Menuju konten utama

Gelombang Panas Ekstrem Eropa Tewaskan 18 Orang di Prancis

Gelombang panas ekstrem di Prancis menewaskan 18 orang. Fenomena Omega Block memicu suhu tinggi, memecahkan rekor panas di Eropa.

Gelombang Panas Ekstrem Eropa Tewaskan 18 Orang di Prancis
Ilustrasi wanita kepanasan. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis dan berbagai wilayah Eropa menelan korban jiwa. Sebanyak 18 orang dilaporkan tewas di Prancis, termasuk 2 anak yang kehilangan nyawa akibat terpapar panas saat berada di dalam mobil.

Korban jiwa akibat cuaca panas ekstrem di Prancis termasuk dua anak berusia 2 dan 4 tahun yang ditemukan tidak sadarkan diri di dalam mobil keluarga yang terparkir di luar rumah mereka di kota Carpentras, Prancis tenggara. Menurut pihak kejaksaan setempat, petugas penyelamat tidak berhasil menyadarkan kedua anak tersebut.

Selain itu, tiga lansia berusia antara 80 hingga 95 tahun meninggal dunia di wilayah Bordeaux akibat gangguan kesehatan yang dipicu oleh suhu panas yang sangat tinggi.

Otoritas Prancis juga melaporkan meningkatnya risiko kecelakaan air selama periode cuaca ekstrem ini, dengan 13 orang tenggelam hanya dalam rentang waktu Minggu hingga Senin.

Pihak layanan keselamatan sipil mengimbau masyarakat untuk berenang hanya di lokasi yang diawasi petugas, mengingat pada tahun sebelumnya angka kematian akibat tenggelam selama gelombang panas meningkat hingga 172 persen karena banyak orang berusaha mencari cara untuk mendinginkan tubuh.

"Berenanglah hanya di tempat yang diawasi," kata juru bicara layanan Keamanan Sipil Prancis Jerome Boulanger dikutip Reuters (22/6/2026).

Apa Penyebab Suhu Panas Ekstrem di Prancis?

Gelombang panas ini juga memecahkan sejumlah rekor suhu di berbagai kota Eropa. Di Bordeaux, yang dikenal sebagai pusat industri anggur di Prancis barat, suhu mencapai 41,9 derajat celcius, melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada Agustus tahun lalu.

Di Poitiers, Prancis tengah, suhu mencapai 41,2 derajat celcius, memecahkan rekor yang telah bertahan sejak tahun 1947.

Kondisi serupa terjadi di San Sebastián, kota pesisir di Spanyol utara yang biasanya memiliki iklim lebih sejuk. Suhu di kota tersebut diperkirakan mencapai 40 derajat celcius, lebih dari dua kali lipat rata-rata historis suhu pada tanggal 22 Juni.

Akibat cuaca ekstrem ini, sejumlah sekolah di Prancis terpaksa ditutup atau menyesuaikan jadwal kegiatan belajar mengajar guna melindungi siswa dan tenaga pendidik dari risiko kesehatan akibat panas berlebihan.

Fenomena cuaca yang menyebabkan gelombang panas ini dikenal sebagai Omega Block, yaitu pola atmosfer yang dinamai berdasarkan bentuknya yang menyerupai huruf Yunani Omega.

Pola tersebut terbentuk ketika massa udara panas terperangkap di wilayah tengah, sementara udara yang lebih dingin berada di kedua sisinya.

Menurut peneliti cuaca ekstrem dan iklim dari Imperial College London, Clair Barnes, sistem ini menarik udara panas dari Afrika Utara dan Gurun Sahara menuju Eropa, sehingga menyebabkan suhu meningkat secara drastis.

"Angin hangat naik dari Afrika Utara, dari Sahara, dan itulah mengapa kita mengalami panas yang sangat intens ini. Pergerakannya sangat lambat dan itu berarti tidak ada angin, tidak ada hembusan angin untuk meredakan panas," ujar Barnes.

Tekanan tinggi juga menghambat pembentukan awan dan hujan, sinar matahari dapat terus memanaskan permukaan tanah dari pagi hingga sore tanpa banyak gangguan.

Akibatnya, suhu tidak hanya sangat tinggi pada siang hari, tetapi juga tetap panas pada malam hari. Biasanya, malam hari memberikan kesempatan bagi tubuh manusia, bangunan, dan lingkungan untuk mendingin. Namun saat Omega Block terjadi, panas yang terakumulasi sepanjang hari sulit dilepaskan.

Inilah sebabnya Prancis mencatat malam terpanas dalam sejarah pengamatannya sejak 1947, dengan suhu rata-rata nasional mencapai 21,6 derajat celcius pada malam hari seperti dilaporkan Al Jazeera (23/6/2026).

Baca juga artikel terkait GELOMBANG PANAS atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra