Menuju konten utama

Israel Sengaja Menarget Anak-anak Gaza Bagian dari Genosida

Laporan PBB menyebut Israel sengaja saat melakukan pembunuhan terhadap anak-anak Palestina. Serangan itu bahkan tidak berhenti selama konflik.

Israel Sengaja Menarget Anak-anak Gaza Bagian dari Genosida
Tentara Israel mengambil posisi di lokasi serangan penembakan Palestina di pos pemeriksaan Hawara, dekat kota Nablus, Tepi Barat, Minggu, 26 Februari 2023. (AP Photo/Majdi Mohammed)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Komisi penyelidikan PBB menyebut Israel terus menargetkan anak-anak Palestina dan membunuh mereka dalam serangan yang tak kunjung berhenti. Komisi itu menilai hal ini merupakan bukti baru bagaimana Israel tengah melakukan genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Seturut Al Jazeera, pernyataan itu dikeluarkan oleh Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB tentang Wilayah Palestina yang Diduduki. Laporan mereka yang dirilis pada Selasa (24/6/2026) mengatakan Israel telah menargetkan anak-anak Palestina selama konflik yang dimulai sejak 2023 lalu.

Laporan itu turut menyebut sebanyak 30 persen korban yang terbunuh di Gaza sejak 2023 adalah anak-anak. Sementara itu, menurut Kementerian Kesehatan Palestina, jumlah rakyat Palestina yang terbunuh karena serangan sejak 2023 telah mencapai lebih dari 73.000 orang secara keseluruhan.

“Bukti menunjukkan bahwa anak-anak Palestina telah sengaja dijadikan sasaran dan dibunuh oleh pasukan keamanan Israel,” kata Srinivasan Muralidhar, ketua komisi PBB itu.

Komisi penyelidikan PBB juga menemukan bukti Israel telah menarget pusat-pusat perawatan neonatal dan maternitas yang digunakan penduduk Palestina selama konflik. Hal ini mengancam masa depan reproduksi warga Palestina dan kehidupan bayi baru lahir di sana.

Rusaknya sistem kesehatan dan perawatan untuk ibu dan anak di Palestina selama konflik telah meningkatkan berbagai persoalan terkait kesehatan reproduksi. Angka keguguran, cacat lahir, dan kerentanan jangka panjang telah meningkat.

Tak hanya karena serangan dengan senjata dan para tentara, kehidupan anak-anak Palestina juga diancam oleh blokade bantuan Israel di Gaza. Blokade mengakibatkan kematian akibat kelaparan dan peningkatan infeksi penyakit. Anak-anak jadi salah satu kelompok paling rentan dalam hal ini.

“Bahkan setelah gencatan senjata Oktober 2025, anak-anak terus dibunuh dan terluka parah, dengan Israel terus mengabaikan gencatan senjata dan perlindungan yang seharusnya diberikan kepada anak-anak Palestina berdasarkan hukum internasional,” tutur Srinivasan.

Bukti Israel Melakukan Genosida di Palestina

Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB tentang Wilayah Palestina yang Diduduki merupakan komisi yang dibentuk pada 2021 lalu. Mereka memiliki tugas untuk menyelidiki dugaan pelanggaran hukum internasional dan HAM, serta meneliti akar masalah, pada konflik Israel dan Palestina.

Pada September 2025 lalu, komisi ini telah menyimpulkan bahwa penyematan kata “genosida” untuk merujuk apa yang tengah dilakukan Israel di Gaza memiliki basis argumen yang masuk akal.

Menurut komisi itu, Israel telah melakukan empat dari lima tindakan terlarang yang mendefinisikan genosida berdasarkan Konvensi Genosida 1948. Tindakan-tindakan terlarang ini termasuk pembunuhan; cedera fisik dan mental yang serius; menciptakan kondisi yang menghancurkan suatu kelompok; dan menerapkan tindakan untuk mencegah suatu kelompok berkembang biak.

Laporan baru yang mereka rilis pada Selasa kemudian melengkapi bukti-bukti akan genosida Israel atas Palestina. Temuan mereka memperkuat tuduhan bahwa Israel telah menciptakan kondisi untuk mencegah suatu kelompok berkembang biak.

Sejak konflik berlangsung pada 2023, UNICEF mencatat telah lebih dari 50.000 anak Palestina yang tewas terbunuh atau mengalami luka karena pasukan Israel.

Situasi itu juga tak tampak terselesaikan usai tercapainya gencatan senjata pada Oktober 2025 lalu. UNICEF mencatat, rata-rata satu anak Palestina terbunuh setiap hari karena serangan Israel selama gencatan senjata.

Penargetan kaum muda Palestina juga tampak dilakukan Israel dengan melihat skala penangkapan dan penyiksaan anak-anak di penjara-penjara Israel. Menurut Defence for Children International-Palestine (DCIP), lebih dari setengah anak-anak yang ditahan di penjara Israel pada akhir tahun lalu, telah ditangkap tanpa dakwaan atau pengadilan.

Para anak yang dipenjara disiksa dan mendapatkan perlakuan buruk selama ditahan. Bahkan sebagian dari mereka mengalami pelecehan seksual ketika digeledah dan direkam dalam keadaan telanjang.

Skala sistemik dari serangan Israel untuk menargetkan anak-anak Palestina juga dapat dilihat dari penghancuran fasilitas pendukung kehidupan anak di Tepi Barat. Laporan komisi penyelidikan PBB menyebut bahwa pasukan Israel telah merusak panti asuhan dan fasilitas pendidikan yang digunakan warga Palestina.

Perusakan fasilitas penting bagi anak-anak itu membuat perawatan dan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak Palestina terganggu. Atas situasi ini, komisi penyelidikan PBB menyerukan agar Israel menghentikan aksi kekerasan ini.

“Dengan menargetkan anak-anak, Israel menyerang kemampuan rakyat Palestina untuk eksis dan menentukan masa depan mereka,” kata Srinivasan.

Sementara itu, misi Israel di Jenewa telah menolak laporan komisi tersebut. Mereka menyebut temuan komisi tersebut sebagai fitnah. Mereka juga mengklaim bahwa komisi telah mengabaikan “taktik brutal Hamas”.

Baca juga artikel terkait KONFLIK ISRAEL PALESTINA atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar