tirto.id - "Saja tjoba toeloeng diri sendiri dengen bernang, dan achirnja tersangkoet di satoe poehoen kepoeh, dimana saja berdiam aken toenggoein soeroetnja itoe aer. Di sana-sini rame soearanja orang bertreak minta toeloeng, tapi tida kaliatan satoe apa."
Ong Leng Yauw tersangkut pada dahan pohon kepuh sekira tiga depa di atas tanah. Bocah empat belas tahun itu baru saja tersapu gelombang raksasa yang menerjang Karangantu, sebuah desa di pesisir Banten, ketika tsunami akibat erupsi Krakatau 27 Agustus 1883 melumat rumah, perahu, ternak, dan apa saja, termasuk orang-orang yang tak sempat menyelamatkan diri. Di tengah huru-hara itu, pohon jadi benteng terakhir tempat Ong bertaruh nyawa.
Lebih dari setengah abad sejak kejadian, saat usianya menginjak 68 tahun, Ong Leng Yauw kembali menceritakan kengerian hari itu kepada Kwee Tek Hoaij. Kwee kemudian mencatat kesaksian Ong dalam majalah Sam Kauw Gwat Po No. 30, Tahun ke-4 (Maret 1937 hal. 25-33).
Di seberang Selat Sunda, pria bernama Muhammad Saleh menyaksikan petaka itu dari tanah Lampung. Bayang-bayang yang masih tertangkap di kepalanya dia tulis dalam "Syair Lampung Karam" ketika mengungsi ke Bangkahulu (kini Bencoolen Street, Singapura) pada medio Oktober 1883.
Di lain tempat, dari atas geladak kapal uap Gouverneur-Generaal Loudon, eks insinyur Waterstaat (Dinas Pengairan) Hindia Belanda, yang juga salah satu tokoh pendiri Institut Teknologi Bandung (ITB), R.A. van Sandick, jadi saksi amuk Krakatau 1883 dari tengah laut. Kelak ia menerbitkan buku In het Rijk van Vulcaan: De Uitbarsting van Krakatau en Hare Gevolgen (1890) berisi pengalamannya di atas kapal Loudon ketika tsunami menerjang.
Ong Leng Yauw, Muhammad Saleh, dan Van Sandick, masing-masing tak saling kenal. Ketiganya mencatat peristiwa itu dengan cara berbeda. Ong bersuara di majalah Melayu peranakan; Saleh mengabadikan ingatannya dalam bait-bait syair beraksara Jawi; Van Sandick menulis buku berbahasa Belanda sebagai pengamat sekaligus saksi mata.
Kendati caranya berbeda, ketiganya sama-sama menuntun pembaca ke satu titik dan linimasa, menuju pengujung Agustus 1883, hari-hari gelap di sekitar lokasi kejadian saat erupsi Krakatau menjelma menjadi salah satu bencana terkelam dalam sejarah.
26 Agustus 1883, Awal Mula Bencana
Sebelum peristiwa utama pada 27 Agustus 1883, gejolak erupsi Gunung Krakatau sebenarnya sudah menjadi-jadi sejak Mei 1883. Warga yang bermukim di sekeliling Selat Sunda kerap mendengar suara dentuman.
Di Banten, gelegarnya terdengar selama tiga bulan. Ong Leng Yauw menyebut, warga sibuk berkirim telegram untuk mencari tahu muasal dentuman itu. Tak seorang pun curiga bahwa Pulau Krakatau yang dianggap tenang ternyata siap meletupkan kiamat kecil.
“... tida ada jang sangka berätsal dari poelo Krakatau jang goenoeng apinja dianggep tida berbahaja,” kata Ong, dalam Sam Kauw Gwat Po No. 30 (1937: 25)
Sehari sebelum kiamat menerjang, Minggu pagi, 26 Agustus 1883, sekira pukul empat subuh, gelegar berat bersahut-sahutan dari arah laut. Muhammad Saleh, yang berada di Lampung ketika itu, merekam dentuman awal tersebut.
Saleh dan orang-orang semula mengira suara itu cuma mesin kapal milik kompeni yang sedang lewat. Tentu mereka keliru, itu bukan gemuruh mesin kapal, “Rakata” sedang memanaskan mesin petakanya.
Hari Ahad nyatalah tentu / Pukul empat jam di situ /
Berbunyi guruh menderu-deru / Dikatakan kapal apinya itu /
Gaduhlah orang di dalam negeri / Mengatakan datang kapalnya api /
lalu berjalan berperi-peri / Nyatalah Rakata empunya bunyi.
Demikian penggalan "Syair Lampung Karam".

Di lain tempat, dari perairan Lampung, van Sandick menyaksikan rentetan pembuka petaka dari atas geladak kapal Loudon. Ia juga mencatat kejadian malam mencekam pada 26 Agustus 1883.
Sekira pukul enam sore, kapal Loudon baru saja buang sauh di perairan Teluk Betung usai menembus pelayaran yang “tak bersahabat”. Langit sore mestinya masih terang, tapi sudah padam sepenuhnya oleh awan abu tebal. Geladak kapal mulai dihujani abu halus dan batu apung berukuran kecil yang melayang dari arah Selat Sunda.
Di tengah gelap, Van Sandick menyaksikan pemandangan ngeri. Dari kejauhan, arah Pulau Krakatau, kilatan-kilatan listrik statis dan kilat vulkanik membelah bumbungan kolom asap raksasa. Udara laut yang biasanya segar berganti jadi bau belerang, sementara dentuman bertubi-tubi bikin dinding-dinding kapal Loudon terus bergetar hebat.
Keanehan paling mencekam yang dicatat Van Sandick malam itu adalah perilaku laut mendadak ganjil dan liar. Tak ada badai atau angin kencang, tapi perairan Teluk Betung bergejolak hebat. Gelombang pasang terus membanting tubuh Loudon, perahu-perahu kecil serta muatan pelabuhan di sekitarnya saling berbenturan sampai hancur di tengah suasana gelap. Kapten Lindemann selaku nahkoda akhirnya memutuskan menahan kapal, enggan merapat ke dermaga demi menghindari bahaya navigasi yang makin tak terkendali.
Sepanjang malam itu, para awak kapal Ludon beserta penumpang bertaruh tenaga membuang endapan batu apung dan abu tebal yang terus menumpuk di atas geladak. Mereka tak ingin beban kapal terlalu berat dan berisiko karam.
Dalam catatannya, Van Sandick menulis:
"De avond van den 26 sten Augustus 1883 zal aan al de opvarenden van de Loudon in onuitwischbaar geheugen blijven... De lucht was zwanger van zwavel, de zee bewoog vreemd en onrustig, en van tijd tot tijd werd het duister verlicht door machtige bliksemstralen rondom de vulkaan, terwijl de stoomboot voortdurend trilde op haar ankers door de hevigheid der onderaardsche slagen."
(Malam 26 Agustus 1883 tidak akan terhapus dari ingatan seluruh awak kapal Loudon... Udara sarat belerang, laut bergerak aneh dan gelisah, dari waktu ke waktu gelap diterangi kilatan petir dahsyat di sekitar gunung api, sementara kapal terus bergetar pada jangkar-jangkarnya akibat dentuman dari bawah bumi.)
Van Sandick dan seluruh jiwa di atas Loudon terkurung pasrah, berdiri menanti takdir di hadapan mulut tungku raksasa yang siap melumat daratan keesokan harinya.
27 Agustus 1883, Puncak Amuk Krakatau
Senin pagi, 27 Agustus 1883.
Dalam kalender Tionghoa, hari itu bertepatan dengan tanggal 25 bulan Tjhitgwee tahun 2434. Desa Karangantu dan pesisir Banten ramai lantaran warga sedang menyambut perayaan Tjhitgwee. Beberapa hari sebelumnya, pagelaran wayang Kongfu mengiringi pemulangan patung Dewi Kwan Im dari Serang.
Ong Leng Yauw dan sahabatnya, Ong Boen Seng, diutus orang tua mereka membeli kue-kue untuk keperluan upacara sembahyang. Usia mereka saat itu masih amat hijau. Ong baru 14 tahun, sementara Boen Seng 15 tahun. Berbekal tenong kosong, mereka berjalan kaki menuju Banten.
Namun di tengah perjalanan, amuk Krakatau yang semula dikira guruh biasa sudah mencapai titik ledak membinasakan. Langit mendadak gelap gulita tertutup abu pekat vulkanik. Ong mengenang detik-detik tatkala siang hari berubah menjadi gelap.
Di tengah kebingungan dua anak manusia yang tak tahu harus melangkah ke mana, gelombang raksasa menerjang. Ong mendokumentasikan bagaimana bah menggulung tubuh mereka tanpa memberi ruang untuk lolos:
"Salagi kita bingoeng dan tida taoe moesti pergi ka mana, mendadak kadengeran soeara gemoeroehnja ombak, dan sabelonnja bisa berdaja satoe apa kita soedah tersapoe dan terangkat naek ka atas. Apa jang kadjadian lebih djaoe saja tida taoe, sebab di sapoeter saja ada sanget gelap pêtêng." (Sam Kauw Gwat Po No. 30, hlm. 26)
Ong bertahan hidup dengan bertarung di dalam air yang pekat hingga akhirnya meraih dahan pohon kepuh. Di tengah kegelapan itu, jeraj jerit ketakutan terdengar dari lintas penjuru.
Tak lama kemudian, Ong mendengar suara Boen Seng memanggil namanya dari arah atas. Boen Seng bernasib baik; ia tersangkut di atas atap sebuah lumbung hanyut, lalu terjepit di antara pepohonan sehingga tidak terseret lebih jauh ke tengah laut. Kala air surut, Ong menapakkan kaki dan baru sadar betapa tinggi air laut yang mengempas mereka.

Di seberang laut, dari atas kapal Loudon yang sedang buang sauh di Teluk Betung, Van Sandick menyaksikan dramatisasi fajar 27 Agustus itu. Sekira pukul 06.30 pagi, gelombang raksasa menerjang dari tengah samudra menuju Teluk Betung. Kendati Loudon terangkat hebat dan terombang-ambing guncangan bah, kapal uap itu berhasil bertahan.
Dari geladak, Van Sandick menatap pesisir Teluk Betung rata disapu air. Rumah-rumah, bangunan pelabuhan, dan hiruk-pikuk kota pelabuhan itu lenyap disapu tiga gelombang susulan.
Di sisi lain, fenomena unik terjadi di perairan pantai pasca-tsunami awal. Air laut surut. Kwee Tek Hoaij mengonfirmasi gejala ini lewat kesaksian penyintas lain di Labuan: dasar samudra terekspos telanjang hingga ikan-ikan tergeletak di ceruk yang biasanya terendam. Warga yang tidak paham tanda alam berbondong memunguti ikan, sebelum akhirnya gulungan bah tsunami susulan melumat mereka.
Surutnya air laut bahkan disebut menyedot air sungai-sungai pesisir. Tatkala Ong dan Boen Seng, yang sudah kehilangan celana akibat tersapu air, berusaha mencari jalan pulang, mereka mendapati Kali Banten yang biasanya lebar mendadak kering:
"dengen doea-doea kailangan tjelana waktoe bernang, kita tida taoe ka mana moesti menoedjoe sampe mendadakan di dalem gelap goelita kita meliat tjahaja terang dari kadjaoean... Kita berdoea lantes lari menoedjoe ka djoeroesan itoe sinar, dengen melintasin benteng Spelwijck... laloe sebrangin itoe soengei, jang di itoe djeman ada teritoeng besar lantaran aernja tertahan oleh aer laoet... di itoe sa'at itoe soengei boleh dibilang kering sama sekalih, ampir tida ada aernja."
27 Agustus 1883 memang klimaks dari rangkaian erupsi Krakatau. Catatan vulkanologi merekam empat ledakan mahadahsyat sepanjang pagi itu, yakni pukul 05.43, 08.20, 09.59, dan 10.52 pagi. Ledakan pukul 09.59 itulah peristiwa paling destruktif.
Bagi warga di pesisir Lampung, puncak ledakan ini bak kiamat lokal; gelombang bah, hujan batu panas, dan awan vulkanik, menyapu hidup mereka. Muhammad Saleh merekam kengerian kepungan bah dan hujan abu di Lampung. Saleh menulis dalam syairnya betapa pasrah dan terbatas gerak warga saat bah menerjang tanpa ampun.
Tak berhenti pada gulungan air samudra, atmosfer dipenuhi hujan abu vulkanik pekat dan hawa panas. Warga yang berlarian di tengah gelap diselimuti rasa takut dan luka bakar akibat hawa panas erupsi.
Orang lari tempat yang lengkang / Membuang diri tempat yang lapang / Menanggalkan harta sepinggan tanah / Dipukul air habislah rumah / Kena hawa air habislah tenggelam...
Di atas geladak Loudon, sekira pukul 10 pagi, tatkala ledakan puncak terjadi, langit yang redup berubah pekat total bagai tengah malam. Hujan batu apung dan abu tebal menyirami kapal. Dalam rasa takut bahwa kapal akan tertimbun material vulkanik atau tenggelam diterjang bah, penumpang dan awak kapal bertahan di tengah gulita selama berjam-jam.
Dalam catatannya, Van Sandick mengaku bahwa ingatan penyintas yang berada dalam cengkeraman maut rentan terdistorsi. Ketakutan hebat bisa mengacak-acak persepsi waktu, jarak, dan urutan peristiwa. Maka, Van Sandick merasa catatannya di atas kapal Loudon perlu dikalibrasi dengan cara merujuk laporan saintifik Dr. Rogier D.M. Verbeek, ahli geologi pemerintah kolonial yang menerbitkan laporan Krakatau (1884-1885), guna melengkapi catatannya itu agar tetap valid. Dan ia memang melakukannya.
Apa yang Terjadi Usai Letusan dan Tsunami Krakatau 1883?
Tatkala air pasang mulai surut dan kegelapan abu menipis, para penyintas melangkah di atas tanah yang tak lagi mengenali rupa asalnya.
Di Banten, Ong Leng Yauw dan Ong Boen Seng, yang menyeberangi Kali Banten yang kering, mendapati pendar cahaya yang semula mereka duga berasal dari kebakaran permukiman Pecinan Banten. Ternyata, pendar tersebut memancar dari Klenteng Kwan Im Tongyang, yang berdiri tepat di tepi kiri Kali Banten.
Klenteng tua itu menjelma suaka lintas etnis dan kelas sosial. Di dalamnya berjejal warga Tionghoa, pribumi, hingga pejabat kolonial Belanda seperti Syahbandar Banten beserta keluarganya, terlindung dari bah yang menghancurkan bangunan sekelilingnya. (Sam Kauw Gwat Po No. 30, hlm. 28)
Namun tatkala Ong dan Boen Seng memberanikan diri kembali ke Karangantu untuk mencari keluarga mereka, mereka disambut pemandangan tragis.
"Saja dapetken tida ada satoe apa jang tinggal berdiri, antero roemah-roemah berikoet loods pasar dan laen-laen soedah mendjadi rata sama tanah, tersapoe bersih sama sekalih, tjoemah di sana sini tinggal reroentoeknja dengen tertjampoer sama bangke manoesia dan hewan-hewan jang malang melintang saparo tertoetoep aboe, jang matjemuja legit seperti sagoe. Poehoen-poehoen kelapa sampe patah tjabang-tjabangnja lantaran kaberatan sama itoe aboe jang melengket." (hlm. 28)
Seluruh permukiman warga Tionghoa di Karangantu sirna. Ong mencatat bahwa hampir tidak ada warga Tionghoa Karangantu selamat, kecuali dirinya, Boen Seng, dan dua gadis muda yang mereka temukan bergelantungan tanpa pakaian di atas pohon buah nona:
"Itoe doea siotjia, nama Roti Nio dan Biskoeit Nio, saja dapetken lagi bergelantoengan di atas poehoen Boea Nona dengen terlandjang boelet. Sasoedahnja dikasih toeroen, saja robek lajarnja saboeah perahoe jang terbalik menjoengsang, aken iaorang goenaken boeat menoefoepin badan." (hlm. 29)
Kedua gadis itu dibawa mengungsi ke Serang dan ditampung oleh kenalan mereka. Namun, trauma jiwa dan duka atas hilangnya seluruh anggota keluarga menggerogoti fisik mereka secara perlahan. Ong menjelaskan akhir pilu kedua gadis itu:
"Tapi liwat kira satoe boelan itoe doea siotjia meninggal doenia lantaran mereres, laorang tida bisa tahan hidoep dalem kasedihan sebab antero familie dan miliknja telah moesna dalem itoe bintjana." (hlm. 29)

Di Lampung, Muhammad Saleh menyaksikan kebinasaan serupa. Mayat-mayat manusia bergelimpangan di sepanjang pesisir. Bagi para korban di Lampung, mengungsi adalah satu-satunya jalan keluar. Melalui syairnya, Saleh merekam tangis saat para korban berbondong menuju perahu, menyeberang ke Batavia, hingga menumpangi kereta api demi mencari suaka.
Membuat perahu kena sebarang / Lalulah bawa ke negeri Betawi / Lalulah naik ke kereta api...
Dari geladak Loudon, Van Sandick juga menyaksikan pemandangan Teluk Betung saat fajar hari berikutnya mulai muncul. Pesisir Lampung luluh lantak. Mayat, bangkai ternak, perahu hancur, serta pepohonan, terapung di permukaan laut yang tenang tapi mencekam.
Bencana tsunami Krakatau 1883 menelan 36.417 korban jiwa, sebagian besar akibat empasan gelombang tsunami di pesisir Banten dan Lampung. Namun pascabencana, babak baru perjuangan dimula. Ong Leng Yauw menceritakan bahwa pemerintah kolonial Hindia Belanda dan lembaga donasi mulai menyalurkan bantuan kepada para korban yang kehilangan harta benda.
"Liwat beberapa hari saja dipanggil ka Kaboepaten dan dapet toe'oengan beras satoe gantang dan oewang f 1,50 satiap minggoe. Koetika ampir Tjiagwee saja dan laen-laen orang Tionghoa jang terloepoet dari bahaja dipanggil ka Batavia, dan dari Majoor Lie Tjoe Hong dikasih oewang f 25.- Liwat beberapa boelan komoedian saja dapet derma'an f 1500 sabagi pengganti dari milik saja jang soedah moesna dan dipake modal boeat berdiriken roemah baroe dan berdagang." (hlm. 29)
Kwee Tek Hoaij turut menguliti asal-usul bantuan f 1.500 yang diterima Ong. Uang itu kemungkinan bagian dari gelombang solidaritas global. Erupsi Krakatau merupakan bencana alam pertama dalam sejarah modern yang beritanya menyebar ke penjuru bumi dalam hitungan jam lewat jaringan kabel telegraf bawah laut. Komite-komite penggalangan dana dari Eropa hingga Amerika Utara ikut membantu korban di Hindia Belanda.
Di seberang pulau, Muhammad Saleh meneruskan perjalanannya hingga tiba di Kampung Bangkahulu, Singapura, pada pertengahan Oktober 1883. Di tanah pengungsian itulah, saat trauma masih membakar ingatan, Saleh memegang pena. Ia menyusun "Syair Lampung Karam" sebagai bentuk kesaksian sejarah sekaligus doa. Pada bagian penutup naskahnya, Saleh mengunci pentarikhan naskah itu secara rinci:
Tulisannya daripada yang menyurat ini di dalam negeri Singapura kendatinya / Pada 14 hari bulan Sya'ban hari Al-Jumat jam pukul sembilan...
Wallahu a'lam tamatlah syair / Kandung orang yang fakir / Yang mengarang fakir yang hina...
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































