tirto.id - Seperempat abad silam, dunia masih begitu berwarna. Mobil dan sepeda motor berwarna biru, merah, bahkan hijau toska, mudah ditemukan di jalan raya; restoran milik Pizza Hut didominasi warna merah; komputer milik Apple hadir dalam warna biru, hijau, oranye, merah, dan ungu; ponsel dipasarkan dengan banyak sekali warna, dari hitam sampai merah marun; bahkan tampilan situs web pun sangat kaya warna.
Namun, lambat laun, warna-warni itu (di)lenyap(kan). Kini, kita hidup di dunia yang nyaris monokrom. Warna hitam, abu-abu, dan putih, mendominasi. Inilah yang di internet dikenal sebagai "The Grayening". Kata tersebut tidak bermakna literal, melainkan menggambarkan situasi ketika objek-objek di dunia kehilangan warnanya dan beralih menjadi kelabu.
Itu bukan penyimpulan tak berdasar. Riset dari Science Museum Group di Inggris telah membuktikannya.
Pada 2020, mereka menganalisis lebih dari 7.000 koleksi foto benda sehari-hari, mulai dari kamera, telepon, hingga mesin telegraf, yang rentang periodenya membentang dari awal 1800-an hingga kini.
Hasilnya, warna paling umum ditemukan adalah abu-abu gelap. Warna itu muncul di lebih dari 80 persen foto yang diteliti.
Dalam banyak kasus, abu-abu gelap hanya menempati sebagian kecil dari keseluruhan piksel dalam satu foto. Namun, makin mendekati masa kini, makin banyak kemunculan abu-abu. Warna cokelat dan kuning, yang identik dengan material kayu dan kuningan, makin jarang terlihat. Peneliti museum menyimpulkan, benda-benda sehari-hari berubah jadi lebih abu-abu dan lebih kotak seiring berjalannya waktu.

Di industri otomotif, ada juga temuan data dari BASF Coatings. Menurut laporan warna tahunan edisi 2025, warna-warna netral seperti putih, hitam, abu-abu, dan perak, masih mendominasi produksi mobil baru di seluruh dunia.
Putih menyumbang 38 persen dari seluruh mobil baru yang diproduksi tahun itu, disusul hitam (23 persen), abu-abu (19 persen), dan perak (8 persen). Jika ditotal, keempat warna netral tersebut menguasai 88 persen pasar otomotif dunia, menyisakan hanya 12 persen untuk beragam warna lain.
Mengapa Dunia Kita Makin "Monoton"?
Salah satu jawaban paling meyakinkan datang dari sosiolog asal Amerika Serikat (AS), George Ritzer, lewat sebuah esainya berjudul "The McDonaldization of Society" (1983). Ia tidak pernah menyinggung soal warna, melainkan tentang cara masyarakat modern, dengan restoran cepat saji sebagai contoh utamanya, bergerak menuju bentuk rasionalisasi yang bertumpu pada empat prinsip, yaitu efisiensi, prediktabilitas, kalkulabilitas, dan kontrol.
Efisiensi berarti mencari cara tercepat dan termudah untuk mencapai suatu tujuan. Prediktabilitas berarti memastikan produk atau layanan akan selalu sama, di mana pun dan kapan pun. Kalkulabilitas berarti menekankan kuantitas yang bisa dihitung, ketimbang kualitas yang sifatnya subjektif. Sementara itu, kontrol berarti menggantikan keputusan manusia (yang tidak menentu) dengan sistem atau teknologi (yang lebih bisa diatur).
Ritzer memang tidak pernah menyinggung soal cat mobil atau logo perusahaan. Namun, kalau kita pinjam empat prinsip itu dan diterapkan terhadap dunia visual, semuanya jadi terasa pas.
Warna yang seragam lebih efisien untuk diproduksi massal karena tidak perlu banyak varian cat atau bahan baku. Warna netral lebih prediktabel karena tidak akan pernah terlihat aneh atau ketinggalan zaman. Warna netral juga lebih mudah dikalkulasi biayanya karena bahan bakunya, seperti kaca, beton, dan baja, secara alami memang berwarna abu-abu atau hitam. Dan yang terakhir, dengan warna seragam, perusahaan pusat bisa mengontrol tampilan produk atau gerainya secara ketat, tanpa perlu menyesuaikan diri dengan selera lokal yang berbeda-beda.
Teori lain yang bisa membantu kita memahami fenomena tersebut datang dari John Tomlinson, sosiolog media asal Inggris, lewat teori yang disebut imperialisme budaya. Teori itu menjelaskan, modernitas Barat menyebar ke seluruh dunia bukan lewat penjajahan militer, melainkan lewat penyebaran gaya hidup, produk, dan estetika, sehingga identitas lokal yang beragam perlahan tergantikan oleh keseragaman wajah global.
Jika kita meminjam kerangka berpikir Tomlinson, hilangnya warna di berbagai penjuru dunia bisa dibaca sebagai bagian dari proses yang lebih besar. Bukan cuma warna yang hilang, melainkan juga karakter lokal yang dulu melekat pada suatu produk atau bangunan.
Menariknya, kecurigaan terhadap warna, bahkan bisa dibilang antagonisme, bukanlah "barang" baru. Ia sudah ada jauh sebelum restoran cepat saji atau merek waralaba global bermunculan. Sejumlah filsuf dan arsitek besar di Barat, jauh sebelum era modern, sudah lebih dulu memandang warna sebagai sesuatu yang mencurigakan, bahkan berbahaya.
Filsuf Jerman, Immanuel Kant, dalam karya klasiknya Critique of Judgment (1790), memperkenalkan konsep "formalisme" dalam estetika. Bagi Kant, penilaian murni terhadap keindahan seharusnya didasarkan pada bentuk suatu objek, bukan pada warna atau daya tarik inderawi lain yang ia sebut sebagai charm. Warna, dalam pandangan formalisme Kant, dianggap sebagai unsur tambahan yang bisa mempercantik tampilan sebuah karya, tetapi tidak menyentuh esensi dari penilaian estetis yang sesungguhnya.
Jauh sebelum Kant pun, kecurigaan itu sudah ada. Kritikus seni David Batchelor, dalam bukunyaChromophobia, menelusuri bahwa budaya Barat sejak zaman Yunani kuno cenderung menomorduakan warna di hadapan garis dan bentuk.
Pandangan skeptis terhadap warna diteruskan oleh arsitek asal Austria, Adolf Loos, lewat pemikirannya yang termuat dalam esai "Ornament and Crime". Dalam pidato sekaligus esai itu, Loos menyatakan bahwa evolusi budaya sejatinya identik dengan hilangnya ornamen dari benda-benda fungsional, dan bahwa umat manusia modern seharusnya bangga karena sudah tidak lagi mampu, atau perlu, menciptakan ornamen baru.

Arsitek Swiss-Prancis, Le Corbusier, punya kisah tersendiri. Dalam catatan perjalanannya berjudul Journey to the East, ia sempat menikmati warna-warni benda dan pemandangan yang ia temui di Timur. Namun, begitu kembali ke jalur pemikiran yang lebih "rasional" dan melihat Acropolis di Yunani, ia menyimpulkan bahwa warna hanya cocok untuk "ras yang sederhana, petani, dan orang-orang biadab", lalu berikrar untuk "mengampanyekan cat putih".
Gagasan Loos itu memengaruhi sekolah desain Bauhaus, yang menjunjung tinggi kesederhanaan dan garis lurus. Dari situ, pengaruh tersebut menyebar ke gaya International Style yang mendominasi arsitektur global sejak 1930-an. Itulah gaya yang mengutamakan kaca, baja, dan beton--ketiganya nyaris selalu berwarna abu-abu.
Pelipur Lara Dominasi Warna Monoton
Di tengah semua data yang menunjukkan dunia makin kelabu, ada satu kabar yang mungkin bisa sedikit menghibur mereka yang merindukan warna. Kabar itu datang dari laporan tahunan BASF Coatings edisi 2025.
Menurut laporan tersebut, warna hijau justru menjadi warna kromatik yang mengalami pertumbuhan tercepat di seluruh dunia pada 2025. Hijau bahkan berhasil masuk ke jajaran tiga besar warna terpopuler secara global, hanya kalah dari biru dan merah, meski kedua warna itu sebenarnya sedang menurun dari tahun ke tahun. Merah, yang dulu sempat menjadi ikon warna otomotif, kini hanya menyumbang sekitar 3 persen dari total pasar dunia.
Jika laporan itu ditelusuri lebih dalam, khususnya pada bagian yang membahas kawasan AS, ada temuan yang juga layak diperhatikan. Di kawasan itu, pangsa pasar mobil berwarna (cat kromatik) naik hampir dua poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan itu bukan cuma disumbang oleh hijau. Warna-warna lain, seperti krem, cokelat, dan bahkan ungu, tercatat mulai mendapatkan momentum di kawasan AS. BASF menyebut tren tersebut sebagai pergeseran menuju estetika yang lebih terinspirasi alam dan beragam. Khusus ungu, sebetulnya jarang sekali disebut dalam pembicaraan soal tren otomotif belakangan, sehingga kemunculannya dalam laporan resmi relatif mengejutkan.
Di kawasan Eropa, Asia Barat, dan Afrika, tren serupa juga tampak, meski sedikit berbeda. Warna hijau di sana bahkan sudah berhasil melampaui warna merah dan mapan sebagai simbol individualitas serta kecanggihan bagi para pemilik mobil.
Sementara itu, di kawasan Asia Pasifik, dominasi warna akromatik macam abu-abu justru masih menguat, bahkan menunjukkan tren kenaikan. Namun, laporan itu tetap mencatat bahwa hijau di kawasan tersebut kian populer, dengan variasi corak yang meluas, mulai dari corak hijau muda segar hingga corak hijau alami yang lebih tradisional.
Lantas, apakah itu artinya warna-warni dunia akan hidup kembali? Tentu saja terlalu dini untuk memprediksinya. Akan tetapi, mari kita ambil contoh unik dari Indonesia.
Di Indonesia, salah satu warna cat yang paling murah bukanlah warna-warna netral seperti hitam, abu-abu, putih, beige, dan lain-lain, melainkan gecko green 'hijau tokek'. Itulah alasan warna tersebut sangat populer. Saking populernya, banyak orang yang jadi membenci dan menyebutnya sebagai warna "hijau miskin".
Awalnya, warna cat itu digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (MMD). Program tersebut melibatkan banyak pembangunan fisik, termasuk pengecatan rumah. Warna hijau tokek dipilih, konon, selain demi menonjolkan identitas ketentaraan, juga karena murah meriah. Dari situ, warna tersebut pun menjadi populer dan ditiru oleh masyarakat.
Popularitas "hijau miskin" sedikit-banyak bisa membantah argumen "efisiensi" di balik "The Grayening". Mengingat ada setidaknya belasan ribu warna yang terdaftar dalam sistem Pantone, ditambah lagi warna-warna "baru" yang muncul dari perpaduan warna-warna yang sudah eksis, mungkin tinggal menunggu waktu saja sampai ada warna-warna menarik lain yang mencuat, sekaligus membuat dunia tak lagi terasa begitu kelabu.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































