Menuju konten utama
Byte

Kodak: Raksasa yang Mati Suri, Kini Bangkit Kembali Berkat Gen Z

Kodak pernah bangkrut pada 2012 karena gagal beradaptasi dengan era digital. Kini nostalgia Gen Z terhadap kamera film ikut bantu merek ini bangkit kembali.

Kodak: Raksasa yang Mati Suri, Kini Bangkit Kembali Berkat Gen Z
Ilustrasi Kamera Kodak. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ada satu paradoks menarik soal Gen Z. Meski kerap disebut sebagai the first true digital native, generasi ini justru bertanggung jawab atas kebangkitan teknologi-teknologi yang sebelumnya sudah dianggap kedaluwarsa. Banyak dari mereka yang memilih ponsel jadul, mendengarkan musik lewat piringan hitam dan CD, dan membaca buku fisik alih-alih ebook.

Akhir tahun lalu, BBC Skotlandia pernah mewawancarai beberapa dari mereka dan jawaban yang didapat nyaris seragam. (Sebagian) Gen Z menganggap dunia digital terasa terlalu instan, terlalu sempurna, dan karena itu mereka mencari sesuatu yang terasa lebih riil. Seorang remaja bernama Declan, misalnya, mengaku lebih suka mengoleksi DVD karena memiliki barang fisik "terasa otentik" dibandingkan hanya berlangganan layanan streaming.

Demam nostalgia yang melanda Gen Z ini pun, secara tidak langsung, berimbas pada kebangkitan sebuah perusahaan yang belasan tahun silam pernah menjadi potret kegagalan mengikuti arus zaman. Pada 2012, perusahaan ini menyatakan diri bangkrut. Akan tetapi, kini, 14 tahun kemudian, mereka bangkit lagi dan kembali bisa berbicara banyak.

Perusahaan yang dimaksud adalah Kodak.

Jatuh dan Bangkit Lagi

Sedikit nostalgia dari saya. Nama Kodak begitu familiar di telinga saya, sebagai bocah yang tumbuh besar di dekade 1990-an. Kala itu, almarhum ayah saya sering kali menyebut kamera dengan sebutan Kodak seperti halnya banyak orang Indonesia menyebut sepeda motor dengan Honda atau orang Semarang menyebut angkot dengan Daihatsu. Semua terjadi karena jenama-jenama itu begitu melekat pada suatu benda sampai-sampai terbentuklah majas metonimia.

Kiprah Kodak bermula dari seorang pegawai bank di Rochester, New York, bernama George Eastman. Pada 1877, ia hendak berlibur ke Santo Domingo dan ingin mengabadikan perjalanannya. Akan tetapi, peralatan fotografi yang ada saat itu masih sangat berat dan ribet, sampai-sampai Eastman mesti membawa lab kimia portabel ke mana-mana.

Akhirnya, alih-alih liburan, Eastman malah menghabiskan waktu dan uangnya bereksperimen membuat fotografi jadi lebih sederhana. Pada 1880, dia mendirikan Eastman Dry Plate Company, dan delapan tahun kemudian, tepatnya 4 September 1888, Eastman memperkenalkan kamera Kodak pertama. Kamera itu dijual seharga 25 dolar dan sudah terisi gulungan film untuk 100 foto.

Waktu itu cara kerjanya begini: Setelah semua film terpakai, pelanggan mesti mengirim kembali seluruh kameranya ke pabrik Kodak. Di sana film dicetak, kamera diisi ulang film baru, dan semuanya dikirim balik ke pemiliknya. Kata Eastman waktu itu, "You press the button, we do the rest." Pelanggan cukup tekan tombol, lalu semua pekerjaan rumitnya akan dikerjakan oleh tim Kodak.

Berkat kehadiran Kodak, fotografi pun menjadi jauh lebih ringkas dan terdemokratisasi. Jika sebelumnya fotografi cuma bisa diakses orang berkantong tebal, sejak ada Kodak orang-orang biasa pun bisa bermain-main dengan teknologi tersebut.

Nama "Kodak" lahir karena Eastman menyukai huruf "K", yang menurutnya terdengar kuat dan tegas. Eastman ingin jenamanya punya nama yang singkat, unik, dan mudah dilafalkan dalam bahasa mana pun. Dari sana dia menciptakan model bisnis yang cerdas. Kamera-kamera Kodak memang dijual dengan harga terjangkau. Sementara, keuntungan sebenarnya ada pada jasa cetak foto dan isi ulang film kamera.

Sepanjang abad ke-20, Kodak bukan cuma menjual kamera. Lebih dari itu, yang mereka tawarkan adalah cerita dan momen. Iklan-iklannya jarang membahas spesifikasi teknis, melainkan soal momen penting dalam kehidupan, seperti anak yang baru bisa berjalan atau liburan keluarga.

Lambat laun, momen-momen itu pun dikenal sebagai "Kodak Moment". Momen yang indah namun singkat dan sayang jika tidak diabadikan. Riset dari Universitas Cambridge mencatat bahwa Kodak secara sengaja memasarkan produknya lewat perempuan, karena merekalah yang biasanya memegang kamera untuk mengabadikan momen keluarga. Sementara, laki-laki baru masuk sebagai konsumen utama di era kamera digital.

Pada 1930, Kodak menguasai 75 persen pasar peralatan fotografi dunia dan sekitar 90 persen keuntungannya. Pada era 1970-an, Kodak diperkirakan menguasai 90 persen penjualan film dan 85 persen penjualan kamera di Amerika Serikat. Kamera Instamatic yang diluncurkan 1963 dan terjual lebih dari 50 juta unit jadi salah satu pendorong utama. Pada 1996, Kodak masuk daftar empat merek paling berharga di dunia, sejajar dengan Disney, Coca-Cola, dan McDonald's.

Yang membuat kejatuhan Kodak begitu ironis adalah karena mereka sendiri yang menciptakan teknologi yang akhirnya menjatuhkan mereka. Pada 1975, seorang insinyur muda Kodak bernama Steve Sasson membuat purwarupa kamera digital pertama di dunia. Alat seukuran pemanggang roti itu mampu menangkap gambar hitam putih beresolusi sangat rendah dan menyimpannya di kaset.

Akan tetapi, ketika Sasson mempresentasikan temuannya ke manajemen, tanggapan yang didapat tidak sesuai harapan. Manajemen Kodak waktu itu menganggap kamera digital sebagai momok yang menakutkan dari masa depan, mengingat seluruh bisnis Kodak bertumpu pada penjualan barang yang butuh diproses secara kimiawi, bukan digital.

Kodak sebenarnya tidak menolak temuan itu mentah-mentah, tetapi mereka juga tidak tahu teknologi itu harus diapakan. Akhirnya, waktu itu mereka tetap mencurahkan seluruh perhatian pada bisnis film yang (masih) menguntungkan, sementara kompetitor seperti Sony, Canon, dan Fujifilm melaju kencang mengembangkan teknologi digital yang justru ditemukan Kodak sendiri.

Steven Sasson

Steven Sasson. FOTO/Istimewa

Kodak, sejak dekade 1980-an sebenarnya sudah menjadikan pencitraan digital sebagai prioritas strategis nomor satu. Mereka menggelontorkan sekitar 5 miliar dolar untuk riset dan mengajukan hampir seribu paten pencitraan digital. Mereka juga akhirnya tetap merilis kamera digital pada 1995, tetapi produk ini dinomorduakan agar tidak mengganggu penjualan film.

Menurut Dr. Kamal Munir dari Cambridge Judge Business School, Kodak tidak tahu dan tidak mau memasarkan produknya ke laki-laki. Menurut Dr. Munir, fotografi digital mengubah makna kamera itu sendiri, dari alat sentimental yang biasanya dipegang perempuan untuk mengabadikan momen keluarga menjadi gawai elektronik yang lebih menarik bagi laki-laki. Jika perempuan memilih untuk mencetak foto, tidak demikian halnya dengan laki-laki. Inilah mengapa Kodak tidak pernah menyeriusi ceruk ini.

Akibatnya bisa ditebak. Dari masa keemasan pada 1999 hingga kebangkrutannya di 2012, nilai pasar Kodak anjlok 30 miliar dolar. Perusahaan yang pada 1996 masih bernilai lebih dari 28 miliar dolar dan mempekerjakan lebih dari 140.000 orang di seluruh dunia, resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan pada 2012.

Namun, Kodak memang tidak pernah benar-benar mati. Mereka keluar dari kebangkrutan setahun kemudian sebagai perusahaan yang jauh lebih kecil dan mengalihkan fokus utamanya ke percetakan komersial. Hingga akhirnya, memasuki pertengahan dekade 2020-an, kebangkitan yang tak disangka-sangka pun datang.

Lonjakan Penjualan

Di sini kita kembali ke demam nostalgia yang melanda Gen Z, di mana kamera film menjadi salah satu teknologi retro yang ikut bangkit. Riset firma Cognitive Market Research memperkirakan nilai pasar kamera film dunia bisa mencapai lebih dari 303 juta poundsterling pada 2030, naik dari 223 juta poundsterling pada 2023. Matt Growcoot, editor senior di majalah fotografi PetaPixel, bahkan memperkirakan bahwa sejak 2020 minat terhadap kamera film sudah naik hingga tiga kali lipat.

Kodak merasakan langsung lonjakan ini. Pada 2022, Wakil Presiden Kodak, Nagraj Bokinkere, mengatakan perusahaannya telah merekrut lebih dari 300 orang dalam setahun untuk menjalankan lini produksi film di Rochester, dan masih mencari sekitar 75 orang lagi, setelah menaikkan produksi dari satu shift kerja menjadi 24 jam nonstop. Lalu, pada 2024, Kodak pun melakukan renovasi pabriknya besar-besaran.

Film bukan satu-satunya protagonis dalam kebangkitan Kodak. Lini kamera murah Kodak PixPro, yang sebenarnya dibuat oleh pemegang lisensi bernama JK Imaging, diam-diam menjadi juara penjualan di pasar Jepang, yang merupakan pasar kamera per kapita terbesar di dunia. Menurut data BCN+R, kamera Kodak PixPro FZ55 menjadi kamera kompak terlaris di Jepang sepanjang 2025, mengungguli model-model jauh lebih mahal seperti Fujifilm X100VI dan Sony RX1R III.

Pada semester pertama 2026, dua model PixPro, C1 dan FZ55, menjadi kamera kompak terlaris nomor satu dan dua di jaringan retail Jepang menurut BCN+R. Total, ada empat model PixPro yang masuk dalam sepuluh besar daftar tersebut. Dalam ajang BCN Awards tahunan yang dirilis Januari 2026, Kodak bahkan tercatat sebagai peritel kamera lensa terpadu nomor satu di Jepang dengan pangsa pasar 24 persen, mengalahkan Canon yang justru tidak masuk tiga besar untuk pertama kalinya sejak ajang ini digelar tahun 2005.

Di segmen ini, Kodak tidak berusaha menyaingi kamera premium dari sisi spesifikasi. Resolusi PixPro FZ55, misalnya, hanya 16 megapiksel dengan zoom optik 5x dan pengoperasian serba otomatis. Sama sekali tidak canggih. Tapi, justru itulah yang dicari sebagian pembeli di 2025. Sesuatu yang sederhana, murah, dan mudah dipakai.

Sepanjang 2025, Kodak juga merilis serangkaian produk nostalgia lain yang viral di media sosial, termasuk kamera gantungan kunci mini bernama Kodak Charmera yang laris habis dalam hitungan menit begitu diluncurkan. Selain itu, ada pula kamera instan bernama Kodak MemoShot Era MS100 yang desainnya terinspirasi dari kaleng film 35mm khas Kodak.

Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, Eastman Kodak pun kembali mendistribusikan film warnanya sendiri lewat subjenama baru bernama Kodacolor. Sebelumnya, hak distribusi ini sepenuhnya dipegang entitas terpisah bernama Kodak Alaris pascakebangkrutan.

Ilustrasi Kamera Kodak

Ilustrasi Kamera Kodak. foto/istockphoto

Kebangkitan ini juga merambah dunia perfilman. Film peraih Oscar 2026, termasuk One Battle After Another dan Sinners, direkam menggunakan stok film Kodak. Sutradara kenamaan Christopher Nolan bahkan disebut pernah langsung menelepon CEO Kodak Jim Continenza pada hari pertamanya menjabat di 2019 untuk meminta pembatalan penutupan pabrik asetat, yang merupakan salah satu bahan penting pembuatan film seluloid. Continenza mengatakan momen itu membuatnya menyadari betapa pentingnya warisan film bagi masa depan Kodak.

Kebangkitan citra Kodak juga terjadi lewat jalan yang sama sekali tidak berhubungan dengan kamera. Di Korea Selatan, logo Kodak yang legendaris kini menempel di baju, tas, sampai sandal lewat toko ritel bernama Kodak Apparel, yang sudah punya 123 gerai fisik di negara itu. Menurut laporan New York Times, bisnis lisensi merek ini menyumbang 20 juta dolar pendapatan Kodak tahun lalu, naik 35 persen dibanding lima tahun sebelumnya.

Fenomena ini disebut sebagai bagian dari tren "newtro" di Korea Selatan. Yakni, perpaduan gaya kontemporer dengan nostalgia, yang juga menyentuh merek-merek Amerika lain seperti National Geographic dan Discovery. Wakil Presiden bidang lisensi merek global Kodak, Clara Fort, menjelaskan, karena orang-orang kini banyak memotret diri sendiri untuk media sosial, Kodak memutuskan untuk memperluas mereknya ke gaya hidup.

Belum Sepenuhnya Sehat

Semua variabel ini akhirnya terlihat jelas di laporan keuangan Kodak. Pada laporan tahunan 2025, Kodak mencatat pendapatan 1,069 miliar dolar, naik 2 persen dari tahun sebelumnya, di mana divisi bahan kimia dan material lanjutan (yang menaungi bisnis film) tumbuh 17 persen menjadi 316 juta dolar. Perusahaan ini juga telah memangkas beban bunga tahunan sekitar 40 juta dolar.

Di 2026, momentumnya berlanjut. Pada Q2 2026, Kodak kembali membukukan laba bersih 17 juta dolar dengan pendapatan 311 juta dolar — naik 18 persen dari tahun sebelumnya, dan divisi bahan kimia serta film tumbuh 40 persen, lebih cepat dari bagian bisnis lain.

Kini, Kodak memiliki 290 juta dolar di kas perusahaan, dengan kas bersih sebesar 180 juta dolar. Ini jauh berbeda dari kondisi setahun sebelumnya ketika Kodak sempat mengeluarkan peringatan "keraguan besar" atas kelangsungan usahanya karena tidak ada prospek pembiayaan yang jelas untuk membayar utang sebesar 500 juta dolar yang akan jatuh tempo.

Perubahan besar yang mendorong pembalikan arah ini adalah program reversi dana pensiun Kodak di Amerika Serikat. Setelah menyelesaikan sekitar 2,1 miliar dolar kewajiban pensiun dan memindahkan sisa dananya ke anuitas, Kodak mendapatkan kembali surplus dana pensiun senilai lebih dari satu miliar dolar, yang sebagian besar digunakan untuk melunasi utang. Pada semester pertama 2026 saja, Kodak melunasi 100 juta dolar pinjaman berjangka untuk menekan utang jangka panjangnya dari 208 juta dolar menjadi hanya 108 juta dolar.

Meski begitu, bukan berarti Kodak sudah sepenuhnya sehat. Divisi percetakan, yang masih menjadi mayoritas pendapatan Kodak, tumbuh lebih lambat dari divisi lain serta menghadapi kenaikan harga aluminium dan perak. Kapasitas produksi film juga masih jadi kendala nyata, karena keahlian mengolah dan finishing film bukan hal yang mudah dikuasai dalam waktu singkat.

Jumlah karyawan Kodak pun masih jauh dari masa jayanya. Jika dulu mereka punya lebih dari 140 ribu orang, kini karyawannya "hanya" sekitar 3.500 orang. Sebagian pengamat pemasaran juga skeptis dengan gencarnya lisensi merek Kodak ke berbagai produk yang jauh dari fotografi, seperti panel surya dan senter. Pakar pemasaran Timothy Calkins dari Kellogg School of Management, misalnya, menyebut langkah ini menyiratkan keputusasaan.

Tapi, terlepas dari catatan-catatan itu, angin memang tengah berpihak pada Kodak. Teknologi analog tidak sekadar bertahan hidup. Ia tumbuh kembali dengan cara yang tidak diprediksi siapa pun satu dekade lalu. Perusahaan seperti Photo Systems di Michigan, salah satu produsen bahan kimia pencetak film terakhir di dunia, mencatat volume penjualan naik sekitar 50 persen sejak 2021. Bagi generasi muda, ketidaksempurnaan teknologi analog justru terasa seperti kesempurnaan.

Kisah Kodak akhirnya menjadi sesuatu yang unik. Mereka pernah menjadi studi kasus klasik tentang bagaimana raksasa bisa runtuh karena terlalu nyaman dengan masa lalunya. Namun, kini mereka juga jadi contoh langka tentang bagaimana warisan, nama besar, logo, dan nostalgia yang ditinggalkannya bisa jadi modal untuk bangkit kembali ketika zaman berbalik arah.

Apakah Kodak bisa jadi sebesar dulu lagi? Entahlah. Akan tetapi, untuk saat ini, "Kodak Moment" jadi punya dua makna. Selain makna aslinya, frasa ini juga bisa digunakan untuk menggambarkan momentum kebangkitan sang raksasa.

Baca juga artikel terkait KAMERA atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi