Menuju konten utama
Horizon

Napoleon dari Simalungun, Tuan Rondahaim Gerilya Melawan Belanda

Perlawanan Tuan Rondahaim didorong oleh filosofi Hamoraon (kemakmuran), Hagabeon (keberlanjutan generasi), dan Hasangapon (kehormatan dan martabat).

Napoleon dari Simalungun, Tuan Rondahaim Gerilya Melawan Belanda
Gambar wajah tokoh perjuangan bersenjata dari Sumatra Utara, Tuan Rondahaim Saragih ditampilkan dalam upacara pemberian gelar pahlawan di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025).ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nz

tirto.id - Pada 1860-an, Belanda mulai ekspansi perkebunan secara agresif ke seluruh Sumatra Timur, termasuk Simalungun. Hutan belantara seketika menjadi kebun tembakau, karet, kakao, dan kopi.

Di sekitarnya, raja-raja daerah kian terjepit dalam ketergantungan kolonial. Kebebasan politik lenyap, dan setiap peralihan kekuasaan hanya sah bila mendapat restu birokrasi Belanda. Perusahaan perkebunan Belanda menawarkan konsesi menggiurkan, perlahan menjadikan para raja sebagai pegawai kolonial.

Di tengah tekanan kolonial, Tuan Rondahaim, Raja Raya Namabajan ke-14, menolak tunduk. Ia merajut kembali kerajaan-kerajaan kecil Simalungun yang tercerai-berai.

Terbentuk dalam Kemiskinan, Ditempa untuk Perang

Rondahaim Saragih Garingging lahir pada tahun 1828 di Huta Sinondang, Pematang Raya. Ayahnya adalah Tuan Jimmahadim Saragih Garingging, Raja Raya ke-13, dan ia memiliki garis keturunannya hingga ke radja’s ni sombah, para pangeran yang disembah di Karolanden. Ibunya merupakan permaisuri (puang bolon), Ramonta boru Purba Dasuha.

Rondahaim bukan pangeran istana. Ia tumbuh miskin bersama ibunya di ladang terpencil Simandamei, sementara ayahnya lebih memperhatikan permaisuri lain. Statusnya sebagai orang dalam sekaligus orang luar membentuk karakternya yang tak dimiliki bangsawan istana.

Rondahaim tumbuh sebagai petani, mengelola ladang Simandamei, dan dikenal murah hati karena sering menawarkan hasil panennya kepada penduduk setempat. Solidaritas ini lahir yang kelak menjadi fondasi kepemimpinannya.

Ketika ayahnya wafat pada 1840, Rondahaim muda memulai pendidikan non-formal. Seturut Hisarma Saragih, sejarawan dari Universitas Simalungun, Tuan Rondahaim melatih ketahanan fisik, menguasai seni bela diri tradisional mandihar, dan mempelajari parhalaan (ilmu strategi dan nujum tradisional).

Lima tahun kemudian, pada usia 17 tahun, ia berguru ke Kerajaan Padang. Di sana, ia belajar pengelolaan dan penataan pemerintahan dari Raja Tengku Muda (Muhammad Nurdin), yang juga masih keturunan Saragih Garingging.

Terakhir, ia melakukan perjalanan ke Aceh untuk mempelajari siasat perang dan ilmu kesaktian. Perjalanan ke Aceh, musuh Belanda yang paling tangguh di Sumatra, menunjukkan bahwa jauh sebelum ia naik takhta, Rondahaim sudah mengidentifikasi siapa musuh utamanya dan di mana tempat terbaik untuk belajar cara melawannya.

Warsa 1848, setelah pamannya, Tuan Sinondang, yang menggantikan ayahnya tewas dalam pertempuran, Rondahaim Saragih resmi naik takhta pada usia 20 tahun. Perjuangannya cukup berat melawan gelombang kapitalisme perkebunan yang tak terhindarkan.

Kesuksesan Jacobus Nienhuys pada tahun 1863 dengan Tembakau Deli memicu ledakan spekulasi. Antara 1885 dan 1886, permintaan begitu tinggi sehingga di Langkat, Deli, dan Serdang, tidak ada lagi tanah yang tersedia untuk budidaya tembakau.

Para pengusaha Eropa pun mengarahkan pandangan mereka ke pedalaman, seperti wilayah Padang, Bedagei, dan Simalungun. Belanda memandang Simalungun sebagai daerah potensial dengan tanah yang baik dan subur untuk perkebunan.

Edi Sumarno dkk dalam “Tebing Tinggi as the Central of Onderafdeeling Padang and Bedagei” (2020) menilai, jauh sebelum konflik meletus, investigasi Belanda oleh Dr. B. Hagen pada tahun 1883 telah mengidentifikasi wilayah Raya sebagai penghalang utama. Sikap mengancam dari Raya, menurut Hagen, memaksanya untuk kembali ke Tebing Tinggi. Belanda tahu siapa biang masalahnya.

Untuk mengamankan ekspansi ekonomi ini, Belanda melakukan intervensi politik. Pada tahun 1885, mereka memicu insiden yang akan menyulut perang. Raja Padang, Tengku Maharaja Muda, yang bermarga Saragih dan merupakan guru sekaligus sekutu Rondahaim, digulingkan. Ia digantikan oleh kerabat Sultan Deli, yang merupakan proksi Belanda.

Bagi Rondahaim, ini adalah provokasi yang tidak bisa ditoleransi. Membiarkan sekutunya digulingkan berarti membiarkan Belanda mengepung Simalungun. Pemberontakan orang-orang Batak Timur di pedalaman Padang pun meletus, seluruhnya atas perintah Rondahaim.

Inilah reaksi yang ditunggu-tunggu Belanda. Dengan dalih situasi yang tidak menentu yang mereka ciptakan sendiri, Belanda secara resmi mendirikan Onderafdeeling Padang and Bedagei pada tahun 1887, menempatkan seorang pengawas di Tebing Tinggi untuk mengawasi wilayah tersebut.

Jebakan klasik khas kolonial dengan memprovokasi reaksi, lalu menggunakannya sebagai pembenaran untuk aneksasi.

“Hasadaon do Bona ni Hatunggungon”, Filosofi Persatuan Sang Raja

Sementara raja-raja lain di Sumatra Timur perlahan-lahan tunduk, Rondahaim menolak. Perlawanannya bukan didorong oleh ambisi pribadi, melainkan oleh filosofi inti Simalungun, yakni Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon.

Merujuk jurnal pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai (2024), Tuan Rondahaim berjuang untuk Hamoraon (kemakmuran), yang ia tafsirkan sebagai kemakmuran bersama dan peningkatan taraf hidup masyarakat, bukan kekayaan pribadi dari hasil menjual tanah rakyat.

Ia juga berjuang untuk Hagabeon (keberlanjutan generasi), untuk melindungi pendidikan dan warisan budaya dari gempuran budaya kolonial. Dan yang terpenting, ia berjuang untuk Hasangapon (kehormatan dan martabat), nilai yang ia pegang teguh dengan menolak tunduk.

Bagi Rondahaim, model kapitalisme kolonial Belanda secara fundamental tidak kompatibel dengan filosofi tersebut. Model Belanda menawarkan Hamoraon individu kepada raja yang kooperatif, tetapi menghancurkan Hamoraon komunal dengan merampas tanah. Model itu menghancurkan Hagabeon dengan mengubah lahan pangan menjadi lahan ekspor tembakau, dan menghancurkan Hasangapon dengan menjadikan raja sebagai bawahan residen.

Untuk menegakkan filosofi ini, Rondahaim menerapkan dua prinsip, yaitu Habonaron do Bona (Kebenaran adalah Dasar) dan Hasadaon do Bona ni Hatunggungon (Persatuan adalah Dasar Kemuliaan).

Ia tahu tidak bisa berjuang sendirian untuk membangun front persatuan Pan-Sumatra. Seturut D. Kenan Purba dalam Sejarah Simalungun (1995:38), Rondahaim menjalin aliansi strategis dengan Sisingamangaraja XII dari Toba, yang dikukuhkan dalam pertemuan Dalig Raya pada tahun 1882.

Ia juga bersekutu dengan para pejuang Aceh, tempat ia dulu menimba ilmu perang. Ia memahami bahwa Perang Batak dan Perang Aceh merupakan bagian dari perjuangan yang sama. Dalam persiapannya, ia memerintahkan pandai besi memproduksi senjata dan membeli senjata api serta meriam dari Malaka.

Dengan karisma dan visinya, ia mempersatukan raja-raja lokal. Ia berhasil menyatukan hampir seluruh Simalungun, termasuk Raja Siantar, Bandar, Sidamanik, Tanah Jawa, Pane, Purba, Silimakuta, dan Dolok Silau.

Musuh Borngin, Taktik Perang, dan Kecerdikan Napoleon

Melawan tentara kolonial yang lebih unggul secara teknologi, Rondahaim menerapkan strategi munsuh borngin (musuh di malam hari). Rakyat Simalungun bertindak sebagai petani pada siang hari dan sebagai prajurit gerilya pada malam hari.

Tentara kolonial Belanda membutuhkan biaya dan jalur pasokan yang mahal. Sebaliknya, pasukan Rondahaim bersifat mandiri. Dengan menjadi petani di siang hari, mereka menanam makanan mereka sendiri.

Menurut Jaya Pangaribuan (2018), prinsip ekonomi dearan molting ase ulang rotap (lebih baik tersisa sedikit tali daripada putus sama sekali) diterapkan dalam sistem kolektif untuk mempersiapkan ransum untuk para prajurit. Ini memungkinkan Rondahaim untuk berperang dalam jangka panjang tanpa kehabisan sumber daya.

Target utama taktik munsuh borngin bukanlah pos militer, melainkan jantung ekonomi Belanda, yakni perkebunan tembakau. Pasukannya menebar teror dengan membakar bangsal tembakau di wilayah Padang dan Bedagei, menyebabkan kerugian finansial bagi para pengusaha Eropa.

Pasukan Rondahaim juga menyebarkan brandbrieven (surat api) atau moesi bringin. Surat ancaman ini dikirim kepada manajer perkebunan, menuntut keadilan atas perlakuan buruk terhadap para kuli. Jika tuntutan tidak dipenuhi, ancaman pembakaran akan dilaksanakan.

Rondahaim tidak hanya menyerang dari luar, tetapi juga dari dalam. Pasukannya berhasil memprovokasi para kuli perkebunan, termasuk kuli Tionghoa yang sudah muak dengan perlakuan semena-mena mandor. Mereka memicu pemberontakan, kerusuhan, dan penjarahan dari dalam perkebunan, menciptakan kekacauan total bagi Belanda.

Selain gerilya, Rondahaim juga tidak gentar melakukan perang terbuka. Sebagai respons langsung atas penggulingan Raja Padang pada 1885, ia menyerang markas Serbelawan dan memimpin pasukannya menyerbu Bandar Bejambu pada tahun 1887.

Serangan itu menyebabkan kerusakan pada beberapa perkebunan dan memaksa Belanda mengirim pasukan dari Medan di bawah pimpinan Kapten J.C.R. Schenk untuk memukul mundur mereka.

Klimaks perang terbuka terjadi pada 9 Oktober 1887. Seperti dilaporkan De Deli Courant terbitan 27 Februari 1935, pasukan Schenk bergerak maju ke jantung pertahanan Rondahaim di Dolok Sagala dan Dolok Merawan. Di Dolok Merawan, terjadi pertempuran sengit. Pasukan Belanda akhirnya berhasil merebut kampung itu, 22 prajurit Simalungun tewas. Pasukan Rondahaim terpaksa mundur, dan Belanda membakar kampung-kampung tersebut sebagai pembalasan.

Secara taktis, itu adalah kekalahan bagi Rondahaim. Namun, secara strategis, merupakan awal dari kemenangannya.

Perlawanan sengit di Dolok Merawan, ditambah dengan strategi munsuh borngin yang terus menggerogoti ekonomi, membuat Belanda sadar. Biaya untuk menaklukkan Simalungun akan sangat mahal, baik dalam nyawa maupun modal.

Segera setelah pertempuran itu, Belanda mengubah taktik mereka dari invasi militer menjadi diplomasi licik. Mereka mengutus Kalam Setia, yang merupakan ipar Rondahaim, untuk memperbaiki hubungan dan bernegosiasi.

Rondahaim, yang baru saja kalah dalam pertempuran, dengan tegas menolak perundingan tersebut. Ia tahu kehormatan (Hasangapon) kolonial tidak bisa dipercaya. Dan benar saja, frustrasi karena penolakan Rondahaim, Belanda akhirnya mengalah.

Di lain waktu, seperti dikisahkan cicitnya, Lukman Rudi Saragih kepada Kompas, Belanda mengajak Rondahaim untuk berunding di Pelabuhan Matapao. Rondahaim, yang sangat mewaspadai jebakan ini, memilih orang yang paling mirip dengannya dan dipakaikan baju raja. Tepat seperti dugaannya, sesaat sebelum sampai di tempat perundingan, orang yang menyamar menjadi Rondahaim itu ditembak mati oleh tentara Belanda.

Belanda kemudian menjulukinya “Napoleon der Bataks”. Julukan atas seorang pemimpin yang kuat dan sulit ditaklukkan, seorang ahli strategi militer yang setara dengan Napoleon Bonaparte. Julukan ini awalnya disematkan oleh C.J. Westenberg, Asisten Residen urusan Batak di residensi Tapanuli (Sumatra Utara), dalam Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap pada 1 Januari 1897, 6 tahun setelah Rondahaim wafat.

“Seorang Napoleon Batak versi mini, seorang pria dengan bakat yang tak terbantahkan, seorang politikus yang handal dengan caranya sendiri, cerdik, energik, dan enggan berhenti pada apa pun, ia menjadi teror bagi para tetangganya, para Rajah Si Antar, Panei, Dolok, Poerba, dll., yang wilayahnya berhasil ia kuasai, melalui kelicikan dan kekerasan, untuk memperluas wilayah kekuasaannya sendiri,” tulis Westenberg.

Selama Rondahaim Saragih hidup, Simalungun merdeka. Selama masa kekuasaannya, Belanda tak bisa memperluas perkebunan ke wilayah Simalungun. Kerajaan Raya tidak pernah berhasil dimasuki oleh Belanda.

Tuan Rondahaim wafat pada tahun 1891. Kematiannya secara tragis membuktikan kebenaran filosofinya sendiri, Hasadaon do Bona ni Hatunggungon, persatuan adalah dasar kemuliaan. Begitu ia tiada, perjuangan Simalungun melemah. Persatuan yang telah ia bangun dengan susah payah runtuh.

Memasuki tahun 1900-an, tidak ada lagi perlawanan besar, raja-raja lokal yang dulu ia satukan akhirnya menyatakan tunduk pada Belanda. Proyek perkebunan kolonial raksasa di jantung Simalungun, seperti kebun teh Sidamanik yang terkenal itu, dibuka pada tahun 1917. Tuan Rondahaim Saragih adalah satu-satunya orang yang telah menunda gelombang kolonialisme itu selama lebih dari seperempat abad.

Baca juga artikel terkait PAHLAWAN NASIONAL atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi