Menuju konten utama

Fakta-Fakta Sungai Kapuas Kalbar Mengering hingga Kapal Terjebak

Sungai Kapuas di Sekadau surut drastis akibat kemarau panjang. Dasar sungai muncul, tongkang terjebak, dan hamparan pasir jadi wisata.

Fakta-Fakta Sungai Kapuas Kalbar Mengering hingga Kapal Terjebak
Sungai Kapuas Mengering. x/@enchasnt
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Fenomena surutnya Sungai Kapuas akibat kemarau panjang menjadi perhatian warga di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

Debit air yang menyusut drastis membuat sejumlah bagian dasar sungai muncul ke permukaan dan membentuk hamparan pasir luas yang menyerupai pantai. Sebuah tongkang yang biasa digunakan untuk mengangkut kernel sawit pun terjebak.

Kondisi Sungai Kapuas tersebut dimanfaatkan warga sebagai tempat rekreasi. Mereka berdatangan untuk menikmati fenomena hamparan pasir akibat surutnya Sungai Kapuas.

Musim kemarau sendiri masih akan berlangsung diprediksi hingga November 2026 ini. BMKG menyebut puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia terjadi pada bulan Agustus.

Sungai Kapuas merupakan sungai terpanjang di Indonesia yang mengalir di Provinsi Kalimantan Barat, dengan panjang sekitar 1.086 kilometer menurut Kementerian PUPR dan mencapai 1.143 kilometer berdasarkan data Pemprov Kalbar.

Sungai ini memiliki kedalaman rata-rata 20–30 kaki dan dapat lebih dari 30 kaki saat musim hujan, dengan daerah aliran sungai (DAS) seluas sekitar 100.284,04 kilometer persegi.

Alirannya melintasi sejumlah wilayah, antara lain Kapuas Hulu, Sintang, Melawi, Sekadau, Sanggau, Landak, Kubu Raya, Kayong Utara, hingga Kota Pontianak, sebelum bermuara di kawasan pesisir Kalimantan Barat. Di Sintang, Sungai Kapuas bertemu dengan Sungai Melawi yang merupakan salah satu anak sungai terbesarnya.

Fakta-Fakta Sungai Kapuas Mengering

Berikut fakta-fakta penting terkait mengeringnya Sungai Kapuas yang berada di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat:

1. Kemarau panjang membuat debit Sungai Kapuas menyusut drastis

Berdasarkan unggahan akun Instagram @atr.drone, kemarau panjang menyebabkan debit Sungai Kapuas di Kalbar turun hingga membuat sebuah tongkang kandas. Dalam salah satu unggahan disebutkan tongkang tersebut telah terjebak hampir tiga bulan.

Penyusutan debit membuat kedalaman alur sungai berkurang sehingga kapal berukuran besar kesulitan melintas.

2. Dasar Sungai Kapuas muncul menjadi hamparan pasir luas

Di kawasan Kampung Sungai Raya, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, air sungai yang surut membuat bagian dasar sungai terlihat di permukaan.

Hamparan pasir yang muncul bahkan menyerupai pantai. Fenomena tersebut kemudian menarik perhatian warga dan ramai dibagikan melalui media sosial.

3. Warga memanfaatkan sungai yang surut sebagai wisata musiman

Kondisi yang sebenarnya merupakan dampak kemarau tersebut justru menjadi daya tarik bagi masyarakat. Warga datang bersama keluarga, membawa tikar dan makanan, hingga berfoto di hamparan pasir yang muncul.

Dalam unggahan @atr.drone, lokasi fenomena tersebut disebut berada di Ng. Gonis, Desa Merapi, Kabupaten Sekadau.

4. Batu Lisuk kembali terlihat saat air Sungai Kapuas surut

Salah satu fenomena yang ikut menjadi perhatian adalah munculnya Batu Lisuk, batu yang berada di tengah Sungai Kapuas dan biasanya terlihat ketika musim kemarau menyebabkan permukaan air turun. Batu Lisuk berada di Desa Merapi, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

5. Fenomena serupa terjadi di Sungai Barito

Di Kalimantan Tengah, bagian Sungai Barito di sekitar Desa Kalahien, Kabupaten Barito Selatan, juga memperlihatkan hamparan pasir yang luas hingga viral di media sosial.

Namun, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III memastikan alur utama Sungai Barito di kawasan tersebut masih memiliki aliran air dan tetap dapat dilalui kapal maupun perahu.

Kondisi Sungai Barito tersebut berkaitan dengan minimnya curah hujan dalam beberapa pekan. BMKG mencatat sejumlah wilayah di Barito Selatan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori panjang hingga sangat panjang, yakni sekitar 21-30 hari hingga 31-60 hari.

Periode tanpa hujan yang panjang menyebabkan pasokan air permukaan berkurang dan pada akhirnya turut menekan debit sungai.

Sungai Kapuas Mengering

Sungai Kapuas Mengering. x/@enchasnt

6. Kondisi kemarau 2026 dipengaruhi oleh pola iklim

Data BMKG hingga pertengahan Mei 2026 menunjukkan indeks ENSO telah melewati batas netral selama lima dasarian. BMKG memprediksi peluang terjadinya El Nino sebesar 100 persen untuk intensitas lemah, 98 persen untuk intensitas moderat, dan 62 persen untuk intensitas kuat.

Di sisi lain, Monsun Australia diprediksi tetap aktif setidaknya hingga akhir 2026 dengan intensitas yang berada di sekitar kondisi normal.

7. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi alami kemarau lebih kering

BMKG memprediksi sebanyak 482 Zona Musim (ZOM), atau sekitar 56,18 persen luas daratan Indonesia, mengalami musim kemarau dengan kategori bawah normal, yang berarti lebih kering dibandingkan kondisi biasanya. Sedangkan puncak musim kemarau 2026 diprediksi banyak terjadi pada Agustus.

8. Durasi kemarau juga diperkirakan lebih panjang

BMKG memprediksi musim kemarau berlangsung selama 10-21 dasarian di 388 ZOM yang mencakup sekitar 47,45 persen luas daratan Indonesia. Jika dibandingkan dengan kondisi normal, durasi musim kemarau diperkirakan lebih panjang di 437 ZOM atau sekitar 48,77 persen luas daratan Indonesia.

Kondisi ini dapat memperpanjang periode tekanan terhadap ketersediaan air di daerah yang mengalami minim hujan. Musim kemarau di Indonesia tahun ini diprediksi baru akan berakhir mulai November 2026.

Baca juga artikel terkait SUNGAI KAPUAS atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra