Menuju konten utama

8 Kasus Percobaan Bunuh Diri Ditemukan di Kapal Induk AS

Kondisi mental tentara AS di kapal induk USS Abraham Lincoln memburuk. Sudah ditemukan 8 kasus percobaan bunuh diri selama menjalani tugas perang di Iran.

8 Kasus Percobaan Bunuh Diri Ditemukan di Kapal Induk AS
USS Abraham Lincoln (CVN-72), kapal induk Nimitz di Angkatan Laut Amerika Serikat di pelabuhan asalnya di Pangkalan Udara Angkatan Laut Pulau Utara di San Diego, California, AS, 18 Mei 2023. REUTERS/Mike Blake
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pejabat Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) melaporkan adanya 8 kasus upaya bunuh diri di antara para tentara yang bertugas di gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln. Kasus itu terjadi selama perang melawan Iran. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump kini disorot karena hal ini.

Melansir CNN, keterangan tentang 8 kasus upaya bunuh diri itu diungkap oleh Plt. Sekretaris Angkatan Laut AS Hung Cao. Keterangan ini termuat dalam surat laporan Hung Cao untuk Senator Kirsten Gillibrand tertanggal Selasa (22/9/2026).

Laporan yang disusun Hung Cao sebagai respons atas permintaan klarifikasi yang diajukan Gillibrand. Senator dari Partai Demokrat itu sebelumnya meminta penjelasan tentang moral dan kesehatan mental para kru USS Abraham Lincoln, kapal induk AS yang turut dikerahkan dalam perang melawan Iran.

Dalam laporannya, Cao menyebut tak ada kru USS Abraham Lincoln yang bunuh diri. Namun, ia mengakui telah ada 8 upaya bunuh diri di antara personel gugus tempur yang dipimpin kapal induk itu.

“Sejak awal penempatan Lincoln, total ada 8 upaya bunuh diri di seluruh gugus tempur,” tulis laporan Cao.

Dalam keterangannya, Cao menyebut total kasus itu terjadi di seluruh gugus tempur USS Abraham Lincoln. Hal itu, katanya, termasuk “awak Lincoln dan para pelaut dari sayap udara kapal induk, gugus tempur dan staf skuadron kapal perusak, kapal perusak pengawal, dan semua skuadron penerbangan yang berada di kapal”.

Dalam perang melawan Iran, AS telah mengerahkan USS Abraham Lincoln sebagai pemimpin gugus tempur yang terdiri dari sekitar enam kapal. USS Abraham Lincoln dilaporkan menjadi kapal dengan waktu bertugas terlama di antara kapal lainnya, yakni lebih dari enam bulan.

Cao mengatakan, banyak di antara kasus upaya bunuh diri yang terjadi, para tentara mencoba untuk terjun ke laut lepas. Beberapa di antaranya betulan jatuh ke laut dan dapat diselamatkan. Adapun tentara lainnya berhasil dicegah sebelum dapat terjun.

Senator Kirsten Gillibrand kemudian membuat pernyataan pada Rabu (23/9) sebagai respons atas laporan Cao tersebut. Dalam kesempatan itu, ia mengecam pemerintahan Trump yang ia sebut telah “mengabaikan” kondisi para tentara AS di medan perang.

Laporan itu disebut Gillibrand merupakan “kondisi serius dan memburuk” pasukan AS yang ditugaskan untuk berperang melawan Iran. Ia kemudian mengecam Trump karena tak mengakui situasi itu.

“Pasukan kami dan keluarga mereka melakukan pengorbanan yang sangat besar setiap hari, namun presiden mengabaikan mereka dengan tidak menghormati [pengorbanan mereka] secara terang-terangan,” katanya.

Trump Konsisten Bantah Mental Tentara AS Memburuk

Selama ini, Trump secara konsisten membantah laporan kritis tentang kondisi internal pasukan AS yang dikerahkan dalam perang. Hal ini seperti yang ia lakukan di depan wartawan pada 14 Agustus lalu.

“Pemerintahan ini bisa mengucurkan dana tak terbatas dari uang pajak untuk bom, ruang dansa, dan para miliarder, tetapi tidak mampu merawat para anggota angkatan bersenjata; hal ini sama sekali tidak dapat diterima,” kata Gillibrand.

Kondisi moral para tentara AS yang dikerahkan untuk perang melawan Iran memang terus disorot seiring tak kunjung tercapainya kesepakatan damai. Lamanya waktu penugasan disebut telah memengaruhi moral para tentara, terutama mereka yang dikerahkan sebagai staf kapal induk.

Pertempuran yang tak kunjung berakhir membuat kapal induk AS terus bertugas dalam status siap siaga sepanjang waktu. Hal itu kemudian membebani pasukan yang ditugaskan di sana secara psikologis.

Situasi itu juga diperburuk dengan adanya kerusakan rutin pada fasilitas penting kapal. Toilet kapal kerap mengalami kendala yang mengharuskannya ditutup sementara dan tak bisa digunakan para kru kapal.

Di sisi lain, para kru kapal secara anonim menyebut operasi AS di Iran berlangsung secara berbeda dari operasi-operasi sebelumnya. Operasi ini dinilai jauh lebih melelahkan.

Para kru menjelaskan, kapal induk Lincoln tidak memiliki jadwal singgah di pelabuhan. Persinggahan ini biasanya dilakukan untuk mengangkut persediaan.

Kesempatan itu sebenarnya menjadi waktu yang berharga bagi para pelaut militer AS karena memungkinkan mereka untuk sejenak beristirahat dan bersantai sebelum kembali berlayar. Tanpa rehat, pelayaran menjadi melelahkan secara psikologis dan memengaruhi kesehatan mental para pelaut di atas kapal.

USS Abraham Lincoln sendiri kini ditarik pulang oleh AS. Kapal induk itu berangkat meninggalkan perairan Asia Barat pada Agustus lalu dan diperkirakan sampai ke AS pada Oktober.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar