tirto.id - Gelombang panas ekstrem menghantam Eropa pertengahan tahun 2026 ini. Meskipun memiliki infrastruktur yang mapan dan sistem medis mumpuni, negara-negara maju di benua biru ternyata kewalahan menghadapi fenomena heat wave.
Data Lembaga survei European Mortality Monitoring Project (EuroMOMO) menyebutkan, setidaknya 14.260 orang di Eropa meninggal dunia akibat gelombang panas yang berlangsung sejak awal tahun hingga akhir Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 12.000 kematian terjadi pada orang berusia 65 tahun ke atas.
Menurut laporan World Health Organization (WHO), Eropa menjadi benua dengan pemanasan tercepat di planet ini. Suhu meningkat sekitar dua kali lipat rata-rata global. Fenomena gelombang panas ekstrem disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor, termasuk perubahan iklim, desain arsitektur yang tidak siap, dan isu sosiologis penuaan populasi.
Ketika Benua Maju Kewalahan Hadapi Panas Ekstrem
Gelombang panas ekstrem membuat jutaan orang di dataran Eropa seolah terpanggang. Suhu di sebagian wilayah Prancis, misalnya seperti dikutip dari TIME, mencapai 43,3°C (110°F) pada 24 Juli 2026 lalu. Hari itu pun tercatat sebagai hari terpanas dalam sepanjang sejarah negara tersebut.
Di Jerman, suhu pada 28 Juni 2026 mencapai tingkat tertinggi yaitu 41,7°C (107,06°F). Institut Robert Koch pun mengaitkan kasus 6.830 kematian di Jerman dengan fenomena gelombang panas yang memang sedang melanda negeri panser.
Sementara itu, Kantor Meteorologi Inggris mencatat rekor panas nasional untuk bulan Mei sebesar 35,1°C (95,18°F) dan bulan Juni lebih dari 37°C (98,6°F).
Sementara itu di Spanyol, bulan Juni terpanas kedua di Spanyol dalam catatan sejarah, dengan suhu 3,2°C (5,8°F).
Mengutip laman resmi WHO pada 13 Juli 2026, jumlah orang yang terpapar panas ekstrem meningkat secara eksponensial. Kematian terkait panas untuk orang berusia di atas 65 tahun meningkat sekitar 85% antara tahun 2000–2004 dan 2017–2021.
Dalam catatan WHO, Peristiwa gelombang panas intensitas tinggi dapat menyebabkan kematian akut Tercatat 70.000 orang di Eropa pada tahun 2003 meninggal akibat peristiwa Juni–Agustus. Pada tahun 2010, terjadi 56.000 kematian berlebih selama gelombang panas 44 hari di Federasi Rusia.
Pada musim panas di Eropa tahun 2022, diperkirakan terjadi 61.672 kematian berlebih terkait panas. Menurut Asosiasi Regional VI (Eropa) Jaringan Pusat Iklim Regional WMO, lebih dari dua pertiga gelombang panas terparah di Eropa sejak tahun 1950 terjadi sejak tahun 2000.
Penyebab Gelombang Panas Ekstrem di Eropa
Gelombang panas di berbagai wilayah dipengaruhi oleh perubahan iklim. Eropa timur memanas lebih cepat daripada Eropa barat, sementara Arktik adalah wilayah yang paling cepat memanas di Bumi. Salah satu penyebabnya yaitu perubahan iklim.
Menurut laporan Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) yang termuat dalam laman resminya pada 3 Juli 2025, wilayah Eropa Barat saat ini berada di bawah pengaruh sistem tekanan tinggi (heat dome) yang memerangkap udara kering dari Afrika utara. Sistem ini menyebabkan panas ekstrem yang berdampak besar pada semua aspek kehidupan sehari-hari.
Gelombang panas juga menyebabkan lonjakan polusi udara dan risiko kebakaran hutan yang besar. Hal ini ditambah dengan kekeringan parah di beberapa negara Eropa. Gelombang panas dan suhu jauh di atas rata-rata saat ini berdampak pada wilayah Eropa Barat, sebagian Amerika Utara, Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Tengah.
Hal ini juga diterangkan oleh Kepala Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF).
“Juni 2026 menggarisbawahi betapa dahsyatnya perubahan iklim. Eropa Barat mencatat bulan Juni terpanas dalam sejarah, dan terus mencatat suhu hangat di lautan global. Bersama-sama, catatan ini mencerminkan sistem iklim yang terus mengakumulasi panas. Hasilnya adalah gelombang panas yang semakin intens, lautan yang terus hangat, dan meningkatnya risiko bagi manusia, ekosistem, dan infrastruktur di seluruh Eropa dan sekitarnya.” ujar Samantha Burgess, Pimpinan Strategis untuk Iklim di ECMWF, dikutip dari laman Climate.copernicus.eu.
Eropa juga mengalami kekeringan yang meluas bersama dengan panas ekstrem. Hal ini berkontribusi pada aktivitas kebakaran hutan, khususnya di Semenanjung Iberia dan Prancis selatan, dan meningkatkan risiko kekeringan di beberapa bagian Eropa timur. Gelombang panas bulan Juni terjadi di tengah kondisi tanah yang semakin kering di seluruh Eropa barat dan tengah.
Selain itu, suhu permukaan laut (SST) Laut Mediterania juga sangat hangat dan cenderung memperkuat suhu ekstrem di wilayah daratan. Selain kekeringan yang meluas, pemanasan iklim juga berdampak pada hilangnya es gletser.
Menurut laporan yang diterbitkan oleh Layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S) dan WMO, lapisan Es Greenland kehilangan sekitar 139 Gt (139 miliar ton) es pada tahun hidrologi 2025 (1 Oktober 2024–30 September 2025), meningkatkan permukaan laut rata-rata global sebesar 0,4 mm. Kehilangan massa bersih ini setara dengan sekitar 1,5 kali jumlah es yang tersimpan di semua gletser di Pegunungan Alpen Eropa.
Update Korban Gelombang Panas di Eropa dan Pemicunya
Di banyak negara Eropa, rumah dan bangunan tua telah dirancang untuk iklim yang lebih dingin. Di Inggris dan Prancis, rumah berfungsi seperti tungku yang dirancang untuk memerangkap panas. Bangunan-bangunan lama tidak dirancang untuk menyertakan pendingin.
Sebab, iklim wilayah tersebut dulunya sejuk, sehingga tidak ada kebutuhan akan AC. Hal ini diterangkan oleh Ronita Bardhan, Profesor Lingkungan Binaan Berkelanjutan dan Kesehatan, di Universitas Cambridge.
“Ini (rumah) dirancang untuk menyelesaikan masalah yang sangat berlawanan. Sebagian besar kota di Eropa secara historis hanya membutuhkan sedikit pendingin, sehingga pedoman desain bangunan tidak pernah mengantisipasi pengintegrasian sistem pendingin” kata Ronita Bardhan, dikutip dari laman Time.com, Jumat (26/6/2026).
Selain rumah, kota-kota di wilayah Eropa banyak dibangun menggunakan beton, batu bata, dan jalanan sempit dengan vegetasi yang minim. Akibatnya, bangunan tersebut dapat menyerap panas sepanjang hari dan memancarkannya kembali pada malam hari, menghambat penurunan suhu alami.
Tak hanya itu, infrastruktur transportasi juga didesain sesuai dengan iklim yang lebih dingin kala itu. Akibatnya, suhu tinggi menyebabkan rel kereta api memuai dan melengkung (track buckling), aspal jalan raya melunak, dan kabel listrik menggantung. Adanya pemanasan global yang cepat, membuat negara-negara maju tidak siap menghadapi gelombang panas yang yang terjadi.
“Wilayah kita adalah wilayah dengan pemanasan tercepat secara global. Hanya dalam empat tahun terakhir, panas telah merenggut lebih dari 200.000 nyawa, sementara angka kematian terkait panas telah meningkat sebesar 30 persen selama 20 tahun terakhir,” kata Dr. Hans Kluge, Direktur Regional WHO untuk Eropa, dikutip dari laman resmi United Nations, Jumat (2/8/2024)
Ia juga menambahkan bahwa gelombang panas ekstrem juga berbahaya bagi masyarakat, terutama penduduk usia lanjut (aging population). Lansia jauh lebih rentan terhadap serangan pingsan, dehidrasi, heatstroke, dan komplikasi penyakit kardiovaskular saat suhu melonjak
“Suhu ekstrem seperti yang kita alami saat ini benar-benar memperburuk kondisi kronis, termasuk penyakit kardiovaskular, pernapasan, kesehatan mental, dan kondisi terkait diabetes. Panas ekstrem yang kita alami merupakan masalah khusus bagi lansia, terutama mereka yang tinggal sendirian. Hal ini juga dapat menambah beban bagi ibu hamil,” lanjut kata Dr. Hans Kluge.

Jumlah warga lanjut usia, yang lebih rentan terhadap dampak panas ekstrem, telah meningkat sekitar 40 persen selama dua dekade terakhir. Pengaruh panas terhadap kesehatan manusia lebih terasa di kota-kota sebagai akibat dari efek pulau panas perkotaan.
Di sinilah lingkungan perkotaan jauh lebih hangat daripada daerah pedesaan sekitarnya, terutama selama periode panas. Sebab, di kota banyak permukaan beraspal, bangunan, kendaraan, dan sumber panas.
Sejumlah otoritas negara-negara Eropa telah memperbarui data kematian akibat gelombang panas yang melanda wilayah tersebut.
Jerman
Pusat pengendalian penyakit Jerman, Institut Robert Koch, secara langsung mengaitkan 6.830 kematian dengan panas tahun ini. 6.470 di antaranya terjadi pada orang berusia 65 tahun ke atas. Menurut catatan Layanan Cuaca Jerman, suhu di Jerman mencapai tingkat tertinggi sejak pencatatan dimulai, dengan puncak pengukuran 41,7°C (107,06°F) pada 28 Juni 2026.Inggris
Data Kantor Meteorologi Inggris menyebut 2.700 orang diyakini meninggal karena gelombang panas di Inggris dan Wales pada bulan Mei dan Juni. Dari kematian tersebut, sekitar 550 terjadi pada akhir Mei dan sekitar 2.200 pada akhir Juni. Tahun ini membawa rekor panas nasional untuk bulan Mei sebesar 35,1°C (95,18°F) dan untuk bulan Juni lebih dari 37°C (98,6°F).Prancis
Otoritas kesehatan masyarakat Prancis mengatakan ada setidaknya 2.000 kematian, lebih banyak pada 22-28 Juni dibandingkan minggu sebelumnya. Prancis mencatat hari-hari terpanas sepanjang sejarah pada tanggal 24 dan 25 Juni dengan suhu mencapai 30°C (86°F). Lebih dari 40% wilayah Prancis mengalami suhu puncak di atas 40°C (104°F).Spanyol
Institut Kesehatan Carlos III melaporkan 937 kematian di Spanyol pada bulan Juni disebabkan oleh panas berlebih. Bulan Juni 2026 merupakan bulan terpanas kedua di Spanyol dalam catatan sejarah, dengan suhu 3,2°C (5,8°F) di atas rata-rata normal bulanan.Belgia
Lembaga kesehatan masyarakat Belgia, Sciensano, melaporkan 1.747 kematian terjadi selama gelombang panas yang berlangsung dari 18 Juni hingga 1 Juli 2026.Antisipasi WHO Terhadap Gelombang Panas
Berbagai negara dan lembaga dunia tengah menggagas antisipasi gelombang panas ekstrem yang melanda negara-negara maju tiap tahun. Kebijakan, mitigasi, dan intervensi kesehatan masyarakat perlu dilakukan secara multi-sektor.
Pemerintah Inggris telah menggunakan sistem peringatan berkode warna, yang dikembangkan bersama dengan Kantor Meteorologi nasional. Kode ini menghubungkan setiap tingkat peringatan dengan tindakan praktis untuk layanan kesehatan, pemerintah daerah, kelompok masyarakat, dan publik.
Pada bulan Mei, para pejabat mengeluarkan peringatan kuning sebagai antisipasi suhu yang memecahkan rekor hingga 35,1 derajat Celcius. Peringatan merah dikeluarkan pada bulan berikutnya, ketika beberapa bagian negara mencapai suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga 37,7°C.
Selain itu, WHO Wilayah Eropa telah menyusun heat–health action plans (HHAP) atau rencana aksi kesehatan terkait panas untuk negara-negara di wilayah tersebut. Rencana kesehatan masyarakat yang terstruktur ini menyatukan aktor kesehatan dan non-kesehatan untuk menerapkan tindakan kesiapan, peringatan, dan respons yang mengurangi risiko kesehatan terkait panas.
Rencana Aksi Kesehatan-Panas terdiri dari serangkaian tindakan di berbagai tingkatan, memastikan penyampaian yang andal, dengan pemicu yang jelas, peran yang bertanggung jawab, sumber daya yang memadai, dan tindakan yang terukur.
Pada tahun 2026, WHO wilayah Eropa meluncurkan edisi kedua dari Panduan Rencana Aksi Kesehatan-Panas secara komprehensif yang memuat 8 elemen penting. Elemen inti secara kolektif memberikan pendekatan praktis dan mudah beradaptasi untuk mencegah dan mengurangi dampak kesehatan terkait panas.
Asisten Profesor di London School of Hygiene and Tropical Medicine, Malcolm Mistry, menyebut bahwa pemanasan global perlu diselesaikan oleh secara holistik oleh banyak negara.
“Pada akhirnya, perubahan iklim adalah masalah global, dan yang saya maksudkan adalah, pada intinya, tidak peduli apa yang dilakukan oleh satu negara tertentu, misalnya. Jika negara-negara lain tidak berada di kapal yang sama, maka kita masih berjuang sendirian” kata Mistry, dikutip dari laporan Time.com, Jumat (26/6/2026).
Berikut 8 elemen Rencana Aksi Kesehatan-Panas WHO Wilayah Eropa:
- Menetapkan pengaturan tata kelola yang jelas, dengan kepemimpinan, koordinasi, peran, tanggung jawab, dan pembiayaan yang ditentukan.
- Memungkinkan tindakan tepat waktu dalam menanggapi panas ekstrem melalui sistem peringatan kesehatan terkait panas yang terkait dengan langkah-langkah yang telah ditentukan sebelumnya.
- Mengidentifikasi dan memprioritaskan perlindungan bagi populasi yang berisiko tinggi dan lingkungan dengan paparan, sensitivitas, dan kerentanan yang lebih tinggi.
- Mengembangkan dan menerapkan strategi komunikasi kesehatan terkait panas yang memberikan nasihat yang jelas, tepercaya, dan dapat ditindaklanjuti kepada masyarakat, para profesional, dan sektor mitra sebelum, selama, dan setelah kejadian panas ekstrem.
- Memperkuat ketahanan layanan kesehatan untuk mempertahankan perawatan yang aman dan efektif selama kejadian panas ekstrem.
- Mengurangi paparan panas melalui langkah-langkah perlindungan segera dan perubahan jangka panjang pada bangunan, ruang publik, dan lingkungan perkotaan.
- Menggunakan pengawasan kesehatan terkait panas untuk mendeteksi dampak, memandu aktivasi, dan menyesuaikan langkah-langkah respons secara hampir real-time.
- Menanamkan pemantauan, evaluasi, dan pembelajaran untuk meninjau kinerja, meningkatkan akuntabilitas, dan memperkuat HHAP sebelum musim panas berikutnya.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id































