tirto.id - Dalam sejarah Multi-Purpose Van alias MPV di Indonesia, satu nama yang nyaris atau bahkan tak pernah bisa digoyang adalah Toyota Kijang. Bahkan ketika namanya sudah berubah menjadi Innova sekalipun, Kijang senantiasa digdaya.
Namun, bukan berarti mobil satu ini tak pernah punya penantang serius. Saat masih menggunakan nama Kijang, khususnya, mobil ini pernah mendapat perlawanan serius dari Isuzu Panther yang, sayangnya, mesti disetop produksinya pada 2021 karena alasan regulasi emisi.
Panther sejatinya tidak sendirian melawan Kijang (serta Innova). Dalam kurun waktu singkat, antara 1999 dan 2005, pernah ada satu MPV keluarga lain yang pernah mewarnai pasar otomotif Tanah Air. Namanya Mitsubishi Kuda dan, meskipun kualitasnya tidak buruk, mobil ini pada akhirnya gagal mendongkel dominasi Kijang di mesin bensin serta Panther di mesin diesel.
Bicara soal MPV saat ini, Mitsubishi punya model yang cukup bisa diandalkan, yakni Xpander dan Xpander Cross. Menurut data terbaru GAIKINDO yang dirilis September 2026, Xpander dan Xpander Cross mampu menduduki posisi ke-14 daftar model terlaris di Indonesia sepanjang Agustus. Tidak spesial, memang, tetapi tidak bisa dibilang buruk, mengingat makin sengitnya persaingan seiring kehadiran mobil-mobil elektrik Tiongkok.
Namun, perjalanan Mitsubishi menemukan formula MPV keluarga yang tepat di Indonesia tidaklah mudah. Malah, bisa dibilang, pabrikan satu ini lebih kerap apes. Grandis, Maven, dan Delica, semuanya gagal merebut hati masyarakat Indonesia. Begitu pula sebenarnya dengan Kuda. Mobil ini disetop produksinya pada 2005, setahun setelah Innova resmi menggantikan Kijang Kapsul, lantaran penjualannya seret.
Namun, Kuda punya posisi spesial dalam perjalanan sejarah Mitsubishi di Indonesia. Pasalnya, ia merupakan MPV pertama yang dirilis pabrikan berlogo tiga berlian tersebut. Ya, sebelum itu memang sudah ada Mitsubishi Colt T120 dan L300 yang kerap pula "disulap" menjadi minivan. Akan tetapi, pakem utama T120 dan L300 adalah mobil pikap yang fungsi utamanya adalah pengangkut barang. Sementara itu, Kuda adalah MVP sejati yang memang dirancang untuk menjadi pesaing di segmen tersebut.
Kuda merupakan buah kolaborasi antara Mitsubishi Motors dan China Motor Corporation, yang sejak awal memang dirancang untuk pasar Asia. Di Taiwan, mobil ini dijual dengan nama Mitsubishi Freeca, di Vietnam disebut Mitsubishi Jolie, dan di Filipina dikenal sebagai Mitsubishi Adventure. Sementara di Indonesia, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) memperkenalkannya dengan nama Kuda pada Maret 1999, setelah sempat tertunda akibat krisis moneter 1998.
Peluncuran Kuda tak bisa dipisahkan dari menggiurkannya pasar MPV di Indonesia pada akhir 1990-an. Melihat adanya peluang di segmen itu, Mitsubishi menghadirkan Kuda dengan dua pilihan mesin di generasi pertamanya: mesin bensin 1.600 cc berkode 4G18 yang masih menggunakan karburator, serta mesin diesel 2.500 cc berkode 4D56. Masing-masing tersedia dalam tiga varian, yakni GLX, GLS, dan Super Exceed.
Dari sisi desain, generasi pertama Kuda tampil cukup gagah dengan lampu depan kotak bergaya gelap yang sekilas mengingatkan pada tampang Pajero. Namun, ada perbedaan subtil antara versi bensin dan diesel. Sasis Kuda versi bensin lebih pendek dan atapnya rata. Sementara, Kuda diesel punya sasis lebih panjang dan atapnya sedikit ditinggikan untuk optimalisasi ruang kabin.
Soal mesin, khususnya untuk versi diesel, yang dipakai oleh Kuda adalah mesin yang sama dengan milik L300 zaman itu. Meski begitu, ada sedikit upgrade sehingga mesin itu mampu menghasilkan 75 hp pada 4.200 rpm dengan torsi puncak 143 N⋅m pada 2.500 rpm. Mesin ini juga punya satu poin plus lagi. Karena basisnya sama dengan milik L300, spare part-nya jadi sangat mudah ditemukan.
