Menuju konten utama

Host Live: Ujung Tombak Menjaga Roda Penjualan Digital

Meski menuntut ketahanan fisik dan komunikasi yang kuat, profesi host live shopping kian diminati karena menawarkan komisi tinggi.

Host Live: Ujung Tombak Menjaga Roda Penjualan Digital
Filza ketika sedang memulai host live di studio PT IGOODCO, Kalideres, Jakarta Barat. (FOTO/Dok. Filza)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bagi sebagian orang, live shopping mungkin hanya terlihat sebagai aktivitas menawarkan barang melalui layar ponsel. Namun, di balik siaran yang berlangsung berjam-jam, terdapat pekerja yang harus mempersiapkan perangkat, memahami produk, menjaga komunikasi, dan mengejar target penjualan.

Filza Hayuning Wafa (21), salah satu pekerja yang melakoni profesi host live. Mulannya, ia memandang profesi itu sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luang.

Perjalanan Filza sebagai host live dimulai setelah lulus SMA. Saat menunggu masuk kuliah, ajakan seorang teman menjadi kesempatan untuk mencoba pekerjaan baru. Pada waktu itu, pekerjaan tersebut belum direncanakan sebagai profesi jangka panjang.

“Karena di situ aku juga baru banget lulus SMA, jadi kayak udah lah, coba-coba dulu saja,” kata Filza ketika menceritakan awal mula bekerja sebagai host live kepada Tirto, di Kopi Kenangan Lenteng Agung, Rabu (16/09/26).

Pekerjaan pertamanya, ia jalani di Laskala Batik selama tiga bulan. Saat memasuki dunia perkuliahan, Filza memutuskan berhenti untuk fokus pada studinya. Setelah jeda sekitar dua tahun, ia kembali mencari peluang kerja pada semester enam, memanfaatkan waktu luangnya di sela-sela penyelesaian tugas akhir.

“Jadi kayak, ya, sudah lah mengisi pekerjaan lagi dan kebetulan sudah punya pengalaman jadi host live,” katanya.

Perjalanan kariernya dilanjutkan dengan bergabung di PT Topscore, perusahaan yang menaungi berbagai merek sepatu olahraga lokal. Kesempatan berikutnya membawa Filza ke PT Joysee Indonesia untuk bekerja sebagai freelancer skincare selama tiga bulan, hingga akhirnya ia menetap sebagai karyawan tetap di PT IGOODCO Makeup.

Empat perusahaan dengan bidang produk yang berbeda menjadi bagian dari pengalamannya. Mulai dari fashion, sepatu olahraga, skincare, hingga makeup, pekerjaan tersebut menuntut penyesuaian terhadap karakter produk dan kebutuhan pemasaran masing-masing jenama.

Bekerja sebagai host live, durasi kerja tidak seluruhnya digunakan untuk tampil di depan kamera. Filza menjelaskan waktu kerja mencapai delapan jam, dengan pembagian antara live, istirahat, dan pembuatan konten promosi.

“Jadi 8 jam kerja, nanti 1 jamnya itu di istirahat ke 1 jam lagi buat bikin konten,” jelasnya.

Di tiga tempat kerja sebelumnya, ia rata-rata memandu live selama delapan jam per hari. Berbeda saat menjadi freelancer di Joysee Skincare, durasi live-nya lebih singkat, yaitu sekitar empat hingga lima jam.

Namun, di perusahaannya yang sekarang, jam kerjanya kembali mencapai delapan jam. Operasional siaran berlangsung selama 24 jam dengan sistem shift. Filza biasanya mendapat jadwal pagi hingga siang, meski ia juga pernah merasakan shift malam yang mengharuskan pulang tengah malam.

“Kalau shift malam itu pulangnya di jam 12 malam,” ujarnya.

Bagi perusahaan, keberadaan host dalam berbagai jam menjadi bagian dari strategi untuk menjaga aktivitas akun dan memperluas kesempatan penjualan.

Live shopping tidak hanya dilakukan untuk menawarkan produk kepada penonton yang sudah mengikuti akun. Filza menjelaskan akun baru juga membutuhkan proses penyesuaian atau adjustment agar dapat berkembang dan mengetahui waktu yang tepat untuk menjangkau audiens.

“Jadi, kami tuh belum tahu jam mana yang sepi, jam mana yang ramai,” tutur Filza.

Perbedaan waktu aktivitas masyarakat membuat penonton dapat hadir pada jam yang beragam. Sebagian mengakses live sebelum beraktivitas, sementara lainnya baru memiliki waktu luang pada malam hari setelah menyelesaikan pekerjaan atau kegiatan sehari-hari.

“Makanya brand-brand itu tuh kayak bikinnya tuh live-nya 24 jam. Jadi, ya buat naikin adjustment, buat naikin penjualan juga sih,” ujarnya.

Menurut Filza, pagi dan malam menjadi waktu yang relatif ramai. Sebaliknya, siang hingga sore cenderung lebih sepi karena banyak orang sedang menjalani aktivitas. Pada malam hari, waktu sekitar pukul 20.00 WIB hingga 00.00 WIB disebut menjadi salah satu periode dengan jumlah penonton yang lebih ramai.

“Di malam harinya tuh kayak di sekitar jam 8 sampai ke jam 12 malam sih, kak,” jelasnya.

Setelah tengah malam hingga pukul 05.00, penonton masih ada, tetapi jumlahnya cenderung lebih sedikit.

Live yang berlangsung lama dapat menghadirkan tantangan, terutama ketika jumlah penonton menurun. Tidak adanya interaksi membuat waktu siaran terasa lebih panjang karena host harus tetap berbicara meskipun respons audiens terbatas.

“Kalau penonton sepi, kan, enggak ada audiensnya, enggak ada buat orang ngobrol-ngobrolnya,” kata Filza.

Kelelahan juga pernah dialami ketika jadwal kerja berpindah-pindah. Filza menceritakan pengalaman kondisi tubuh yang tidak fit hingga mengalami mual saat sedang live. Dalam situasi tersebut, tuntutan menjaga ekspresi wajah tetap menjadi bagian dari pekerjaan.

“Harus tetap senyum, harus tetap mimik wajahnya dijaga,” ujarnya.

Ketika tubuh sudah tidak kuat, Filza berkoordinasi dengan rekan satu shift untuk menggantikan sementara. Waktu istirahat sekitar lima hingga sepuluh menit diberikan sebelum kembali melanjutkan siaran.

“Kalau misalnya saya sudah gak kuat banget, saya bilang ke rekan saya yang satu shift juga sama saya,” jelasnya.

Menurut Filza, kondisi kesehatan tetap perlu diperhatikan. Ketika tubuh tidak fit, pekerja diberikan kesempatan untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum kembali menjalani aktivitas live.

Selain menjaga interaksi, host live juga bekerja dengan target penjualan. Filza menyebut target sekitar sepuluh penjualan dalam satu sesi live. Ketika kondisi penjualan ramai, omzet yang dihasilkan melalui TikTok dan Shopee dapat mencapai Rp 7.000.000,00 hingga Rp 10.000.000,00 dalam satu hari.

“Nah kalau misalnya di setiap harinya itu lumayan ramai, saya bisa mencapai di 7-10 jutaan kalau misalnya sekali per harinya,” ucap Filza.

Filza memperoleh gaji pokok sekitar Rp6 juta serta komisi satu persen dari penjualan yang dihasilkan selama live. Komisi dikumpulkan selama satu bulan dan dibayarkan bersama gaji pokok.

“Kami dapat 1 persen dari penjualannya,” jelasnya.

Sistem kerja berlangsung selama enam hari dengan satu hari libur dalam seminggu. Perusahaan juga menetapkan target penjualan sekitar Rp100 juta per orang setiap bulan. Menurut Filza, target tersebut sejauh ini masih dapat dicapai karena produk yang dipasarkan memiliki pelanggan.

“Kalau misalkan ditargetin Rp100 juta, tapi karena memang brand-nya juga lumayan terkenal, banyak juga yang membelinya,” ujarnya.

Penonton sebagai Penghubung Penjualan

Host Live Profesi di Balik Layar

Filza ketika sedang memulai host live di studio PT IGOODCO, Kalideres, Jakarta Barat. (FOTO/Dok. Filza)

Pengalaman penonton memperlihatkan bagaimana cara host menjelaskan produk dapat memengaruhi keputusan pembelian. Sabrinna Az zahra (22), mengaku mulai sering menonton live shopping karena sedang mencari barang untuk kebutuhan wisuda. Waktu menonton biasanya dilakukan ketika memiliki waktu luang, terutama malam hari, selama sekitar satu hingga dua jam.

“Awalnya biasanya karena produknya memang lagi saya cari atau muncul di FYP,” ungkap Sabrinna.

Selain produk yang dibutuhkan, gaya komunikasi host juga menjadi alasan penonton bertahan dalam siaran. Cara berbicara yang menyenangkan, interaksi yang baik, dan promo khusus live dapat membuat penonton lebih lama menyaksikan tayangan.

“Tapi kalau host-nya seru, cara ngomongnya enak, dan interaksinya sama penonton bagus, biasanya saya jadi betah nonton,” katanya.

Penjelasan produk juga berpengaruh terhadap kepercayaan calon pembeli. Informasi mengenai cara penggunaan, kelebihan, dan kekurangan barang membantu penonton memahami produk sebelum melakukan transaksi.

“Kalau host bisa menjelaskan dengan jelas dan sesuai kondisi produk, saya jadi lebih percaya untuk membeli,” ujar Sabrinna.

Pengalaman membeli barang setelah menonton live streaming juga pernah dialami. Awalnya, ia hanya melihat siaran langsung secara iseng. Namun, penjelasan produk yang detail, promo khusus, serta komentar dari penonton lain membuat ketertarikan untuk membeli meningkat. Setelah barang diterima, produk dinilai sesuai dengan penjelasan saat live.

“Setelah barangnya sampai, ternyata sesuai dengan yang dijelaskan saat live,” katanya.

Bagi penonton, host live berperan sebagai penghubung antara penjual dan pembeli. Ketika pembeli tidak dapat melihat barang secara langsung, host membantu menunjukkan detail produk, menjawab pertanyaan, dan membuat pengalaman belanja terasa lebih interaktif.

“Jadi, pengalaman belanjanya terasa lebih interaktif dibanding cuma melihat foto dan deskripsi produk,” jelasnya.

Profesi yang Berkembang dalam Ekonomi Digital

Ilustrasi live streaming Vlogger

Ilustrasi live streaming Vlogger . FOTO/iStockphoto

Pengamat ekonomi digital, Nuril Huda, menjelaskan perkembangan live streaming telah berlangsung sejak beberapa tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan makin besar ketika platform live streaming dipadukan dengan fungsi perdagangan atau commerce.

“Namun demikian, memang makin membludak ketika platform streaming dipadukan dengan fungsi commerce,” ujar Nuril.

Menurutnya, platform seperti Instagram dan TikTok tidak hanya berfungsi sebagai media sosial, tetapi juga menyediakan ruang perdagangan digital. Interaksi antara streamer dan penonton menjadi salah satu pengalaman yang membedakan live streaming dari aktivitas belanja melalui foto dan deskripsi produk.

“Peningkatan ini disebabkan experience yang ditawarkan ketika live streaming memang berbeda di mana ada interaksi antara streamer dengan penonton,” katanya.

Monetisasi live streaming dapat berasal dari hadiah digital, penjualan, dan iklan. Bagi platform, pendapatan juga dapat diperoleh melalui iklan dan penjualan koin. Kombinasi tersebut membuka ruang bagi munculnya profesi baru dalam dunia digital.

“Dari kedua kombinasi yang saling menguntungkan tersebut sebenarnya bisa menciptakan satu profesi baru dalam dunia digital, sebagaimana adanya influencer dan selebgram,” jelas Nuril.

Perkembangan live streaming juga tidak hanya terbatas pada penjualan. Menurut Nuril, siaran langsung telah merambah bidang lain, termasuk komentar pertandingan olahraga dan siaran dalam durasi panjang.

Live streaming ini bahkan juga berkembang bukan hanya untuk berjualan ataupun satu jam dua jam,” ujarnya.

Namun, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan. Nuril menyoroti kemungkinan penggunaan kecerdasan buatan untuk menciptakan streamer virtual atau memanipulasi wajah dan suara seseorang tanpa persetujuan.

“Tantangan ke depan adalah adanya streamer yang diciptakan oleh AI bisa melakukan live streaming,” kata Nuril.

Ia menilai penggunaan AI (kecerdasan buatan) perlu memperhatikan etika, terutama ketika teknologi tersebut digunakan untuk memanipulasi identitas atau membuat seseorang terlihat melakukan aktivitas yang sebenarnya tidak dilakukan.

Peluang Kerja dan Keterampilan yang Dibutuhkan

Host Live Profesi di Balik Layar

Filza ketika sedang memulai host live di studio PT IGOODCO, Kalideres, Jakarta Barat. (FOTO/Dok. Filza)

Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa posisi host live streaming termasuk salah satu pekerjaan dengan permintaan tinggi pada 2025. Lebih dari 10.000 lowongan untuk posisi tersebut disebut telah diunggah melalui KarirHub.

Kepala Pusat Pasar Kerja Kemnaker, Surya Lukita Warman, menyebut host live streaming berada di peringkat ketujuh dalam daftar pekerjaan dengan permintaan tertinggi.

“Yang menarik di sini ada di nomor 7, yaitu host live streaming. Ini cukup banyak, 10.000 lowongan, dan ini banyak yang diminta sekarang,” kata Surya dalam Media Briefing di Jakarta, Jumat, 26 September 2025.

Tingginya permintaan tersebut berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan perusahaan untuk memasarkan produk melalui siaran langsung. Pekerjaan host live membutuhkan kemampuan komunikasi, penjualan, pemasaran, serta penguasaan teknis live streaming.

Pernyataan dari Surya tersebut juga sejalan dengan yang dilalui Filza, ia menyebut kemampuan menyampaikan informasi dengan jelas menjadi salah satu hal penting dalam berinteraksi dengan calon pembeli. Selain itu, pendekatan soft-selling dan hard-selling juga digunakan untuk mendukung penjualan.

“Kalau misalnya keterampilan sih yang pertama komunikasi ya. Pastinya kita tuh harus memberikan kemampuan komunikasi yang baik,” ujarnya.

Melalui soft-selling, host menjelaskan produk dan membangun ketertarikan penonton. Sementara itu, hard-selling digunakan untuk mendorong pembelian secara lebih langsung. Kedua pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi pemasaran yang dilakukan selama siaran berlangsung.

Tugas host juga mencakup pembuatan konten promosi di TikTok. Konten tersebut berisi informasi tentang merek, produk, promo, serta perbedaan harga antara pembelian melalui live dan pembelian di luar live.

“Jadi kayak konten promosi saja, konten promosi brand tersebut,” kata Filza.

Persiapan sebelum live mencakup perangkat kamera, laptop, aplikasi OBS, kondisi diri, dan sampel produk. Barang yang ditampilkan harus tersedia dalam keadaan rapi agar dapat diperlihatkan kepada penonton secara langsung.

“Yang pastinya barang-barang sampel-sampelnya, jangan sampai ada yang lupa, jangan sampai ada yang berceceran, jangan sampai ada yang kotor-kotoran,” jelasnya.

Pengetahuan mengenai produk juga perlu dikuasai dengan cepat. Selama masa pelatihan, host dituntut memahami informasi produk agar dapat menjawab pertanyaan dan memberikan penjelasan yang sesuai.

“Harus bisa ngapalin tuh produk-produk knowledge-nya secara cepat,” ujar Filza.

Bagi Filza, pengalaman dan ketrampilan menjadi host live memberikan peluang untuk bekerja di bidang digital marketing. Ia melihat pekerjaan tersebut dapat dijalani sebagai profesi tetap, terutama bagi orang yang telah memiliki pengalaman dan memahami cara kerja live shopping.

“Menurut saya bisa sih kalau misalnya buat jadi pekerjaan tetap, ya,” kata Filza.

Namun, ia menekankan pentingnya mempertimbangkan perusahaan yang memberikan gaji layak. Beban pekerjaan sebagai host live membutuhkan tenaga dan kemampuan komunikasi yang konsisten selama menjalani jam kerja.

“Kalau misalnya pengin jadi host live carilah perusahaan yang beneran gitu, yang gajinya tuh enggak main-main, yang gajinya tuh yang gede lah, yang layak, lah intinya,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait LIVE STREAMING atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama