Menuju konten utama
Side Job

Tektok, Siasat Pekerja Mengakali Terbatasnya Waktu Luang

Buruh perkotaan kehilangan waktu luangnya yang berharga. Tapi hidup tetap butuh liburan. Lalu mereka pun menemukan opsi liburan: mendaki dengan cara tektok.

Tektok, Siasat Pekerja Mengakali Terbatasnya Waktu Luang
Ilustrasi Hiking. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Selama puluhan tahun, aktivitas mendaki gunung selalu identik dengan perjalanan panjang yang membutuhkan waktu berhari-hari. Pendaki perlu menempuh perjalanan panjang menuju kamp awal di kaki gunung, lalu menyusuri jalur hutan, bermalam di kawasan perkemahan, kemudian melanjutkan treking menuju puncak.

Namun, cara orang menikmati kegiatan luar ruangan perlahan berubah. Salah satunya melalui aktivitas yang disebut pendakian tektok. Artinya, seseorang bisa mendaki gunung tanpa bermalam, naik dan turun pada hari yang sama.

Dalam studi bertajuk “Analisis Alasan Pendaki Memilih Pendakian Tektok dan Pendakian Camping” (2026: 52), Naufal Rafif Agusti dan Sahri mencatat lonjakan tajam tren pendakian tektok dalam beberapa tahun terakhir. Sebab, format tersebut menawarkan sejumlah kepraktisan, mulai dari urusan perlengkapan, mengurangi biaya perjalanan, hingga efektivitas waktu dapat menyelesaikan seluruh aktivitas dalam satu hari.

Waktu menjadi salah satu pertimbangan penting dalam memilih tektok. Format pendakian tersebut bukan cuma sekadar tren baru mendaki gunung, melainkan wujud rekreasi yang adaptif terhadap keterbatasan waktu.

Rekreasi di Tengah Waktu yang Terbatas

Keterbatasan waktu libur mendorong pergeseran pola rekreasi masyarakat perkotaan. Ketika kesempatan rekreasi makin sempit, bentuk-bentuk rekreasi berdurasi singkat, seperti perjalanan harian dan wisata jarak dekat, menjadi pilihan utama kelas pekerja.

Tekanan pekerjaan harian berpengaruh langsung terhadap pilihan rekreasi seseorang. Sebagaimana disadur dari hasil riset Changbao Lu dan kolega (2026), tingginya beban kerja secara perlahan menguras cadangan emosional pekerja.

Tekanan beban kerja berlebih memicu krisis waktu luang, sebuah keadaan kronis ketika mereka merasa nyaris seluruh waktunya tersedot untuk urusan kantor (hlm. 4).

Krisis waktu luang lambat laun memicu perasaan terkungkung pada diri pekerja. Mereka merasa kehilangan otoritas atas hidupnya sendiri karena seluruh agenda pribadi harus didikte oleh jadwal kantor.

Rasa terkungkung yang berlarut-larut dapat melahirkan ketegangan emosional instan sehingga mendorong pekerja mencari tempat pelarian yang dekat, fleksibel, dan tanpa perencanaan rumit (hlm. 9).

Dalam kondisi psikologis penuh tekanan, perjalanan jarak pendek menjadi saluran kompensasi untuk merebut kembali kendali atas waktu pribadi yang direnggut oleh kesibukan kantor.

Dampak positif jeda singkat seperti itu sesuai dengan gambaran yang dijelaskan oleh Jan Packer dalam kajiannya. Lewat studi berjudul “Taking a break: Exploring the restorative benefits of short breaks and vacations” (2021: 6), ia menyebut bahwa liburan singkat terbukti ampuh memulihkan pikiran pekerja. Efek penyegaran mental ini bahkan mampu mengungguli dampak liburan panjang.

Packer turut mengurai alasan psikologis di balik efektivitas tersebut. Liburan panjang menuntut persiapan yang menguras tenaga. Pekerja harus mengajukan cuti jauh hari, menyiapkan bujet, dan menyusun detail rencana perjalanan.

Rentetan persiapan itu menciptakan beban kognitif baru. Otak pekerja, yang sudah lelah karena tekanan bos atau beban kerja tidak masuk akal, harus kembali memeras energi untuk mengurus hal-hal administratif.

Sebaliknya, keputusan jeda kilat biasanya muncul secara impulsif. Pekerja berangkat tanpa membawa beban keruwetan logistik. Semuanya hanya demi keluar sejenak dari beban pekerjaan. Dengan cara ini, otak beristirahat lebih cepat karena ketiadaan beban manajerial selama di perjalanan.

Kecenderungan psikologis jeda kilat tampak sejalan dengan preferensi nyata para pendaki gunung. Agusti dan Sahri menemukan orientasi utama pendaki tektok memang berpusat pada efisiensi alokasi waktu, kemudahan persiapan logistik, serta pemenuhan tantangan fisik dalam tempo singkat (hlm. 55).

Pola rekreasi kilat bukan lagi sekadar pilihan personal, melainkan sudah membentuk pergeseran yang cukup masif di lapangan. Bagi masyarakat kota yang terjebak rutinitas padat, format mendaki-satu-hari menjadi pilihan rasional untuk tetap bisa menikmati alam tanpa harus mengorbankan jatah cuti kerja.

Bahkan, kalau tektok masih tak memungkinkan lantaran adanya risiko kelelahan di perjalanan, masyarakat urban tetap punya opsi lainnya. Buruh di kota-kota besar tak jarang memilih alternatif staycation, yakni aktivitas berlibur di dalam kota atau dekat rumah.

Metode berlibur urban seperti itu memiliki reputasi praktis dan hemat biaya karena memangkas perjalanan, sekaligus memaksimalkan waktu bersantai.

Pola adaptasi ruang di dalam kota akhirnya melahirkan perbandingan logis dengan cara pekerja urban menyiasati tantangan rekreasi di alam liar.

Waktu Mengubah Cara Berekreasi

Perbandingan antara berbagai pilihan liburan singkat menunjukkan bahwa pendakian kilat merupakan pilihan paling menantang bagi para pekerja kantoran. Berbeda dari staycation yang masih mengandalkan kenyamanan hotel atau jalan-jalan satu hari yang terbatas di area perkotaan, format naik-turun gunung dalam sehari memadatkan seluruh rangkaian fisik di alam liar dalam waktu sangat terbatas.

Kendati demikian, praktik tektok, yang menjadi siasat pekerja untuk mengakali jatah cuti, tetap memiliki risiko.

Seperti sempat disinggung di atas, mendaki tektok menguras tenaga jauh lebih besar dibandingkan pendakian biasa. Tubuh pendaki kehilangan fase adaptasi suhu di ketinggian. Perjalanan darat bolak-balik dari kota menuju gunung tanpa menginap juga menyiksa fisik. Pekerja bahkan harus kembali masuk kantor pada esok paginya.

Realitas tersebut mengungkap sebuah kompromi radikal. Perubahan cara bertualang menunjukkan siasat pekerja kantoran memutar otak saat kehabisan waktu luang. Meskipun waktu libur sangat sempit dan risikonya sangat melelahkan, keinginan untuk kabur dari rutinitas harian, bisa dibilang, jauh lebih mendesak.

Kondisi kekurangan waktu memaksa pemilihan aktivitas yang tidak butuh persiapan rumit. Pekerja seolah rela menukarkan sisa tenaga fisiknya yang habis terkuras asalkan pikiran mereka bisa kembali segar seketika.

Pada akhirnya, gunung tetap menjadi tempat pelarian paling dicari. Hanya saja cara mendakinya berubah, menyesuaikan jadwal kerja yang dapat dan tekanan pengambilan cuti yang mencekik.

Keterikatan pada rutinitas pada akhirnya membentuk pola rekreasi yang serba singkat, efisien, dan berorientasi pada hasil. Pendakian tektok menjadi cerminan nyata gaya rekreasi modern. Namun, masalahnya tentu bukan di cara pendakian, baik itu berkemah ataupun tektok. Problemnya ada di tekanan dan sistem di tempat kerja yang memaksa pekerja memakan waktu luangnya sendiri.

Baca juga artikel terkait HOBI atau tulisan lainnya dari Rizqy M. Farhan

tirto.id - Side Job
Kontributor: Rizqy M. Farhan
Penulis: Rizqy M. Farhan
Editor: Fadli Nasrudin