Kuda generasi pertama bertahan selama tiga tahun sampai akhirnya, pada 2002, KTB merilis generasi kedua yang karib disebut "Kuda Lampu Kristal". Selain perubahan tampilan, generasi ini juga menambahkan pilihan mesin bensin 2.000 cc berkode 4G63 dengan sistem injeksi MPI, yang mampu menghasilkan tenaga 116 hp pada 5.500 rpm dan torsi 165 N⋅m pada 3.000 rpm. Nama variannya juga diganti menjadi Deluxe, Diamond, dan Grandia .

Dua tahun berselang, pada 2004, generasi ketiga pun muncul dengan perubahan tampang yang cukup mencolok. Lampu utama yang tadinya kotak berganti menjadi bentuk oval dengan reflektor kristal. Selain itu, gril juga diperbarui dengan inspirasi dari Lancer, sedangkan lampu rem dibuat menempel di pilar belakang. Dari sisi mesin memang tak ada perubahan berarti, tetapi tampilan generasi ketiga ini memang sangat berbeda dari para pendahulunya.
Sayangnya, Kuda tak pernah benar-benar mampu menggeser posisi Kijang maupun Panther. Salah satu keluhan paling umum yang menghantui Kuda adalah konsumsi bahan bakar yang boros pada varian bensin, yakni hanya sekitar 7-8 km per liter untuk pemakaian dalam kota. Ditambah harga suku cadang bodi yang terbilang mahal, serta kabin yang lebih sempit dibanding Kijang dan Panther, Kuda kehilangan poin penting di mata konsumen yang pragmatis.
Ada pula keluhan teknis yang cukup khas. Mekanik spesialis Mitsubishi di sentra onderdil BSD Otoparts pernah menyebut bahwa Kuda rentan mengalami masalah pada joint setir, dengan gejala bunyi “kletek” saat pengereman, dan hal ini berlaku di semua generasi. Selain itu, masalah pada servo atau stepper motor yang membuat RPM mesin turun saat AC dinyalakan juga kerap dikeluhkan pemilik, terutama pada varian 1.6 karburator.
Pada akhirnya, Kuda pun harus rela disuntik mati. Dan setelah itu pun Mitsubishi tidak langsung mampu menemukan formula MPV yang pas. Butuh waktu bertahun-tahun, bahkan lebih dari satu dekade, sampai akhirnya Xpander dirilis pada 2017 dan Mitsubishi punya MPV yang bisa benar-benar diandalkan.
Walau demikian, DNA Kuda tidak banyak terlihat pada Xpander. Justru, penggemar Mitsubishi melihat jejak desain Kuda pada SUV flagship Destinator yang dirilis pada GIIAS 2025 silam. Desain Destinator yang kotak dan tegas, dengan atap tinggi serta pilar B dan C yang khas, mengingatkan pada Kuda varian Super Exceed Diesel dari generasi pertama. Dan sejauh ini, Destinator masih bisa dibilang sebagai model yang berhasil untuk Mitsubishi.
Adapun, untuk Kuda sendiri, tiga dekade setelah pertama kali meluncur, ia tak pernah masuk dalam daftar mobil yang ramai dibicarakan. Komunitas, sih, masih ada sampai sekarang. Akan tetapi, mobil ini belum pernah "digoreng" lantaran memang belum pernah jadi buruan kolektor. Namun, justru itu yang bikin Kuda jadi lebih menarik kini. Pasalnya, karena kurangnya hype itulah harga unit bekas mobil ini jadi lebih terjangkau.
Unit bekas Kuda versi bensin bisa ditemukan mulai dari kisaran Rp 38 jutaan, sementara versi diesel yang lebih diminati dijual antara Rp 55 juta hingga Rp 80 juta. Dengan uang sekian, seseorang sudah bisa mendapatkan MPV keluarga tujuh penumpang yang mesinnya masih bandel, suku cadang mesinnya relatif mudah dicari, dan suspensinya cukup nyaman untuk perjalanan panjang.
Dan mungkin, lewat jalan inilah Kuda terus memperpanjang napasnya. Masa edarnya memang tak lama, tetapi kualitas yang dibawanya membuat mobil ini masih terus memiliki peminat, walau tidak sebanyak para kompetitornya.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id
































