tirto.id - Gempa bumi Flores yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 tidak hanya merusak rumah warga di Pulau Palue, Kabupaten Sikka. Gempa juga merusak sejumlah bak penampung air hujan yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan air masyarakat.
Kondisi itu membuat warga Desa Rokirole, Kecamatan Palue, harus mengandalkan cara lain untuk memenuhi kebutuhan air minum. Salah satunya dengan memanfaatkan air yang diperoleh dari uap atau panas bumi di Kampung Poa, Desa Rokirole.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Rokirole, Teodorus Tiba, mengatakan hampir seluruh bak penampung air hujan milik warga mengalami kerusakan setelah gempa.
“Banyak bak air yang rusak akibat gempa 15 Agustus lalu, bak yang rusak buat air menghilang dari bak,” kata Teodorus saat ditemui di Desa Rokirole, Rabu (16/9/2026) sore.

Menurut dia, jumlah bak penampung air hujan yang rusak diperkirakan mencapai lebih dari 100 unit, bahkan bisa sekitar 150 unit.
Kerusakan tersebut membuat warga kehilangan tempat penyimpanan air hujan. Padahal, air hujan selama ini menjadi sumber utama untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, terutama untuk mandi dan keperluan sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, warga memanfaatkan air hasil penyulingan dari uap panas bumi seperti di Kampung Wae Poa, untuk memenuhi kebutuhan minum. Menurut Teodorus, sumber air tersebut dapat dimanfaatkan sepanjang tahun.
Dalam sehari, satu keluarga dapat memperoleh sekitar 10 liter air dari proses penyulingan tersebut, untuk kebutuhan minum.
Sementara untuk mandi dan kebutuhan rumah tangga lainnya, warga masih mengandalkan menampung air hujan. Persoalannya, banyak bak penampungan yang rusak akibat gempa sehingga kapasitas penyimpanan air hujan ikut terganggu.

Untuk sementara, bantuan pemerintah yang diterima warga masih berupa air kemasan siap minum. Sedangkan bantuan berupa tandon atau tempat penampungan air belum diterima sebagian besar warga.
“Belum, ada warga yang belum bantuan tandor air,” kata Teodorus.
Warga Desa Rokirole, Valens Regi kepada kontributor Tirto menuturkan, keterbatasan sumber air bersih membuat masyarakat Cawalo dan Tudu di Desa Rokirole memanfaatkan cara tradisional untuk memenuhi kebutuhan air minum.
"Ini cara tradisional yang sudah bertahun-tahun dipakai warga untuk penuhi kebutuhan air bersih. Apalagi setelah gempa, bak air banyak yang retak dan rusak, praktis air dari panas bumi jadi andalan untuk kebutuhan air minum,' ungkap Valens Regi.

Valens menuturkan Desa Rokirole berada dekat di sisi lembah Gunung api Rokatenda, yang memiliki potensi panas bumi. Warga kemudian memanfaatkan panas bumi dengan menyuling uap air yang dialirkan melalui rangkaian batang bambu yang saling terhubung dan dipasang dari posisi dataran yang lebih tinggi ke dataran yang rendah.
"Air dari uap air panas bumi masuk dalam bambu panjang kurang lebih 3-4 meter, setiap tetesan yang keluar itu kemudian ditampung di dalam jeriken. Jika sudah penuh, barulah diambil untuk kebutuhan air minum," ungkap Valens Regi.
Ditambahkan Valens Regi, air hasil penyulingan uap bumi ini memiliki kualitas yang sangat baik dan aman untuk dikonsumsi. Meskipun bersumber dari uap bumi, air tersebut dipastikan tidak mengandung kadar belerang.
"Selain jernih, rasa air hasil sulingan ini segar dan menyerupai air mineral kemasan, sehingga menjadi salah satu sumber air bersih yang diandalkan oleh masyarakat Desa Rokirole," ungkap Valens.
Valens menambahkan selain untuk kebutuhan air bersih, uap dari panas bumi juga dimanfaatkan untuk memasak aneka pangan lokal dari kebun warga.
"Biasanya kami pakai uap panas bumi untuk masak ubi. Tinggal ditaruh di dalam plastik dan benamkan di lubang yang ada uap panas bumi. Sejam kemudian sudah bisa dimakan ubinya," ungkap Valens.

Sementara itu Koordinator Posko Utama Desa Rokirole, Nikodemus W. Lowo, mengatakan jumlah warga Desa Rokirole yang masih mengungsi secara keseluruhan mencapai 979 jiwa.
Namun, khusus warga yang menempati posko pengungsian di Lapangan Gontor, terdapat 285 jiwa yang berasal dari 96 KK.
“Kalau untuk Desa Rokirole itu, total jiwa yang mengungsi itu 979. Hanya khusus yang di lapangan ini ada 285,” kata Nikodemus.
Menurut dia, sebagian besar warga masih memilih bertahan di tenda pengungsian karena kondisi rumah mereka mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa.
Kerusakan akibat gempa tidak hanya terjadi pada bangunan rumah. Sejumlah bak penampungan air hujan milik warga juga mengalami kerusakan.

Ia mengatakan, hampir setiap rumah memiliki bak air hujan yang retak atau rusak akibat gempa. Kondisi tersebut membuat warga semakin kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
“Bak air itu rata-rata setiap rumah. Kalau mau bilang tidak retak juga, airnya hilang,” ujarnya.
Menurut dia, sebelum gempa, persediaan air di dalam bak warga masih cukup. Namun setelah gempa, banyak bak mengalami keretakan sehingga air tidak lagi tertampung.
“Airnya tuh sebelum gempa masih lumayan, tapi setelah gempa airnya sudah tidak ada lagi. Sudah retak. Hanya satu dua bak yang memang bertahan, tapi hanya satu atau dua. Banyaknya yang pecah,” katanya.
Nikodemus memastikan kerusakan rumah maupun bak penampungan air tersebut telah dilaporkan kepada pemerintah daerah. Tim survei juga telah turun langsung untuk melihat kondisi rumah warga dan fasilitas penampungan air yang terdampak gempa.
“Sudah lapor, sudah survei. Sudah ada tim survei yang turun untuk lihat rumah, terus lihat bak-bak. Bak-bak juga pecah,” ujarnya.
Nikodemus menuturkan, kebutuhan akan air bersih menjadi kebutuhan yang sangat dibutuhkan warga di posko pengungsian Lapangan Guntur Cawali. Ia mengharapkan adanya perhatian khusus dari Pemkab Sikka untuk pemenuhan kebutuhan air bersih.
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id

































