tirto.id - Tsunami terjadi karena aktivitas lempeng bumi atau gunung berapi sehingga menimbulkan gelombang besar yang menjangkau daratan. Namun, ada jenis tsunami lain, yakni meteotsunami, yang dipengaruhi oleh faktor cuaca.
Tsunami dikenal lekat dengan wilayah laut atau pesisir. Namun, ada meteotsunami tak hanya terjadi di wilayah pesisir, tapi juga berpotensi melanda wilayah perairan lain, seperti danau besar.
Melansir laman Ocean Service, meteotsunami adalah gelombang besar yang disebabkan oleh badai. Peristiwa ini dapat terjadi di cekungan, seperti danau, tapi juga umumnya terjadi di pantai terbuka.
Meteotsunami didorong oleh gangguan tekanan udara yang sering dikaitkan dengan peristiwa cuaca yang bergerak cepat, misalnya badai petir hebat, angin kencang, dan front badai lainnya.
Apa Itu Meteotsunami dan Kenapa Sangat Berbahaya?
Berdasarkan laporan Illinois-Indiana Sea Grant (2020), meteotsunami didefinisikan sebagai gelombang mirip tsunami yang dihasilkan dari dampak cuaca buruk terhadap kecepatan dan arah pergerakan gelombang di atas perairan.
Meteotsunami bisa mengakibatkan kenaikan permukaan air hingga 1-2 kaki, menyebabkan arus rip yang berbahaya, dan berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa jam. Kendati tidak sebesar tsunami, meteotsunami biasanya lebih luas dan lebih sering terjadi.
Frekuensi meteotsunami berkaitan dengan frekuensi badai dan karakteristik perairannya. Tak hanya di laut, fenomena ini juga terjadi di danau. Peristiwa ini juga paling sering terjadi dari akhir musim semi hingga awal musim panas di negara 4 musim.

Meteotsunami kini menjadi perhatian karena fenomena ini dapat menimbulkan bahaya bagi pengunjung pantai maupun danau. Peristiwa tersebut dipicu oleh gangguan atmosfer, seperti badai konvektif, yang dapat menyebabkan perubahan tekanan udara dan mendorong fluktuasi permukaan air. Bahayanya semakin besar karena meteotsunami dapat terjadi tanpa peringatan khusus, bahkan dampaknya masih dapat dirasakan beberapa jam setelah badai berlalu.
Risiko tersebut salah satunya terlihat dari penelitian Linares dkk. berjudul “Unexpected Rip Currents Induced by a Meteotsunami” (2019). Penelitian itu mengungkap bahwa fluktuasi permukaan air akibat meteotsunami dapat berinteraksi dengan gelombang angin, batimetri lokal, serta struktur pantai. Interaksi tersebut kemudian dapat memicu dan memengaruhi terbentuknya berbagai jenis arus rip.
Meteotsunami bukan hanya menyebabkan perubahan muka air, tetapi juga dapat menjadi mekanisme terbentuknya arus rip yang sebelumnya tidak terduga. Karena itu, fenomena ini menambah jenis bahaya yang perlu diwaspadai di kawasan pantai, terutama ketika terjadi badai yang berpotensi memicu meteotsunami.
Proses Meteotsunami Terjadi dan Karakteristiknya
Terjadinya meteotsunami bermula dari gangguan atmosfer yang berlangsung cepat. Sebagai misal, badai konvektif, garis badai, atau terjadinya perubahan tekanan udara secara tiba-tiba.
Gangguan tersebut dapat mendorong permukaan air sehingga terjadi gelombang panjang. Gelombang yang terbentuk pada awalnya belum berbahaya. Namun, ketika sistem cuaca bergerak dengan kecepatan yang mendekati kecepatan gelombang di perairan, terjadi kondisi yang dikenal sebagai resonansi Proudman.
Dalam kondisi ini, energi dari gangguan atmosfer dapat ditransfer secara efisien ke gelombang sehingga amplitudonya meningkat dan gelombang menjadi semakin kuat.
Selain itu, meteotsunami juga dipengaruhi oleh kondisi perairan. Saat gelombang memasuki wilayah yang lebih dangkal, bentuk dasar perairan atau batimetri dapat mengubah kecepatan dan ketinggian gelombang. Bentuk garis pantai, teluk, pelabuhan, hingga danau yang memiliki konfigurasi tertentu juga dapat memperkuat atau memusatkan energi gelombang.

Setelah mencapai garis pantai, gelombang dapat memantul dan berinteraksi dengan gelombang lainnya. Akibatnya, meteotsunami tidak selalu muncul sebagai satu gelombang besar, tetapi dapat berupa rangkaian kenaikan dan penurunan muka air. Perubahan tersebut dapat berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa jam, tergantung kondisi atmosfer dan karakteristik perairan.
Karakteristik lain yang membuat meteotsunami sulit dikenali adalah kemunculannya yang terkadang terjadi di wilayah yang relatif jauh dari pusat badai. Dampaknya pun tidak selalu muncul bersamaan dengan badai. Dalam kondisi tertentu, perubahan muka air dan arus yang berbahaya baru terasa setelah sistem cuaca yang memicunya telah berlalu.
Perubahan muka air yang cepat dan berulang ini dapat menghasilkan arus yang kuat, termasuk rip current di kawasan pantai.
Peristiwa Meteotsunami di Dunia
Meteotsunami terjadi di berbagai wilayah dan tidak sedikit yang menelan korban jiwa dalam fenomena ini. Peristiwa yang paling awal tercatat yakni terjadi pada tahun 1929 di Michigan, Amerika Serikat.
Fenomena tersebut menewaskan setidaknya 10 orang yang tenggelam. Kemudian, di tahun yang sama juga terjadi peristiwa serupa, yakni di Inggris, meski tidak separah di Michigan, AS.
Meteotsunami tercatat pernah melanda Grand Haven, Michigan, pada 4 Juli 1929. Bahkan, peristiwa itu dianggap sebagai insiden garis pantai paling mematikan dalam sejarah Great Lakes.
Sebanyak 10 orang tenggelam akibat gelombang laut yang berubah-ubah saat meteotsunami terjadi. Melansir Wood TV (4/7/2023), laporan media saat itu menyatakan bahwa pantai-pantai di Grand Haven dipenuhi pengunjung untuk liburan hingga mencapai sekitar 45 ribu orang.
Para korban tenggelam ketika serangkaian gelombang menghantam pantai. Salah satu gelombang tercatat setinggi sekitar 20 kaki.

Selain di Michigan, fenomena meteotsunami pernah melanda pesisir Vela Luka, Kroasia, pada 21 Juni 1978 yang dianggap menjadi meteotsunami terkuat. Melansir SHExtrem, permukaan laut naik lebih dari 3 meter dari permukaan rata-ratanya. Air laut kemudian surut dengan cepat hingga lebih dari 3 meter di bawah permukaan rata-ratanya.
Fluktuasi permukaan laut ini berlangsung sepanjang hari. Peristiwa tersebut mengakibatkan banjir parah dan kekeringan di pelabuhan. Lantai dasar bangunan terendam sepenuhnya selama fase banjir.
Tak hanya itu, perahu terdampar di dasar laut selama fase kekeringan dan arus laut yang luar biasa juga membawa kerusakan. Dalam peristiwa ini tidak tercatat adanya korban jiwa, tetapi kerugian material akibat banjir cukup besar.
Selain itu, meteotsunami juga terjadi di Teluk Nagasaki, Jepang, pada 1979. Sebagaimana tertulis di Meteotsunami, Laut Cina Timur di sebelah barat Teluk Nagasaki memiliki kedalaman 50–100 m. Ini menyebabkan kecepatan gelombang air dalam sebesar 22–39 m/s.
Pada 1979, gangguan tekanan bergerak ke timur menuju Teluk Nagasaki dengan kecepatan 31 m/s, kira-kira beresonansi dengan kedalaman terkait. Resonansi dan amplifikasi pelabuhan menyebabkan gelombang 5 m yang menyebabkan kerusakan massal da mengakibatkan 3 kematian.
Sebagai informasi, berikut ini peristiwa-peristiwa meteotsunami yang pernah terjadi di berbagai negara beserta keterangan tinggi gelombangnya:
- Patai Kent dan Sussex, Inggris (20 Juli 1929): 3,5–6 m (11–20 kaki)
- Grand Haven, Michigan, Amerika Serikat (4 Juni 1929): 20 kaki
- Pesisir Vela Luka, Kroasia (21 Juni 1978): 3 m
- Teluk Nagasaki, Jepang (31 Maret 1979): 5 m
- Pelabuhan Longkou, China (1 September 1980): 3 m (9,8 kaki)
- Pelabuhan Ciutadella, Spanyol (15 Juni 2006): 4 m (13 kaki)
- Chicago, Amerika Serikat (26 Juni 1954): 3 m (9,8 kaki)
- Doyota Beach, Amerika Serikat (3-4 Juli 1992): 3,5 m (11 kaki)
- Teluk Barnegat, Amerika Serikat (13 Juni 2013): 2 m (6 kaki)
- Mal del Plata, Mar Chiquita, dan kota lainnya, Argentina (12 Januari 2026): 5 m
- Hanko, Finlandia (7 Agustus 2023): 0,58 m (1 kaki 11 inci)
- Pantai Adella, Neenah, Amerika Serikat (27 Juli 2026): 1 meter (3 kaki 3 inci)
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id
































