tirto.id - Lalu lintas kendaraan mulai lengang di halaman Apartemen Cibubur Village, Jakarta Timur. Seorang satpam yang sejak pagi berjaga di pos keamanan sesekali berdiri menyapa penghuni yang keluar masuk kompleks. Setelah situasi kembali tenang, pria itu kembali duduk di kursinya.
Namanya Ari (42). Sudah hampir 14 tahun ia menjaga apartemen tersebut. Sejak 2012, rutinitasnya nyaris tak berubah: mulai bekerja pukul 07.00 WIB dan baru mengakhiri tugas 12 jam kemudian.
"Masuk jam tujuh, pulangnya jam tujuh lagi. Dua belas jam," kata Ari kepada Tirto, Rabu (29/7/2026).
Meski rumahnya di kawasan Tipar hanya sekitar 10 menit berjalan kaki dari tempat kerja, panjangnya jam kerja tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kesehariannya. Ari sudah meninggalkan rumah sejak pukul 06.00 WIB agar bisa mengikuti apel pagi sebelum memulai giliran jaga.
Selama 12 jam bertugas, waktu istirahat tidak pernah benar-benar tetap. Ketika ada kesempatan, ia dan rekan-rekannya bergantian meninggalkan pos untuk sekadar makan atau melepas lelah.
"Kalau istirahat sih kita kreatif sendiri. Gantian sama teman," ujarnya.

Pekerjaannya bukan sekadar menjaga gerbang. Ketika penghuni bertengkar, menerima komplain, atau terjadi keributan, satpam menjadi orang pertama yang diminta turun tangan.
"Kalau ada masalah, kita menengahi. Sesulit apa pun, ya kita selesaikan baik-baik," katanya.
Ari mengaku tidak pernah menganggap pekerjaannya sebagai beban. Namun, ketika saya bertanya soal penghasilan, Ari mengatakan jika penghasilannya dicukup-cukupkan untuk kebutuhan.
"Kalau dibilang cukup, ya cukup. Kalau dibilang enggak cukup, ya memang enggak cukup. Tapi kita cukup-cukupin aja," katanya.
Gajinya sekitar Rp3 juta per bulan. Dari penghasilan itu, ia menghidupi istri dan empat anak. Anak sulungnya sudah menjadi guru di Gontor, sementara anak-anak lainnya masih sekolah. Meski demikian, ia memilih mensyukuri apa yang dimiliki.
"Rezeki kan enggak tahu datangnya dari mana. Kita nikmatin aja," ujar Ari.
Dua belas jam menjaga keamanan dengan penghasilan sekitar Rp 3 juta bukanlah pekerjaan ringan. Namun, Ari lebih banyak berbicara tentang rasa syukur dibanding keluhan.
Sebelum berpisah, satu hal yang sempat Ari ceritakan. Berbeda dengan banyak satpam yang bekerja melalui perusahaan outsourcing, Ari direkrut langsung oleh manajemen apartemen. Gaji dan fasilitas yang diterimanya berasal langsung dari pengelola apartemen, termasuk BPJS Ketenagakerjaan. Meski begitu, sistem kerjanya tetap menuntut waktu yang panjang, yakni 12 jam dalam satu shift.
Perbedaan sistem kerja antara satpam yang direkrut melalui perusahaan penyedia jasa keamanan dan mereka yang dipekerjakan langsung oleh manajemen memunculkan pertanyaan baru: apakah perbedaan status kerja juga berpengaruh terhadap kesejahteraan mereka? Untuk mencari jawabannya, perjalanan liputan berlanjut ke Politeknik Negeri Jakarta.
Di jalan menuju gerbang keluar kampus, Raka Permana (20), tengah berjaga. Satpam yang baru sekitar tiga bulan bertugas. Berbeda dengan Ari, Raka bekerja melalui perusahaan penyedia jasa keamanan, PT Narendra, yang kemudian menempatkannya di PNJ. Status kerjanya berbeda, tetapi ritme pekerjaannya hampir sama.
Rumah Raka berada di Tangerang Selatan. Setiap hari Raka berangkat menggunakan sepeda motor sejak pukul 05.00 WIB agar tiba di kampus sebelum pergantian shift dimulai. Tepat pukul 07.00 WIB, Raka sudah bersiap menjalankan tugas selama 12 jam.
"Kalau untuk sistem kerja, saya dari PT Narendra terus ditempatkan di PNJ. Kerja kita 12 jam. Setiap dua jam pindah pos, dari perpustakaan, parkiran struktural, sampai area kampus lainnya," jelasnya.
Sebagai karyawan outsourcing yang masih baru, Raka mengaku fasilitas seperti BPJS memang disediakan perusahaan, tetapi proses administrasinya masih berjalan sehingga belum didapatkan untuk saat ini.
Baru tiga bulan bekerja, Raka sudah merasakan bagaimana menjadi orang pertama yang diminta menjaga ketertiban ketika situasi kampus memanas.
"Kalau lagi ada parade atau mahasiswa berantem, kita koordinasi pakai HT. Teman-teman langsung dipanggil buat mengamankan situasi," katanya.

Berbeda dengan Ari yang sudah berkeluarga, Raka memang belum memiliki tanggungan istri dan anak. Namun sebagai anak pertama, Raka mengaku tetap menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu keluarga.
"Kalau ke keluarga pasti nurun. Ada aja yang minta buat adik," ujarnya sambil tertawa kecil.
Raka menerima gaji sekitar Rp4 juta per bulan. Menurutnya, nominal itu masih cukup untuk kebutuhannya saat ini. Selain membantu keluarga, Raka juga menyisihkan uang untuk hobinya mendaki gunung.
"Kalau umur saya yang segini sih masih cukup," katanya.
Meski baru bekerja, Raka telah mengikuti pendidikan dan sertifikasi satpam selama sekitar satu bulan sebelum diterjunkan ke lapangan. Baginya, menjadi satpam bukan sekadar berdiri menjaga pintu, melainkan profesi yang membutuhkan kesiapsiagaan dan kemampuan menghadapi berbagai situasi.
Pengalaman Ari dan Raka menunjukkan bahwa meski bekerja di bawah sistem yang berbeda, keduanya menghadapi tuntutan kerja yang serupa. Ari direkrut langsung oleh manajemen apartemen, sedangkan Raka bekerja melalui perusahaan penyedia jasa keamanan. Namun keduanya sama-sama menjalani shift selama 12 jam setiap hari.
Menyoal Jam Kerja Satpam
Pengamat ketenagakerjaan, Arif Novianto, menilai jam kerja tersebut tidak dapat dianggap sebagai jam kerja normal. Menurutnya, aturan ketenagakerjaan hanya mengatur jam kerja maksimal tujuh jam per hari untuk enam hari kerja atau delapan jam per hari untuk lima hari kerja. Apabila pekerja bekerja melebihi ketentuan tersebut, perusahaan wajib menghitungnya sebagai lembur beserta kompensasinya.
"Secara normatif, jam kerja 12 jam tidak bisa dianggap sebagai jam kerja biasa. Kalau melebihi jam kerja normal, harus dihitung sebagai lembur dan ada kompensasi sesuai ketentuan," ujar Arif.
Namun, menurut Arif, persoalannya tidak sesederhana pelanggaran aturan. Dari perspektif ekonomi politik, praktik kerja 12 jam menunjukkan adanya intensifikasi kerja. Banyak satpam menerima jam kerja panjang bukan karena pilihan bebas, melainkan karena kebutuhan ekonomi dan lemahnya posisi tawar pekerja.
"Persoalannya bukan sekadar taat aturan atau tidak, tetapi juga relasi kerja yang membuat pekerja sulit menolak," katanya.
Arif juga menyoroti sistem outsourcing yang masih banyak digunakan perusahaan jasa keamanan. Menurutnya, sistem tersebut membuat hubungan kerja menjadi terfragmentasi karena secara administratif satpam dipekerjakan perusahaan outsourcing, tetapi sehari-hari bekerja di perusahaan pengguna.
"Outsourcing menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesejahteraan satpam. Dampaknya bisa berupa upah yang stagnan, kepastian kerja yang rendah, dan posisi tawar pekerja yang makin lemah, padahal tanggung jawab mereka cukup besar," jelasnya.
Meski demikian, Arif menegaskan bahwa hak-hak normatif pekerja tetap harus dipenuhi, terlepas dari sistem kerja yang diterapkan perusahaan.
"Secara hukum, BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan adalah hak pekerja dan kewajiban pemberi kerja. Jadi seharusnya itu sudah menjadi standar bagi satpam yang bekerja secara formal. Tapi dalam praktiknya masih ada perusahaan yang belum patuh, baik terlambat mendaftarkan pekerja atau hanya memberikan sebagian perlindungan. Ini menunjukkan persoalannya lebih pada lemahnya pengawasan dan penegakan aturan," ujarnya.
Arif menilai kesejahteraan satpam masih tertinggal dibandingkan profesi lain yang memiliki tingkat risiko kerja serupa, seperti petugas pemadam kebakaran maupun Satpol PP. Menurutnya, persoalannya bukan terletak pada besarnya risiko pekerjaan, melainkan pada status hubungan kerja dan perlindungan yang diterima para satpam.
"Tanggung jawab satpam besar karena menjaga keamanan aset dan orang, tetapi penghargaan ekonominya sering kali tidak sebanding," ujarnya.
Menjelang sore, aktivitas di lingkungan Politeknik Negeri Jakarta mulai berangsur lengang. Mahasiswa dan pegawai satu per satu meninggalkan kampus setelah menyelesaikan kegiatannya. Namun, pergantian siang ke sore tidak mengakhiri tugas Raka.
Di pos dekat gerbang belakang kampus, ia tetap berdiri dengan pandangan yang sesekali menyapu area sekitar. Kendaraan yang keluar masuk masih diawasi, begitu pula setiap orang yang melintas di hadapannya.
Bagi banyak orang, kehadiran satpam mungkin hanya disadari ketika mereka membuka gerbang, mengatur parkir, atau memberi salam saat datang dan pulang. Padahal, di balik seragam yang setiap hari terlihat itu, ada jam kerja panjang yang terus berjalan bahkan ketika orang lain telah kembali ke rumah.
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id





























