tirto.id - Satu abad setelah ia berpulang, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Lathif atau—kalangan nahdiyin kerap memanggilnya—Mbah Kholil Bangkalan.
Bagi jutaan santri, namanya kerap disebut dalam untaian tawasul, dihormati sebagai Syaikhul Masyayikh atau gurunya para Kiai.
Namun, siapakah sejatinya sosok ulama dari Bangkalan, Madura, tersebut? Bagaimana ia membentuk lanskap pesantren dan membidani lahirnya Nahdlatul Ulama?
Menjalin Jaringan di Jawa dan Makkah
Kisah ini dimulai di Kampung Senenan, Kemayoran, Bangkalan, Madura. Muhammad Kholil kecil tumbuh di keluarga religius sederhana di bawah asuhan ayahnya, K.H. Abdul Lathif, seorang kiai kampung. Sejak belia, sang ayah menanamkan kecintaan mendalam terhadap ilmu agama.
Seturut majalah Risalah edisi 115, Februari 2021, dari asal-usul ayahnya, Mbah Kholil memiliki pertalian darah dengan Sayyid Sulaiman Mojoagung, cucu dari Sunan Gunung Jati. Jika diruntut ke atasnya lagi, ia merupakan keturunan Basyaiban (klan besar Ba’alawi), yang masih dalam lingkungan keluarga Nabi Muhammad.
Bakat intelektualnya segera bersinar. Di usia relatif muda, Kholil kecil tak hanya mampu menghafal 30 juz Al-Qur'an dan membacanya dalam dalam qira'ah sab'ah (tujuh cara membaca Al-Qur’an), tetapi juga menghafal bait nadzam Alfiyah Ibnu Malik (tata bahasa Arab). Dari ayahnya pula ia mempelajari fondasi keilmuan Islam, seperti fikih, nahwu, dan sharaf.
Mengenai kelahirannya, terdapat beberapa versi. Sebagian sumber menyebut ia lahir pada 11 Jumadil Akhir 1235 H atau 1820 M. Namun, data primer yang paling kuat justru datang dari tangan Syaikhona Kholil sendiri.
Dalam manuskrip kitab Alfiyah miliknya yang ada di Mlonggo, Jepara, seperti dikutip oleh Rizem Aizid dalam Selayang Pandang Syaikhona Kholil Bangkalan (2024:12), ditemukan dua catatan yang menyebut tahun kelahirannya, yakni 1252 H, bertepatan dengan sekitar tahun 1835 M. Manuskrip lain mengenai kelahirannya datang dari ulama ahli hadis dan ilmu falak, Syekh Yasin Padang, yang menulis, “Tempat lahir dan tumbuhnya, [beliau] dilahirkan malam Kamis 9 Safar tahun 1252 di Kota Bangkalan Pulau Madura.”
Semangat belajar mendorong Kholil muda meninggalkan tanah kelahirannya. Dengan restu sang ayah, ia berkelana menjelajahi pusat keilmuan di wilayah Jawa Timur di luar Madura. Jejak langkahnya tercatat di berbagai pesantren ternama.
Ia menimba ilmu dari Kiai Muhammad Nur di Pesantren Langitan, Tuban; berguru pada Kiai Asyik di Pesantren Cangaan, Bangil; dan belajar kepada Kiai Nur Hasan di Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Ia juga pernah singgah di Pesantren Keboncandi, Pasuruan, dan Pesantren Salafiyah Syafi'iyah di Genteng, Banyuwangi, tempat ia berguru pada Kiai Abdul Bashar.
Perjalanan itulah yang membentuk jaringan dengan simpul-simpul pesantren utama. Namun, dahaga intelektualnya belum terpuaskan. Pada usia 24 tahun, sekitar 1859 M, ia membulatkan tekad menuju Makkah. Keinginannya begitu besar hingga ia tekun menabung, bahkan bekerja sebagai buruh, demi membiayai impiannya.
Di tanah suci, Mbah Kholil berguru kepada ulama-ulama besar. Ia menyerap ilmu dari Syaikh Nawawi Al-Bantani, guru para ulama dari Banten, serta Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi, dan Syaikh Abdul Hamid Asy-Syarwani.
“Syekh Nawawi itu guru utamanya Syaikhona Kholil. Kenapa saya katakan guru utama, ini seperti umumnya imam empat, itu semua mempunyai guru utama, gurunya banyak, tapi guru utamanya ada,” ucap Wakil Ketua Umum PBNU, K.H. Zulfa Mustofa, dikutip dari majalah Aula edisi Mei 2025.
Mbah Kholil tidak hanya membawa pulang ilmu, tetapi juga otoritas sanad keilmuan yang kelak ia sambungkan dengan jaringan pesantren yang telah ia rintis di Jawa.
Departemen Pendidikan dan Pariwisata dalam buku Ziara Masjid dan Makam (2006:168) menuliskan kebiasaan Mbah Kholil selalu mencatat mata pelajaran dari guru-gurunya dengan menuliskannya pada pakaian putih. Setelah paham dan hafal, pakaian itu baru dicucinya.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup, ia menulis berbagai risalah dan kitab Alfiyah, lalu menjualnya kepada santri lain. Selain itu, ia kerap memenuhi permintaan orang untuk menulis karya kaligrafi Arab.
Sekembalinya dari Makkah, Mbah Kholil mendirikan pesantren di tanah Madura. Warsa 1861, ia mendirikan pesantren di Kademangan Barat, Bangkalan, serta Pesantren Al-Muntaha yang didirikannya pada 1873 di Jengkebuan, Bangkalan.
Meskipun begitu, warisan terbesarnya bukanlah institusi fisik yang ia bangun. Pesantrennya di Bangkalan menjelma menjadi kawah candradimuka, melahirkan generasi dakwah terkemuka. Ia menjadi Syaikhona, yang berarti “guru kita” bagi murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama-ulama di kemudian hari.
Abdillah Afabih, redaktur majalah Tebuireng, dalam kolomnya terbitan Maret-April 2025, menilai hubungan erat antara satu pesantren dan pesantren lainnya di Nusantara saat ini merupakan bukti nyata bahwa sanad keilmuan Islam di Indonesia berakar kuat dan berpusat pada Syaikhona Kholil. Dialah poros jaringan intelektual Islam.
Ia mengajar, mewariskan pendidikan, nilai-nilai, dan prinsip keilmuan yang menjadi rujukan. Murid-muridnya membawa warisan itu, mendirikan pesantren-pesantren baru, dan secara efektif menciptakan sebuah ekosistem keilmuan Ahlussunnah wal Jama'ah yang koheren di seluruh penjuru negeri.
Menariknya, Syaikhona Kholil tidak hanya fokus pada pengajaran ilmu agama. Ia juga memberdayakan umat melalui aktivitas perdagangan. Abdul Rozaki, dalam Islam, Oligarki Politik, dan Perlawanan Sosial (2021:48-50), mencatat bagaimana Syaikhona Kholil bepergian dari satu desa ke desa lain dan membaur dengan masyarakat, termasuk berdagang lewat laut.
“Bersama perahu kapal layar Sarimuna, Syaikhona Kholil pernah sekali ikut berlayar ke Pulau Kalimantan dan melakukan kegiatan perdagangan ekonomi, selain penyebaran keagamaan yang selama ini menjadi keahliannya,” tutur Abdul Rozaki.
Di lokasi yang dikunjungi, Syaikhona Kholil berdagang dan berdakwah. Ia hanya sekali melakukan perjalanan dengan Sarimuna. Sisanya diserahkan ke warga dan santri lokal untuk melanjutkan. Jejak Sarimuna kini bisa dilihat di desa Telaga Biru, Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura.
Jaringan para Murid
Santri pertama dari Jawa yang tercatat berguru padanya adalah K.H. Hasyim Asy'ari dari Jombang. Kelak, ia dikenal sebagai pendiri Pesantren Tebuireng dan pengasas Nahdlatul Ulama. Ia tidak sendiri. Dua tokoh pendiri NU lainnya juga merupakan murid Syaikhona Kholil: K.H. Abdul Wahab Chasbullah, pendiri Pesantren Tambak Beras, dan K.H. Bisri Syansuri, pendiri Pesantren Denanyar.
Jaringan keilmuan itu menyebar laksana akar bahar. Di Genggong, Probolinggo, muridnya K.H. Muhamad Hasan Sepuh mendirikan Pesantren Zainul Hasan. Di Kediri, K.H. Manaf Abdul Karim mendirikan Pesantren Lirboyo.
Di pesisir utara, ada K.H. Ma'shum yang mendirikan Pesantren Al-Hidayat Lasem dan K.H. Bisri Mustofa yang mendirikan Pesantren Roudlotut Tholibin di Rembang. Di Yogyakarta, K.H. Munawir mendirikan Pesantren Al-Munawwir Krapyak. Di tapal kuda, K.H. As'ad Syamsul Arifin mengasuh Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Situbondo, yang kini menjadi salah satu pesantren terbesar di Indonesia.
Nama-nama kiai lain, seperti K.H. Nawawi dari Sidogiri, K.H. Abdullah Mubarak dari Suryalaya, dan K.H. Achmad Shiddiq dari Jember, turut memperluas pengaruh Syaikhona Kholil. Ia berhasil membangun tulang punggung intelektual yang kelak menopang sebuah jam'iyah raksasa.
Pengaruh Syaikhona Kholil melampaui kitab dan pesantren. Ia adalah seorang pejuang, dengan caranya sendiri. Di era kolonial Belanda, ia memilih berjuang di balik layar lewat perlawanan kultural dan spiritual.
Pertama, berjuang melalui pendidikan. Ia secara sadar mempersiapkan murid-muridnya, seperti K.H. Hasyim Asy'ari, untuk menjadi pemimpin umat dan bangsa yang berilmu, tangguh, dan berintegritas.
Kedua, memberikan dukungan logistik dan spiritual. Ia tak segan memberi suwuk (mengisi kekuatan batin) kepada para pejuang. Pesantrennya pun ia relakan menjadi tempat persembunyian.
Perjuangan itu memantik langkah ekstrem dari Belanda yang menangkap Syaikhona Kholil, berharap para pejuang menyerah karenanya. Namun, penangkapan itu justru berbalik membuat Belanda kewalahan. Beberapa kejadian aneh terjadi—diyakini oleh para santri sebagai karamah dari Syaikhona Kholil—sehingga akhirnya sang kiai dibebaskan.
Puncak dari perannya di balik layar adalah restunya untuk Nahdlatul Ulama. Peran Syaikhona Kholil untuk berdirinya NU sangat besar dan tak bisa diragukan. Dialah yang membuat K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. Wahab Chasbullah percaya diri, dengan dukungan ulama lain, untuk segera mendeklarasikan NU.
Intelektual di Balik Syaikhona
Banyak yang mengenang Mbah Kholil karena karamahnya. Itu karena ia berdiri di atas fondasi keilmuan yang kokoh. Jejak intelektualnya terekam jelas dalam berbagai karya tulis. Menurut Muhaimin dalam Biografi Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan: Guru Para Ulama dan Pahlawan Nasional (2021), setidaknya tercatat 16 karya yang telah ditelusuri oleh Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Kholil Bangkalan (lembaga binaan keturunan Syaikhona Kholil), baik yang sudah terbit maupun yang masih berupa manuskrip.
Dua karyanya yang paling awal dikenal adalah Matnu-sy-Syarif dan As-Silah fi Bayani-n-Nikah. Matnu-sy-Syarif, yang berisi panduan fikih dasar, selesai ditulis pada 17 Rajab 1299 H (4 Juni 1882). Salah satu muridnya, KH. Ahmad Qusyairi, memberi makna gandul berbahasa Jawa pada 1934. Sementara itu, As-Silah fi Bayani-n-Nikah, yang membahas seluk-beluk fikih pernikahan, tidak tercatat waktu penulisannya.
Warsa 2020, Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Kholil menerbitkan karya-karya hasil tahqiq (verifikasi manuskrip). Di antaranya adalah Kitab al-Bina' Dhimna Tadrib wa Mumarasah dan Taqrirat Matn Izzi. Keduanya membahas ilmu sharaf (morfologi Arab) yang ditulis pada 3 Syawal 1309 H (1892 M). Ada pula Taqrirat Nuzhatu-t-Thullab yang membahas i'rab (gramatika bahasa Arab), ditulis pada 1315 H (1897 M).
Karya-karya tersebut membuktikan, Syaikhona Kholil adalah ilmuwan sejati yang menguasai ilmu alat, fondasi dari segala keilmuan Islam dan gramatika, pilar utama memahami teks-teks suci. Ia juga menulis panduan fikih praktis, seperti Isti'dadu-l-Maut (panduan merawat jenazah) dan Ratib Syaikhona Kholil (kumpulan wirid).
April 2025 lalu, bertepatan satu abad haul akbar Syaikhona Kholil, Lajnah Turots Ilmi menerbitkan Kitab Ta'lim As-Shibyan, literatur pemahaman akidah untuk anak-anak.
“Kitab ta'lim as-shibyan diperkirakan dikarang Syaikhona Kholil saat berusia 68 tahun. Itu mengindikasikan bahwa beliau memiliki kepedulian terhadap anak-anak sebagai generasi penerus masa depan,” ujar Ketua Lajnah Turots Ilmi, Utsman Hasan Al Akhyari, dikutip dari NU Online Jatim.
Lajnah Turots Ilmi kini mencatat ada 35 karya Syaikhona Kholil, sebagian besar masih banyak manuskripnya yang belum tercetak, seperti Taqrorat Nadzam al-Jazariyyah, al-Awamil, Jauharah Tauhid, Bad’ul-Awamil, dan Qashidah Hubbi li Sayyidina Muhammad.
Syaikhona Kholil wafat pada 29 Ramadhan 1343 H, atau 23 April 1925. Tepat setahun sebelum NU, organisasi yang ia dukung penuh, lahir pada 1926. Warisannya terukir abadi pada sanad keilmuan yang tak terputus, yang terus mengalir deras di bilik-bilik pesantren Nusantara.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id
































