Al-Ilmu Nuurun

Nasr Hamid Abu Zayd, Tafsir Qur'an, dan Islam Senyum ala Indonesia

Ilustrasi Al-Ilmu Nuurun Nasr Hamid Abu Zayd. tirto.id/Quita
Oleh: Zacky Khairul Umam - 13 Mei 2020
Dibaca Normal 4 menit
Nasr Hamid Abu Zayd menggunakan hermeneutika untuk menafsirkan Al-Qur'an. Terkesan dengan dinamika Islam di Indonesia.
Manusia bisa berlabuh ke banyak tempat, tapi selalu ada satu wilayah yang ia simpan khusus sebagai souvenir, kenangan melalui memori. Bagi Nasr Hamid Abu Zayd, sarjana muslim terkemuka dari Mesir, Indonesia menempati bilik khusus di dalam ingatannya. Lima bulan sebelum meninggal dunia di Kairo karena terinfeksi virus aneh di Indonesia, ia menulis buku refleksi Al-Tajdid wa-l-tahrim wa-l-ta’wil (Pembaruan, Pelarangan, dan Penafsiran).

Buku itu merekam kesan mendalam Abu Zayd terhadap negeri kepulauan ini. Baginya, Indonesia dianggap sebagai rumah kedua, tempat ia ingin menghabiskan masa tua. Iklim kebebasan dekade 2000-an menjadi latar belakang yang menarik hatinya. Ini serupa seperti tanggapan Fazlur Rahman soal masa depan Islam Indonesia yang cerah ketika ia berkunjung pada akhir 1980-an. Di mata Abu Zayd, iklim kebebasan jadi syarat mutlak untuk suatu pembaruan. Sementara, tulisnya, “pembaruan itu kebutuhan abadi, proses sosial politik dan kebudayaan; tanpanya hidup menjadi jumud dan kehilangan kilaunya, lalu kebudayaan masuk ke dalam terowongan kepunahan dan kematian.”

Kehangatan dari Pesantren NU

Dalam buku itu ia merekam dua kunjungan berkesan. Kunjungan ketiga tak sempat ia abadikan, setelah diam-diam pulang ke negerinya, lalu meninggal dunia pada 5 Juli 2010. Kunjungan pertama, 26 Agustus hingga 10 September 2004, ia banyak diundang berbagai lembaga progresif di Jakarta dalam kajian sosial dan keagamaan, seperti International Center for Islam and Pluralism (ICIP) dan Jaringan Islam Liberal (JIL). Di lembaga-lemabaga itu ia mengisi berbagai lokakarya, seminar, dan dialog soal pemikirannya, terutama yang tertulis dalam Naqd al-khitab al-dini (Kritik Wacana Agama).

Ia senang bertemu kembali dengan bekas muridnya di Leiden yang sudah menjadi profesor di berbagai perguruan tinggi. Di antara yang ia temui dan merasa senang adalah peneliti lain yang ia kenal di Belanda berkat kerja sama sponsor antara pemerintah Indonesia dan Belanda.

Abu Zayd juga gembira berkunjung juga ke kantor Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Kendati ia salah menulis kelahiran dua ormas besar ini, yakni 1908 dan 1912 berturut-turut, sebelum pembentukan Ikhwanul Muslimin. Dalam kesempatan ini ia bersua dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang ia hormati serta berdialog dengan banyak pemuda dari kedua ormas. Rangkaian kegiatan yang ia ikuti rata-rata ramai dan bersemangat. “Iklim dialognya sarat dengan suasana rasa hormat dan keramahan yang tak terbantahkan,” katanya.

Di dalam pembukaan The Wahid Institute, pada hari yang lain, Gus Dur langsung meminta Abu Zayd untuk memberi sambutan. Di lembaga ini, ia sempat mengisi lokakarya mengenai “Pluralisme dalam Wacana Qurani” di mana ia dengan apresiasi tinggi merumuskan frase al-Islam al-indunisi al-basim (Islam tersenyum Indonesia). Sebutan ini ia ungkapkan karena banyak dari audiens, kaum muda, senyum dan riang ketawa menerima catatan kritisnya atas presentasi mereka. Tampaknya yang ia maksud ialah kultur anak muda NU, tapi mungkin juga Muhammadiyah "garis lucu". Menurutnya, sebutan ini, terlepas siapa yang pertama kali menciptanya, bukan hanya terkenal di dalam tapi juga di luar negeri.

Kesan mendalam dan terpenting terjadi tatkala ia berkunjung selama dua hari ke sebuah pesantren di Situbondo. Ini kesan dan perasaan yang tak tepermanai dan sulit diungkapkan Abu Zayd. Ia tertegun dengan cara santriwan dan santriwati dengan "pakaian yang lusuh miskin" menerimanya. “Saya diterima seolah-olah saya salah satu kiai mereka, sulit sekali menghentikan mereka untuk mencium tangan saya atau membawakan barang saya, lalu ada yang mencari berkah dengan menyentuh pakaian saya,” tulisnya.

Awalnya ia merasa asing, akhirnya ia merasa betah. Ini karena buku utamanya, Mafhum al-nass: Dirasah fi 'ulum al-Qur’an, masuk menjadi kurikulum ilmu Al-Qur’an. Buku ini menjadi kitab yang diajarkan dalam bahasa Arab dengan pemaknaan bahasa Indonesia. Para kiai dan dosen perguruan tinggi di pesantren itu, juga para santri, berbicara dengan bahasa Arab klasik dalam sesi dialog dan membuat Abu Zayd sumringah.

Ia menyebutnya sebagai “pengalaman intim” lantaran dua alasan pokok. Alasan pertama, ketika bukunya masih dicoret dari koleksi perpustakaan universitas di Mesir sejak 1995 dan ia dianggap murtad oleh pengadilan dan harus bercerai dengan istrinya, bukunya tersimpan di pesantren untuk dijadikan bahan ajar. “Pembaca dapat membayangkan perasaan saya bahwa saya melihat salah satu buku saya diajarkan di satu bagian di dunia Islam,” kenangnya.

Alasan kedua, ia menemui pandangan kiai begitu progresif. Kepadanya, ada seorang kiai bilang bahwa poligami tidak disyariatkan secara Islam, tetapi melihatnya sebagai tradisi non-Islam, yakni mengikuti warisan pra-Islam. Dalam rangka mencari keadilan, Islam pada masa itu menggunakan poligami untuk menyelesaikan masalah anak yatim. “Perkataan ini sulit Anda dengar dari seorang syekh di dunia Arab,” lanjutnya penuh keheranan.

Ia mengapresiasi dialog keterbukaan atas pemikirannya yang didiskusikan tak hanya oleh kaum intelektual urban di kota besar, melainkan juga di pesantren. Sejak safari beruntun ini, tak salah jika bukunya semakin banyak diterjemahkan ke bahasa Indonesia sehingga pemikirannya terbaca luas lintas golongan. Tentu, peran aktivis muslim di Jakarta, Yogyakarta, dan khususnya mantan muridnya di Belanda ikut memengaruhi transmisi pemikirannya dalam ruang publik di tanah air, baik di kampus maupun di luar kampus.

Ia dikenal sebagai seorang yang hangat dan mudah bergaul bahkan kepada mereka yang tak sepemikiran. Sahabat saya yang pernah kuliah di Belanda memberitahukan kepada saya soal kesan itu. Dalam banyak pertemuan, seorang profesor dari Malaysia tak suka dengan pandangan liberal Abu Zayd dan berkata yang kurang enak. Namun, tiap kali ia berkata ketus itu, tiba-tiba Abu Zayd menghampiri, menyapa, dan berdialog penuh hangat. Ini seperti kutukan Sisifus. Sang profesor tak bisa berkelit dari "takdir" kehangatan Abu Zayd berkali-kali.

Kehangatan macam itu terbentuk, salah satunya, karena ia berasal dari kalangan miskin dan berjuang sungguh-sungguh untuk mencapai pendidikan tertinggi, bahkan dengan kesarjanaan yang serius. Dari latar belakang ini, ia menentang segala macam ketidakadilan, terutama apa yang ia alami sendiri.

Ancaman Kaum Fundamentalis

Jika kunjungan pertama mewakili semangat pembaruan, kunjungan kedua berbeda. Pada kunjungan November 2007, Abu Zayd seharusnya mengisi acara di Malang dan Riau. Namun kunjungan kali ini mewakili spirit pelarangan.

Beberapa pihak konservatif tak setuju acara akademik di kampus-kampus Islam dihadiri seorang "murtad". Ia kesal lantaran Kementerian Agama menganggap sikap itu secara harfiah dan hanya mengirim SMS dan bukan surat resmi. Ia diminta untuk membatalkan acara untuk menghindari risiko berbahaya. Ia menganggap pesan ini "sangat agresif", lantas mengimbau warga Indonesia untuk memperingati pemerintah agar tak takut pada ancaman fundamentalisme yang merongrong aktivitas dan debat intelektual.



Tentu, pengalamannya terancam di Kairo lalu eksil ke Belanda menjadi pelajaran berharga. Ia dianggap murtad karena pemikirannya soal hermeneutika Al-Qur’an yang ia perdalam sejak kuliah pascasarjana di Universitas Kairo di bawah bimbingan Hassan Hanafi. Ia awalnya mendalami rasionalisme Mu'tazilah dalam penafsiran Al-Qur’an untuk jenjang master dan beralih ke hermeneutika Al-Qur’an menurut Ibnu Arabi untuk disertasi doktoralnya. Ketika ia meneliti di Amerika dan Jepang pada akhir 1980-an, ia mendalami teori komunikasi dan analisis sastra, hermeneutika Hans-Georg Gadamer, serta kajian semantik Al-Qur’an oleh Toshihiko Izutsu.

Ia lalu mengawinkan ilmu Al-Qur’an tradisional dan tren pemikiran Barat dalam membaca kitab suci, terutama yang terbit dalam Mafhum al-nass. Hipotesisnya ialah Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad di jazirah Arab abad ke-7 dan pada saat bersamaan merupakan "produk kebudayaan" Arab. Seperti Muhammad Shahrur, Abu Zayd masih beranggapan kitab suci ini adalah wahyu Tuhan. Tapi para pembencinya sering salah arti.

Bagi Abu Zayd, teks al-Qur’an ialah pesan linguistik melalui bahasa Arab, sehingga audiens yang menerimanya mengerti. Ia meneroka padangan Suni zaman klasik untuk mendukung pernyataannya. Sebab pesan wahyu itu diturunkan melalui kode budaya dan linguistik dalam ruang dan budaya yang spesifik, pembaca zaman modern mesti membongkar ungkapan linguistik dan budayanya agar pesannya sampai.

Karena itu memahami wahyu Al-Qur’an dalam ruang sejarah yang berbeda memerlukan upaya penafsiran yang berkesinambungan. Hermeneutika dibutuhkan untuk membedakan mana yang bersifat historis dari teks dan mana pesan universal, sehingga bisa diterapkan saat ini. Baginya, pemahaman mutlak itu tak ada. Yang seharusnya ada ialah kemajemukan interpretasi, mengikuti pesan Ibnu Arabi.

Keterbukaan Abu Zayd terhadap metode ilmiah modern terinspirasi dari Ibnu Rusyd yang terbuka untuk merengkuh ilmu pengetahuan dari tradisi yang berbeda dan mensintesiskannya dengan agama dan kebudayaan. Ini seperti Abed al-Jabiri. Jika Abed al-Jabiri menggunakan Ibnu Rusyd untuk merevitalisasi nalar Arab, Abu Zayd menggunakannya untuk menelaah kemajemukan wacana yang tetap ada dalam teks Quranik. Hanya dengan kajian kritis-historis lah wacana Al-Qur’an dapat tersingkap dan menjadi tuntunan kontekstual bagi pembaca zaman ini.

Pemikirannya membuat marah banyak pihak dan menyebabkannya diadili. Ini menghambat jenjang keprofesorannya dan pada akhirnya mengancam nyawanya. Sejak 1995 ia berkarier di Belanda. Ia adalah suara tafkir (kebebasan berpikir) untuk menentang segala jenis tahrim (pelarangan) dan takfir (pengafiran).

==========

Redaksi Tirto kembali menampilkan rubrik khusus Ramadan "Al-Ilmu Nuurun". Tema tahun ini adalah para cendekiawan muslim global abad ke-20 dan ke-21. Kami memilih 33 tokoh untuk diulas pemikiran dan kontribusi mereka terhadap peradaban Islam kontemporer. Rubrik ini diampu kontributor Zacky Khairul Umam selama satu bulan penuh.

Zacky Khairul Umam adalah alumnus Program Studi Arab FIB UI dan kandidat doktor sejarah Islam di Freie Universität Berlin. Saat ini sedang menyelesaikan disertasi tentang pemikiran Islam di Madinah abad ke-17. Ia pernah bekerja sebagai peneliti tamu pada École française d'Extrême-Orient (EFEO) Jakarta 2019-2020.

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Zacky Khairul Umam
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Zacky Khairul Umam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight