Al-Ilmu Nuurun

Reformasi Pemikiran Muhammad Shahrur, Martin Luther-nya Dunia Islam

Muhammad Shahrur . tirto.id/Quita
Oleh: Zacky Khairul Umam - 9 Mei 2020
Dibaca Normal 5 menit
Muhammad Shahrur memakai penalaran matematika dalam linguistik sebagai dasar pemaknaan Al-Qur'an. Dianggap Martin Luther dari dunia Islam.
Apa makna bahwa Islam terus relevan dalam ruang dan waktu berbeda? Pemikir Suriah, Muhammad Shahrur, menegaskan revelansi itu berarti seolah-olah kitab suci turun pada generasi saat ini. “Seolah-olah Nabi baru saja wafat dan menyampaikan al-Kitab ini,” lanjutnya.

Al-Qur’an, menurut Shahrur, perlu dibaca seolah-olah baru saja diwahyukan semalam. Al-Qur’an tetap bisa hidup hanya dengan menyaratkan suatu keterbukaan pada perkembangan sejarah dan pergumulan generasi yang berbeda. Di akhir abad ke-20 Shahrur mewacanakan pembacaan Al-Qur’an melalui strukturalisme linguistik untuk memilah mana prinsip yang umum, penggunaan spesifik, dan kaitan yang lebih terbatas. Sehingga makna ayat-ayat kitab suci bisa diserap dengan baik, koheren, dan logis sekaligus tidak mengurangi kesakralannya.

Lihat bagaimana Shahrur menggali makna. Dalam disertasi Sahiron Syamsuddin, Die Koranhermeneutik Muhammad Shahrur (2009), misalnya, ada contoh bagaimana Shahrur menafsirkan kitab suci. Dalam surah al-Nur ayat 3, Allah berfirman, “Lelaki pezina (zani) hanya mengawini perempuan pezina (zaniyah), atau perempuan musyrik (mushrikah); dan perempuan pezina hanya dikawini oleh lelaki pezina atau musyrik (mushrik); maka demikian itu diharamkan kepada kaum beriman.” Menurut Shahrur, kata mushrik dan mushrikah itu dimaknai sebagi orang yang menikah, karena arti harfiahnya berarti ‘ia yang memiliki teman hidup’, bukan pengikut politeisme. Jadi, dua kata ini disandingkan dengan zani dan zaniyah menjadi logis.

Untaian ayat lain dalam surah al-Ghasyiyah (Hari Pembalasan) ayat 17-20, Afala yanzuruna ila-l-ibil kayfa khuliqat dan seterusnya menyejajarkan kata unta, langit, pegunungan, dan bumi dalam proses penciptaan alam. Supaya ayat ini logis dan sampai maknanya, kata ibil dalam ayat itu, menurut Shahrur, sebetulnya bermakna al-shahab al-mumtir yakni ‘awan yang membawa hujan’, bukan ‘unta’. Semua jadi terbaca logis.

Meski Toshihiko Izutsu dan Fazlur Rahman lebih dulu menulis soal analisis linguistik Al-Qur’an, Shahrur tidak mengacu kepada mereka. Inspirasi strukturalisme linguistiknya langsung merujuk pada referensi klasik: Ferdinand de Saussure dan Edward Sapir. Ada persamaan yang menyatukan pendekatan ketiga modernis ini, yakni pembedaan mereka terhadap dua hal: prinsip umum dalam Al-Qur’an dan penerapan khusus dalam ruang historis. Dalam Al-Kitab wa al-Qur'an: Qira'a Mu'asira (Al-Kitab dan al-Qur’an: Pembacaan Kontemporer; diterbitkan pada 1990), dengan jelas Shahrur menawarkan pembacaan baru dengan membedakan mana yang umum dan mana yang khusus, namun tidak menggunakan metode tradisional dalam kajian Al-Qur’an.

Islam yang Universal

Pembedaan itu secara lebih spesifik menjadi jelas jika kita menelaah posisi filosofis Shahrur mengenai “islam” dan “iman”. Menurut Shahrur, “islam” dengan i kecil (tentu dalam bahasa Arab tidak ada huruf kapital) ialah agama yang umum. Sementara agama yang khusus disebut dengan “iman”. Ini mengingatkan kita pada pemikiran Nurcholish Madjid soal islam umum dan Islam khusus. Dalam agama “islam” umum penunjuknya ialah nalar ilmiah yang disebut pula sebagai kebajikan moral yang lazim ada di setiap masa sejarah. Sementara agama khusus (“iman”) hanya ada pada periode waktu tertentu yang ditandai oleh rasul utusan Allah juga penyebar “islam” yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan dan konteks zaman masing-masing.


Sehingga “islam” bersifat abadi, universal, dan menjadi petunjuk bagi perbuatan manusia. Sementara itu “iman” khusus terwakili oleh bentuk budaya, hukum, dan ritual tertentu yang sifatnya tak mutlak, beragam, dan berbeda-beda dalam menerjemahkan yang etis dari “islam”. Menurut penalaran Shahrur, agama etis inilah yang menunjukkan dorongan bagi pencarian spiritual dan intelektual manusia, bukan ritual seperti sembahyang dan puasa. Akhlak atau etika yang hanya menentukan tujuan dari agama, bukan ritual, perenungan mistis, atau aturan berpakaian yang ketat.

Jenis pembacaan macam ini ia terapkan pada berbagai kategori dan istilah yang sudah mapan seperti makna kenabian dan kerasulan. Pembongkaran Shahrur atas berbagai terma yang sudah ajek itu bertujuan membuat abstraksi umum yang diperas dari berbagai simbol yang berserakan dan chaotic. Sifat bahasa yang arbitrer menyebabkan makna jadi tidak tetap, termasuk dalam hal penafsiran sejak abad pertengahan. Di tangan Shahrur, pesan-pesan umum Al-Qur’an itu ditarik lebih dalam sehingga substansinya tetap abadi dan universal, bukan terjebak pada ruang yang sempit. Dalam pengaruh wacana linguistik ini, makna tidak terbentuk secara tetap dan sekali jadi, tapi berubah sesuai perkembangan zaman.

Proses penerbitan Al-Kitab wa al-Qur'an tidak instan. Ia membutuhkan perenungan mendalam sekitar dua puluh tahun, setelah krisis budaya pasca-1967 mengundang banyak intelektual di dunia Arab untuk memperbarui tradisi. Ja’far Dakk al-Bab (m. 1999), pakar linguistik historis dan perbandingan, berperan besar dalam memperkenalkan Shahrur pada tradisi linguistik modern dan linguistik Arab.

Ja'far adalah kawan lama di Moskow ketika Shahrur belajar teknik sipil pada 1960-an semasa kepemimpinan Nikita Khrushchev. Sebagai teman dekat, pengaruh al-Bab membekas pada Shahrur dalam memperkenalkan metode historis-ilmiah dalam studi linguistik. Itu dinyatakan sendiri oleh al-Bab dalam kata pengantarnya atas buku Shahrur. Dari tulisan al-Bab, tampak jelas Shahrur terinspirasi dari tradisi linguistik dan filologi Arab klasik, di antaranya terdapat dua nama besar: Ibn Jinni dan Abd al-Qahir al-Jurjani.

Berbarengan dengan pengaruh al-Bab atas Shahrur, kesadaran berpikir historis sudah ia serap di periode Moskow. Saat itu ia banyak bersentuhan dengan filsafat marxisme dan ateisme ala Uni Soviet yang terlembagakan. Dalam ruang materialistik seperti ini, ia mengaku imannya pernah terguncang dan terus mendialogkan pembelaannya pada keislaman dengan cara yang universal, terutama menyangkut sembahyang dan ritual lainnya. Ini termasuk bagaimana ia memperkenalkan Islam secara generik pada istrinya, seorang Rusia.

Studi lanjut di Dublin hingga mencapai doktor teknik pada 1972 sekaligus mengasah pencarian intelektualnya. Periode ini penting karena mengenalkan Shahrur pada tulisan filsuf-matematikus Alfred North Whitehead dan muridnya, Bertrand Russel. Kuliah Whitehead bertajuk “Science in the Modern World” membuat Shahrur melek pada tradisi filsafat positivistik Jerman: Kant, Fichte, dan Hegel. Sintesis antara filsafat spekulatif Whitehead, idealisme Jerman, dan strukturalisme dari nalar teknik-matematikanya membentuk pola pikir berbeda dibandingkan para pemikir lain.

Selain itu, Russel dan Whitehead mempertajam pola pikir strukturalisme, khususnya konsep Russel soal ‘struktur hubungan’. Konsep ini menganggap suatu objek seharusnya tak dipahami melalui ciri internalnya, melainkan sebagai sebuah sistem hubungan antara unsur-unsur yang tak tampak yang mengikat ciri internal objek itu. Konsep ini terwakili dalam turunan prinsip matematika yang sangat diakrabi Shahrur.


Pemikir Inovatif dan Kreatif

Andreas Christman (2009) menelisik bahwa Shahrur mengawinkan logika filsafat matematika dengan strukturalisme linguistik. Hasilnya, Al-Qur’an dilihat secara semantik sebagai "perangkat komunikatif tertutup". Makna Al-Qur'an, karena itu, mesti ditemukan melalui struktur inheren yang menentukan hubungan antara berbagai unit semantik. Dengan kata lain, pemaknaan kitab suci itu tak bisa ditentukan oleh analisis atas kata atau kalimat tunggal yang terkurung tanpa melihat jaringan yang menentukan struktur.

Dari latar belakang itu, kita akan memahami leksikon strukturalisme dalam pemikirannya yang membuat hubungan dialektis antara berbagai oposisi biner seperti ilahi-manusiawi, mutlak-nisbi, abadi-sementara, tetap-berubah, dan seterusnya. Praktiknya, ia memilah berbagai teks Quranik ke dalam kumpulan ayat mana yang abadi, mutlak, dan valid (disebut dengan al-qur’an dengan huruf kecil) dan juga mana yang sesaat, nisbi, dan sementara (disebut sebagai umm al-kitab).

Dalam bidang hukum Islam, nalar teknik-matematik Shahrur menjadi landasan menyusun teori batas (hudud). Dengan menggunakan analogi dari matematika yang memiliki berbagai cara berbeda untuk menalar dengan keterbatasan masing-masing, ia lalu berpikir tentang batas-batas hukum Tuhan. Hukum warisan, kriminal, perkawinan, bunga utang, dan sejenisnya tidak diturunkan secara pasti, tapi Tuhan menentukan batas-batas tertentu yang digunakan manusia untuk menurunkan aturan dan hukumnya sendiri. Dari penalaran soal batas-batas ini, ia, misalnya, menolak hukum potong tangan bagi pencuri.

Berbagai metafora dan analogi Shahrur yang dinukil dari sains dan teknologi menjadi daya tarik sendiri bagi kaum konservatif dengan latar belakang ilmu ini yang biasanya enggan membaca pemikiran modernis-liberal gaya Shahrur. Barangkali alam pikiran sains ini perlu dibedah mendalam, tak terbatas pada persoalan milk al-yamin sebagai keabsahan hubungan seksual non-pernikahan yang pernah heboh di negeri ini tiga bulan sebelum Shahrur meninggal dunia.


Perlu dicatat bahwa klasifikasi yang disusun Shahrur tidak meniru kesarjanaan tradisional. Tak heran, banyak ulama, termasuk Ramadan al-Buti di Suriah dan Yusuf al-Qaradawi di Qatar, mengecamnya. Bahkan ada penulis yang menerbitkan seribu halaman untuk mengkritik Shahrur. Oleh beberapa pengkritiknya yang agak awam, Shahrur dianggap marxis, sekuler, dan materialistik. Ini menimbulkan reaksi keras dari Nasr Hamid Abu Zayd, Tayyib Tizini, dan Tariq Ziyada yang malahan menganggap karya Shahrur kurang analisis marxis dan sekular-materialis. Tidak sedikit pula yang menerima Shahrur sebagai pemikir inovatif dan kreatif. Shahrur seperti terbimbing oleh hadis Nabi: “tidak ada kependetaan dalam Islam.”

Shahrur membuat kiasan untuk dirinya: dulu Copernicus berhasil merevolusi pandangan klasik Ptolemeus dari geosentris ke heliosentris, maka ia berusaha menggantikan tradisi panjang dari penafsiran Al-Qur’an yang beku. Gagasan reformatif sang penulis insinyur (al-katib al-muhandis) ini, menurut Rainer Nabielek (2000), serupa dengan Tesis Martin Luther yang dipaku di pintu gereja Wittenberg pada 1517, yang menandakan awal Reformasi Protestan. Nabielek menyebut Shahrur ein “Martin Luther” des Islam (Martin Luther dari dunia Islam).


==========

Redaksi Tirto kembali menampilkan rubrik khusus Ramadan "Al-Ilmu Nuurun". Tema tahun ini adalah para cendekiawan muslim global abad ke-20 dan ke-21. Kami memilih 33 tokoh untuk diulas pemikiran dan kontribusi mereka terhadap peradaban Islam kontemporer. Rubrik ini diampu kontributor Zacky Khairul Umam selama satu bulan penuh.

Zacky Khairul Umam adalah alumnus Program Studi Arab FIB UI dan kandidat doktor sejarah Islam di Freie Universität Berlin. Saat ini sedang menyelesaikan disertasi tentang pemikiran Islam di Madinah abad ke-17. Ia pernah bekerja sebagai peneliti tamu pada École française d'Extrême-Orient (EFEO) Jakarta 2019-2020.

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Zacky Khairul Umam
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Zacky Khairul Umam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight