tirto.id - Iran melalui Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Mohsen Rezaee, menyatakan telah mengajukan tujuh syarat kepada Amerika Serikat (AS) untuk memulai dialog antar kedua negara pada Sabtu (19/9).
Melalui media sosial X, Rezaee menyampaikan, "Iran telah mengajukan tujuh syarat kepada pemerintah AS untuk memulai perundingan apa pun.”
Ia pun menegaskan posisi negaranya dengan menambahkan, “Pesan kami jelas dan tegas, jika AS ingin keluar dari kesulitan yang mereka ciptakan sendiri dan tidak ingin terus terjebak di dalamnya, tidak ada pilihan lain selain menerima syarat-syarat dari Iran."
Langkah diplomasi ini mengemuka setelah ketegangan militer memuncak sejak 28 Februari, saat AS dan Israel menyerang sejumlah lokasi di Iran yang memicu aksi balasan. Meski kedua pihak sempat menandatangani nota kesepahaman penghentian konflik pada pertengahan Juni, pertempuran kembali pecah tak lama berselang. Untuk menekan Iran, AS lantas meningkatkan sanksi ekonomi demi memperberat beban finansial negara tersebut.
Di sisi lain, Misi Pencari Fakta Internasional Independen Dewan HAM PBB menyimpulkan dalam laporannya pada Kamis bahwa AS kemungkinan telah melakukan kejahatan perang pada dua serangan awal di bulan Februari. Serangan pertama terjadi pada 28 Februari ketika rudal Tomahawk milik AS menghantam sebuah sekolah di Distrik Minab, Iran selatan, hingga menewaskan lebih dari 170 orang yang didominasi anak-anak.
"Berdasarkan bukti yang tersedia, yang tidak mencakup tanggapan AS atas permintaan informasi dari Misi maupun pengungkapan penuh dan terbuka hasil penyelidikan internal AS, Misi menemukan alasan yang masuk akal untuk meyakini bahwa AS melakukan kejahatan perang berupa serangan tanpa pandang bulu," tulis laporan resmi tersebut dikutip dari Antara.
Laporan Misi PBB juga menyoroti serangan udara AS menggunakan Precision Strike Missile yang menyasar kompleks olahraga serta permukiman di Lamerd. Dua serangan di Lamerd tersebut menewaskan 178 orang, termasuk 120 anak-anak. Menanggapi eskalasi ini, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) mendesak AS dan Iran untuk segera menghentikan pelanggaran HAM, menjamin kejadian serupa tidak terulang, serta memberikan kompensasi kepada seluruh korban.
Penulis: Rina Nurjanah
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id































