Menuju konten utama

Pakai Air Purifier saat Hujan Abu Vulkanik, Apakah Efektif?

Apakah penggunaan air purifier saat hujan abu vulkanik bisa efektif? Simak penjelasannya di sini, lengkap dengan tips memilih air purifier yang tepat.

Pakai Air Purifier saat Hujan Abu Vulkanik, Apakah Efektif?
Ilustrasi air purifier. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Abu vulkanik dapat menerobos celah-celah rumah dan mengotori udara di dalamnya. Itulah kenapa penggunaan air purifier saat hujan abu vulkanik dijadikan pilihan oleh banyak orang. Namun, apakah alat ini benar-benar efektif untuk membersihkan udara dari abu vulkanik?

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menunjukkan aktivitas erupsi hingga Selasa, 8 September 2026. Berdasarkan pemantauan PVMBG, abu vulkanik Anak Krakatau masih terdeteksi di atmosfer, tapi ketinggian sebarannya lebih rendah dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

Jika sebelumnya abu vulkanik menyebar ke wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, hingga Bengkulu, kali ini sebaran abu lebih banyak mengarah ke laut, tepatnya ke Samudra Hindia sebelah barat laut Banten sehingga mulai menjauhi daratan.

Abu vulkanik sendiri sempat melanda pemukiman dan menyelimuti rumah-rumah warga. Mengingat ukurannya yang sangat kecil layaknya debu biasa, abu vulkanik dapat dengan mudah masuk ke dalam rumah melalui ventilasi maupun celah-celah sempit.

Hal ini menyebabkan kualitas udara di dalam rumah menurun, bahkan bisa membahayakan para penghuninya. Untuk mengatasinya, tak sedikit orang mulai menggunakan air purifier demi membersihkan udara. Namun, apakah menggunakan airpurifier saat hujan abu vulkanik memang efektif?

Apa Itu Abu Vulkanik dan Mengapa Berbahaya?

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di Banten

Ilustrasi Abu Vulkanik. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/agr

Abu vulkanik merupakan material yang sangat halus dan terbentuk dari pecahan batuan, mineral, maupun material vulkanik lain saat terjadi erupsi gunung berapi. Tak seperti debu biasa, abu vulkanik adalah partikel yang tajam dan bersudut sehingga bersifat abrasif.

Partikel abu yang ringan dapat terbawa angin dan menyebar hingga jauh dari sumber letusan. Bagi penghuni rumah di wilayah terdampak, abu vulkanik harus diwaspadai karena dapat masuk ke dalam rumah dan terhirup.

Mengacu pada laman Kementerian Kesehatan, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan, mata, hingga kulit. Abu yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu keluhan seperti batuk dan sesak napas.

Sebagian abu juga berukuran sangat halus (PM2.5) dan Kemenkes menjelaskan bahwa PM2,5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru sehingga menyebabkan inflamasi maupun gangguan kardiopulmonal.

Perhatian lebih juga wajib diberikan kepada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti asma maupun penyakit paru kronis. Pasalnya, kelompok tersebut bisa lebih rentan terhadap dampak gangguan pernapasan akibat abu vulkanik.

Jadi, berada di dalam rumah bukan berarti penghuni sepenuhnya terbebas dari paparan abu. Kemenkes pun menganjurkan masyarakat tetap berada di dalam ruangan ketika terjadi paparan abu, sekaligus menutup pintu, jendela, hingga celah-celah sempit untuk mengurangi masuknya abu.

Seberapa Efektif Penggunaan Air Purifier Saat Hujan Abu Vulkanik?

Air Purifier

Air Purifier. foto/istockphoto

Perlindungan saat hujan abu tidak hanya dilakukan dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan, tapi juga dengan mengendalikan kualitas udara di dalam rumah dan mencegah abu masuk semaksimal mungkin.

Penggunaan airpurifier saat hujan abu vulkanik bisa dijadikan pertimbangan sebagai salah satu upaya untuk membersihkan udara di dalam rumah. Fungsi air purifier sendiri untuk menyaring dan mengurangi polutan di udara, misalnya debu, serbuk sari, asap, hingga partikulat halus.

Cara kerjanya sederhana, yaitu dengan menarik udara yang ada di ruangan, menyalurkannya melalui filter di dalam perangkat, kemudian mengembalikan udara yang telah disaring ke ruangan.

Efektivitas air purifier umumnya diukur dengan nilai CleanAir Delivery Rate (CADR) untuk menggambarkan seberapa banyak udara bersih yang dapat dihasilkan oleh air purifier.

Kapasitas CADR yang lebih tinggi memungkinkan perangkat menyaring lebih banyak partikel dan bisa digunakan di dalam ruangan yang lebih besar.

Air Purifier HEPA Paling Direkomendasikan

Ilustrasi air purifier
Ilustrasi air purifier. FOTO/iStockphoto

U.S. Environmental Protection Agency (EPA) merekomendasikan penggunaan air cleaner portabel dengan filter HEPA (High-Efficiency Particulate Air) untuk membantu menghilangkan partikel dari udara ketika terjadi paparan abu vulkanik.

Pada air purifier dengan filter HEPA, partikel berukuran sangat kecil seperti PM2.5 dapat ditangkap sehingga konsentrasinya di dalam ruangan dapat berkurang. Hal ini dibuktikan dalam studi bertajuk Efficacy of HEPA Air Cleaner on Improving Indoor Particulate Matter 2.5 Concentration.

Dalam jurnal tersebut, peneliti menemukan bahwa ketika air purifier HEPA dinyalakan, rata-rata konsentrasi PM2.5 dalam ruangan turun dari 33,5 µg/m3 menjadi 17,2 µg/m3 atau mengalami penurunan hampir 49%.

Namun, air purifier sebaiknya hanya berfungsi sebagai perlindungan tambahan, bukan solusi utama untuk mengendalikan kualitas udara, karena bagaimanapun juga upaya pencegahan seperti menutup pintu, jendela, ventilasi, hingga celah-celah sempit adalah hal yang utama.

Selain itu, penggunaan air purifier juga tidak akan efektif jika akses atau saluran udara di rumah tetap terbuka. Kinerja pembersihan udara dari air purifier akan “kalah” dengan paparan abu vulkanik yang terjadi terus-menerus dari luar jika pintu atau jendela tetap terbuka.

Tak hanya itu, efektivitas air purifier juga dipengaruhi hal lain, mulai dari ukuran ruangan, nilai CADR, lama penggunaan, hingga kondisi kebersihan filter di dalam perangkat.

Jadi, penggunaan air purifier saat hujan abu vulkanik memang dapat membantu menurunkan konsentrasi partikel abu di dalam ruangan, tapi tetap perlu dikombinasikan dengan tindakan lain, terutama menutup pintu dan jendela serta membatasi masuknya abu dari luar.

Cara Memilih AirPurifier yang Tepat untuk Hujan Abu

Ilustrasi air purifier

Ilustrasi air purifier. FOTO/iStockphoto

Air purifier bisa dijadikan pilihan untuk membersihkan udara dalam ruangan ketika hujan abu terjadi. Namun, tidak semua air purifier memiliki kemampuan penyaringan yang sama. Berikut beberapa tips untuk memilih air purifier saat hujan abu vulkanik:

1. Pilih Air Purifier dengan Filter HEPA

Air purifier dengan filter HEPA sangat direkomendasikan jika sedang mencari alat pembersih udara. EPA menjelaskan bahwa filter HEPA merupakan filter mekanis berlipat yang secara teori dapat menangkap setidaknya 99,97% partikel berukuran 0,3 mikrometer.

Meski demikian, angka efisiensi HEPA tersebut bukan berarti 99,97% abu vulkanik di dalam rumah pasti akan hilang dari ruangan. Perlu diingat bahwa abu vulkanik memiliki ukuran partikel yang beragam, efektivitasnya pun sangat bergantung pada berbagai faktor eksternal.

2. Perhatikan Nilai CADR

Selain jenis filter, perhatikan juga CADR-nya. Parameter ini menunjukkan seberapa banyak udara bersih yang dapat dihasilkan oleh air purifier untuk mengurangi partikulat. Lalu, berapa nilai CADR air purifier abu vulkanik?

Nilai CADR tetap perlu disesuaikan dengan luas ruangan tempat air purifier digunakan. Nilai CADR yang ideal adalah minimal 2/3 dari luas ruangan dalam ukuran square feet. Semakin tinggi CADR, semakin banyak partikel yang dapat disaring.

3. Sesuaikan dengan Ukuran Ruangan

Jenis filter bukan satu-satunya penentu efektivitas airpurifier, tapi perhatikan juga kapasitasnya. Kapasitas alat harus sesuai dengan ukuran ruangan. Air purifier yang terlalu kecil untuk ruangan besar akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengurangi konsentrasi partikel.

Kapasitasnya bisa dilihat dari nilai CADR yang idealnya 2/3 dari luas ruangan dalam ukuran square feet. Sebagai contoh, untuk ruangan sekitar 100 kaki persegi diperlukan air purifier dengan CADR minimal 65 CFM, sedangkan ruangan 300 kaki persegi membutuhkan CADR 195 CFM.

4. Pilih Perangkat yang Tidak Menghasilkan Ozon

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah teknologi tambahan pada airpurifier. Sebisa mungkin pilih perangkat yang tidak menghasilkan ozon sebagai produk samping. Hal ini biasanya terjadi pada air purifier yang menggunakan teknologi ionizer.

Ozon diketahui memang dapat membantu memurnikan atau membersihkan udara, tapi ozon memiliki sifat kimia yang sangat reaktif sehingga bisa berdampak buruk pada kesehatan jika terhirup oleh penghuni ruangan.

5. Perhatikan Kondisi dan Masa Pakai Filter

Abu vulkanik dapat membuat filter lebih cepat kotor karena membawa banyak material partikulat. Oleh karena itu, kondisi filter perlu diperiksa secara berkala dan diganti sesuai petunjuk produsen atau ketika sudah kotor.

Semakin tinggi kecepatan kipas dan semakin lama air purifier beroperasi, semakin banyak udara yang dapat melewati filter sehingga proses penyaringan partikulat juga meningkat. Filter yang kotor atau terlalu penuh pastinya tidak dapat bekerja dengan baik.

6. Tempatkan di Ruangan yang Paling Sering Digunakan

Jika hanya memiliki satu air purifier, letakkan perangkat di ruangan yang paling sering dihuni, misalnya kamar tidur atau ruang keluarga. Pastikan juga aliran udara dari perangkat tidak terhalang oleh benda lain seperti furnitur atau tirai.

Demikian penjelasan terkait penggunaan air purifier saat hujan abu vulkanik. Perangkat ini bisa membantu membersihkan udara dari abu vulkanik maupun polutan lain. Namun, penting untuk diingat bahwa penggunaan air purifier hanya benar-benar efektif jika dipadukan dengan langkah pencegahan seperti pembatasan akses masuk abu ke dalam rumah.

Baca juga artikel terkait PERALATAN ELEKTRONIK atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani