanan asing dan perlawanan sonnō jōi. Ia kemudian diduga terlibat pembunuhan tokoh besar.

Lahirnya Legenda Sang Pembunuh

Pada 11 Juli 1864 menurut kalender Jepang, atau 12 Agustus dalam kalender Gregorian, Sakuma Shōzan tewas diserang di Kyoto. Shōzan adalah pemikir dan pendidik yang mempelajari ilmu Barat dan mengembangkan gagasan tentang pertahanan serta teknologi militer. Ia menganggap Jepang perlu mempelajari kekuatan negara-negara Barat untuk menghadapi ancaman dari luar.

Ketika berada di Kyoto pada 1864, ia juga mendorong gagasan kaikoku, atau pembukaan Jepang terhadap dunia luar. Pandangan tersebut berseberangan dengan kelompok sonnō jōi yang menolak pengaruh asing.

Menurut Otsubo Sojiro dalam Kokushi Retsuden (1941:302-303), setelah meninggalkan kediaman Pangeran Yamashina di istananya, Shōzan melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda menuju Kiyamachi-Sanjō sekitar pukul lima sore. Di kawasan Sanjō, dua orang samurai muncul dari arah berlawanan dan mendekatinya dari kedua sisi. Ia diserang oleh dua orang.

"Salah satunya adalah seorang pria bertubuh kecil yang menyandang pedang bersarung merah (vermilion), dan yang lainnya adalah seorang pria bertubuh tegap dan besar," tulis Otsubo.

 Himura Kenshin

Himura Kenshin. wikimedia/Nobuhiro Watsuki

Shōzan akhirnya jatuh setelah diserang pria bertubuh kecil. Kuda yang ditungganginya kemudian berlari. "Seorang pria bertubuh pendek yang mengejarnya dari belakang langsung menebaskan pedang panjang (otachi) sebanyak dua kali ke leher Shōzan, lalu menebas tangan kirinya," sambungnya.

Meskipun dalam kondisi sekarat dan terus ditebas, Shōzan masih sempat menopang bagian atas tubuhnya dengan tangan kanan. Otsubo mencatat bahwa Shōzan sempat menatap penyerang bertubuh kecil itu sebelum serangan kembali dilanjutkan.

Dalam sumber-sumber kemudian, penyerang bertubuh kecil itu diidentifikasi sebagai Gensai. Namun, sumber-sumber sejarah lain menyebut adanya beberapa pelaku. Kajian yang mengutip Kōshi Sensōki dan Kaitei Higo-han Kokujishi Ryō menunjukkan bahwa orang lain seperti Matsuura Torajirō, yang juga dikenal sebagai Matsura Torakichi, disebut dalam sumber lokal sebagai salah satu pelaku. Identitas seluruh anggota kelompok penyerang tidak selalu seragam dalam berbagai catatan.

Ada pula motif lain soal penyerangan itu dalam narasi yang berkembang setelah pembunuhan. Sebulan sebelum pembunuhan Shōzan, Miyabe Teizō—tokoh yang dekat dengan Gensai—tewas dalam Insiden Ikedaya. Gensai yang saat itu berada di Chōshū menerima kabar tersebut dan kemudian kembali ke Kyoto. Dalam sejumlah riwayat, kematian Miyabe menjadi pemicu kemarahan Gensai dan mendorongnya mencari sasaran untuk membalas pihak bakufu. Shōzan menjadi sasarannya.

Setelah insiden itu, Gensai mendapat julukan hitokiri. Tetapi, jumlah orang yang benar-benar dibunuhnya tidak diketahui secara pasti. Sejumlah biografi bahkan menggambarkan pembunuhan Shōzan sebagai satu-satunya kasus paling kuat terkait dengannya. Bahkan ada yang menyebut setelah itu, Gensai tidak lagi membunuh.

