Menuju konten utama

Prahara Pulau Emas: Ruang Refleksi 8 Bulan Pascabencana Sumatra

Pameran yang digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) Aceh ini dirancang bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan ruang refleksi dan edukasi kemanusiaan.

Prahara Pulau Emas: Ruang Refleksi 8 Bulan Pascabencana Sumatra
Rizka Alifah (kiri) melihat karya foto yang dipamerkan pada pameran foto jurnalistik bertajuk Prahara Pulau Emas di Museum Tsunami Banda Aceh, Senin (3/8/2026). Foto : Firhan Farabi/tirto.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Langkah Rizka Alifah terhenti di depan sebuah foto berukuran besar. Gambar itu memperlihatkan seorang warga mengenakan mantel hujan, berdiri di tengah gelap dan situasi yang porak-poranda. Delapan bulan setelah bencana besar meluluhlantakkan 18 kabupaten/kota di provinsi Aceh, serta Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Foto itu masih mampu menghadirkan rasa yang sama: sesak, cemas, dan tak berdaya.

Bagi Rizka, mengunjungi pameran foto jurnalistik bertajuk Prahara Pulau Emas di Museum Tsunami Aceh bukan sekadar melihat kumpulan gambar. Setiap bingkai seolah mengajaknya kembali ke November 2025, ketika banjir dan longsor melumpuhkan sejumlah daerah di Aceh.

Dalam pameran yang digelar sejak 3-8 Agustus 2026 itu menampilkan 68 karya foto jurnalistik hasil jepretan dari 38 pewarta foto terbaik dari seluruh Indonesia.

"Kalau lihat foto-foto ini pasti sedih. Waktu itu kami di Banda Aceh juga merasakan dampaknya, listrik mati dan aktivitas terganggu. Tapi saya langsung berpikir, kita yang cuma mengalami itu saja sudah mengeluh. Bagaimana dengan mereka yang kehilangan rumah, keluarga, dan harta benda?" katanya sambil terus memerhatikan foto-foto yang dipajang di pelataran museum Tsunami, Banda Aceh, Senin (3/8/2026).

Pameran Foto Jurnalistik Bertajuk Prahara Pulau Emas

Display karya foto pada pameran foto jurnalistik bertajuk Prahara Pulau Emas di Museum Tsunami Banda Aceh, Senin (3/8/2026). Foto : Firhan Farabi/tirto.id

Rizka memang tidak pernah datang langsung ke lokasi bencana. Namun, kecemasan yang ia rasakan kala itu begitu nyata. Sejumlah kerabatnya tinggal di Aceh Tamiang, Lhokseumawe, dan Bener Meriah, daerah yang ikut terdampak.

Berhari-hari ia mencoba menghubungi mereka tanpa hasil. Jaringan komunikasi terputus. Baru sekitar sepekan kemudian pesan singkat masuk melalui WhatsApp.

"Aku baik-baik saja. Kami mengungsi dan harus antre internet untuk bisa memberi kabar," kata Rizka menirukan isi pesan.

Pesan sederhana itu menjadi penanda bahwa mereka masih selamat. Namun, di baliknya tersimpan cerita tentang rumah yang terendam, kehidupan yang berubah, dan komunikasi yang nyaris lumpuh.

Sejak saat itu, Rizka mengaku tak pernah lepas memantau perkembangan bencana melalui media sosial. Ia bahkan meminta teman-temannya yang berada di lokasi mengirimkan foto-foto kondisi terkini.

"Saya ingin tahu seperti apa keadaan di sana. Saya minta mereka memotret supaya bisa membayangkan apa yang sedang mereka alami," ujarnya.

Namun, pengalaman melihat foto di ruang pamer memberikan kesan yang berbeda dibanding menyaksikan konten di media sosial.

Rizka bercerita, saat ia berjalan didepan foto anak-anak sekolah yang kebingungan di tengah situasi bencana, pikirannya dipenuhi pertanyaan.

"Kalau aku jadi mereka, bagaimana pulang? Orang tuaku ada di mana?," katanya.

Ketika melihat foto longsor, bayangannya berpindah kepada petugas SAR yang berjibaku mengevakuasi korban.

"Lihat foto-foto itu kepala saya seperti berisik. Saya terus membayangkan bagaimana kalau saya ada di posisi mereka. Kita benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa ketika semuanya hilang,".

Pameran Foto Jurnalistik Bertajuk Prahara Pulau Emas

Pengunjung melihat karya foto pada pameran foto jurnalistik bertajuk Prahara Pulau Emas di Museum Tsunami Banda Aceh, Senin (3/8/2026). Foto : Firhan Farabi/tirto.id

Baginya, kekuatan sebuah foto terletak pada kemampuannya menghentikan waktu. Berbeda dengan video yang terus bergerak, sebuah foto membuat seseorang berhenti lebih lama, mengamati setiap detail, lalu membangun cerita di dalam kepalanya sendiri.

Pameran itulah yang menurut Rizka menjadi ruang refleksi. Ia tidak hanya melihat dokumentasi bencana, tetapi juga diajak merasakan ketakutan, kehilangan, perjuangan, hingga harapan yang dialami para penyintas.

Ruang refleksi itulah yang memang ingin dihadirkan oleh Pewarta Foto Indonesia (PFI) melalui pameran Prahara Pulau Emas.

Ketua PFI Aceh, M. Anshar, dalam sambutannya mengatakan, Aceh merupakan daerah yang memahami arti kehilangan. Tsunami, gempa bumi, banjir, dan berbagai bencana lain telah mengajarkan masyarakat tentang ketangguhan, gotong royong, dan kemanusiaan.

Berangkat dari pengalaman itu, PFI Pusat menggagas road show pameran foto jurnalistik sebagai media edukasi sekaligus refleksi. Setelah digelar di Yogyakarta dan Sumatera Barat, Aceh mendapat kehormatan menjadi tuan rumah sebelum pameran ditutup di Sumatera Utara.

Menurut Anshar, pameran ini bukan sekadar memamerkan foto-foto bencana. Tapi menghadirkan kisah kehilangan, perjuangan, solidaritas, hingga harapan untuk kembali pulih.

Semangat itu juga diwujudkan melalui aksi nyata. PFI Aceh mendapat amanah membangun sumur bor air bersih di rumah ibadah di Desa Meunasah Lhok, Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Selain itu, mereka menggelar lokakarya fotografi jurnalistik yang diikuti mahasiswa dan komunitas fotografi dari berbagai daerah dengan menghadirkan pewarta foto senior Oscar Motuloh.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, PFI berharap lahir pewarta foto yang tidak hanya mampu merekam peristiwa, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

"Bencana boleh berlalu, namun pelajarannya tidak boleh hilang," tutup Anshar.

Baca juga artikel terkait PAMERAN FOTO atau tulisan lainnya dari Firhan Farabi

tirto.id - News Plus
Kontributor: Firhan Farabi
Penulis: Firhan Farabi
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama