tirto.id - Basarnas menghentikan operasi penyelaman dalam pencarian korban KM Virgo Transport 8 pada hari ke-21, Sabtu (3/10/2026) malam. Fokus pencarian kini dialihkan ke permukaan laut dan wilayah pesisir, sementara pencarian di dalam kapal menunggu proses pengangkatan kapal.
Dari 243 orang dalam manifes, 188 orang telah dievakuasi. Rinciannya, sebanyak 108 orang dievakuasi dalam kondisi selamat dan 80 orang meninggal dunia. Sementara itu, 55 orang masih dalam pencarian.
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, mengatakan operasi pencarian tetap dilanjutkan dengan mengalihkan fokus operasi ke pencarian permukaan dan pencarian pesisir pantai.
“Fokus operasi dialihkan dan dioptimalkan melalui pencarian permukaan dan pencarian pesisir pantai,” kata Syafii dalam keterangan tertulis, Sabtu (3/10/2026).
Syafii menerangkan, penyelaman dihentikan karena risiko terhadap keselamatan penyelam semakin tinggi.
Operasi SAR gabungan nasional selanjutnya dialihkan menjadi operasi SAR rutin di wilayah Kantor SAR Banjarmasin, Palangka Raya, dan Pontianak.
Pencarian akan dievaluasi berdasarkan kemungkinan jalur hanyut korban, kondisi arus, angin, gelombang, serta temuan di lapangan.
Area prioritas pencarian akan mencakup Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Sementara itu, pencarian di dalam badan kapal dapat dilanjutkan setelah kapal berhasil diangkat dan berada dalam kondisi stabil sehingga risiko terhadap tim evakuasi dapat dikendalikan.
“Operasi pencarian dalam badan kapal dapat dilaksanakan kembali setelah kapal berhasil diangkat, berada dalam kondisi stabil, dan risiko terhadap tim evakuasi dapat dikendalikan,” terang Syafii.
Risiko Badan Kapal yang Semakin Rapuh
Sebelum dihentikan, penyelaman menjadi metode utama untuk mengevakuasi korban yang terjebak di badan kapal. Dalam sehari, operasi dilakukan rata-rata empat hingga lima sortie dengan dua hingga tiga tim, masing-masing terdiri atas lima penyelam, pada sekitar pukul 09.00-16.00 WITA.
Dari 80 korban meninggal yang telah dievakuasi, 50 di antaranya ditemukan melalui penyelaman. Namun, penyelam hanya dapat menembus sekitar 10 meter ke dalam badan kapal karena terhalang material dan debris. Pada kedalaman sekitar 15 meter, terdapat risiko struktur kapal bergeser atau runtuh.
“Penetrasi lebih jauh terhambat oleh banyaknya barang-barang material dan debris di dalam kapal, khususnya sekitar 15 meter memiliki potensi menghadapi struktur kapal yang dapat bergeser atau runtuh,” ujar Syafii.
Risiko juga berasal dari kondisi kapal yang belum stabil dan masih dapat mengalami perubahan posisi. Di dalam kapal, jarak pandang rendah akibat sedimen dan debris turut menyulitkan orientasi penyelam, sementara benda tajam dan potensi paparan bahan kimia dari tumpahan minyak menambah bahaya.
Pada kedalaman sekitar 27 meter, waktu kerja penyelam dengan peralatan scuba juga diperkirakan hanya mencapai maksimal 20 menit per sesi.
Sejumlah jendela kapal sebelumnya telah dibuka untuk menjadi akses masuk. Namun, sejak hari pencarian ke-19 pada Kamis (1/10/2026), akses tersebut tidak lagi menghasilkan penemuan korban.
Syafii menegaskan Basarnas tetap mempertahankan pencarian terhadap 55 korban yang belum ditemukan dengan tetap mengutamakan keselamatan personel SAR.
“Kita tetap menjaga dua tujuan secara bersamaan: pertama, mempertahankan upaya pencarian terhadap korban yang masih belum ditemukan, dan kedua, mencegah terjadinya risiko yang tidak terkendali terhadap personel SAR,” pungkasnya.
Penulis: Khizbulloh Huda
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































