Menuju konten utama

Kenapa Polusi Udara Jakarta Semakin Parah saat Musim Kemarau?

Kualitas udara sangat bergantung pada cuaca dan perubahan iklim yang terjadi. Simak alasan polusi udara semakin parah saat kemarau.

Kenapa Polusi Udara Jakarta Semakin Parah saat Musim Kemarau?
ilustrasi polusi udara di Jakarta. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Isu polusi udara di Jakarta termasuk menjadi salah satu perhatian masyarakat, apalagi selama musim kemarau. Polusi udara memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap cuaca dan perubahan iklim.

Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada hari Kamis (23/7/2026) pukul 13.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 116. Artinya adalah masuk dalam kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif dengan polusi udara Particulate Matter 2.5 (PM2.5) dan nilai konsentrasi 42mikrogram per meter kubik.

PM2.5 termasuk partikel yang terdiri dari sulfat, nitrat, karbon organik, dan karbon elemental . Ini berbahaya bagi kesehatan. PM2.5 berukuran sangat kecil, melayang di udara, dengan diameter 2,5 mikrometer atau kurang. Jika disederhanakan, diameter 2,5 mikrometer kurang lebih 1/30 dari tebal helai rambut manusia.

Mengacu standar skala Indeks Kualitas Udara Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat yang dimuat di laman aqicn.org, angka tersebut tergolong tidak sehat untuk kelompok sensitif.

Sehari sebelumnya, Rabu, (22/7/2026) pukul 14.00 WIB, kualitas udara Jakarta mencapai angka 151 dan masuk dalam kategori tidak sehat. Setiap orang mungkin mulai mengalami dampak kesehatan. Kelompok sensitif sangat mungkin mengalami dampak kesehatan yang lebih serius.

Jika kualitas udara berada di angka 150-200, masyarakat diimbau menghindari aktivitas atau membatasi aktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.

KLH catat penyebab polusi udara di Jabodetabek

Ilustrasi polusi udara. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nz

Secara umum, skala Tingkat Polusi Udara terbagi menjadi 6 kategori. Di antaranya bagus, sedang, tidak sehat untuk kelompok sensitif, tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya. Tiap kategori memiliki implikasi yang beragam.

Udara dengan kategori bagus berada di angka 0-50. Ini menunjukkan bahwa kualitas udara bagus dan polusi udara tidak menimbulkan risiko. Kategori sedang berada di angka 51-100. Kualitas udara dapat diterima sejumlah kecil orang yang sangat sensitif terhadap polusi udara mengalami permasalahan.

Berikutnya adalah skala 101-150. Kali ini tergolong tidak sehat untuk kelompok tertentu. Penderita penyakit pernapasan, seperti asma, harus membatasi aktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.

Di lain sisi, skala 151-200 tergolong tidak sehat bagi semua orang. Selanjutnya, kategori sangat tidak sehat berada di angka 101-300. Terakhir kategori berbahaya berada di angka 300+, mengharuskan setiap orang untuk menghindari aktivitas di luar ruangan.

Kemarau, Polutan Tidak “Tercuci” oleh Hujan

Penelitian berjudul "Effect of Climate Change on Air Quality" yang ditulis oleh Daniel J. Jacob dan Darrell A. Winner dalam jurnal Atmospheric Environment Vol 43 tahun 2009, menjelaskan perubahan iklim memengaruhi konsentrasi PM di udara.

Menurut penelitian tersebut, kualitas udara sangat bergantung pada cuaca. PM2.5 yang berbentuk sulfat, nitrat, dan karbon organik diproduksi di atmosfer melalui oksidasi sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx), dan NMVOC.

Zat dapat berasal dari sumber alami seperti gunung berapi. Namun sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, emisi industri, dan knalpot kendaraan. Ini menjadi kontributor pemicu pencemaran kualitas udara.

Angin dapat meniup SO2 dan NOX dalam jarak jauh dan melintasi perbatasan. Penelitian memaparkan bahwa polutan atmosfer dapat dihilangkan dari udara dan diendapkan ke permukaan bumi dalam bentuk presipitasi.

Proses ini merupakan komponen kunci dari pengendapan polutan atmosfer, yang meliputi pengendapan basah dan kering. Mengutip laporan United States Environmental Protection Agency, pengendapan basah terjadi ketika polutan, terutama zat yang larut, diserap oleh kelembapan atmosfer dan dibawa ke tanah bersama presipitasi berbentuk seperti hujan, salju, hujan es, atau kabut.

Setelah terserap ke dalam tetesan air, polutan secara efektif dihilangkan dari atmosfer dan diendapkan ke dalam ekosistem. Dalam jangka panjang, pengendapan basah akan menyebabkan hujan asam, di mana asam sulfat dan nitrat yang terbentuk dari sulfur dioksida dan nitrogen oksida jatuh sebagai presipitasi.

Polusi udara di Jakarta

Suasana polusi udara yang menyelimuti bangunan Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta Utara, Jakarta, Sabtu (15/6/2024). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wpa.

Hujan asam dapat secara signifikan memengaruhi kualitas tanah dan air. Meski begitu, pengendapan basah dapat menghilangkan polutan dan membantu membersihkan atmosfer dari polutan membahayakan kesehatan manusia.

Pakar Kualitas Udara, Dwi Atmoko menjelaskan bahwa tidak ada hujan memiliki pengaruh signifikan terhadap konsentrasi partikel dan polutan di udara. Berkurangnya curah hujan berarti berkurangnya proses alami yang membantu membersihkan atmosfer dari debu dan berbagai polutan lainnya.

"Kualitas udara yang memburuk disebabkan oleh polusi udara yang meningkat. dalam banyak kasus, kondisi tersebut terjadi karena tidak adannya hujan yang berperan sebagai pembersih atmosfer, " kata Dwi Atmoko, mengutip unggahan Instgram @infobmkg.

Fenomena Temperature Inversion Membuat Polusi Terjebak

Salah satu fenomena penting yang berperan dalam menentukan kualitas udara adalah temperature inversion atau inversi suhu. Saat kondisi normal, suhu udara menurun seiring ketinggian. Alhasil, udara panas di permukaan naik dan membawa polutan untuk tersebar.

Mengacu dokumen berjudul "What Is An Inversion" yang diterbitkan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), temperature inversion terjadi ketika suhu udara di lapisan di atmosfer meningkat seiring bertambahnya ketinggian.

Inversi terdapat di bagian bawah yang tertutup oleh lapisan udara yang relatif hangat di atas. Massa udara yang naik menjadi lebih dingin daripada lingkungan sekitarnya, sehingga menghambat kemampuan untuk terus naik.

Akibatnya, udara di dekat permukaan menjadi stabil dan tidak mampu mengangkat polutan ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Itu artinya, polutan terjebak di sekitar manusia. Fenomena temperature inversion terjadi karena pendinginan permukaan bumi pada malam hari, langit cerah, serta kecepatan angin yang rendah.

Hal ini sering terjadi pada sore menjelang malam hari (sebelum matahari terbenam) dan bertahan hingga keesokan harinya beberapa jam setelah matahari terbit.

Polusi udara di ibu kota Jakarta

Suasana gedung-gedung bertingkat yang tertutup oleh kabut polusi di Jakarta, Kamis (27/7/2023). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aww.

Dampak Polusi Udara dan Opsi Solusi

World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia mengakui bahwa polusi udara menjadi masalah kesehatan yang memengaruhi banyak orang di berbagai belahan dunia.

Berdasarkan data WHO tahun 2019, sekitar 68% kematian prematur terkait polusi udara yang menyerang penyakit jantung iskemik dan stroke. Lalu 14% disebabkan oleh penyakit paru obstruktif kronis, 14% disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bawah akut, dan 4% kematian disebabkan oleh kanker paru-paru.

Menurut WHO, negara berkembang memiliki beban polusi udara yang tidak proporsional, termasuk di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Dalam kasus ini, polusi udara menjadi faktor risiko tertinggi kedua untuk penyakit tidak menular.

Berdasarkan penelitian berjudul Impacts of Air Pollution on Health and Cost of Illness in Jakarta, Indonesia (2023), Ginanjar Syuhada dkk menemukan bukti bahwa polusi udara Jakarta menyebabkan lebih dari 10.000 orang meninggal dunia setiap tahun. Jumlah ini meningkat dari beberapa perkiraan sebelumnya.

Polusi udara mengakibatkan 5.000 orang mengidap penyakit kardiovaskular menjalani rawat inap di rumah sakit. Tak hanya itu, lebih 7.000 anak terimbas masalah kesehatan seperti stunting dan 9.700 kematian prematur. Semua ini menimbulkan biaya USD2,9 miliar, setara 2,2% produk domestik regional bruto DKI Jakarta 2019.

KUALITAS UDARA JAKARTA BURUK

Kabut asap menyelimuti gedung-gedung bertingkat di Jakarta, Kamis (25/8/2022). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/hp..

Guna mengatasi persoalan tersebut, dibutuhkan tindakan bersama dari para pembuat kebijakan di tingkat lokal, nasional, dan regional yang bekerja di sektor-sektor industri penting seperti energi, transportasi, pengelolaan limbah, perencanaan kota, dan pertanian.

Kebijakan yang dapat mengurai polusi udara semisal adalah di bidang industri. Caranya dengan membuat teknologi bersih untuk mengurangi emisi cerobong asap. Selain itu, dibutuhkan pengelolaan industri limbah perkotaan dan pertanian sebagai alternatif pembakaran, seperti pembuatan biogas dan sejenisnya.

Di bidang energi, intervensi bisa dilakukan dengan menyediakan akses ke solusi energi rumah tangga bersih yang terjangkau untuk memenuhi kebutuhan energi.

Bidang transportasi juga turut memberikan peran. Beralih ke mode energi terbarukan yang bersih, penggunaan transportasi umum, dan budaya berjalan kaki atau bersepeda.

Sementara bidang perencanaan kota bisa berperan dengan menciptakan ruang kota dan bangunan yang fungsional serta memperbanyak kota yang lebih hijau.

Kualitas udara di Jakarta tidak sehat

Kabut polusi udara menyelimuti kawasan di Jakarta, Senin (6/7/2026). Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 16.00 hingga 17.00 Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI) di Jakarta berada pada angka 155 yang menempatkannya sebagai kota besar dengan kualitas udara terburuk pertama di dunia di atas Kinshasa, Kongo di angka 132. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/nz

Pembangkit listrik juga dapat meningkatkan penggunaan bahan bakar rendah emisi dan sumber daya energi terbarukan tanpa pembakaran, seperti tenaga surya, angin, atau tenaga air.

Lainnya semisal pengelolaan limbah kota. Penerapan strategi untuk pengurangan limbah, pemisahan limbah, daur ulang, dan penggunaan kembali atau pengolahan ulang limbah.

Untuk layanan kesehatan, otoritas terkait bisa menempatkan layanan kesehatan pada jalur pembangunan rendah karbon untuk risiko kesehatan lingkungan bagi pasien, petugas kesehatan, dan masyarakat. Guna mendukung kebijakan ramah iklim, sektor kesehatan dapat menunjukkan kepemimpinan publik sekaligus meningkatkan layanan kesehatan.

Baca juga artikel terkait POLUSI UDARA atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - TirtoEco
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo