Menuju konten utama

Pakar Gambut Unri Sarankan Prabowo Pakai Perigi Atasi Karhutla

Berdasarkan penerapan di lapangan, kolam perigi dibuat dengan jarak terukur agar efektif saat proses pemadaman berlangsung.

Pakar Gambut Unri Sarankan Prabowo Pakai Perigi Atasi Karhutla
Pewarta merekam gambar saat kebakaran lahan terjadi di Tanjung Pauh Hilir, Kerinci, Jambi, Selasa (15/9/2026). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pakar gambut dari Universitas Riau (Unri), Sigit Sutikno, menyarankan kepada Presiden Prabowo Subianto agar memanfaatkan kearifan lokal masyarakat Riau berupa kolam resapan kecil atau perigi untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut.

Hal ini disampaikan Sigit saat berdiskusi bersama Kepala Negara dan sejumlah ilmuwan lainnya di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

“Kearifan lokal di Riau, ya kita sebut perigi. Cukup 1 meter kali 2 meter saja, kotak gitu,” ujar Sigit sebagaimana disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (25/9/2026).

Sigit menjelaskan bahwa konsep embung di lahan gambut berbeda dengan tanah mineral. Menurutnya, keberadaan embung di lahan gambut bukan untuk menampung air hujan, melainkan membuka akses menuju cadangan air tanah alami (underground reservoir).

“Fungsinya adalah untuk mengakses air. Jadi membuat embung di gambut itu jangan besar-besar, karena malah akan memperbesar penguapan,” terangnya.

Berdasarkan penerapan di lapangan, kolam perigi dibuat dengan jarak terukur agar efektif saat proses pemadaman berlangsung.

“Dan kami sudah terapkan di desa ini, tiap 300 meter, ya maaf 200 meter. Kenapa 200 meter? Karena selang untuk pemadam itu panjangnya dengan kira-kira segitu,” tutur Sigit.

Ia memaparkan bahwa tanah gambut sejatinya menyimpan kandungan air hingga 90 persen. Kendati lapisan permukaan mengering saat kemarau, air tanah umumnya tetap tersedia pada kedalaman dangkal sekitar 1 hingga 1,5 meter.

“Artinya terbakar di situ, alat pemadamnya ada di situ ya. Ada air di situ. Permasalahannya adalah bagaimana mengambil atau mengakses air itu,” jelasnya.

Untuk memaksimalkan potensi air tersebut, Sigit membagikan pengalaman pendampingan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di Kabupaten Bengkalis, Riau, yang berhasil membuat sumur bor dangkal hanya dalam waktu 10 hingga 15 menit.

“Peralatannya cukup pakai tiang, kita ini, kemudian diambil dengan pipa, dicolok, hubungan ke apa, pompa robin, keluar airnya dalam 10 menit, Pak,” ungkapnya.

Sigit berharap metode pembuatan sumur bor cepat dan perigi ini dapat disebarluaskan ke berbagai daerah rawan bencana karhutla.

“Saya rasa itu mungkin bisa di apa, edukasi ke masyarakat-masyarakat Peduli Api yang lain ya,” ujar Sigit.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Bayu Septianto