tirto.id - Di tengah agenda Majelis Umum PBB di New York, Iran menyatakan bersedia untuk membuka Selat Hormuz selama tujuh hari. Teheran menyebut akan melakukannya dengan segera jika Amerika Serikat (AS) menerima tawaran kesepakatan terbaru.
Menukil Al Jazeera, pernyataan itu diungkap oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Ia mengatakan hal tersebut di sela agenda Majelis Umum PBB pada Kamis (24/9/2026).
“Begitu mereka [AS] menerima rencana ini, mulai hari berikutnya, jadwal ini dapat dimulai dan setelah tujuh hari selat akan dibuka,” katanya.
Rencana yang diungkap Araghchi itu merupakan sebuah proposal kesepakatan baru yang dibuat oleh Teheran. Proposal itu menjadi bagian dari upaya diplomatik tak langsung antara AS-Iran yang sedang ditengahi oleh Qatar.
Dalam keterangannya pada Kamis, Araghchi tak merinci detail proposal itu. Namun, ia menyatakan bahwa isi proposal menyerupai nota kesepahaman (MoU) tanggal 17 Juni 2026 lalu.
Saat itu, Iran dan AS telah menyepakati sebuah MoU berisi rencana penghentian perang. Hal ini sempat meredakan perang, namun kemudian dilaporkan gagal diresmikan.
Jika didasarkan pada isi proposal MoU 17 Juni, terdapat beberapa poin kesepakatan yang dibicarakan. Beberapa di antaranya termasuk pembukaan jalur pelayaran bebas di Selat Hormuz selama 60 hari dan perundingan perdamaian yang langgeng antara AS dan Iran pada periode waktu tersebut.
Selain itu, pada proposal MoU sebelumnya, Iran juga meminta pencairan aset yang dibekukan di luar negeri. Hal ini merupakan salah satu persyaratan yang diinginkan Iran selain syarat lain seperti ganti rugi biaya perang, otorisasi pelayaran Selat Hormuz di masa depan, dan pencabutan sanksi serta blokade.
Syarat-syarat itu sebelumnya menjadi beberapa tuntutan Iran yang harus dipenuhi AS jika ingin pembicaraan terkait penghentian perang dan program nuklir Iran kembali dilakukan. Dalam pernyataannya pada Kamis, Araghchi juga mengindikasikan hal serupa.
“Jika syarat-syarat tertentu terpenuhi, Selat Hormuz akan dibuka pada akhir hari ketujuh dan pembicaraan [perdamaian] akan dimulai kembali,” katanya.
Akan tetapi, sejauh ini pihak AS belum memberikan keterangan khusus terkait proposal yang ditawarkan Iran. Spekulasi terkait respons terhadap tawaran Iran, belum tampak dari pernyataan AS.
Sebelumnya, Araghchi dilaporkan telah bertemu dengan duo utusan favorit Presiden AS Donald Trump, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner. Ketiganya hadir dalam sebuah pembicaraan yang dimediasi Qatar pada Selasa (22/9).
Terkait pertemuan itu, Araghchi menggambarkannya sebagai pertukaran yang produktif. Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut bahwa akan keliru jika menggambarkan pertemuan itu sebagai terobosan besar.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































