Menuju konten utama

El Nino Meramu Kemarau, Kekeringan, dan Polusi Udara Jadi Satu

BMKG memprediksi El Nino 2026 mencapai level sangat kuat yang menyebabkan kemarau berkepanjangan. Ini mitigasi yang perlu dilakukan masyarakat.

El Nino Meramu Kemarau, Kekeringan, dan Polusi Udara Jadi Satu
ilustrasi kemarau. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi bahwa fenomena El Nino 2026 telah aktif dan mencapai kategori "Sangat Kuat" pada Kamis, 30 Juli 2026.

Menurut BMKG, kondisi ini akan memperpanjang durasi musim kemarau di Indonesia hingga meningkatkan risiko kekeringan yang diperkirakan mencapai titik puncak pada Agustus hingga September 2026.

Secara umum, El Nino adalah fenomena iklim global pada suhu permukaan laut di Samudera Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru yang lebih panas daripada rata-rata normalnya.

Saat terjadi El Nino, pertumbuhan awan yang ada di wilayah Indonesia bergeser ke wilayah Samudra Pasifik bagian tengah. Akibannya, curah hujan di Indonesia menjadi berkurang. Berkurangnya curah hujan berpotensi menyebabkan kekeringan hingga tercemarnya polusi udara.

Mengenal El Nino dan Durasinya

Secara umum, terdapat tiga fase iklim yang berada di Samudera Pasifik, yaitu fase netral, fase El Nino, dan Fase La Nina. Fase normal terjadi ketika angin berhembus ke arah barat melintasi Samudra Pasifik yang juga menghasilkan arus laut mengarah ke barat.

Proses ini disebut sebagai Sirkulasi Walker. Fase netral dapat ditandai dengan suhu muka laut di barat Pasifik yang lebih hangat dari bagian timur Pasifik. Jika angin pasat mendorong massa air laut ke arah barat, maka di Pasifik timur suhu muka laut menjadi lebih dingin. Siklus ini disebut dengan fase La Nina.

Fenomena La Nina berdampak ke Indonesia dengan meningkatnya risiko banjir, badai tropis, dan suhu udara yang lebih rendah di siang hari, dan lebih banyak badai tropis. Apabila angin pasat yang biasa berhembus dari timur ke barat melemah atau bahkan berbalik arah, maka akan terjadi El Nino.

Secara terminologi, El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang artinya anak laki-laki. Istilah ini pertama kali digunakan sebagai tanda kondisi arus laut hangat yang terjadi setiap tahun. Arus laut hangat ini mengalir di sepanjang pesisir Peru dan Ekuador sebelum perayaan natal. Nelayan Peru menamai fenomena ini dengan sebutan El Nino de Navidad yang disamakan dengan nama Kristus yang baru lahir.

Menghangatnya perairan di wilayah Amerika Selatan ini berkaitan dengan anomali pemanasan lautan yang lebih luas di Samudera Pasifik bagian timur, bahkan dapat mencapai garis batas penanggalan internasional di Pasifik tengah.

Suhu laut hangat yang bergeser ke timur menyebabkan penguapan, sehingga awan hujan turut bergeser menjauh dari Indonesia. Akibatnya, Indonesia mengalami peningkatan risiko berkurangnya curah hujan, kemarau panjang, hingga kekeringan.

"Fenomena El Nino merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Namun perlu dipahami bahwa El Nino dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda. Musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan El Niño terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau," ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah bersama Kementerian Dalam Negeri, Senin (29/6/2026)..

Teuku Faisal menambahkan El Nino diperkirakan berlangsung selama 9 hingga 12 bulan. Durasi ini dapat berbeda-beda tiap wilayah sesuai dengan perubahan iklim yang mempengaruhinya. BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode Musim Kemarau hingga pertengahan bulan Oktober. Kondisi El-Nino tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut.

"Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan," jelasnya.

El Nino Bikin Kemarau Panjang, Kekeringan, dan Polusi Udara

BMKG juga memprediksi El Nino 2026 akan mencapai level sangat kuat. Sebab itu, BMKG mendorong adanya keiapsiagaan lintas sektor untuk menangani dampak El Nino dan kemarau secara serius. Sementara itu, puncak kemarau di Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026.

Data analisis curah hujan Dasarian II Juli 2026 BMKG menyebutkan bahwa curah hujan di Indonesia bervariasi. Kriteria hujan jauh di atas normal berada di angka 3.8%, atas normal 2.26%, normal 3.96%, dan hujan di bawah normal 89.97%.

Angka ini menunjukkan El Nino Pada bulan Juni-Juli-Agustus (JJA) menyebabkan penurunan curah hujan di wilayah Indonesia. Suhu laut hangat yang bergeser ke timur menyebabkan penguapan, awan, dan hujan pun ikut bergeser menjauh dari Indonesia. Akibatnya, Indonesia mengalami peningkatan risiko berkurangnya curah hujan, kemarau panjang, hingga kekeringan.

Melansir laman BMKG, El Nino dapat memengaruhi curah hujan di wilayah Indonesia, terutama pada periode musim Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON) hingga lebih dari 40%.

Pada bulan Desember-Januari-Februari (DJF), El Nino memengaruhi penurunan curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur. Namun, di beberapa wilayah Indonesia mengalami peningkatan curah hujan di periode Desember-Januari-Februari (DJF) dan Maret-April-Mei (MAM) meskipun sedang El Nino.

Catatan BMKG merinci 198 ZOM (31,60% luas daratan Indonesia) diprediksi masuk musim kemarau pada bulan Juni 2026. Lalu 66 ZOM (7,28% luas daratan Indonesia) pada bulan Juli 2026. Sebanyak 482 ZOM yang mencakup 56,18% luas daratan Indonesia diprediksi berada pada kategori Bawah Normal atau lebih kering dari biasanya.

Puncak musim kemarau sebagian besar diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026, dengan 369 ZOM yang mencakup 48,84% luas daratan Indonesia. Tak hanya itu, durasi musim kemarau di Indonesia juga diprediksi lebih panjang dari normalnya pada 437 ZOM yang mencakup 48,77% luas daratan Indonesia.

BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya. Dengan menurunnya curah hujan di Indonesia, berbagai bencana akan mengintai Indonesia.

Sebab, sejumlah daerah masih mengandalkan air hujan untuk menyokong bidang pertanian. Jika terjadi penurunan curah hujan, maka berpotensi menimbulkan kekeringan. Hal ini berdampak pada langsung pada gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga peningkatan potensi puso akibat defisit air.

Bahkan BMKG juga telah mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis Dasarian III Juli 2026. Wilayah yang berada pada kategori awas peringatan dini kekeringan mencakup Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Perlu diperhatikan bahwa kekeringan berkepanjangan akan berdampak lebih jauh lagi pada pertanian, perekonomian dan sosial. Dalam laporan Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di Indonesia (Pemutakhiran Juni 2026), per 19 Juni 2026, indeks ENSO hingga pertengahan Mei 2026 telah melewati batasan Netral selama 5 dasarian.

Berdasarkan laporan pemantauan BMKG Dasarian II Juli 2026, Nilai anomali suhu muka laut (Sea Surface Temperature / SST)di region Nino3.4 pada periode Mei-Juni-Juli 2026sebesar +1.55. Ini menunjukkan adanya El Nino event dengan intensitas kuat. Berdasarkan jumlah zona musim (ZOM), sebanyak 72.8% atau setara 509 ZOM wilayah Indonesia telah masuk musim kemarau.

BMKG memprakirakan wilayah yang berpotensi mengalami dampak paling signifikan meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan. Pada periode Juli hingga Oktober 2026, curah hujan di wilayah-wilayah tersebut diperkirakan berada di bawah normal dibandingkan rata-rata klimatologis.

El Nino juga memengaruhi penumpukan polusi udara di berbagai wilayah yang dapat menjadi masalah yang mengkhawatirkan. Konsentrasi partikel dan polutan di udara tidak dapat diserap oleh kelembapan atmosfer. Angin dapat meniup zat berbahaya seperti sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx) dalam jarak jauh dan melintasi perbatasan.

Sebab, berkurangnya curah hujan berarti berkurangnya proses alami yang membantu membersihkan atmosfer dari debu dan berbagai polutan lainnya. Akibatnya, polusi udara akan mengelilingi aktivitas manusia.

"Risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, kualitas udara, hingga kesehatan masyarakat perlu diantisipasi sejak dini melalui koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan," kata Teuku Faisal.

Upaya Mitigasi El-Nino dan Kemarau Panjang

Dalam rapat koordinasi bersama Kementerian Dalam Negeri, BMKG mendorong pemerintah daerah yang memiliki kawasan perkotaan agar melakukan penguatan pengendalian emisi kendaraan, mengembangkan transportasi publik, memperluas kawasan rendah emisi, serta membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Di sektor kesehatan, BMKG juga mengimbau pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) maupun penyakit akibat suhu panas ekstrem, seperti heatstroke.

Pada rapat tersebut, BMKG menekankan pentingnya mengintegrasikan informasi iklim dalam perencanaan ekonomi dan ketahanan pangan. Sebab, kemarau panjang berpotensi menurunkan produktivitas pertanian yang pada akhirnya dapat memengaruhi stabilitas harga pangan dan inflasi daerah.

"Kita harus mempertimbangkan aspek climate risk dalam perencanaan ekonomi dan investasi. Dengan mempertimbangkan risiko iklim secara lebih baik, produktivitas sektor pertanian dan stabilitas ekonomi dapat lebih terjaga," ungkap Teuku Faisal, dikutip dari laman Menpan.go.id, Senin (29/6/2026).

Dengan kondisi iklim yang kering, kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu ditingkatkan. Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketahanan pangan Indonesia tetap aman di tengan ancaman El-Nino. Pemerintah telah memitigasi El-Nino dengan menyiapkan penguatan stok cadangan pangan pemerintah (CPP) jauh-jauh hari.

Laporan Antaranews menyebutkan stok CPP dalam bentuk beras yang ada di Perum Bulog berada di angka 5,24 juta ton per 20 Juli. Lalu cadangan pangan pemerintah daerah (CPPD) tingkat provinsi berada di angka 7,35 ribu ton per akhir Juni 2026. Di tingkat kabupaten, CPPD mencapai 13,15 ribu ton yang tersebar di 323 daerah.

Berikutnya, stok CPP dalam bentuk jagung pakan berjumlah 176 ribu ton per 20 Juli dan stok CPP dalam bentuk minyak goreng 1 ribu kiloliter yang dikelola Perum Bulog dan ID Food.

BMKG telah menyusun mitigasi untuk mengantisipasi dampak adanya fenomena El-Nino dan puncak kemarau yang dumujat dalam laman resminya. Di sektor pangan, otoritas terkait dan masyarakat diimbau menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air, lebih tahan kekeringan, serta memiliki siklus tanam yang lebih pendek.

BMKG juga menyarankan revitalisasi waduk untuk memastikan ketersediaan air dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Bagi pelaku sektor energi yang mengoperasikan PLTA, perlu memastikan kapasitas air bendungan terpenuhi selama musim kemarau.

Berikutnya, pemerintah daerah diimbau untuk menyiapkan mekanisme respons cepat dalam mengantisipasi buruknya kualitas udara yang berpotensi memicu ISPA. Musim kemarau yang diperparah dengan El-Nino ini juga memicu terjadinya potensi kekeringan dan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Guna mengantisipasi potensi tersebut, BMKG bersama pemerintah daerah dan otoritas terkait telah menyusun Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Dalam pelaksanannya, OMC dilaksanakan dengan menyesuaikan dinamika atmosfer yang sedang aktif dalam skala jam hingga 10 hari. Dengan begitu, masyarakat dan pemangku kebijakan perlu mengindahkan informasi pemutakhiran prediksi iklim untuk menyusun langkah-langkah strategis.

Baca juga artikel terkait EL NINO atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora