Menuju konten utama

Delegasi AS Walk Out saat Presiden Iran Pidato di Sidang PBB

Delegasi AS walk out saat Presiden Iran, Masoud Pezeshkian berpidato di Sidang Umum PBB di New York. Iran mengecam agresi AS dan Israel.

Delegasi AS Walk Out saat Presiden Iran Pidato di Sidang PBB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menghadiri pertemuan dalam KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek pada 1 September 2026. Pada 1 September, Pezeshkian berjanji akan mengimbangi setiap langkah AS untuk kembali ke kesepakatan bulan Juni yang bertujuan mengakhiri perang mereka, seraya ia bersiap untuk bertemu dengan mitranya dari Rusia, Vladimir Putin, dalam sebuah KTT regional. (Foto oleh Kantor Kepresidenan Iran / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Delegasi Amerika Serikat (AS) memilih meninggalkan ruang sidang (walk out) saat Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato dalam Sidang Majelis Umum PBB pada Rabu (23/9/2026).

Aksi tersebut terjadi ketika Pezeshkian tengah menjelaskan bahwa Iran menjadi korban serangan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik yang berlangsung hingga hari ini.

Dalam video yang beredar luas di media sosial, tampak perwakilan AS walk out setelah Pezeshkian menunjukkan gambar kerusakan akibat serangan yang menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak.

Ia secara khusus menampilkan foto Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab dan sebuah kompleks olahraga di Lamerd yang disebut menjadi sasaran serangan. Aksi delegasi AS itu berlangsung sehari setelah delegasi Iran juga meninggalkan ruangan ketika Presiden AS Donald Trump berpidato di hadapan Sidang Majelis Umum PBB.

Apa Saja yang Disampaikan Presiden Iran di Sidang Umum PBB?

Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan sejumlah hal utama terkait perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung hampir tujuh bulan. Berikut poin-poin yang disampaikan:

1. Membantah tuduhan bahwa Iran adalah negara teroris

Pezeshkian menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump sehari sebelumnya yang menyebut Iran sebagai pihak teroris. Pezeshkian justru mengatakan bahwa Iran merupakan korban terorisme, bukan pelakunya.

"Presiden AS menyebut kami teroris, padahal kami adalah korban teroris," kata Pezeshkian dikutip Al Jazeera, Rabu (23/9/2026).

2. Menunjukkan foto Ali Khamenei dan korban anak-anak

Dalam pidatonya, Pezeshkian menunjukkan foto Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran sebelumnya yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada awal perang Februari lalu.

Ia juga memperlihatkan foto sejumlah siswi yang dilaporkan tewas dalam serangan udara AS terhadap sekolah mereka di kota Minab, Iran selatan.

"Mereka memukul kami, namun kami tidak menundukkan kepala ataupun bertekuk lutut," tambah Pezeshkian.

3. Membuka peluang untuk diplomasi dan negosiasi

Meskipun menyampaikan kritik keras terhadap AS dan Israel, Pezeshkian tidak menutup kemungkinan untuk melakukan perundingan.

"Kami mengundang dan menyerukan kepada dunia—bukan karena kelemahan, melainkan karena keyakinan mendalam akan kekuatan dan keteguhan kami sendiri—untuk bekerja sama dan berkolaborasi, didasari pemahaman mendalam bahwa tidak ada satu pihak pun di kawasan ini yang dapat menikmati keamanan sendirian," ujarnya.

4. Menolak penggunaan Selat Hormuz untuk menekan Iran

Pezeshkian juga menyinggung persoalan Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi salah satu titik penting dalam konflik. Ia menentang upaya AS menggunakan jalur tersebut sebagai bagian dari tekanan terhadap Iran.

Menurut Pezeshkian, tidak adil jika Iran dibatasi aksesnya terhadap jalur perairan yang berkaitan dengan kepentingannya sendiri, sedangkan pihak lain menggunakan jalur tersebut untuk melakukan agresi dan menciptakan ketidakamanan terhadap Iran.

5. Mengkritik standar ganda masyarakat internasional

Pezeshkian kemudian mengaitkan konflik Iran dengan situasi di Gaza. Ia membandingkan serangan AS dan Israel terhadap Iran dengan serangan Israel di Gaza. Menurut Pezeshkian, apa yang terjadi di Gaza menunjukkan adanya standar ganda dalam perlakuan masyarakat internasional terhadap Iran.

"Mereka membunuh, sedangkan kita dijatuhi sanksi dan dihukum," ungkap Pezeshkian.

Pidato Pezeshkian secara garis besar merupakan tanggapan terhadap pernyataan Trump sehari sebelumnya di forum yang sama. Saat itu, Trump mengancam akan menghancurkan Iran jika kesepakatan untuk mengakhiri konflik tidak tercapai.

“(Saya bisa saja) memusnahkan Republik Islam tersebut," ancam Trump.

Sikap Pezeshkian saat menyampaikan pidato seolah menunjukkan bahwa Iran tidak akan tunduk terhadap ancaman tersebut. Namun, pada saat yang sama, ia tetap menyampaikan bahwa Iran terbuka terhadap hubungan dan kerja sama dengan dunia melalui jalur diplomasi.

Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dilaporkan mengadakan pembicaraan tidak langsung selama tiga jam dengan perwakilan Iran pada Selasa (22/9/2026) di sela-sela KTT PBB.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra