Menuju konten utama

Kasus ISPA Dampak Karhutla Sumsel Capai 40.555 Selama September

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Sumsel, penderita ISPA terbanyak berada di Palembang mencapai 10.965 kasus.

Kasus ISPA Dampak Karhutla Sumsel Capai 40.555 Selama September
Sejumlah pengendara melintas di atas jembatan layang simpang Jakabaring yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (27/6/2026). Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera menyatakan luas kebakaran lahan yang masih menyala di Sumatera Selatan mencapai sekitar 400 hektare yang tersebar di delapan Kabupaten/Kota di Sumsel, sedangkan kabut asap menutupi kota Palembang terindikasi berasal dari kebakaran lahan yang terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kabupaten Ogan Ilir (OI). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan sepanjang September 2026 mencapai 40.455 orang. Penderita asma menjadi paling rentan jika terpapar asap.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Sumsel, penderita ISPA terbanyak berada di Palembang mencapai 10.965 kasus, disusul Musi Banyuasin (5.617 kasus), Muara Enim (3.350 kasus), Lahat (2.420 kasus), Banyuasin (2.125 kasus), Prabumulih (1.876), Lubuklinggau (1.844 kasus), Ogan Ilir (1.829 kasus), Ogan Komering Ilir (1.844 kasus), dan Musi Rawas (1.370 kasus).

Angka penderita ISPA pada September 2026 cenderung menurun dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 46.020 kasus. Namun, penurunannya tidak terlalu signifikan dan angka kasusnya masih terbilang sangat tinggi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumsel Ira Primadesa menjelaskan, penderita ISPA dari anak berusia di bawah lima tahun cukup tinggi yang berjumlah 9.671 kasus. Kelompok ini merupakan yang paling rentan jika terpapar asap, selain kalangan lanjut usia.

"Penderita ISPA di Sumsel pada September 2026 masih sangat tinggi, tembus 40.555 kasus, 9.671 kasus di antaranya berasal dari balita," ungkap Ira Primadesa, Minggu (4/10/2026).

Ira menyebut warga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan wajib memakai masker saat berkendara.

Waktu yang paling dihindari beraktivitas di luar rumah pada pagi hingga sore hari. Pada saat itu, konsentrasi partikulat (PM2.5) berada di atas 400 mikrogram meter per kubik yang masuk dalam kategori berbahaya.

Warga sebaiknya berada di dalam rumah dengan menutup pintu dan jendela agar asap tidak mudah masuk ke ruangan dalam. Kondisi yang sama juga terjadi pada malam hari dengan kabut asap yang makin pekat dan mengancam kesehatan masyarakat.

"Anak-anak, wanita hamil, dan kelompok rentan dilarang bermain di luar rumah, biasakan juga pakai masker jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan. Dan tentunya periksakan ke dokter jika ada gangguan pernapasan," kata dia.

Berdasarkan grafik riwayat kualitas udara di Stasiun Talang Betutu Palembang, Minggu (4/10/2026), PM2.5 berada di angka 160,2-694,4 mikrogram meter per kubik. Peningkatan konsentrasi partikulat halus terjadi dalam rentang pukul 04.00-09.00 WIB.

Pengukuran konsentrasi PM2.5 menggunakan metode penyinaran sinar beta (Beta Attenuation Monitoring) ini menunjukan belum ada perbaikan kualitas udara di Palembang. Udara di kota itu masih berada dalam level sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Fadrik Aziz Firdausi