Menuju konten utama

RSUD Bari Palembang Respons Warga Meninggal Diduga Terpapar Asap

RSUD Bari Palembang manajemen rumah sakit belum memberikan keterangan terkait penyebab penyebab pasien meninggal dunia.

RSUD Bari Palembang Respons Warga Meninggal Diduga Terpapar Asap
Keluarga almarhum Hardiansyah di Lorong Mataram, RT 01, RW 01, Kelurahan Kemas Rindo, Kertapati, Palembang, Sabtu (3/10/2026). FOTO/Irwanto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bari Palembang angkat bicara terkait seorang warga meninggal dunia diduga akibat terpapar asap kebakaran hutan dan lahan.

Kepala Tim Humas dan Pemasaran RSUD Bari Palembang, Adea Triutami, mengonfirmasi telah menerima pasien atas nama Hardiansyah (41) pada Jumat (2/10/2026) pagi. Pasien tiba di IGD dalam kondisi tidak sadar didampingi beberapa keluarganya.

"Pasien sampai di IGD sudah dalam kondisi tidak sadar. Dilakukan pemeriksaan oleh dokter, sudah tidak ada nadi dan tidak ada napas," kata Adea Triutami, Minggu (4/10/2026).

Selanjutnya tim media melakukan resusitasi jantung paru (RJP) dan memberikan obat untuk menangani kondisi pasien. Namun upaya itu tidak membuat kondisi pasien kembali merespons dan dinyatakan meninggal pukul 07.42 WIB.

Hanya saja, manajemen rumah sakit belum memberikan keterangan terkait penyebab penyebab pasien meninggal dunia. Sementara keluarga menduga kesehatan pasien menurun akibat menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dampak asap karhutla.

"RJP sudah, pemberian obat juga sudah, tetap tidak merespons," kata Adea.

Sementara itu, dokter spesialis penyakit dalam subspesialis saluran pernapasan dan paru, dr Zen Ahmad, menjelaskan kualitas udara yang buruk akan memperburuk gangguan pernapasan bagi semua kelompok usia. Namun penderita asma menjadi paling rentan karena saluran pernapasan semakin terjadi penyempitan.

"Pasien asma yang pada dasarnya saluran napasnya sudah sempit akan bertambah sempit. Karena CO2 menumpuk di paru dan O2 yang masuk kurang," kata dr Zen Ahmad.

Menurut dia, asap karhutla membawa peningkatan material partikulat, termasuk PM2.5 dan gas karbon oksida. Partikel tersebut dapat menimbulkan iritasi atau peradangan pada saluran napas.

Jika terpapar asap, penderita asma akan berpotensi mengalami sesak berat lantaran oksigen yang dibutuhkan tidak cukup diedarkan ke seluruh tubuh melalui saluran pernapasan menuju paru dan masuk ke pembuluh darah.

"Asap karhutla semakin mengganggu proses pernapasan pasien asma. Karena itulah, warga yang memiliki riwayat penyakit ini harus terhindar dari paparan asap dan kualitas udara yang buruk," kata dia.

Selain saluran pernapasan, dokter yang bertugas di Rumah Sakit Umum Pusat Mohammad Hoesin Palembang itu juga menyebut asap karhutla menyebabkan iritasi pada mata. Partikulat halus membuat mata berair dan mengganggu penglihatan.

Karena itu, masyarakat diimbau membatasi aktivitss di luar ruangan dan jika mendesak harus memakai masker dan kacamata. Sebisa mungkin dilakukan pencegahan agar asap tidak masuk ke dalam rumah.

"Tentunya jangan tambah kualitas udara makin buruk, semisal merokok, membakar obat nyamuk, menyalakan lilin, dan memasak menggunakan kayu bakar," kata dia.

Diketahui, Hardiansyah (41), meninggal dunia diduga akibat menderita ISPA setelah terpapar asap karhutla, Jumat (2/10/2026) pagi. Pria yang sehari-hari berprofesi pengemudi online itu diketahui memiliki riwayat asma.

Istri almarhum, Rika Yunita Sari (39), menuturkan, suaminya mengeluhkan sesak napas berat saat siap-siap bekerja. Dia mengerok tubuh suaminya seperti yang diminta tetapi justru kondisinya memburuk dengan tubuh membiru.

Keluarga langsung membawa ke RSUD Bari Palembang. Sesampai di rumah sakit, Hardiansyah meninggal dunia.

"Selang waktu ngedrop dan meninggal begitu cepat, tidak sampai satu jam, tiba-tiba begitu," kata Rika.

Rika yang tinggal di Lorong Mataram, RT 01, RW 01, Kelurahan Kemas Rindo, Kertapati, Palembang, itu mengakui suaminya memiliki riwayat asma sejak kecil tetapi jarang kambuh. Kesehatannya menurun drastis ketika ada karhutla yang terjadi tak jauh dari kediamannya pada 15 September 2026.

Sejak saat itu, almarhum sering mengeluhkan sesak napas dan batuk. Meski Palembang dikepung asap, dia tetap bekerja seperti biasa dengan memakai masker.

"Sepulang kerja dia sering mengeluh banyak asap, bikin sesak dan batuk," kata Rika.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama