tirto.id - Militer Israel menembakkan artileri ke sebuah desa di Suriah selatan dan menembaki kawasan permukiman dalam penyusupan darat terpisah pada Sabtu (3/10/2026).
Peluru artileri menghantam pinggiran Desa Abidin di pedesaan barat Provinsi Daraa, Suriah selatan, yang berada dekat wilayah perbatasan Israel. Anadolu mencatat desa tersebut berulang kali menjadi sasaran artileri Israel sepanjang September.
Hingga laporan dirilis, belum ada informasi mengenai korban maupun kerusakan.
Pada hari yang sama, pasukan Israel memasuki Desa Sayda al-Hanout di pedesaan Quneitra selatan, Suriah, dengan dua tank dan sejumlah kendaraan militer. Mereka menembaki kawasan permukiman.
Sementara sumber Arab News, yang mengutip kantor berita Suriah, SANA, menyebut patroli Israel telah masuk ke dalam desa dan menembaki bangunan-bangunan warga.
SANA juga menyatakan pasukan Israel menembak ke arah kru media, termasuk tim reporter SANA. Penyerangan ini diduga untuk mencegah dokumentasi.
Warga desa disebut ketakutan selama rentetan tembakan berlangsung. Dalam penyerangan ini, tidak didapati adanya korban jiwa.
Dua insiden ini menyusul serangkaian penyusupan lain di selatan Suriah. Sebelumnya, pada Rabu (30/9/2026), kendaraan lapis baja Israel memasuki Desa Bariqa dan Al-Hamidiyah di Quneitra
Kemudian pada Kamis (1/10/2026) malam, sekitar 12 kendaraan militer Israel masuk ke Desa Maariya di Daraa barat, menggeledah sejumlah rumah, dan menahan dua warga. Satu orang kemudian dibebaskan, sedangkan keberadaan satu lainnya belum diketahui.
Seturut Anadolu, Presiden Suriah, Ahmad al-Sharaa, mengangkat persoalan ini dalam Sidang Umum PBB ke-81. Ia menyebutkan sejak akhir 2024, Israel melakukan sekitar 500 serangan udara dan artileri, lebih dari 1.200 penyusupan, dan sekitar 300 penangkapan serta penahanan.
Wakil Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Claudio Cordone, dalam wawancara dengan UN News yang dikutip Arab News, pada Kamis (1/10/2026), mengatakan operasi militer, penembakan, penculikan, dan penggeledahan oleh Israel berdampak serius terhadap warga.
Cordone menyerukan solusi diplomatik yang menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Suriah, resolusi Dewan Keamanan PBB, serta hukum internasional.
Untuk diketahui, Israel sejauh ini telah meningkatkan operasinya di Suriah selatan setelah rezim Bashar al-Assad jatuh pada Desember 2024.
Israel menyatakan Perjanjian Pelepasan Pasukan 1974 telah runtuh, lalu menguasai zona penyangga. Damaskus menilai langkah itu pelanggaran perjanjian tersebut dan berulang kali menuntut penarikan pasukan Israel.
Penulis: Khizbulloh Huda
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id
































