Menuju konten utama

Wafatnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Sang Pemimpin Para Wali

Salah satu legasi Syekh Abdul Qadir al-Jilani adalah tarekat sufi Qadiriyyah. Ia mendapat berbagai julukan, termasuk Sultan Auliya (Raja Para Wali).

Wafatnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Sang Pemimpin Para Wali
Ilustrasi Ulama. foto/istokcphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dikenal sebagai Sang Pemimpin Para Wali. Lewat berbagai macam keilmuan, Syekh Abdul Qadir mengarang kitab Futuh al-Ghaib hingga mengajarkan Tarekat Qadiriyyah. Sang Pemimpin Para Wali itu wafat pada bulan Rabiulakhir dengan versi tanggal yang berbeda-beda.

Syekh Abdul Qadir menyandang berbagai macam julukan dan gelar kehormatan. Misalnya "Muhyiddin" (Sang Penghidup Agama), "Ghaus-e-Azam" (Penolong Agung), Sultan Auliya (Raja Para Wali), dan "al-Qutb al-A'zam" (Poros Spiritual).

Pemikiran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan spiritualitas Islam hingga kini. Ia hadir di tengah era transisi ketika kekuatan politik Kekhalifahan Abbasiyah sedang merosot.

Syekh Abdul Qadir memainkan peran penting selama periode abad ke-11 dan 12, sebagai upaya menyelaraskan tasawuf mistis dengan tuntutan syariat Islam yang semakin populer. Ia juga menciptakan sebuah pola praktik spiritual yang dapat dijangkau oleh kalangan cendekiawan maupun masyarakat umum.

Ilustrasi Islam

Ilustrasi Islam. foto/Istockphoto

Mengenal Sosok Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Nama lengkapnya Abdul Qadir ibn Abi Shalih Abdullah Janki Dusat Al-Jailani. Ia lahir di wilayah al-Jil, yang juga dikenal Gilan, Kailan, atau Jilan. Lokasinya berada di Iran utara tahun 470 H (1077-1078 M).

Nama desa itu kemudian dinisbatkan kepada nama akhirnya: al-Jailani ataupun al-Jilani. Letak desa ini berada di kota terpencil, Tabaristan, kini masuk wilayah Iran. Abdul Qadir lahir pada malam istimewa dalam tradisi Islam, yaitu Lailatul Qadr. Ada pula literatur yang menyebutkan ia lahir pada hari Senin, saat terbitnya fajar pada tanggal 1 Ramadhan 470 H atau 1077 M.

Penetapan tahun lahir didasarkan pada penuturan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani kepada putranya. Syekh Abdul Qadir menceritakan bahwa usianya delapan belas tahun saat berangkat ke Baghdad, tepat pada tahun wafatnya ulama terkemuka al-Tamim, yaitu tahun 488 H.

Melansir laman shaikhabdalqadir.org, Abdul Qadir lahir dari seorang alim ulama bernama Abu Salih Musa, yang dijuluki "Jangi Dost" atau sosok yang mencintai Tuhan. Berbagai literatur menyebutkan ayahnya wafat beberapa waktu setelah lahirnya Abdul Qadir Al-Jailani. Ibunya yang bernama Ummul-Khayr Fatima lantas membesarkan sang putra seorang diri.

Ilustrasi Islam

Ilustrasi Islam. foto/Istockphoto

Secara silsilah, nasab Syekh Abdul Qadir Al-Jailani bersambung ke Nabi Muhammad melalui kedua orang tua. Berdasarkan penelitian berjudul Pemikiran Kalam Syekh Abdul Qadir Al-Jailani karya Mahbub Junaidi, hal ini menjadikannya sebagai sosok yang memiliki garis keturunan Hasani (keturunan Hasan ibn Ali) sekaligus Hussaini (keturunan Husayn ibn Ali).

Silsilah dari pihak ayah dipaparkan sebagai berikut: Abdul Qadir putra Abu Salih Musa putra Abi Abdullah putra Yahya Zahid putra Muhammad putra Dawud putra Musa Sani putra Abdullah Sani putra Musa al-Jaun putra Abdullah al-Mahaz putra Hasan Musanna putra Hasan ibn Ali.

Sementara, silsilah dari pihak ibu disebutkan sebagai berikut: Abdul Qadir bin Um-ul-Khayr Fatima binti Abdullah as-Soma’i Muhammad bin Abu Mahmood Muhammad Tahir bin Abdul Ata Abdullah bin Abu Kamaluddin Isa bin Muhammad al-Taqi bin Ali al-Ridha bin Musa al-Kadhim bin Jaffar al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zayn al-Abidin bin Husayn ibn Ali.

Saat masih kecil, Abdul Qadir belajar tentang Islam di kampung halaman. Khasanah ilmu yang dipelajari adalah Al-Qur'an, ilmu-ilmu dasar Islam, hingga sastra Persia. Namun, tidak banyak informasi yang menerangkan periode tersebut.

Di usia 18 tahun, Abdul Qadir Al-Jailani berangkat dari kampung halaman menuju Baghdad, yang kala itu menjadi pusat keilmuan Islam. Menurut penuturannya, ia memutuskan berangkat ke Baghdad setelah mendapat isyarah atau petunjuk menuju jalan tersebut.

Sebelum berangkat, ia menghampiri ibunya untuk memohon izin. Melihat keinginan untuk menimba ilmu menuju Baghdad sangat tinggi, Um-ul-Khayr Fatima membekali Abdul Qadir empat puluh keping emas.

Agar emas tersebut aman selama di perjalanan, ibunya menjahitkan kepingan emas di bagian ketiak jaket. Sang ibu juga memberi pesan kepada Abdul Qadir agar berjanji untuk selalu berkata benar dan bersikap jujur dengan apa pun yang terjadi.

Ilustrasi Islam

Ilustrasi Islam. foto/Istockphoto

Setelah mendapat izin, Abdul Qadir bergabung dengan sebuah kafilah kecil menuju Baghdad. Namun, setibanya di kota Hamadan, ia justru dicegat oleh sekelompok perampok yang terdiri dari enam puluh penunggang kuda.

Perampok merampas harta benda. Pada gilirannya, Abdul Qadir dihampiri oleh perompok tersebut. Dengan jujur, ia menjawab memiliki empat puluh keping emas. Namun, perampok itu tak percaya dan malah menertawakan.

Komplotan perampok ini menceritakan kejadian tersebut kepada pimpinan dan memanggil Abdul Qadir ke tempat yang dipakai untuk membagi-bagikan hasil rampasan.

Setelah menemukan puluhan keping emas, perampok itu bertanya motif Abdul Qadir memberitahu benda berharga yang dimiliki. Dengan tegas, ia menjawab telah berjanji kepada ibunya untuk berkata jujur dalam keadaan apapun.

Mendengar jawaban itu, para perampok justru menyadari telah melakukan hal yang keliru. Mereka menjabat tangan Abdul Qadir, lalu bertobat, dan mengubah jalan hidup.

Setibanya di Baghdad, Abdul Qadir mulai belajar berbagai cabang keimuan dengan ulama-ulama terkemuka. Di bidang studi hukum, ia berguru dengan Ibn Aqil dan Abu Saeed Mubarak Makhzoomi, sebagaimana dimuat dalam laman ghayb.com.

Di bidang hadis, Abdul Qadir berada di bawah bimbingan Abu Muhammad Ja’far al-Sarraj. Abu Bakr ibn Muzaffar dan Abu Ghaalib al-Baaqillaani juga turut berkontribusi dalam studi hadisnya. Selanjutnya, Abdul Qadir belajar ilmu tafsir Al-Qur'an kepada Abu Muhammad Ja’far.

Ilustrasi kitab hadits

Ilustrasi Kitab Hadits. (FOTO/iStockphoto)

Selain ilmu agama, Abdul Qadir juga belajar bidang tasawuf yang dibimbing langsung oleh Abu’l-Khair Hammad ibn Muslim al-Dabbas. Kelak, Abu’l-Khair memperkenalkan praktik-praktik kontemplatif dan penyempurnaan akhlak yang menjadi inti jalan tasawuf.

Lalu menerima “Khirka” (jubah Sufi) dari Syekh Qazi Abu Sa’ad Mubarak al-Jilani, yang melambangkan inisiasi formal ke dalam tradisi Sufi. Setelah menyelesaikan pendidikan formal, Abdul Qadir memilih untuk uzlah atau mengasingkan diri secara spiritual dan melakukan pengembaraan di padang pasir Irak selama kurang lebih dua puluh lima tahun. Di tempat itulah, ia melakukan latihan spiritual, perenungan, dan praktik hidup yang sangat bersahaja.

Berbagai riwayat mengisahkan Abdul Qadir hanya mengonsumsi yang benar-benar diperlukan untuk bertahan hidup. Selama setahun, konon ia hanya memakan rerumputan dan akar-akaran yang tanpa minum air setetes pun.

Di tahun berikutnya, Abdul Qadir hanya meminum air, namun tidak menyentuh makanan sedikit pun. Selama masa uzlah, ia tinggal di reruntuhan istana raja-raja Persia kuno di Karkh, tanpa alas kaki. Dirinya melintasi duri-duri padang pasir tanpa merasakan sakit sedikit pun.

Setiap kali melihat tebing, ia mendaki. Hal ini dilakukan dengan tujuan tidak memberi waktu bagi ego dan nafsu untuk memperoleh kenyamanan. Masa pengasingan dan disiplin spiritual yang panjang memainkan peran krusial dalam perkembangannya, mengubah dari seorang cendekiawan muda menjadi guru yang telah mencapai kematangan spiritual dan siap membimbing orang lain.

Kesulitan yang ia alami selama masa ini, kelak menjadi landasan bagi ajaran-ajarannya mengenai kesabaran, kepasrahan kepada Tuhan, dan sikap melepaskan diri dari kenyamanan duniawi.

Setelah melakukan pengasingan, Abdul Qadir kembali ke Baghdad pada tahun 521 H (1127 M). Usianya kala itu sekitar lima puluh tahun. Ia memulai dengan mengajar di sekolah milik mantan gurunya, Abu Saeed Mubarak al-Makhzoomi.

Metode pengajarannya memadukan keilmuan Islam tradisional dan pengembangan spiritual. Di pagi hari, ia mengajarkan Hadis dan Tafsir. Sore hari, mengajar tentang hati dan keutamaan Al-Qur'an, yang menjadi dasar praktik tasawuf.

Pada tahun 1134 M, sekolah milik Mubarak al-Mukharrimi diperluas secara signifikan melalui sumbangan masyarakat. Abdul Qadir ditunjuk sebagai pimpinan. Sekolah ini diberi nama Madrasah al-Qadiriyya, yang berfungsi baik sebagai pusat pendidikan maupun cikal bakal berkembangnya tarekat Sufi.

Ilustrasi Islam

Ilustrasi Islam. foto/Istockphoto

Detik-detik Terakhir Wafatnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Pada suatu hari, putra Syekh Abdul Qadir Al-Jailani bernama ‘Abdul-‘Aziz melihat sang ayah menahan rasa sakit dengan terus bergerak gelisah.

"Janganlah mengkhawatirkanku. Aku sedang dibolak-balik dalam pengetahuan Allah," ujar Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Putra lain bernama ‘Abdul-Jabbar lalu bertanya di bagian mana Abdul Qadir merasa sakit. Ia menjawab, "Seluruh tubuhku terasa sakit kecuali hatiku. Tidak ada rasa sakit di dalamnya, karena ia senantiasa bersama Allah," jawab Abdul Qadir.

‘Abdul-Wahhab, putra lainnya, berkata kepadanya, "Berikanlah aku nasihat terakhir untuk aku amalkan setelah engkau meninggalkan dunia ini."

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berkata, "Bertakwalah kepada Allah dan jangan kepada selain-Nya. Berharaplah kepada Allah dan serahkan segala kebutuhanmu kepada-Nya; Jangan berharap atau menginginkan apa pun dari siapa pun selain Dia. Bertawakkallah kepada Allah dan jangan kepada selain-Nya. Bersatulah dengan-Nya, bersatulah dengan-Nya, bersatulah dengan-Nya,".

Ilustrasi Duka Cita

Ilustrasi Duka Cita. foto/isotckphoto

Mengutip artikel berjudul "Keseharian dan Hari-hari Akhir Syekh Abdul Qadir Al-Jailani" karya Alhafiz Kurniawan via NU Online, sesaat sebelum wafat, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memandangi sekelilingnya. Ia meminta kepada semua orang di tempat itu untuk memberi jalan dan bersikap santun kepada yang hadir, namun tak dilihat oleh banyak orang.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengangkat tangan dan mengulang-ulang kalimat ini:

Ista‘antu bi lā ilāhi illallāh subhānahū wa ta‘ālā al-hayyul ladzī lā yakhsyal fawt, subhāna man ta‘azzaza bil qudrah wa qahara ‘ibādahū bil maut, lā ilāha illallāhu Muhammadun rasūlullāh.”

Artinya, “Aku minta tolong kepada yang tiada tuhan selain Allah SWT, Zat hidup yang tidak takut pada kehilangan; maha suci Zat yang perkasa dengan kuasa-Nya, dan menundukkan hamba-Nya dengan kematian. Tiada tuhan selain Allah. Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.”

Lalu ia berseru dengan mengucap "Allah, Allah, Allah!" hingga jiwanya meninggalkan jasadnya.

Salah satu putranya, Abdul Wahhab, menjadi imam shalat jenazah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, yang diikuti oleh 49 anak dari empat istri almarhum. Berbagai kalangan masyarakat turut mengikuti shalat jenazah, mulai dari santri, pengikut, dan para sahabatnya.

Dalam jurnal berjudul "Menyingkap Rahasia Makna Salawat: Interpretasi dalam AlQur’an Studi terhadap Kitab Al-Jailani" yang diterbitkan Journal of Qur’an and Hadith Studies, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani wafat pada usia 91 tahun di daerah Bab Al-Ajaz, Baghdad, tepatnya pada tanggal 11 Rabiul Akhir tahun 561 H atau sekitar 1166 M.

Sebuah sumber menyebutkan tanggal yang sama. Menurut jurnal "Menanamkan Nilai-nilai KeIslaman Melalui Manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani di Desa Marga Sakti", tanggal wafat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani adalah 11 Rabiul Akhir 561 H, hari Sabtu setelah Maghrib.

Sementara versi lain menyebutkan tanggal yang berbeda. Dituliskan melalui jurnal berjudul "Historiografi Manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani dan Perkembangannya di Indonesia" karya Budi Sujati, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani wafat pada malam Sabtu, 10 Rabiul Akhir 561 H atau 13 Februari 1166 M.

Di lain sisi, mengutip artikel berjudul "Detik-detik Wafatnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani" yang ditulis Mahbib Khoiron via laman NU Online, Syekh Abdul Qadir al-Jailani wafat hari Sabtu setelah Maghrib, tanggal 9 Rabiul Akhir 561 H atau 15 Januari 1166 M. Usianya 89 tahun.

Legasi Sang Pemimpin Para Wali

Pemikiran Syekh Abdul Qadir al-Jilani secara formal berafiliasi dengan mazhab hukum Islam Hanbali. Hukum Islam Hambali dicirikan dengan pendekatan tekstual terhadap naskah-naskah keagamaan dan penekanan pada kepatuhan terhadap tradisi kenabian.

Namun, di waktu yang bersamaan, Syekh Abdul Qadir juga kerap mengeluarkan fatwa Syafi'i dan Hanbali secara bersamaan. Mengutip sumber ghayb.com, ia juga mengintegrasikan aspek etika dan dimensi spiritual dalam pemikiran tasawuf.

Inklusifitas ini menuai pujian dari para ulama generasi berikutnya. Dengan menggunakan paradigma tersebut, Syekh Abdul Qadir al-Jilani memandang tasawuf bukan sebagai doktrin esoteris yang terpisah dari arus utama Islam. Melainkan sebagai jalan melawan kehendak diri sendiri demi menaklukkan egoisme dan kecintaan duniawi, serta untuk berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah

Meskipun mengakui adanya sifat hierarkis dalam pencapaian spiritual, ia menekankan bahwa otoritas sejati bersumber dari penunjukan ilahi, bukan pengakuan manusia. Konsepnya mengenai "Ghawth" (Penolong Spiritual) dan "Qutb" (Poros Spiritual) merumuskan visi kosmologis. Individu-individu tertentu berperan sebagai saluran rahmat dan petunjuk ilahi bagi umat manusia.

Ilustrasi kitab hadits

Ilustrasi Kitab. (FOTO/iStockphoto)

Selama hidup, Syekh Abdul Qadir al-Jilani juga menulis sejumlah karya-karya penting. Salah satu karyanya berjudul Futuh al-Ghaib yang memuat 78 ceramah. Isinya membahas berbagai aspek perkembangan spiritual dan perilaku etis bagi para pencari spiritual.

Karya berikutnya adalah Ghunyat ut-Talibeen (Bekal yang Cukup bagi Para Pencari). Ghunyat ut-Talibeen mencakup berbagai aspek keyakinan dan praktik Islam, serta membahas baik ketentuan hukum maupun dimensi spiritual.

Lalu kitab Sirr al-Asrar (Rahasia dari Segala Rahasia) yang mengkaji tentang dimensi esoteris praktik Islam, dengan fokus pada makna batiniah dari berbagai ibadah ritual, termasuk salat, puasa, zakat, dan haji. Berikutnya kitab Jila’ al-Khatir (Penyucian Pikiran) yang berisi uraian berbagai metode penyucian jiwa.

Secara umum, beberapa ajaran spiritual dan etika Syekh Abdul Qadir al-Jilani merujuk pada berbagai aspek. Pertama, menjunjung tinggi kejujuran sebagai kebajikan mendasar. Kedua, berserah diri kepada Allah atau tawakkal dengan menyeimbangkan pada upaya dan inisiatif yang tepat.

Ketiga, Syekh bdul Qadir al-Jilani sangat disiplin secara spiritual yang mencakup ibadah malam, puasa, dan pengendalian hawa nafsu. Berikutnya, menekankan pentingnya keseimbangan spiritualitas agar tidak terjebak dalam ekstremisme ataupun mengabaikan tanggung jawab duniawi. Kemajuan spiritual ini juga harus tercermin dalam perbaikan karakter dan cara memperlakukan orang lain.

Legasi penting Syekh Abdul Qadir al-Jilani lainnya adalah terkait tarekat sufi Qadiriyyah, yang dinamai sesuai namanya dan menjadi warisan kelembagaan yang paling bertahan lama.

Menurut penelitian berjudul Historiografi Manaqib Syeikh Abdul Qadir al-Jilani dan Perkembangannya di Indonesia karya Budi Sujati yang dimuat di Jurnal Sinau (2021), masa awal perkembangan tarekat Qadiriyyah sebagian besar didukung oleh putra-putra dan murid-murid al-Jilani. Tarekat Qadiriyyah berhasil bertahan melewati penaklukan Baghdad oleh bangsa Mongol pada tahun 1258.

Tarekat Qadiriyyah juga menjadi salah satu tarekat Sufi yang paling luas penyebarannya, menjangkau wilayah Irak hingga India, Afrika, dan berbagai belahan dunia lainnya. Biografi (manaqib) tentang Syekh Abdul Qadir al-Jilani sering dibacakan di setiap majelis, yang hingga kini dikenal di berbagai kalangan masyarakat dengan istilah "manaqiban".

SALAT ID NAQSABANDIYAH

Ilustrasi jamaah tarekat. antara foto/iggoy el fitra/foc/16.

Baca juga artikel terkait PROFIL atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo