tirto.id - Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir kembali melakukan provokasi terhadap rakyat Islam Palestina. Pada Senin (31/8/2026), ia menyerbu kompleks Masjid Al Aqsa, melakukan ibadah Yahudi di sana, dan tampak menyerukan pembangunan kuil Yahudi di tempat suci umat Islam tersebut.
Menukil Anadolu, pejabat Departemen Wakaf Islam di Yerusalem menggambarkan aksi provokasi tersebut sebagai serbuan Ben-Gvir bersama sekelompok penjajah Israel. Aksi mereka turut dikawal oleh pasukan pendudukan Israel.
Berdasarkan foto yang beredar, Ben-Gvir melakukan aksi provokasinya di bagian timur Al Aqsa. Di sana, ia tampak melakukan ibadah Talmud bersama beberapa rabi yang menyertai politisi sayap kanan itu.
Ibadah Yahudi sebenarnya telah dilarang dilakukan di Al Aqsa sejak 1967. Hal itu telah menjadi isi perjanjian usai Perang Enam Hari pada tahun tersebut. Dalam kesepakatan itu, kompleks Al-Aqsa disepakati sebagai tempat ibadah khusus umat Islam secara khusus dan non-muslim hanya diizinkan berkunjung tanpa melakukan ibadah berdasarkan keyakinan mereka.
Penjajahan Israel atas Palestina telah membuat tata aturan ibadah di kompleks Al Aqsa menjadi isu yang sensitif. Hal tersebut dikarenakan, baik Islam maupun Yahudi, menganggapnya sebagai situs keagamaan yang penting.
Umat Islam mempercayai Al Aqsa sebagai tempat paling suci ketiga di Bumi. Hal ini menjadikannya salah satu situs keagamaan penting umat Islam setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Sementara itu, umat Yahudi menganggap kompleks Al Aqsa sebagai Bukit Bait Suci (Temple Mount). Mereka mengeklaim bahwa kompleks itu semula adalah tempat berdirinya dua kuil Yahudi di zaman kuno.
Meski begitu, dalam sejarah, terdapat episode ketika tata aturan peribadatan di kompleks tersebut diakui baik oleh umat Islam dan Yahudi, terutama ketika periode perdamaian di wilayah tersebut terjadi. Namun, penjajahan Israel atas Palestina sejak 1948 telah memperuncing konflik seputar status Al Aqsa.
Dalam konteks konflik kiwari, Ben-Gvir merupakan salah satu politisi yang terus menerus berupaya untuk menggoyahkan kesepakatan status Al Aqsa. Seperti dalam penyerbuan pada Senin, ia dilaporkan melakukan provokasi dengan menyerukan rencana untuk mengubah status quo Al Aqsa menjadi kuil Yahudi.
Ben-Gvir Inginkan Berdirinya Kuil Yahudi di Komplek Al Aqsa
Seturut Al Jazeera, Ben-Gvir menyiratkan adanya upaya untuk membangun kuil Yahudi di kompleks Al Aqsa “sedikit demi sedikit”. Hal ini ia utarakan ketika memberikan komentar selama penyerbuan hari Senin.
“Ketika saya berusia 14, berdoa dilarang, siapa pun yang bergumam akan ditangkap. Hari ini kita melihat penebusan. Sangat mengharukan berada di sini, dan Anda benar, kita harus meniup shofar dan melantunkan doa, dan harus ada sebuah kuil, sebuah kuil, tetapi sedikit demi sedikit,” tuturnya.
Shofar yang dimaksud Ben-Gvir adalah sejenis terompet dari tanduk hewan. Ini merupakan alat musik yang kerap digunakan sebagai simbol agama Yahudi dalam berbagai peringatan hari raya mereka.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Yerusalem telah mengutuk tindakan Ben-Gvir pada Senin itu. Seturut WAFA, mereka menyebut aksi politisi itu sebagai eskalasi berbahaya dan pelanggaran terang-terangan terhadap status historis dan hukum masjid yang ada.
Hal yang dilakukan Ben-Gvir juga disebut pihak Pemerintah Provinsi Yerusalem sebagai pemaksaan realitas. Politisi Israel itu tengah berupaya untuk memaksakan realitas baru di masjid suci itu dan mengubah identitas keIslamannya.
Pemerintah Provinsi Yerusalem juga menyoroti pelibatan pasukan pendudukan untuk melindungi aksi provokatif tersebut. Menurut mereka, hal ini menunjukkan adanya praktik dari rencana yang sedang berlangsung untuk mengubah kendali atas masjid tersebut.
Itamar Ben-Gvir sendiri telah beberapa kali melakukan penyerbuan ke kompleks Masjid Al Aqsa sejak menjabat pada 2022. Ia berulang kali menyerukan pengambilalihan kompleks keagamaan tersebut demi membangun sinagog Yahudi.
Penyerbuan terbarunya, yang ia lakukan pada Senin, dilakukan Ben-Gvir jelang pemilihan umum Israel. Negara Zionis itu dijadwalkan menggelar pemilihan umum pada 27 Oktober 2026 mendatang.
Sementara itu, Israel, melalui pasukan pendudukannya, kerap kali melakukan pembatasan jemaah Islam Palestina di Al Aqsa. Seperti yang mereka lakukan pada perayaan Idulfitri tahun ini.
Israel telah membatasi jumlah jemaah salat Idulfitri di Al Aqsa hanya 10.000 warga Palestina. Pembatasan ini juga berlaku untuk pelaksanaan salat Jumat selama bulan Ramadan lalu.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































