tirto.id - Masih bingung dengan perbedaan waterproof dan water resistant? Keduanya memang sama-sama berkaitan dengan perlindungan terhadap air. Namun, jangan sampai salah paham, kedua istilah ini ternyata memiliki makna, fungsi, dan batas ketahanan yang berbeda.
Saat membeli barang seperti tas, jaket, sepatu, atau barang elektronik seperti ponsel, kita mungkin akan melihat label waterproof atau water resistant di bagian spesifikasi produk. Label tersebut biasanya menjadi salah satu keunggulan produk yang bisa menarik perhatian konsumen.
Sayangnya, kedua istilah tersebut kerap diartikan serupa dan menganggap produk dengan label waterproof atau water resistant sama-sama aman 100% saat terkena air, baik itu terkena percikan maupun terendam air.
Padahal, kedua istilah tersebut sebenarnya tidak memiliki arti yang sama. Waterproof dan water resistant yang tertera pada produk sebenarnya menunjukkan tingkat perlindungan terhadap air yang berbeda.
Kenapa Banyak Orang Masih Salah Paham soal Waterproof dan Water Resistant?

Banyak orang masih belum paham perbedaan waterproof dan water resistant. Salah satu penyebab utamanya adalah karena kedua istilah ini memang memiliki arti harfiah yang sama ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yaitu tahan air.
Beberapa penjual terkadang juga tidak memberikan penjelasan secara detail terkait batas kemampuan waterproof atau water resistant yang disematkan pada produk. Akibatnya, konsumen menganggap produk tersebut aman digunakan dalam segala kondisi yang melibatkan air.
Tak hanya itu, dalam percakapan sehari-hari maupun materi iklan/promosi, istilah waterproof dan water resistant sering dipakai bergantian sehingga seolah-olah memiliki arti yang sama.
Kesalahpahaman juga muncul karena tidak semua orang memperhatikan spesifikasi teknis yang lebih detail terkait label tersebut, terutama saat belanja online. Dalam promosinya, sebuah brand atau produsen biasanya menyematkan catatan kaki atau disclaimer terhadap klaim tertentu.
Misalnya, produsen menuliskan “Waterproof*” atau “Water Resistant3”. Istilah tersebut diikuti oleh tanda bintang atau angka tertentu yang informasi detailnya bisa dilihat di bagian paling bawah laman spesifikasi produk. Sayangnya, tak sedikit yang malas membaca detail tersebut.
Pada akhirnya, kesalahpahaman ini membuat konsumen salah memilih produk yang sesuai dengan kebutuhannya atau salah menggunakan produk yang ia beli.
Misalnya, saat membeli jaket berlabel water resistant, konsumen yang salah paham mengira bahwa jaket tersebut akan tetap kering meski dipakai saat hujan deras. Padahal, makna dari water resistant tidak sesederhana itu.
Oleh karena itu, penting untuk memahami perbedaan waterproof dan water resistant agar konsumen bisa memilih produk yang sesuai dan menggunakannya dengan tepat.
Apa Perbedaan Waterproof dan Water Resistant?

Waterproof dan water resistant adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan tingkat perlindungan terhadap air atau kemampuan produk menahan air. Dikutip dari laman REI, perbedaan keduanya terletak pada seberapa besar air dapat dicegah agar tidak menembus material produk.
Memiliki label waterproof artinya produk tersebut memiliki material yang permukaannya tidak mudah ditembus air, bahkan saat terkena hujan deras. Waterproof termasuk tingkat perlindungan terhadap air yang paling tinggi.
Sementara itu, water resistant artinya mampu menahan penetrasi air dalam tingkat tertentu, tapi perlindungannya lebih rendah dibandingkan waterproof.
Bahan water resistant umumnya masih terlindungi dari percikan air atau gerimis dalam waktu singkat. Namun, jika terkena hujan dalam waktu lama lama atau intensitasnya semakin tinggi, air tetap dapat meresap ke dalam material.
Agar lebih mudah memahami perbedaannya, berikut tabel perbandingan waterproof vs water resistant:
| Aspek Perbandingan | Waterproof | Water Resistant |
| Tingkat Perlindungan | Tinggi | Rendah hingga Sedang |
| Kondisi Ideal Penggunaan | Hujan lebat/deras | Hujan gerimis ringan atau percikan air |
| Penetrasi Air | Mencegah penetrasi air secara total | Menahan penetrasi air sementara, merembes jika paparan air lebih laman, tekanan air semakin tinggi, atau hujan bertambah lebat |
| Rekomendasi Penggunaan | Pendakian gunung (hiking), camping, dan aktivitas outdoor berat | Olahraga ringan atau aktivits harian |
Dari sini dapat dipahami bahwa perbedaan waterproof dan water resistant yang paling utama adalah batas atau kemampuannya dalam menahan air.
Di sisi lain, perlu dipahami juga bahwa klaim tahan air suatu produk tidak bisa disematkan sembarangan oleh produsen. Klaim tahan air pada suatu produk diperoleh melalui metode pengujian yang sesuai dengan jenis produknya.
Salah satu metode yang digunakan adalah hydrostatic pressure test. Misalnya pada bahan tekstil, metode pengujian diterapkan berdasarkan standar ISO 811:2018.
Dalam dokumen ISO 811:2018 (Textiles - Determination of Resistance to Water Penetration - Hydrostatic Pressure Test). Pengujian dilakukan dengan memasang sampel kain pada alat uji, kemudian memberikan tekanan air secara bertahap pada salah satu sisi kain.
Tekanan terus ditingkatkan hingga air mulai menembus permukaan kain. Saat tetesan air muncul di tiga titik berbeda, besarnya tekanan saat tetesan ketiga muncul dicatat sebagai hasil pengujian.
Nilai tersebut menunjukkan kemampuan kain menahan penetrasi air. Semakin tinggi tekanan yang mampu ditahan sebelum air merembes, semakin baik ketahanannya terhadap air.
Kenapa Ada Bahan yang Bisa Menolak Air?

Mengapa tetesan air hujan bisa jatuh menggelinding di atas jaket outdoor dengan klaim waterproof, tapi langsung meresap pada kaus berbahan katun? Jawabannya terletak pada karakter permukaan materialnya.
Secara ilmiah, permukaan material dapat dibedakan menjadi hidrofobik dan hidrofilik. Hidrofobik adalah sifat permukaan yang cenderung menolak air. Istilah ini berasal dari kata hydro (air) dan fobik/phobos (takut).
Material yang bersifat hidrofobik memiliki afinitas yang rendah terhadap air, sehingga air tidak mudah menyebar atau meresap, melainkan membentuk butiran di permukaannya (water beading).
Sebaliknya, hidrofilik berasal dari kata hydro (air) dan filik (menyukai), yaitu sifat material yang mudah berinteraksi dengan air. Karena afinitasnya terhadap air tinggi, permukaan bahan hidrofilik membuat air lebih mudah menyebar, membasahi, bahkan terserap.
Fenomena water beading atau terbentuknya butiran air di permukaan kain menjadi salah satu indikator bahwa permukaan kain tersebut masih mampu menolak air.
Berdasarkan standar ISO 4920:2012, kemampuan tersebut dapat dievaluasi melalui spray test, yaitu dengan menyemprotkan air ke permukaan kain untuk melihat tingkat pembasahan (surface wetting) yang terjadi.
Dalam pengujian spray test, jika air tetap membentuk butiran dan mudah menggelinding, hanya sedikit bagian permukaan yang basah, maka kain tersebut menunjukkan kemampuan water repellency yang baik.
Sebaliknya, jika air mulai menyebar dan membasahi permukaan kain, berarti kemampuan kain dalam menolak air adalah rendah atau telah menurun.

Mengenal Durable Water Repellent (DWR)
Salah satu teknologi yang banyak digunakan untuk menciptakan efek water beading adalah Durable Water Repellent (DWR). DWR merupakan lapisan pelindung di bagian luar kain/pakaian agar tetesan air lebih mudah membentuk butiran dan tidak meresap ke dalam serat kain.Sementara itu, tingkat efektivitas penolakan air dari lapisan DWR ini tidak cukup hanya dinilai secara visual, tapi harus melalui pengujian khusus untuk membuktikan kinerjanya
Dalam jurnal bertajuk Quantifying Water Repellency by Modifying Spray Test Method AATCC TM22, peneliti menguji material dengan lapisan DWR menggunakan metode spray test (AATCC TM22/ISO 4920) yang durasinya sudah dimodifikasi menjadi lebih lama.
Metode ini pun dinilai cukup akurat untuk mengetahui efek water beading atau kemampuan menolak air pada lapisan DWR.
Membran Mikropori yang Kedap Air
Perlu diketahui bahwa lapisan DWR tidak bersifat permanen. Seiring penggunaan, pencucian, gesekan, paparan sinar matahari, serta kotoran yang menempel akan membuat lapisan DWR mengalami penurunan performa dan kemampuannya dalam menciptakan efek water beading akan memudar.Jadi, pada produk waterproof, lapisan DWR umumnya hanya berfungsi sebagai perlindungan awal agar air tidak langsung membasahi permukaan kain. Perlindungan utama produk waterproof biasanya berasal dari membran mikropori.
Membran mikropori atau membran kedap air ini adalah lapisan yang memiliki jutaan pori yang sangat kecil. Ukuran pori ini cukup kecil sehingga bisa menghambat masuknya air, tapi masih cukup besar untuk memungkinkan uap air dari dalam bisa keluar (breathable).
Membran mikropori banyak diaplikasikan pada produk-produk yang memang rentan terkena basah, mulai dari jas hujan, pakaian olahraga, hingga sepatu outdoor.
Kenapa Produk Water Resistant Tetap Bisa Basah?

Banyak orang menganggap label water resistant berarti produk sepenuhnya kebal terhadap air dan aman digunakan di tengah hujan deras dalam waktu lama atau aman terendam air.
Faktanya, istilah ini menunjukkan bahwa material tersebut hanya mampu menahan masuknya air dalam batas tertentu, bukan benar-benar kedap air.
Jadi, produk masih dapat memberikan perlindungan saat terkena gerimis ringan atau percikan air, tapi kemampuannya dalam menahan air akan berkurang saat menghadapi hujan deras, tekanan air yang lebih tinggi, atau paparan air dalam waktu lama.
Hal ini sejalan dengan ISO 811:2018, yaitu standar yang menggunakan hydrostatic pressure test untuk mengukur ketahanan kain/tekstil terhadap penetrasi air. Dalam pengujian ini, tekanan air diberikan secara bertahap pada permukaan kain hingga air mulai menembus material.
Hasilnya menunjukkan bahwa setiap bahan memiliki batas tekanan air yang mampu ditahan. Semakin tinggi tekanan yang dapat ditahan sebelum terjadi rembesan, semakin baik ketahanan air material tersebut.
Masih Ada Titik Masuknya Air: Ritsleting hingga Jahitan
Sementara itu, ketahanan air sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh jenis dan kualitas kainnya. Jahitan, ritsleting, hingga sambungan antar bagian juga dapat menjadi titik masuk air jika tidak didesain dengan perlindungan tambahan.Lubang-lubang kecil yang terbentuk saat proses penjahitan berpotensi menjadi jalur rembesan, terutama ketika produk terkena hujan deras atau digunakan dalam waktu lama.
Oleh karena itu, produk waterproof umumnya dilengkapi berbagai fitur tambahan seperti seam sealing (pelapis pada jahitan) atau ritsleting tahan air dengan bahan khusus untuk meminimalkan kebocoran.
Sebaliknya, banyak produk water resistant tidak memiliki perlindungan tambahan tersebut sehingga meskipun bahan utamanya mampu menahan air, rembesan tetap dapat terjadi melalui bagian sambungan.
Inilah alasan mengapa sebuah jaket atau tas yang berlabel water resistant masih bisa menjadi basah ketika digunakan dalam kondisi hujan lebat atau paparan air yang berkepanjangan.
Cara Memilih Produk Sesuai Kebutuhan

Setelah mengetahui perbedaan waterproof dan water resistant, konsumen diharapkan lebih paham dan bijak dalam memilih produk sesuai kebutuhan. Memilih antara produk water resistant dan waterproof sebaiknya disesuaikan dengan aktivitas.
Sebagai panduan praktis, berikut beberapa tips yang bisa dijadikan acuan untuk memilih produk tahan air yang tepat:
1. Pilih Produk Water Resistant untuk Aktivitas Sehari-hari
Jika produk hanya akan digunakan dalam kondisi yang sesekali terkena air, seperti gerimis atau cipratan, maka produk dengan label water resistant sudah cukup memadai.Beberapa contoh produknya antara lain payung, tas sekolah/kerja, jaket yang dipakai sehari-hari, atau sepatu kasual. Perlindungan ini membantu mencegah air cepat meresap, tapi tetap memiliki batas kemampuan sehingga kurang cocok untuk hujan deras.
2. Gunakan Produk Waterproof untuk Kondisi yang Lebih Ekstrem
Untuk aktivitas yang berpotensi membuat produk terkena air secara intens, pilihlah produk dengan bahan waterproof. Misalnya jas hujan, jaket hiking, sepatu trekking, atau dry bag yang bisa digunakan saat mendaki, berkemah, arung jeram, maupun kegiatan outdoor lainnya.3. Teliti dengan Klaim “Tahan Air”
Istilah "tahan air" sering digunakan sebagai terjemahan umum untuk water resistant maupun waterproof sehingga bisa menimbulkan kebingungan. Sebelum membeli, baca deskripsi produk secara lengkap untuk mengetahui tingkat ketahanan airnya.Jika tidak tercantum dalam spesifikasi produk, jangan ragu bertanya pada pihak penjual, apakah perlindungannya hanya sebatas percikan/cipratan air atau benar-benar mampu menahan air dalam kondisi yang lebih ekstrem.
Tak ada salahnya juga untuk membaca ulasan dari pembeli lain sebelum membeli produk yang diincar. Dengan demikian, kita dapat memilih produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan tidak memiliki ekspektasi yang keliru.
4. Perhatikan Spesifikasi Tambahan pada Produk
Selain label atau klaim tahan air, cek juga spesifikasi teknis lain yang menjelaskan kemampuan produk tersebut terhadap air, mulai dari nilai tekanan hidrostatik atau hydrostatic head hingga sertifikasi IP (Ingress Protection).Pada perlengkapan outdoor seperti jaket atau tenda, perhatikan nilai hydrostatic head yang menjadi indikator ketahanan material/kain terhadap tekanan air. Semakin tinggi angkanya, umumnya semakin baik kemampuan produk tersebut dalam menahan air.
Sementara untuk perangkat elektronik seperti ponsel, smartwatch, hingga sepeda listrik, rating IP bisa dijadikan acuan. Rating ini ditulis dengan format IPXY, angka pertama (X) menunjukkan perlindungan dari debu, sedangkan angka kedua (Y) menunjukkan perlindungan dari air.
Sebagai contoh, IP68 berarti perangkat memiliki perlindungan debu tingkat tertinggi (angka 6) sehingga kedap debu, serta perlindungan air tingkat 8 sehingga perangkat bisa bertahan saat terendam dalam air pada kedalaman dan durasi tertentu.
Demikian penjelasan tentang perbedaan waterproof dan water resistant. Kedua istilah ini tidak bisa digunakan bergantian dan ditukar-tukar karena keduanya memiliki tingkat perlindungan terhadap air yang berbeda.
Dengan memahami arti setiap label tahan air yang disematkan pada suatu produk, konsumen dapat memilih barang yang paling sesuai dengan kebutuhannya, baik untuk penggunaan sehari-hari maupun aktivitas tertentu, sekaligus menghindari ekspektasi yang keliru terhadap kemampuan produk dalam menahan air.
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id

































