Menuju konten utama

In this Economy, Jasa Servis Gawai Terjangkau Memberi Solusi

Di tengah kenaikan harga elektronik, konsumen memilih bertahan dengan perangkat lama daripada beli perangkat baru.

In this Economy, Jasa Servis Gawai Terjangkau Memberi Solusi
Zacky seorang mahasiswa yang kini telah memiliki usaha service elektronik, di Gerbang Samping Gunadarma Kampus E, Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Cimanggis, Kota Depok, Selasa (15/9/2026). (FOTO/Putri Az zahra)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di samping Gedung Kampus E Universitas Gunadarma, Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, berdiri sebuah kios sederhana dengan banner bertulis nama Codeva. Terpampang juga jargon “Tempat Service-nya Mahasiswa”. Itulah tempat persinggahan bagi mereka yang membutuhkan jasa perbaikan laptop atau komputer.

Ketika pintu lipat terbuka, pelanggan bakal melihat meja, kursi, sofa, serta berbagai peralatan servis yang tersusun di dalam ruangan.

Di salah satu sudut, sebuah meja kerja dipenuhi obeng, kabel, wadah-wadah kecil untuk komponen mikro, alat ukur, hingga sebuah monitor yang menyala. Rak bertingkat di belakang meja itu menyimpan berbagai peranti servis laptop dan komputer. Di ruangan depan itulah, perangkat elektronik yang dibawa pelanggan diperiksa.

Codeva adalah kios servis gawai elektronik yang dikelola Zacky Andari (21). Usaha servis elektronik itu telah berjalan sekitar satu tahun dua bulan.

Semula, Codeva lahir dari kebutuhan teman-teman Zacky di lingkungan kampus yang membutuhkan jasa servis elektronik, tetapi khawatir dengan biaya dan jarak tempat servis.

“Berawal dari satu temen terus ke mulut-mulut. Terus kayak awal dari kampus terus kami kontenin dan alhamdulillah akhirnya ramai,” ujar Zacky ketika dikunjungi di kiosnya, Selasa (15/9/2026).

Dari pelanggan di sekitar Kampus E Universitas Gunadarma, Codeva kemudian berkembang hingga menerima pelanggan dari luar kampus. Kini, kios servis tersebut telah memiliki 10 karyawan.

Laptop menjadi perangkat yang paling sering datang untuk diperbaiki. Codeva juga menangani masalah komputer. Selain itu, Zacky juga membuka layanan servis telepon seluler di konter berbeda di Jakarta Pusat.

Kemampuan Zacky menangani perangkat elektronik berawal dari ketertarikannya terhadap komputer. Bersama seorang teman yang memiliki minat serupa, pengetahuan tersebut dikembangkan melalui pengalaman dan percobaan-percobaan menangani berbagai kerusakan.

“Emang dari dulu aku hobi komputer gitu. Terus, awal itu aku juga cukup ngertilah tentang dunia komputer, laptop,” kata Zacky.

Usaha Service Elektronik Codeva

Zacky seorang mahasiswa yang kini telah memiliki usaha service elektronik, di Gerbang Samping Gunadarma Kampus E, Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Cimanggis, Kota Depok, Selasa (15/9/2026). (FOTO/Putri Az zahra)

Pada awal menjalankan usaha, Zacky hanya bekerja bersama seorang teman. Ketika pelanggan yang datang mulai bertambah, pengerjaan jadi menumpuk karena kekurangan tenaga teknisi. Pengalaman menghadapi komponen yang ternyata mengalami cacat produksi juga menjadi salah satu tantangan ketika usaha baru berjalan.

“Kalau customer-nya banyak, jadi pada numpuk. Terus, kami gak bisa ngerjain,” ujar Zacky.

Semula, Zacky membangun Codeva dengan modal sekitar Rp1 juta untuk membeli alat dan komponen servis. Seiring bertambahnya pelanggan itu, dia kemudian mampu membuka kios.

Satu kios membutuhkan modal sekitar Rp50 juta, termasuk untuk sewa berdurasi satu tahun. Saat ini, Zacky menyebut omzet Codeva dapat mencapai sekitar Rp20 juta per bulan.

Pertumbuhan usaha juga membuat Zacky dapat menambah teknisi dan administrator. Langkah tersebut diperlukan agar kios servisnya tetap berjalan sembari dirinya membagi waktu dengan perkuliahan. Sistem bagi hasil dengan teknisi juga pernah digunakan untuk membantu menangani pekerjaan yang masuk.

“Jadi, kami nambah karyawan, admin, sama teknisi tambahan,” kata Zacky.

Jadi Solusi Kantong Cekak

Zacky mengatakan harga laptop baru dan gawai elektronik lain kini mengalami kenaikan cukup besar. Sementara itu, harga jasa servis relatif tetap. Oleh karena itulah, sebagian konsumen memilih mempertahankan perangkat lama atau mencari laptop bekas daripada membeli perangkat baru.

“Orang sekarang tuh ketimbang dia beli baru, mereka lebih mementingkan untuk beli laptop second atau laptop yang mereka punya yang agak rusak itu diperbaiki,” ujarnya.

Pengalaman tersebut dirasakan Raditya Meka (20). Dia pernah mengalami kecelakaan yang membuat layar laptopnya pecah dan bagian body-nya mengalami kerusakan. Alih-alih membeli laptop baru, Raditya memilih memperbaikinya. Pertimbangan biaya menjadi salah satu alasan utama.

Setelah berkonsultasi dengan pihak servis, kerusakan laptopnya masih dapat diperbaiki. Selain itu, data yang tersimpan di dalam laptop tetap dapat dipertahankan.

“Poin penting sih saya enggak sampai hilang datanya aja sih waktu itu,” kata Raditya.

Biaya servis yang dikeluarkan Raditya saat itu sekitar Rp300 ribu. Menurutnya, nominal tersebut masih tergolong terjangkau dibandingkan membeli laptop baru. Dia juga menilai pelayanan yang diberikan cukup baik karena jasa servis menjelaskan hasil pemeriksaan kerusakan dan pilihan perbaikan yang bisa diupayakan.

“Pelayanannya rapi, terus juga dijelasin ini kerusakan gini-gini, terus dijawabin,” ujar Raditya.

Bagi Raditya, keberadaan jasa servis elektronik seperti Codeva masih dibutuhkan karena tidak semua orang memahami cara menangani kerusakan gawainya. Ketika laptop atau komputer mengalami masalah, teknisi dapat membantu menemukan titik kerusakan sekaligus memberikan solusi.

“Menurut saya, jasa servis elektronik itu masih pentinglah. Karena, pertama memang kita butuh elektronik kayak laptop sama PC,” katanya.

Usaha Service Elektronik Codeva

Zacky seorang mahasiswa yang kini telah memiliki usaha service elektronik, di Gerbang Samping Gunadarma Kampus E, Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Cimanggis, Kota Depok, Selasa (15/9/2026). (FOTO/Putri Az zahra)

Intrusi Akal Imitasi dan Tantangan Pekerjaan Informal

Perubahan teknologi, bagaimanapun, ikut mengubah pekerjaan di balik meja servis. Zacky merasakan pengaruh perkembangan akal imitasi atau kecerdasan buatan atau AI terhadap harga komponen. Tren AI, kata Zacky, membuat kebutuhan akan komponen RAM meningkat dan membuat harganya meroket.

Masalahnya, stok komponen seperti RAM serta SSD lebih sulit diperoleh.

“AI itu ngaruh banget ke harga komponen karena AI itu dia makan banget RAM,” ujar Zacky.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Codeva menawarkan RAM bekas yang diperoleh dari pasar, kenalan, maupun pelanggan yang menjual komponennya. Upaya tersebut dilakukan agar pelanggan tetap memiliki alternatif ketika harga komponen baru meningkat.

Dari perspektif pengamat ketenagakerjaan Arif Novianto, perkembangan teknologi tidak serta-merta menghilangkan pekerjaan servis elektronik. Arif menilai pekerjaan tersebut masih memiliki prospek, tetapi keahlian yang dibutuhkan terus berubah.

Teknisi kini tidak cukup hanya memahami kerusakan mekanis, tetapi juga perlu memahami komponen elektronik, perangkat lunak, dan sistem digital sekaligus.

“Pekerjaan ini tidak hilang, tetapi bentuk keahliannya berubah dari sekadar memperbaiki kerusakan mekanis menjadi kemampuan melakukan diagnosis, perbaikan komponn elektronik, hingga memahami software dan sistem digital,” ujar Arif.

Kemampuan mendiagnosis masalah menjadi keterampilan penting bagi pekerja servis elektronik. Penguasaan diagram atau rangkaian elektronik, penggunaan alat diagnosis, serta kemampuan mengikuti perkembangan perangkat digital juga dibutuhkan agar teknisi tetap memiliki posisi kuat di tengah perubahan teknologi.

Namun, pekerjaan tersebut juga menghadapi persoalan sebagai pekerjaan informal. Pengamat menyebut pekerja servis menghadapi kondisi pendapatan yang tidak pasti, keterbatasan jaminan sosial, serta biaya alat dan tempat usaha yang harus ditanggung sendiri. Mereka juga dituntut terus belajar karena perubahan teknologi berlangsung cepat.

“Jadi, tantangan pekerja servis bukan hanya soal mendapatkan pelanggan, tetapi juga bagaimana mereka bertahan dalam perubahan teknologi dan struktur pasar yang semakin cepat,” ujar Arif.

Menurut Arif, kebiasaan membeli barang baru juga menjadi tantangan tersendiri. Jika harga perangkat baru semakin murah dan selisih antara biaya servis dan membeli perangkat baru semakin kecil, konsumen boleh jadi akan cenderung memilih mengganti barang. Keterbatasan suku cadang dan semakin terintegrasinya komponen juga dapat membuat perangkat lebih sulit diperbaiki.

Meski demikian, pekerjaan servis elektronik dinilai masih mempunyai masa depan. Penggunaan barang yang lebih tahan lama, pengurangan limbah elektronik, dan ekonomi sirkular dapat membuka ruang bagi jasa perbaikan untuk terus relevan.

Masa depannya bergantung pada kemampuan pekerja mengikuti perkembangan teknologi sekaligus perubahan industri.

Zacky pun melihat peluang tersebut masih terbuka. Menurutnya, perangkat elektronik akan terus berkembang dan harganya dapat semakin meningkat. Kondisi itu membuat konsumen memiliki alasan untuk memperbaiki perangkat yang masih dapat digunakan daripada segera menggantinya.

“Menurut aku, ini bakal bertahan dan menurut aku peluang emas banget buat ke depannya,” ujar Zacky.

Menjelang sore, teknisi-teknisi di kios Codeva masih disibukkan dengan pekerjaan servis. Pelanggan pun masih berdatangan. Di kios Codeva, satu perangkat diperiksa, satu kerusakan dicari penyebabnya, dan satu lagi kesempatan diberikan agar barang yang rusak tidak langsung menjadi barang buangan.

Baca juga artikel terkait PERALATAN ELEKTRONIK atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi