tirto.id - Sebagian besar wilayah Amerika Serikat sedang bersiap untuk menghadapi gelombang panas ekstrem pada pekan ini hingga pekan pertama bulan Juli yang bertepatan dengan libur Hari Kemerdekaan AS (The Fourth of July). Situasi ini diperparah dengan semakin banyaknya hutan yang ikut terbakar.
Suhu udara diprediksi meningkat secara bertahap sepanjang pekan dengan kisaran mencapai 35 hingga 40 derajat Celsius. Bahkan, heat index atau suhu yang dirasakan tubuh akibat kombinasi suhu dan kelembapan diperkirakan mencapai sekitar 40–46 derajat Celsius.
Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas berlebih terutama bagi lansia, anak-anak, pekerja luar ruangan, dan masyarakat. Risiko meningkat pada mereka yang tidak memiliki akses terhadap pendingin ruangan.
Sejumlah kota besar yang diperkirakan mengalami dampak paling signifikan dari gelombang panas tersebut di antaranya Boston, New York, Philadelphia, Baltimore, Washington, Chicago, Minneapolis, St. Louis, Nashville, Atlanta, Orlando, dan Cleveland.
Beberapa wilayah di Iowa, Missouri, dan Kansas bahkan telah berada di bawah peringatan panas ekstrem (Extreme Heat Warning). Suhu diperkirakan mencapai tingkat yang sangat berbahaya.
Di Chicago, suhu udara pada Senin (29/6) siang tercatat mencapai 33 derajat Celsius, namun terasa seperti 39 derajat Celsius akibat tingginya kelembapan. Di Dayton, Ohio, suhu yang dirasakan juga mencapai sekitar 38 derajat Celsius.
Menurut prakiraan cuaca, periode paling panas diperkirakan terjadi antara Kamis hingga Sabtu, terutama di kawasan Midwest, Great Lakes, Mid-Atlantic, dan Northeast.
Kota New York diproyeksikan mencatat suhu maksimum sekitar 35 derajat Celsius pada Jumat dengan heat index mencapai 41 derajat Celsius. Di Washington, D.C., dan Raleigh, North Carolina, diperkirakan mengalami suhu maksimum sekitar 39 derajat Celsius, dengan suhu yang dirasakan tubuh mencapai sekitar 42 derajat Celsius.
Wali Kota Chicago, Brandon Johnson, meminta warga sebisa mungkin tetap berada di dalam ruangan yang memiliki pendingin udara.
“Jika memungkinkan, tetaplah di dalam rumah dengan pendingin ruangan menyala. Jika Anda tidak memiliki pendingin ruangan, tutuplah tirai tetapi bukalah jendela sedikit.” saran Johnson dikutip NBC News (29/6/2026).
Pakar meteorologi dari National Weather Service, Mike Bardou, mengingatkan bahwa gelombang panas merupakan bencana yang sering kali tidak disadari tingkat bahayanya. Berbeda dengan badai atau badai salju yang dampaknya terlihat secara langsung, efek panas ekstrem dapat berkembang secara perlahan dan bersifat kumulatif.
“Dan efek panas bersifat kumulatif, sehingga hari demi hari Anda tidak memiliki kemampuan untuk pulih, menenangkan diri, efeknya semakin buruk.” ujarnya.
Ahli prakiraan cuaca National Weather Service, Bryan Putnam mengingatkan masyarakat yang berencana mengikuti berbagai kegiatan luar ruangan selama libur hari kemerdekaan AS agar tetap waspada terhadap dampak cuaca panas. Kegiatan tersebut termasuk menyaksikan pertunjukan kembang api pada malam hari,
“Suhu Anda mungkin tetap di angka 80an dan 90an (sekitar 27–32 derajat Celsius) saat panas di malam hari, dan faktanya adalah dengan kelembapan, hal itu akan menjaga indeks panas tetap tinggi juga. Hanya karena matahari terbenam bukan berarti cuacanya tidak akan panas." ujar Putnam dikutip NPR (28/6/2026).
Kebakaran Hutan di AS Perparah Gelombang Panas Ekstrem
Selain bersiap menghadapi gelombang panas ekstrem, Amerika Serikat juga masih menghadapi masalah karena kebakaran hutan yang serius di wilayah barat.
Selama akhir pekan, sejumlah kebakaran baru muncul di negara bagian Utah dan Colorado, sehingga sekitar 2 juta penduduk berada di bawah peringatan bahaya kebakaran di kawasan Four Corners yang meliputi Arizona, Colorado, New Mexico, dan Utah, serta sebagian wilayah Wyoming, South Dakota, dan Nebraska.
Kebakaran hutan tidak hanya menghanguskan pohon-pohon, melainkan juga menelan korban jiwa. Sebanyak tiga petugas pemadam kebakaran hutan meninggal dunia saat menangani kebakaran di perbatasan Colorado dan Utah. Selain itu, dua petugas lainnya mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan medis.
Kebakaran terbesar saat ini adalah Cottonwood Fire di barat daya Utah yang telah melalap lebih dari 93.000 acre lahan (sekitar 37.600 hektare) dan hingga kini belum berhasil dikendalikan sama sekali.
Menurut Pusat Kebakaran Antarlembaga Nasional, terdapat total lebih dari 50 kebakaran hutan besar yang masih aktif dan telah membakar lebih dari 460.000 acre lahan (sekitar 186.000 hektare) di seluruh AS.
Asap dari kebakaran tersebut juga menyebabkan penurunan kualitas udara di sejumlah wilayah, terutama Colorado. Pemerintah setempat mengeluarkan peringatan kualitas udara bagi masyarakat.
Kondisi cuaca panas, kelembapan yang rendah, serta angin yang cukup kencang diperkirakan akan terus meningkatkan risiko munculnya kebakaran baru di kawasan Barat Daya Amerika Serikat.
Otoritas cuaca memperingatkan bahwa tingkat risiko kebakaran akan kembali meningkat menjadi kategori kritis di beberapa bagian Utah, Colorado, Arizona, dan New Mexico.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id































