Menuju konten utama

Karhutla Kepung Sumsel, Kualitas Udara Memburuk & ISPA Mengancam

"Memang biasanya kasus ISPA meningkat di musim kemarau. Sekarang, tanda-tandanya sudah ada apalagi karhutla makin luas.”

Karhutla Kepung Sumsel, Kualitas Udara Memburuk & ISPA Mengancam
Kondisi karhutla di Sumsel. FOTO/Manggala Agni
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Seperti biasa, Cantika Putri berangkat sekolah di pagi hari. Pada Rabu (5/8/2026) kali ini, anak berusia 10 tahun itu harus mengenakan masker karena sedang batuk dan pilek.

Belum waktunya pulang sekolah, guru di SD negeri kawasan Kalidoni, Palembang, menghubungi orang tua Cantika dan mengabarkan bahwa sang anak tidak enak badan.

Cantika pun dijemput pulang untuk istirahat. Dia segera dibawa ke dokter untuk berobat karena batuknya semakin menjadi-jadi.

Dari hasil pemeriksaan, dokter mendiagnosis siswa kelas lima SD itu mengidap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang disinyalir akibat cuaca dan kualitas udara yang memburuk. Dia disarankan istirahat dan menghindari aktivitas di luar rumah agar penyakitnya tidak bertambah buruk.

"Dokter bilang kena ISPA, bisa sesak napas kalau tidak ditangani dan tetap hirup udara tidak sehat," ungkap ayah Cantika, Mardi (45), Rabu (5/8/2026).

Palembang memang tengah dilanda kabut asap, meskipun tipis. Maryanto (42), warga Plaju, Palembang, mengaku mencium bau asap sejak Selasa (4/8/2026) malam sebelumnya. Kondisi itu lantas mengingatkannya pada musim kemarau 2015.

Saat berangkat kerja pagi tadi, Maryanto pun melihat asap tipis menyelimuti lingkungan sekitar rumahnya.

"Semalam, bau-bau asap sudah terasa, pagi tadi ada asap tipis-tipis juga," kata Maryanto.

Untuk menjaga kesehatan, dia mengambil masker sisa masa Pandemi COVID-19 yang masih tersimpan di lemari.

Kondisi cuaca di Palembang beberapa hari ini terbilang mulai berubah, tidak seperti biasanya. Dari pengamatan, kabut asap tipis terlihat secara jelas mulai pagi hari dan jarak pandang pun berkurang.

Cuaca terik yang suhunya mencapai 34 derajat celsius terkesan sedikit meredup akibat “selimut” asap di langit Palembang. Meski demikian, hawa panas masih sangat terasa, apalagi saat beraktivitas di area terbuka yang minim peneduh.

Karhutla Sumsel

Kondisi karhutla di Sumsel. FOTO/Manggala Agni

Kualitas Udara Buruk Mengancam Kesehatan

Berdasarkan pemantauan ASEAN Specialized Meteorologi Centre (ASMC) pada Senin (3/8/2026), kabut asap dengan kategori moderate haze mulai menyelimuti sejumlah wilayah Sumatra Selatan. Di antaranya terjadi di Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Banyuasin, dan Musi Banyuasin.

Sementara itu, konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Ogan Ilir, Musi Banyuasin, Muara Enim, Musi Rawas, Lahat, dan Prabumulih, masuk dalam kategori sedang. Kondisi ini berpotensi mempengaruhi kesehatan masyarakat jika kualitas udara makin memburuk.

Kepala Dinas Kesehatan Sumsel, Trisnawarman, menjelaskan penderita ISPA di provinsi itu pada Januari 2026 tercatat 50.651 kasus dan 33.582 kasus pada Juni 2026. Sementara pada periode yang sama 2025, tercatat 45.131 kasus pada Januari dan 40.067 kasus pada Juni.

Meski kasus ISPA pada Juni 2026 cenderung turun dibanding awal tahun, ancaman ISPA tetap ada seiring semakin luasnya karhutla pada puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus-September. Kondisi ini patut diwaspadai karena kualitas udara dapat memburuk dan membahayakan kesehatan warga.

"Memang biasanya kasus ISPA meningkat saat musim kemarau. Sekarang, tanda-tandanya sudah ada apalagi karhutla makin luas dan timbulkan asap," kata Trisnawarman.

