tirto.id - Atlet berkuda, Teuku Rifat Renanda Harsya (17), mengaku mengalami dugaan perundungan dan cyberbullying. Persoalan tersebut bermula setelah kualifikasi Youth Olympic Games (YOG) Dakar 2026 pada akhir 2025 dan berlanjut hingga memengaruhi kondisi Rifat saat mengikuti pertandingan.
Kualifikasi YOG Dakar 2026 digelar pada 15-16 November 2025 di Equinara Horse Sports, Jakarta. Tiga atlet dinyatakan memenuhi syarat, yakni Rifat, Nurstdinov Zayan Fatih, dan Gadis Kireina Iskandar.
Dua hari kemudian, beredar surat keluhan alias mosi tidak percaya terhadap Equinara Horse Sports sebagai penyelenggara. Menurut kronologi yang disampaikan keluarga Rifat, surat tersebut diduga berkaitan dengan keberatan orang tua Nurstdinov setelah menolak pemeriksaan anti-doping terhadap kuda kompetisi milik putranya.
Nama Rifat dan kudanya kemudian turut dipersoalkan, termasuk terkait kelayakan kuda tersebut mengikuti pertandingan.Rifat mengaku mengetahui surat itu dari seorang dokter hewan yang dimintai tanda tangan. Menurut keterangan keluarga, dokter tersebut kemudian menyatakan tidak memahami isi surat dan merasa dihasut untuk memberikan tanda tangan.
Sindiran Setelah Menerima Penghargaan
Persoalan kembali mencuat pada Januari 2026. Jumat (15/1/2026)i, Rifat menerima Outstanding Athlete Award 2025 atas dua medali emas PON yang diraihnya. Tiga hari setelahnya, muncul unggahan Instagram dari orang tua Nurstdinov yang dinilai menyindir penghargaan yang diterimanya.
“Panggung bisa salah memanggil nama, manusia bisa keliru memilih sorotan,” demikian bunyi keterangan dalam unggahan tersebut.
Rifat mengaku merasa unggahan itu ditujukan kepadanya. Ia awal mengetahui keberadaan unggahan tersebut melalui temannya yang melaporkan kepadanya.
“Ini itu, kan, maksudnya baru senang dapat prestasi segala macam gitu, tapi besokannya atau beberapa hari kemudian tuh kayak tiba-tiba di-forward dari teman-teman,” kata Rifat dalam sebuah siniar bersama Deryansha Azhary yang tayang pada Selasa (20/4/2026).
Persoalan berlanjut ketika Rifat terpilih sebagai salah satu dari 10 atlet junior Indonesia dalam FEI Asia Pacific Rising Star Academy (APRA) di Thailand. Rifat mengaku kembali mendengar adanya keberatan atas keikutsertaannya dalam program tersebut.
Namun, pada 24-26 Februari 2026, dirinya tetap mengikuti kompetisi dan berhasil menyabet satu medali emas serta satu perak, meski sempat terkendala dengan sistem kuda pinjaman yang dipilihkan untuknya. Kemenangan ini ternyata tak membuat rivalitas kotor yang ditujukan atas dirinya berhenti.
“Apa pun prestasi yang saya capai, pihak yang sama terus-menerus melakukan bullying kepada saya,” kata Rifat.
Dalam beberapa bulan berikutnya, Rifat mengaku memperhatikan sejumlah pencapaiannya tidak ditampilkan di akun Instagram resmi Pordasi, sementara pencapaian kandidat YOG lainnya tetap dipublikasi.
Sekira Sabtu (18/4/2026), Rifat mulai mengalami kesulitan tidur dan mengaku konsentrasi belajarnya terganggu. Ia juga merasa latihan tidak lagi berjalan seperti biasa.
Rifat kemudian mengaku menyampaikan kekhawatirannya kepada Ketua Umum PP Pordasi melalui pesan singkat. Menurut Rifat, ia mendapat respons positif dan dijanjikan kesempatan untuk membahas persoalan safeguarding dan dugaan perundungan. Ia kemudian diarahkan ke sekretariat.
Komentar Perundungan di Media Sosial hingga Insiden Jatuh
Persoalan kembali muncul pada Senin (8/6/2026). Saat itu, sebuah unggahan media sosial NOC Indonesia mengenai Nurstdinov terkait YOG Dakar 2026 mendapat sejumlah komentar yang menyerang Rifat.
Salah satu komentar menuduh Rifat memperoleh 20 penalti. Komentar lain menyebut Rifat dengan kata-kata seperti “bego”, “atlet kuda lumping”, dan “memalukan nama negara”.
Rifat menilai komentar tersebut telah menyerang dirinya secara pribadi.
“Dari situ kan dibilangin, jadi namanya jadi jelek gitu, nama saya dan kuda saya,” kata Rifat.
Meski demikian, Rifat menyadari sertifikasi kapabilitas belum otomatis menentukan atlet yang akan berangkat ke Dakar. Ia tetap gigih mempersiapkan diri untuk kompetisi berikutnya, dan pada 26-28 Juni 2026, Rifat meraih medali emas di kelas nasional pada Asian Equestrian Federation Cup.
Persoalan kembali datang ketika Rifat mengikuti kompetisi nasional di JJ Stable pada 15-19 Juli 2026. Saat itu pelatihnya menyarankan Rifat turun kelas karena menilai kepercayaan dirinya menurun.
Saat tiba di venue dan melihat ibu Nurstdinov, Nurinda, Rifat mengaku merasa takut. Ia kemudian tetap bertanding menggunakan kuda yang sebelumnya membantunya meraih medali emas PON. Dalam pertandingan, Rifat kehilangan konsentrasi dan terjatuh dari kudanya.
Ayah Rifat, Teuku Riefky Harsya, menegaskan keluarga tidak menuduh seseorang menyebabkan Rifat jatuh secara fisik.
“Perkara ini bukan berarti menuduh seseorang secara fisik menyebabkan Rifat jatuh,” ujar Riefky.
Menurut Riefky, perhatian keluarga terletak pada kondisi psikologis Rifat setelah menerima berbagai prasangka dan intimidasi yang diduga terjadi selama berbulan-bulan. Keluarga menilai kondisi tersebut telah memengaruhi kemampuan Rifat untuk bertanding dan menimbulkan persoalan terkait keamanan anaknya sebagai atlet.
Setelah kejadian tersebut, keluarga dan pelatih menerima kesaksian dari pihak ketiga yang menyebut orang tua Nurstdinov menunjukkan rasa senang setelah melihat Rifat jatuh dan menyebut kejadian tersebut sebagai “azab”.
Penelusuran Komentar dan Kesaksian Tiga Orang
Pada 29-30 Agustus 2026, bertepatan dengan penyelenggaraan FEI Jumping World Challenge, keluarga Rifat melakukan penelusuran terhadap komentar-komentar negatif yang sebelumnya muncul di media sosial.
Penelusuran tersebut mengarah pada tiga orang pengunggah komentar negatif pada awal Juni, yakni Permadi, Apris, dan Guntur.
Permadi disebut mengaku menulis komentar mengenai 20 penalti atas permintaan ibu Nurstdinov. Ia kemudian mengakui informasi tersebut tidak benar.
Apris juga memberikan kesaksian bahwa ia menerima telepon dari ibu Nurstdinov. Menurut kesaksiannya, ibu Nurstdinov mengaku senang setelah mengetahui Rifat jatuh. Apris juga mengaku diminta ikut mengucilkan Rifat dan tim Equinara bersama dengan suaminya, Guntur.
Ketiganya kemudian menghapus komentar dan meminta maaf setelah mengetahui kebenaran dari sisi keluarga Rifat. Keluarga Rifat kemudian memutuskan membawa persoalan ini ke jalur pelaporan resmi.
“Yang kami perjuangkan adalah keadilan, perlindungan anak, sportivitas, dan terciptanya ekosistem olahraga yang sehat,” ujar Riefky.
Keluarga berharap Rifat memperoleh perlindungan dan pemulihan serta dapat kembali memiliki rasa aman, kepercayaan diri, dan semangat untuk melanjutkan kariernya sebagai atlet.
“Harapan utama kami adalah agar anak kami dapat memperoleh perlindungan, rasa aman, dan pemulihan secara menyeluruh,” kata Riefky, yang juga menjabat sebagai Menteri Ekonomi Kreatif.
Pelaporan ke KemenPPPA
Pengaduan keluarga Rifat kemudian disampaikan melalui kanal resmi SAPA 129 milik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) pada Selasa (15/9/2026).
Dua hari kemudian, KemenPPPA mengirimkan surat kepada Ketua Umum NOC Indonesia yang ditujukan kepada Safeguarding Officer.
Surat yang ditandatangani Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak, Titi Eko Rahayu, tersebut meminta klarifikasi dari NOC Indonesia serta penjelasan mengenai mekanisme penanganan internal yang dimiliki NOC Indonesia dan PB Pordasi.
“Sebagai wujud negara hadir dalam upaya perlindungan anak, KemenPPPA mengecam segala bentuk kekerasan termasuk perundungan, bahkan saat kekerasan terjadi dan dilakukan oleh oknum di lingkungan cabang olahraga,” demikian sikap KemenPPPA dalam surat tersebut.
Rifat menilai mekanisme safeguarding diperlukan untuk memberikan perlindungan kepada atlet dari dugaan perundungan.
“Safeguarding ini penting banget. Mungkin selama ini kan bullying kebanyakan terhadap mahasiswa. Awareness-nya itu kurang di bagian atlet, ya,” ujar Rifat.
Ia berharap mekanisme perlindungan terhadap atlet tidak hanya diterapkan dalam olahraga berkuda, tetapi juga pada cabang olahraga lainnya.
Dalam pelaporan ini, sang ayah, Riefky, berharap dugaan perundungan dan cyberbullying terhadap anaknya diperiksa secara objektif dan proporsional sesuai ketentuan yang berlaku.
“Terhadap pihak yang diduga melakukan bullying/cyberbullying, kami berharap dilakukan pemeriksaan secara objektif, proporsional, dan sesuai ketentuan yang berlaku agar kejadian serupa tidak terulang kepada anak kami maupun atlet muda lainnya,” ujar Riefky memungkaskan.
Penulis: Khizbulloh Huda
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id































