tirto.id - Film NAZA yang dibuat sutradara asal Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, bikin gerah pemerintah Zionis. Mereka kini terancam dicabut kewarganegaraannya. Ancaman terhadap mereka datang karena film tersebut menguak kekejaman Israel terhadap orang-orang di Palestina.
Ancaman pencabutan kewarganegaraan Yuval Abraham dan Rachel Szor itu diungkapkan oleh Menteri Kebudayaan Israel Miki Zohar. Melalui unggahan X pada Minggu (13/9/2026), Zohar menyebut dua sutradara itu telah melakukan “pengkhianatan terhadap negara” karena film yang mereka buat.
“Sebagai menteri kebudayaan, saya akan segera bertindak untuk mencabut kewarganegaraan Israel dari para pembuat film yang tercela ini,” katanya.
Pernyataan itu dikeluarkan Zohar tak lama setelah NAZA ditampilkan di Festival Film Venesia pada 2-12 September lalu. Film NAZA dianugerahi Penghargaan Juri Khusus dalam festival itu, membuatnya kini jadi film yang sukses meraup pujian dari kalangan sineas sekaligus ancaman dari para politisi.
Seturut Al Jazeera, NAZA dilaporkan berhasil menjadi pusat perhatian di Festival Film Venesia. Film berdurasi 80 menit ini disebut membuat para penonton bertepuk tangan selama 25 menit tanpa henti begitu film selesai diputar.
NAZA kini menjadi karya Abraham dan Szor yang kembali menyita perhatian berkat ketelitian mereka memotret sisi-sisi Perang Israel-Palestina dari dekat. Sebelumnya, duo sutradara itu lebih dulu dipuji berkat No Other Land (2024) yang mereka buat bersama Basel Adra dan Hamdan Ballal dari Palestina. No Other Land (2024) merupakan pemenang Oscar 2025 untuk kategori Dokumenter Terbaik.
Kini, melalui NAZA, Abraham menyebut bahwa ia berharap agar film terbarunya ini dapat mendorong pemerintah Barat untuk berhenti menyokong kekejaman Israel di Palestina. Dalam sebuah keterangannya, sutradara itu menyebut bahwa negara Barat harusnya memberikan sanksi atas apa yang dilakukan pemerintah di negaranya itu.
“Anda [pendukung Israel, telah] melemahkan orang-orang di dalam yang mendukung hak asasi manusia dan solusi politik dengan menolak untuk bertindak,” katanya kepada AFP.
Sinopsis Film NAZA
Satu hal yang membuat NAZA sukses mendapatkan pujian di Festival Film Venesia 2026 adalah fenomena yang berhasil direkam oleh kedua sutradaranya, yakni kekejaman yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina. Film ini adalah dokumenter yang memotret bagaimana militer Israel melakukan operasi genosida di Jalur Gaza.
The Guardian menyebut film ini sebagai dokumenter yang “meresahkan”. Hal ini karena dokumenter ini memotret kesaksian para anggota militer dan intelijen Israel tentang bagaimana operasi genosida di Gaza dilakukan.
Secara mengejutkan, para narasumber film menolak klaim pembenaran militer Israel tentang apa yang mereka sebut sebagai taktik “perisai manusia”. Taktik itu selama ini kerap digunakan pihak militer untuk menjustifikasi kematian para warga sipil di Gaza, dengan menuduh kelompok Hamas telah berlindung di antara warga sipil agar terhindar dari serangan Israel.
Menurut para narasumber, kejadian sebenarnya yang terjadi di lapangan adalah pembantaian manusia dengan dibantu oleh teknologi AI. Para narasumber menuduh bahwa korban sipil terus berjatuhan karena dinas intelijen mereka telah menyerahkan tugas pengintaian serangan kepada AI.
Dinas intelijen Israel disebut mereka memiliki program komputer untuk menganalisis sambungan telepon anggota Hamas. Oleh program komputer ini, aktivitas telepon di Jalur Gaza kemudian dianalisis untuk menemukan pola yang serupa dengan aktivitas telepon anggota Hamas.
Dari sana, kemudian muncul puluhan ribu telepon dengan aktivitas serupa milik anggota Hamas. Militer Israel lalu menyerang pemiliknya pada malam hari.
Akan tetapi, satu hal yang digarisbawahi dalam film ini, militer dan intelijen Israel rupanya menetapkan ambang batas “kesalahan” pada program komputer. Mereka menetapkan kesalahan deteksi di angka 15 persen.
Hal itu, kata seorang responden, membuat setiap serangan memiliki probabilitas kematian penduduk sipil mencapai 20 orang. Dalam kata lain, Israel telah mengizinkan serangan yang berpotensi menyebabkan 20 warga sipil ikut tewas bersama target utama mereka.
Judul “naza” pada film ini sendiri diambil dari hal tersebut. “Naza” merupakan istilah Ibrani untuk merujuk probabilitas kematian warga sipil dalam sebuah serangan militer.
Akan tetapi, kekejaman tak hanya berkisar pada bagaimana Israel menjadikan nyawa manusia Palestina sekadar sebagai data numerik. Film ini juga memuat pengakuan narasumber bahwa “kebencian” terhadap warga Palestina adalah “situasi yang umum” di institusi militer.
Hal ini kemudian memicu serangkaian tindakan keji militer Israel terhadap manusia Palestina. Salah satu yang dibahas dalam film adalah pembunuhan pengungsi yang kelaparan.
Kekejaman itu disebut terjadi di Gaza bagian utara. Regu penembak jitu menembak mati warga sipil Gaza karena melewati garis batas imajiner zona militer. Warga sipil ini merupakan orang Palestina yang sedang mencari makanan dengan putus asa dan ditembak mati karena tidak sadar telah memasuki zona militer.
Sepenggal kenyataan yang meresahkan itulah yang membuat para hadirin di Festival Film Venesia memberikan standing ovation selama 25 menit tanpa henti untuk film ini. Namun, kendati dipuji di luar negeri, Pemerintah Israel telah melabeli film ini dengan label yang telah lama selalu mereka gunakan yakni tuduhan kebencian atas dasar antisemitisme.
Duo sutradara asal Israel itu kini masuk dalam daftar pihak-pihak yang telah dilabeli Pemerintah Israel dengan kebencian antisemitisme. Selain mereka, banyak organisasi hak asasi manusia dan laporan lembaga internasional yang turut masuk dalam daftar tersebut.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