Oleh karena itu, Trisnawarman mengimbau warga yang mengalami gejala batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, tubuh lemas, dan hidung tersumbat segera berobat ke fasilitas kesehatan terdekat. Jika tidak ditangani dengan baik, pasien akan mengalami sesak napas, nyeri dada, bibir membiru, hingga demam tinggi berkepanjangan.

"Anak-anak balita paling rentan terkena ISPA, ada juga lansia, wanita hamil, dan penderita penyakit kronis. Penyakit ini timbul akibat infeksi, virus, bakteri, jamur, paparan polusi udara, asap kendaraan, dan asap karhutla," kata Trisnawarman.

Untuk menghindari ISPA, masyarakat harus menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan cara membuka ventilasi di pagi hari, hindari paparan asap rokok dan pembakaran, dan memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan. Warga juga diimbau rmeningkatkan kekebalan tubuh dengan cara rajin olahraga, cukup istirahat, dan mengonsumsi makanan bergizi dan seimbang.

"Dan tentunya, jika ada keluhan langsung berobat ke puskesmas atau rumah sakit agar tidak menjadi lebih parah," kata Trisnawarman.

Kejadian Karhutla Naik Drastis

Berdasarkan Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, mulai 1 Januari hingga 3 Agustus 2026 telah tercatat 781 kejadian karhutla yang menghanguskan 664,87 hektare lahan di sejumlah kabupaten dan kota.

Sementara itu, titik panas di provinsi itu terus bermunculan dan perlu diwaspadai.

"Potensi karhutla masih sangat tinggi, apalagi sekarang sudah masuk puncak musim kemarau, titik panas juga makin meluas," kata Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, M. Iqbal Alisyahbana.

Iqbal menyebut saat ini sudah ada 10 daerah di Sumsel yang berstatus zona merah karhutla. Ke-10 daerah itu adalah Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir dengan jumlah kejadian karhutla tertinggi, masing-masing 102 kejadian. Kemudian OKU Timur mencatat 34 kejadian, Ogan Ilir dengan 95 kejadian, Banyuasin 91 kejadian, PALI 79 kejadian, Muara Enim 62 kejadian, Palembang 38 kejadian, Musi Rawas Utara 37 kejadian, dan OKU sebanyak 33 kejadian.

"Sudah ada 10 daerah berstatus zona merah karhutla. Ini artinya ancaman karhutla sangat besar terjadi," kata Iqbal.

Untuk mencegah tren kenaikan kejadian karhutla, masyarakat diimbau tidak membakar lahan untuk membuka kebun, menghindari penggunaan api di tempat terbuka, tidak membuang puntung rokok sembarang, dan segera melapor ke petugas jika menemukan titik api agar cepat ditangani sebelum meluas.

Faktor kesengajaan dalam kasus karhutla menjadi penyebab paling tinggi di setiap daerah. Lahan-lahan yang terbakar sengaja dibersihkan dahulu oleh pemiliknya untuk dijadikan kebun baru.

Fakta ini ditemukan tim Manggala Agni yang bertugas di lapangan. Mereka mensinyalir karhutla dilakukan oleh aktor-aktor tertentu dengan tujuan tak lain adalah pembukaan lahan.

"Pastinya tidak tahu kenapa, tapi kelihatannya ada faktor kesengajaan," kata Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kemenhut Ferdian Krisnanto.

Saat ini, terdapat 11.567 personel gabungan yang dikerahkan untuk menangani karhutla di Sumsel. Mereka terdiri dari BPBD, TNI, polri, Manggala Agni, Polisi Kehutanan, Lanud Sultan Mahmud Badaruddin II, Satpol PP, Masyarakat Peduli Api, Kelompok Tani Peduli Api, serta unsur perusahaan perkebunan dan hutan tanaman industri.

Operasi tim darat juga diperkuat armada udara berupa 1 pesawat patroli Cessna, 1 unit helokopter patroli Airbus AS365 N2, dan 5 helikopter water bombing. Kemenhut juga tengah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga beberapa hari ke depan, khususnya di wilayah rawan karhutla dan masih terdapat awan potensial.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - News Plus
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Fadrik Aziz Firdausi