Dihukum Pemerintah Meiji

Restorasi Meiji mengakhiri kekuasaan Tokugawa dan melahirkan pemerintahan baru. Bagi Gensai, pergantian rezim tidak serta-merta mengakhiri pergulatan politiknya.

Menurut Tachikawa Terunobu dalam kajiannya "Kawakami Gensai Ichimei Kouda Genbei to Tsurusaki" (1967), setelah beraksi di Kyoto dan Chōshū, ia menggunakan nama Takada Genbei. Domain Kumamoto lalu mengirimnya ke Tsurusaki, wilayah kekuasaan Kumamoto yang berada di Prefektur Ōita. Di sana ia dipercaya mendirikan Yūshūkan, lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu militer dan pengetahuan kepada para pemuda.

Perubahan itu menunjukkan sisi Gensai yang jarang muncul dalam cerita populer. Hubungan politik masa lalunya pun belum berakhir. Pada 1870, ia kembali terseret persoalan setelah Dairaku Gentarō, mantan samurai Chōshū yang diburu pemerintah, datang ke Tsurusaki. Dairaku sebelumnya terseret dalam perkara pembunuhan Ōmura Masujirō dan melarikan diri dari tahanan.

Gensai lalu memberikan perlindungan kepada Dairaku. Hubungan tersebut membuat pemerintah semakin mencurigai lingkungan Yūshūkan. Lembaga itu kemudian dibubarkan tahun itu juga dan Gensai kembali ditahan.

Tachikawa menghubungkan kejatuhan Yūshūkan dengan perlindungan Gensai terhadap Dairaku. Penahanannya lalu dipindahkan ke Tokyo untuk menjalani persidangan.

"Engkau telah melanggar hukum kekaisaran dan merencanakan persekongkolan gelap yang bukan main-main. Itu sungguh tak termaafkan. Engkau diturunkan menjadi rakyat jelata dan dijatuhi hukuman penggal," tulis Tachikawa menirukan hakim Shimaki yang memimpin sidang.

Arsip Kyoto mencatat bangsawan istana Atago Michiteru dan Toyama Mitsusuke dihukum mati; Gensai dan tiga orang lain dipenggal, serta puluhan orang menerima berbagai hukuman penjara.

Gensai akhirnya dieksekusi di Tokyo pada 4 Desember Meiji 4 menurut kalender Jepang, yang bertepatan dengan 13 Januari 1872 dalam kalender Gregorian. Sumber ensiklopedis Jepang mencatatnya sebagai hukuman mati setelah ia ditangkap pada 1870 atas dugaan konspirasi anti-pemerintah.

Namun, sumber yang tersedia tidak cukup untuk menyatakan bahwa Gensai merupakan otak konspirasi. Demikian pula keterlibatannya dalam pembunuhan pejabat Meiji lain tidak dapat disamakan begitu saja dengan keterlibatannya dalam pembunuhan Sakuma Shōzan.

Di sinilah perbedaan antara Kawakami Gensai dan Himura Kenshin. Nobuhiro Watsuki, pencipta manga Kenshin, dalam sebuah wawancara dengan Shueisha menunjukkan bahwa Kenshin sejak awal dibangun dari gagasan tentang seorang samurai yang tidak membunuh, bertubuh kecil, berambut merah, dan berwajah feminin.

Ia dianggap mengambil sosok sejarah yang dikenal sebagai hitokiri, namun malah menciptakan tokoh yang justru menjadikan penolakan terhadap pembunuhan sebagai prinsip hidup. Kenshin adalah tokoh fiksi yang mencoba meninggalkan kekerasan.

Sementara Gensai tidak memiliki jalan cerita seperti itu. Ia adalah samurai kelas bawah yang pernah bekerja sebagai pelayan, menjadi aktivis sonnō jōi, dikaitkan kuat dengan pembunuhan Sakuma Shōzan, kemudian mendidik generasi muda di Tsurusaki sebelum akhirnya dihukum mati dalam pergolakan politik awal Meiji.

Baca juga artikel terkait RUROUNI KENSHIN atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi