Menuju konten utama
Sejarah Dunia

Sejarah Restorasi Meiji di Jepang: Latar Belakang, Tokoh, & Dampak

Sejarah Restorasi Meiji di Jepang punya latar belakang pemerintahan Kaisar Meiji yang mengalami keterpurukan.

Sejarah Restorasi Meiji di Jepang: Latar Belakang, Tokoh, & Dampak
Gunung Fuji di Jepang. foto/IStockphoto

tirto.id - Restorasi Meiji merupakan salah satu titik penting dalam sejarah Jepang yang berpuncak pada 1868. Lantas, apa latar belakang, dampak, dan siapa saja tokoh dalam revolusi yang memberikan perubahan besar-besaran serta menjadi awal zaman modern di Jepang ini?

Permulaan Restorasi Meiji, Revolusi Meiji, atau Pembaruan Meiji, dimulai pada 1866. Sebelum Restorasi Meiji, pemerintahan Jepang berada di bawah rezim Keshogunan Tokugawa yang otoriter. Keshogunan Tokugawa menutup diri dari bangsa-bangsa luar sehingga peradaban Jepang kala itu tertinggal jauh dari bangsa-bangsa lain.

Otoritas tertinggi di Jepang secara formal memang masih berada di tangan kaisar yang berkedudukan di Kyoto, yakni Kaisar Komei yang bertakhta kala itu. Namun, pemerintahan dijalankan oleh Keshogunan Tokugawa dari Edo (kini Tokyo). Salah satu penyebab munculnya Restorasi Meiji adalah keinginan untuk mengembalikan kendali pemerintahan kepada kaisar.

Awal era modern pun berhembus di Jepang setelah terjadinya Restorasi Meiji yang sekaligus mengakhiri masa keshogunan. Ditandai dengan runtuhnya Keshogunan Tokugawa pada tahun-tahun terakhir zaman Edo (Bakumatsu).

Kebijakan isolasi (sakoku) dihapuskan, Jepang memasuki masa peralihan dari pemerintahan feodal Keshogunan Tokugawa ke Pemerintah Meiji. Jepang pun menjadi terbuka terhadap dunia luar dan dari situlah negara di Asia Timur ini memulai kiprah sebagai salah satu negara paling berpengaruh di dunia pada akhirnya nanti.

Latar Belakang Restorasi Meiji

Jepang pada masa sebelum Kaisar Meiji mengalami masa-masa sulit. Alasannya pada masa kepemimpinannya Jepang berada dalam tataran keterbelakangan. Konsep feodalisme masih saja diterapkan Kaisar demi melenggangkan kekuasaannya.

Keterbelakangan ini semakin menjadi-jadi, akibat kebijakan yang dikeluarkan oleh Shogun Tokugawa pada tahun 1633. Ia menerapkan kebijakan isolasi terhadap bangsa asing, yang mana bangsa asing dilarang atau dibatasi geraknya untuk datang ke Jepang.

Yunika Nurdina Sari dan kawan-kawan dalam riset berjudul "Pengaruh Restorasi Meiji Terhadap Modernisasi di Negara Jepang Tahun 1868-1912" menyebutkan bahwa politik isolasi terjadi setelah masuknya bangsa Eropa dan berkembangnya agama Kristen di Jepang.

Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan negara-negara lain terbatas geraknya untuk melakukan perdagangan di Jepang. Tahun 1854, Amerika Serikat mengutus Matthew Perry dan berhasil membujuk Keshogunan Tokugawa untuk membuka diri.

Akan tetapi, tindakan yang dibuat Tokugawa berakibat fatal atas kekuasaannya. Banyak daimyo atau penguasa daerah yang semakin tidak senang dengannya. Ia pun, kemudian harus mengalami perlawanan dari para daimyo tersebut.

Perlawanan yang dilakukan membuat kedudukan Tokugawa semakin rapuh, hingga puncaknya terjadi tahun 1867. Rakyat yang menginginkan pemerintahan Jepang kembali dipimpin oleh Kaisar berhasil menggulingkan kekuasaan Tokugawa (pemerintah militer) yang telah berkuasa kurang lebih 264 tahun.

Tokoh Restorasi Meiji

Peristiwa pada 8 November 1867 menjadikan Kaisar Meiji sebagai pimpinan tertinggi pemerintahan Jepang. Akan tetapi, keberhasilan itu tidak terlepas dari peran para bangsawan dari Choshu dan Satsuma, yaitu Okubo Toshimichi dari Satsuma, Saigo Takamori dari Satsuma, dan Kido Takayoshi dari Choshu.

Bersama ketiga orang tersebut, Kaisar Meiji yang ingin memodernisasi Jepang merencanakan ide-ide untuk mewujudkan restorasi (pembaharuan) di Jepang. Saat itu, Kaisar Meiji melakukan perubahan yang cukup drastis di segala bidang kehidupan.

Dari segi ekonomi, Jepang diubahnya menjadi negara industri yang sebelumnya negara agraris. Kemudian, dari segi pemerintahan yang sebelumnya berpusat pada Kerajaan diubahnya menjadi pemerintahan daerah.

Dampak Restorasi Meiji

Mengutip dari Octavianus Dwianto dalam Pendudukan Jepang di Indonesia, menyebutkan beberapa dampak dari Restorasi Meiji, yaitu:

  • Industri Jepang semakin berkembang dengan pesat;

  • Jumlah penduduk semakin bertambah sementara luas lahan semakin sempit (tidak sebanding dengan jumlah penduduk);

  • Sebagai negara yang merasa telah kuat maka Jepang ingin mengikuti negara Barat yaitu berlomba untuk mendapatkan daerah jajahan. Daerah jajahan tersebut dapat digunakan sebagai daerah pemasok hasil industri dan daerah penghasil bahan baku industri.

      Selain itu, mengutip dari penelitian Dyah Sinta Puspa Dewi yang berjudul Restorasi Meiji: Awal Kebangkitan Negara Jepang (2013), menyebutkan bahwa restorasi meiji membuat masyarakat Jepang dapat mengenyam pendidikan wajib selama 8 tahun.

      Restorasi Meiji membuat Jepang pada tahun-tahu berikutnya mengalami kemajuan pesat dan mampu menjadi kekuatan penting di wilayah Asia untuk dapat bersaing dengan negara-negara Barat.

      Baca juga artikel terkait EDUKASI atau tulisan lainnya dari Alhidayath Parinduri

      tirto.id - Pendidikan
      Penulis: Alhidayath Parinduri
      Editor: Iswara N Raditya