Menuju konten utama

Saat Efek El Nino Tiba di Jakarta: Air Sulit, Dompet Melilit

Bagi warga biasa, biaya membeli air ekstra turut menekan kemampuan keuangan mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saat Efek El Nino Tiba di Jakarta: Air Sulit, Dompet Melilit
Yusuf pemilik warung yang merasakan kesulitan terkait kekeringan yang melanda beberapa wilayah di DKI Jakarta, di Lima Sekawan, Cilandak Barat, Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Kamis (17/09/26). tirto.id/Putri Az zahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Musim kemarau dan fenomena El Nino mulai memperlihatkan dampaknya di sejumlah wilayah Jakarta. Sejumlah sumur warga dilaporkan mengalami penurunan debit air, bahkan sebagian daerah mulai kekeringan. Karenanya, sebagian rumah tangga di Jakarta pun mulai menghadapi kesulitan akses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Staf Khusus Gubernur Jakarta, Cicho Hakim, mengatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta belakangan ini mulai menerima laporan mengenai sumur dan air tanah yang mengering di sejumlah titik. Beberapa wilayah yang dilaporkan mengalami kondisi tersebut antara lain Meruya, Pondok Labu, dan Cilandak.

“Yang mulai terasa di lapangan justru sumur dan air tanah di beberapa titik,” ujar Cicho kepada Tirto.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, menegaskan hingga saat ini wilayah Ibu Kota belum berstatus atau mengalami kekeringan. Meski demikian, Marulitua mengungkapkan pihaknya telah menerima 13 laporan permintaan dukungan air bersih dari masyarakat.

Seluruh laporan tersebut, telah ditindaklanjuti dengan penyaluran air menggunakan 29 mobil tangki dari 10 instansi.

“Laporan tersebut berasal dari 9 kelurahan, yaitu Kapuk, Sukabumi Selatan, Wijaya Kusuma, Lebak Bulus, Pondok Labu, Tebet Timur, Baru, Kelapa Gading Barat, dan Sunter Agung,” ujar Maruli ketika dihubungi Tirto, Kamis (17/9/2026).

Setiap laporan yang masuk via Jakarta Siaga 112 tersebut, terang Marulitua, akan dikonfirmasi dan diverifikasi terlebih dahulu oleh petugas di lapangan.

Setelah itu, BPBD segera berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait untuk menangani masalah distribusi air bersih.

Krisis Air Bersih di Jakarta

Yusuf pemilik warung yang merasakan kesulitan terkait kekeringan yang melanda beberapa wilayah di DKI Jakarta, di Lima Sekawan, Cilandak Barat, Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Kamis (17/09/26). tirto.id/Putri Az zahra

Di tengah upaya tersebut, sebagian warga tetap harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi pedagang kecil, pengeluaran tersebut berpotensi mengurangi anggaran pangan dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Hal itu Tirto amati terjadi di Cilandak Barat, Jakarta Selatan.

Dua galon air berdiri di sudut sebuah warung gado-gado di Cilandak Barat. Salah satu galon dilengkapi pompa berwarna merah, sedangkan galon lainnya menggunakan pompa hitam. Keduanya diletakkan di bawah meja, berdekatan dengan kursi plastik dan sejumlah barang yang tersimpan di lantai.

Pada Kamis (17/09/26), pukul 17.22 WIB, Yusuf (50 tahun) berada di warung yang digunakan untuk menjalankan usaha gado-gado. Mengenakan kemeja kuning dan topi hitam, Yusuf berdiri di antara meja dapur, panci, wadah plastik, dan lemari kayu. Di belakangnya, spanduk kuning bertuliskan “Saung Gado-Gado” menempel pada dinding.

Ruangan tersebut tidak terlalu luas. Peralatan memasak memenuhi bagian meja, sementara kabel listrik terlihat melintang di dekat atap seng. Galon air yang tersimpan di bawah meja menjadi bagian dari persediaan yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan memasak dan berjualan.

Bagi Yusuf, air bersih bukan sekadar kebutuhan untuk rumah tangga. Air juga diperlukan untuk mencuci beras, membersihkan sayuran, dan menyiapkan gado-gado yang dipesan pelanggannya. Ketika pasokan air mulai terbatas, kebutuhan tersebut harus dipenuhi melalui pembelian air galon.

Krisis Air Bersih di Jakarta

Yusuf pemilik warung yang merasakan kesulitan terkait kekeringan yang melanda beberapa wilayah di DKI Jakarta, di Lima Sekawan, Cilandak Barat, Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Kamis (17/09/26). tirto.id/Putri Az zahra

“Ya, dua minggu inilah udah mulai kekeringan. Jadi, kami masak harus irit-irit, beli-beli galon juga,” ujar Yusuf di tempat usahanya, Kamis (17/09/26).

Untuk memenuhi kebutuhan memasak, Yusuf terpaksa membeli air galon secara berulang. Dalam sehari, jumlah konsumsi air di warungnya dapat mencapai empat hingga lima galon.

“Kadang-kadang empat, lima,” kata Yusuf ketika menjelaskan jumlah galon yang dibeli dalam sehari.

Air tersebut digunakan untuk mencuci bahan makanan, terutama beras dan sayuran. Jadi, tanpa air yang cukup, proses persiapan dan memasak gado-gado dapat terganggu.

“Iya, buat cuci beras, cuci sayur,” tuturnya.

Dalam sehari, Yusuf mengeluarkan biaya sekitar Rp30 ribu untuk membeli air. Pengeluaran tersebut menjadi beban tambahan yang harus ditanggung di tengah kebutuhan untuk mempertahankan usaha. Biaya air perlu disediakan bersamaan dengan pengeluaran lain yang berkaitan dengan aktivitas berjualan.

Dia akhirnya terpaksa harus mengurangi pos pengeluaran lainnya.

“Ya, keberatan. Cuman apa boleh buat, daripada kami gak masak,” katanya.

Ketika ditanya soal bantuan distribusi air ke wilayah tempatnya berjualan, Yusuf menjawab singkat, “Belum.”

Kondisi berbeda dirasakan, Ismaulifah (27), warga Pondok Labu, menyampaikan kondisi air di wilayah tempat tinggalnya masih tergolong aman. Kebutuhan air belum menimbulkan persoalan yang mengkhawatirkan dalam aktivitas sehari-hari.

“Buat kami, masih aman sih,” ujar Ismaulifah.

Meski menilai kondisi masih relatif aman, Ismaulifah tetap berharap pemerintah mengambil langkah nyata untuk mengatasi persoalan air ini. Menurutnya, keterbatasan kapasitas dan penyebaran air dapat menjadi persoalan yang perlu ditangani melalui kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Itu saya sangat berharap memang ada langkah nyata dari pemerintah buat ngatasi masalah ini,” tuturnya.

PAM Jaya: Pasokan Masih dalam Kondisi Aman

Di tengah keluhan warga mengenai keterbatasan air, PAM Jaya menyampaikan pasokan air dari sumber Jatiluhur masih berada dalam kondisi aman. Gatra Vaganza, Corcom PAM Jaya, menjelaskan bahwa tidak terdapat gangguan dari sisi suplai, kecuali apabila terjadi kendala teknis pada jaringan.

“Insyaallah tidak ada gangguan ya, kecuali memang adanya gangguan teknik, misalnya ada pipa yang bocor,” ujar Gatra.

Gatra menjelaskan PAM Jaya juga berupaya mendistribusikan air bersih ke wilayah yang belum terhubung dengan jaringan perpipaan. Apabila jaringan telah tersedia, masyarakat dapat ditawarkan untuk menjadi pelanggan. Pengiriman mobil tangki menjadi langkah sementara bagi wilayah yang belum memiliki jaringan PAM Jaya.

“Kalau belum (tersambung dalam jaringan perpipaan PAM Jaya), maka quick win yang bisa kami lakukan pada saat itu adalah mengirimkan mobil tangki dulu,” kata Gatra.

PAM Jaya juga melakukan koordinasi dengan PJT II, BMKG, dan BPBD untuk memantau kondisi sumber air baku. Pemantauan dilakukan terhadap tingkat permukaan air dan kemungkinan langkah penanganan apabila kondisi sumber air mengalami perubahan.

“Jadi, sejauh ini sih, komunikasi itu terus terjalin dan kami juga terus monitor tuh atas level muka air, terutama dari sumber-sumber air baku kami,” ujar Gatra.

Gatra juga menegaskan bahwa pasokan PAM Jaya hingga saat ini tidak berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Namun, kemungkinan gangguan teknis tetap dapat terjadi pada jaringan atau fasilitas pengolahan air tertentu.

“Dari sisi supply itu, kami bisa pastikan saat ini tidak dalam posisi yang mengkhawatirkan. Masih sangat dalam posisi yang aman,” tuturnya.

Ketika Biaya Air Mengurangi Anggaran Pangan

Pengamat ekonomi Nuril Huda menjelaskan air merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Ketika pasokan air berkurang dan masyarakat harus membeli air dari tempat lain, sebagian pendapatan akan dialihkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pengalihan anggaran itu dapat berdampak pada konsumsi barang lainnya.

“Artinya, ada bagian dari pendapatan masyarakat yang disisihkan untuk membeli air. Sehingga, konsumsi untuk barang lainnya menjadi terbatas,” kata Nuril.

Dampak tersebut dapat terasa lebih berat bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Kelompok ini umumnya telah memiliki pengeluaran rutin untuk kebutuhan pangan, sewa rumah, dan cicilan utang. Kondisi itu membuat kemampuan untuk mengatur anggaran menjadi lebih terbatas.

“Orang berpenghasilan rendah biasanya tidak ada ruang untuk bisa menggeser pengeluaran. Mereka sudah terbebani dengan pengeluaran rutin bulanan mereka,” ujar Nuril.

Ketika kebutuhan air harus dipenuhi melalui pembelian, masyarakat berpenghasilan rendah dapat mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan primer lainnya. Penyesuaian itu dapat dilakukan dengan membeli bahan makanan yang lebih murah atau mengurangi frekuensi pembelian lauk.

“Yang tadinya bisa beli ayam seminggu tiga kali, menjadi satu kali, dan diganti dengan barang yang lebih murah,” tutur Nuril.

Kondisi sulit itulah yang dialami Yusuf. Walaupun jumlah pengeluaran setiap rumah tangga berbeda, kebutuhan air yang dibeli secara berulang dapat menambah tekanan terhadap anggaran.

Krisis Air Bersih di Jakarta

Yusuf pemilik warung yang merasakan kesulitan terkait kekeringan yang melanda beberapa wilayah di DKI Jakarta, di Lima Sekawan, Cilandak Barat, Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Kamis (17/09/26). tirto.id/Putri Az zahra

Antisipasi dan Tanggung Jawab Bersama

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, menyampaikan pemerintah terus meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi kemungkinan kemarau panjang. Langkah antisipasi dilakukan dengan memantau kondisi kekeringan dan dampaknya di lapangan.

“Jakarta terus meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi kemungkinan kemarau panjang. Kami tidak hanya menunggu sampai terjadi kekurangan air, tetapi melakukan langkah antisipasi dari sekarang,” ujar Marulitua.

BPBD menerima laporan masyarakat melalui layanan Jakarta Siaga 112. Laporan mengenai kesulitan air bersih akan diverifikasi dan dikoordinasikan dengan perangkat daerah serta pihak terkait untuk menentukan penanganan.

“Apabila ada masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih, laporan tersebut akan kami verifikasi dan segera dikoordinasikan dengan perangkat daerah dan pihak terkait untuk penanganannya,” katanya.

BPBD juga berkoordinasi dengan PAM Jaya untuk memastikan ketersediaan air, termasuk upaya pengisian reservoir. Langkah tersebut dilakukan agar cadangan air dapat dipersiapkan ketika kemarau berlangsung lebih panjang.

“Kami juga berkoordinasi dengan PAM JAYA untuk memastikan ketersediaan air, termasuk dalam upaya pengisian reservoir, sehingga cadangan air dapat dipersiapkan menghadapi kondisi kemarau yang berkepanjangan,” ujar Marulitua.

Masyarakat turut diimbau untuk menghemat penggunaan air, memanfaatkan air secara bijak, dan menyiapkan cadangan untuk kebutuhan penting. Imbauan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadapi kondisi kering dan mengurangi risiko lain, termasuk potensi kebakaran.

“Jadi, kami siap melakukan respons apabila terjadi dampak di masyarakat. Namun kesiapsiagaan ini membutuhkan kerja bersama,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait KEKERINGAN atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi