Menuju konten utama

Band Massive Attack Tak Boleh Tampil di Singapura Gegara Bendera

Grup band Massive Attack bermasalah dengan pihak otoritas Singapura lantaran dua personilnya mengibarkan bendera Palestina. Hal itu terlarang di sana.

Band Massive Attack Tak Boleh Tampil di Singapura Gegara Bendera
Musisi Inggris Robert del Naja, yang juga dikenal sebagai "3D" dari grup musik Inggris Massive Attack, saat tampil di festival Rock en Seine edisi ke-20 di Saint-Cloud, kawasan pinggiran Paris, pada 24 Agustus 2024. (Foto oleh Anna KURTH / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Grup band trip-hop asal Inggris, Massive Attack, tak diizinkan gelar konser lagi di Singapura hanya karena pengibaran bendera Palestina. Tindakan dukungan kepada Palestina itu dinilai otoritas setempat sebagai pelanggaran.

Seturut CNA, dua anggota band Massive Attack juga telah diberi sanksi peringatan keras dan larangan masuk kembali ke Singapura atas masalah tersebut. Pihak kepolisian dan Otoritas Pengembangan Media Infokom (IMDA) Singapura mengonfirmasi hal ini pada Jumat (31/7/2026) lalu.

Pangkal masalahnya adalah keduanya telah terlibat dalam aksi dukungan terhadap Palestina di atas panggung saat tampil pada Rabu (29/7). Salah satu personel mengibarkan bendera, sementara yang lain meneriakkan “Free Palestine”.

Tindakan tersebut dipandang otoritas Singapura sebagai pelanggaran Undang-Undang Lambang Kebangsaan Asing (Pengendalian Penayangan dan Undang-Undang Ketertiban Umum. Pihak berwenang di sana menjelaskan, aturan ini telah melarang “pengibaran bendera yang mendukung tujuan apa pun”.

“Polisi memandang serius tindakan yang berpotensi membahayakan kerukunan ras dan agama di Singapura dan mendesak masyarakat, termasuk warga asing, untuk menahan diri dari mengimpor politik asing karena hal ini dapat merusak kohesi sosial dan supremasi hukum kita," kata pihak berwenang.

Tanggapan Massive Attack

Seiring pemberian sanksi dari otoritas Singapura, Massive Attack menyayangkan hal tersebut. Melansir BBC, mereka menyebut bahwa tindakan otoritas Singapura telah membuat mereka “terkejut dan kecewa”.

Melalui akun Instagram mereka pada Minggu (2/7), Massive Attack mengaku bahwa anggota mereka telah “ditahan oleh polisi, diisolasi, dan diinterogasi secara terpisah” hanya karena mengekspresikan sentimen pro-Palestina. Otoritas negara kota itu juga mereka sebut telah menggeledah kamar hotel dan menyita paspor.

Grup band yang beranggotakan empat orang ini juga menyebut sanksi ini sebagai “pengalaman surealis”. Mereka menyebut “tidak membayangkan bahwa hanya dengan mengibarkan bendera negara berdaulat yang diakui oleh 157 negara akan melanggar hukum apa pun”.

Mereka juga menjelaskan bahwa aksi mereka di atas panggung itu merupakan tindakan yang spontan. Aksi ini juga disebut justru bermula dari para penonton.

“Sebagian besar penonton secara spontan meneriakkan “free Palestine”,” kata mereka dalam unggahan yang dibanjiri pesan dukungan para penggemar.

Massive Attack sendiri selama ini dikenal sebagai grup band yang terbuka tentang pendirian politik mereka di berbagai isu, termasuk perang di Gaza dan genosida yang dilakukan Israel di sana. Mereka kerap menampilkannya di atas panggung dan juga di jalanan ketika ikut aksi protes.

“Terima kasih telah mendukung Palestina … dan telah menunjukkan kepada kami bahwa integritas masih dapat menjadi pusat perhatian,” tulis Massive Attack.

Sementara itu, dua personel Massive Attack yang diberi sanksi larangan datang ke Singapura di kemudian hari adalah Robert Del Naja dan Grant Marshall. Del Naja merupakan salah satu anggota yang paling vokal di antara yang lain.

Sebelumnya, Robert Del Naja sempat ditahan pada awal tahun ini karena dicurigai menunjukkan dukungan untuk organisasi Palestine Action selama protes di London. Palestine Action tergolong sebagai organisasi yang terlarang di Inggris.

Del Naja kala itu tengah bergabung dalam aksi protes bersama ratusan demonstran. Di tengah massa aksi, ia kedapatan sedang memegang sebuah papan bertuliskan “Saya Menentang Genosida, Saya Mendukung Palestine Action”.

Baca juga artikel terkait KONSER MUSIK atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar