Menuju konten utama
Horizon

Mencari Jejak Bahtera Nabi Nuh

Jejak Bahtera Nabi Nuh kembali dicari di Formasi Durupınar, Turki. Sampel tanah, inti bor, dan fragmen tembikar diteliti, namun bukti kapal belum ditemukan.

Mencari Jejak Bahtera Nabi Nuh
Bahtera Nabi Nuh di Turki. x/@pw_gun
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di masa ketika manusia banyak berpaling dari kebenaran, Nabi Nuh dengan sabar mengajak kaumnya kembali kepada jalan yang benar. Namun hanya sedikit yang menerima seruannya. Atas kehendak Tuhan, Nabi Nuh diperintahkan membangun sebuah kapal besar sebagai persiapan menghadapi banjir dahsyat.

Ketika air meluap dari bumi dan hujan turun tanpa henti, Nabi Nuh menaiki kapal bersama para pengikut yang beriman serta berbagai makhluk hidup untuk menjaga keberlangsungan kehidupan. Kapal itu berlayar di tengah gelombang besar yang menenggelamkan daratan. Setelah masa yang ditentukan berlalu, banjir surut dan kapal berlabuh dengan selamat.

Dalam berbagai tradisi keagamaan terdapat perbedaan soal detail banjir besar, penyebabnya, jumlah hewan yang dibawa, lama hujan, ukuran kapal, hingga tempat kapal berakhir.

Kitab Kejadian menggambarkan hujan turun selama 40 hari dan 40 malam. Air terus meninggi sampai gunung-gunung pun tertutup. Nuh berada di dalam bahtera bersama keluarganya dan berbagai jenis hewan yang dibawa ke dalam kapal. Bahtera berhenti pada hari ketujuh belas bulan ketujuh di "Pergunungan Ararat". Bentuk bahasa Ibraninya adalah harê Ararat, sehingga teks tersebut tidak secara langsung menunjuk satu puncak bernama Gunung Ararat. Istilah Ararat berkaitan dengan wilayah Urartu di sekitar dataran tinggi Anatolia timur dan Danau Van.

Dalam Al-Qur’an Surat Hud ayat 40-44, Nabi Nuh diperintahkan membawa keluarganya serta pasangan dari berbagai makhluk hidup ke dalam bahtera. Ketika banjir datang, air disebut memancar dari bumi dan turun dari langit. Bahtera kemudian bergerak di tengah gelombang yang digambarkan seperti gunung. Salah seorang putra Nuh memilih berlindung di gunung dan menolak naik ke kapal, tetapi air akhirnya memisahkan mereka.

Ayat tersebut menyatakan bahwa bahtera berlabuh di al-Judi. Para mufasir awal seperti at-Tabari dan Ibnu Katsir mengaitkan al-Judi dengan sebuah gunung di wilayah al-Jazirah, kawasan Mesopotamia utara. Dalam tradisi geografis kemudian, al-Judi diidentifikasi dengan Cudi Dağı di Turki tenggara.

Oxford Classical Dictionary mencatat bahwa kisah serupa juga datang dari naskah kuno Mesopotamia, di mana manusia menghadapi banjir besar setelah keputusan Ilahi untuk menghancurkan kehidupan di bumi. Tokoh bernama Atrahasis dan Utnapishtim memperoleh peringatan dan membuat kapal untuk menyelamatkan dirinya serta makhluk hidup lain.

Dari Foto Udara hingga Formasi Durupınar

Pada 1959, seorang perwira militer Turki bernama İlhan Durupınar menemukan bentuk menyerupai kapal dalam foto udara ketika melakukan pemetaan kawasan Doğubayazıt. Formasi itu kemudian dikenal sebagai Durupınar.

Pada 1960, ekspedisi dikirim untuk memeriksa formasi itu. Para peneliti menggali dan memeriksa bagian dalam struktur yang tampak menyerupai kapal, tetapi tidak menemukan tinggalan arkeologis yang meyakinkan.

Dalam makalah Lorence G. Collins dan David Fasold (1996), hasil pemeriksaan awal itu digambarkan hanya menemukan tanah dan batuan. Mereka menyimpulkan bahwa formasi di dekat Doğubayazıt merupakan struktur geologi alami. Menurut analisis mereka, bentuk tersebut merupakan doubly plunging syncline, yaitu lipatan lapisan batuan yang melengkung dan menukik pada kedua ujungnya.

Penelitian itu juga memeriksa sejumlah benda yang sebelumnya dianggap sebagai bagian dari bahtera. Material yang diklaim sebagai komponen logam ditafsirkan sebagai konsentrasi alami limonit dan magnetit. Material yang dianggap sebagai kayu gopher membatu diidentifikasi sebagai peridotit metamorf. Sementara batu-batu "jangkar" di Kazan atau Arzap diidentifikasi sebagai andesit lokal, bukan batu yang berasal dari Mesopotamia.

Perhatian terhadap Durupınar kembali meningkat pada akhir 1970-an dan 1980-an melalui klaim Ron Wyatt, seorang pencari artefak Alkitab amatir. Wyatt menganggap sejumlah struktur dan material di lokasi tersebut sebagai bagian dari bahtera, termasuk apa yang disebutnya kayu membatu dan komponen logam.

Pada dekade yang sama, John Baumgardner dan geolog Turki M. Salih Bayraktutan melakukan serangkaian survei geofisika di Durupınar. Pada Juli 1987, mereka menggunakan ground-penetrating radar (GPR), magnetometer, dan seismograf untuk memeriksa struktur bawah permukaan. Laporan mereka mencatat sejumlah reflektor dalam hasil radar, termasuk sebuah reflektor berbentuk V yang dianggap perlu diteliti lebih lanjut.

Namun, data tersebut belum dapat memastikan apakah material di bawahnya merupakan batuan dasar atau sesuatu yang lain.

Sejak awal ditemukan, situs Durupınar berada di tengah perdebatan antara mereka yang melihatnya sebagai fenomena geologi dan mereka yang menganggap bentuk serta anomali bawah permukaannya sebagai petunjuk keberadaan bahtera.

Apa yang Dicari di Durupınar?

Pada 2026, tim internasional yang dipimpin arkeolog Prof. Cenker Atila dari Sivas Cumhuriyet University melakukan penelitian lapangan di Formasi Durupınar. Sekitar 20 ilmuwan dan mahasiswa dari lima negara terlibat dalam proyek yang dimulai pada 29 Juni dan berlangsung hingga September.

Berbeda dari penelitian sebelumnya yang menghasilkan sejumlah survei terpisah, proyek ini dirancang sebagai penelitian multidisipliner yang menggabungkan arkeologi, geologi, pemetaan dan analisis material. Proyek tersebut juga memperoleh izin resmi dari Pemerintah Turki.

Tim melakukan pemetaan dengan GPS berpresisi tinggi, membuat model digital dua dan tiga dimensi, serta menggunakan radar penembus tanah (ground-penetrating radar atau GPR). Sekitar 1.000 sampel tanah dari 150 lokasi dikumpulkan selama penelitian.

Pemindaian bawah permukaan menghasilkan sejumlah anomali dengan tepi relatif teratur, termasuk bagian yang saling berpotongan pada sudut siku-siku dan beberapa rongga. Tim menilai pola tersebut layak diperiksa lebih lanjut karena secara sekilas dapat menyerupai bagian dari struktur buatan.

Namun, hasil radar hanya menunjukkan perbedaan sifat material di bawah permukaan. Anomali tersebut belum dapat menentukan apakah yang terlihat merupakan struktur buatan manusia atau bentukan geologi. Karena itu, hasil pemindaian digunakan untuk memilih titik pengambilan sampel dan pengeboran.

Perbandingan awal juga menunjukkan perbedaan kandungan karbon. Menurut Atila, sampel dari bagian dalam memiliki kandungan karbon sekitar 40 persen lebih tinggi daripada sampel dari bagian luar. Tim menganggap perbedaan tersebut perlu diperiksa lebih lanjut karena dapat berkaitan dengan material organik. Namun, kandungan karbon yang lebih tinggi belum menunjukkan keberadaan kayu, apalagi membuktikan bahwa material tersebut berasal dari bahtera.

Pengeboran inti menjadi salah satu bagian penting penelitian tahun ini. Laporan terbaru menyebut pengeboran mencapai kedalaman hingga sekitar 18 meter, sementara inti tanah yang diperoleh dikirim ke Ankara untuk dianalisis. Salah satu sasaran utama adalah material organik yang mungkin terdapat di dalam sampel tanah dan inti bor.

Bahtera Nabi Nuh di Turki

Bahtera Nabi Nuh di Turki. x/@pw_gun

Para peneliti ingin mengetahui komposisi lapisan bawah permukaan dan mencari kemungkinan material yang dapat membantu mengetahui umur dan karakter formasi tersebut. Jika ditemukan material organik yang sesuai, analisis laboratorium, termasuk penanggalan radiokarbon bila materialnya memenuhi syarat, dapat digunakan untuk menentukan usianya.

Hingga laporan 24 September 2026, belum ada material yang teridentifikasi sebagai kayu Bahtera Nuh. Yang telah dikumpulkan adalah sampel tanah dan inti bor yang masih menjalani analisis laboratorium.

"Materi organik dan sisa-sisa kayu akan memberikan data yang sangat penting bagi kami," ujar Atila, dikutip dari Turkiye Today.

Tembikar, Bukan Kayu Bahtera

Di tengah penelitian terhadap material bawah permukaan Durupınar, sebuah temuan lain muncul. Tim peneliti menemukan fragmen tembikar selama musim penelitian 2026. Kepingan tersebut ditemukan bersama kegiatan pengambilan sampel tanah dan penelitian lapangan.

Temuan itu segera menarik perhatian karena beberapa laporan menyebutnya sebagai "tembikar sebelum banjir" (pre-Flood pottery). Istilah tersebut seolah-olah memberi kesan bahwa fragmen tanah liat itu berasal dari masa sebelum banjir dalam kisah Nabi Nuh.

Umurnya belum diketahui, dan belum ada bukti bahwa benda tersebut berkaitan dengan Bahtera Nuh. Laporan juga belum memberikan penanggalan maupun informasi tentang lapisan tanah tempat fragmen itu ditemukan dan kapan tertimbun.

Menemukan tembikar tidak sama dengan menemukan kapal. Artefak tersebut bisa saja menunjukkan bahwa manusia pernah beraktivitas di kawasan itu, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan asal-usul formasi Durupınar.

Dalam keterangan terbaru dari pihak proyek, inti bor disebut mengandung lapisan yang kaya material organik dan terdapat lapisan sangat keras yang diduga mungkin merupakan material kayu yang membatu. Namun, identitas material tersebut belum dikonfirmasi melalui analisis laboratorium.

Hasilnya diharapkan dapat membantu menjelaskan apakah anomali bawah permukaan yang terdeteksi sebelumnya berkaitan dengan struktur buatan manusia atau merupakan bagian dari formasi geologi alami.

Sampai penelitian 2026 berakhir, belum ada temuan yang dapat mengidentifikasi Formasi Durupınar sebagai Bahtera Nabi Nuh. Analisis sampel dan data penelitian akan berlangsung selama musim dingin, dengan hasil penelitian tahun pertama ditargetkan diumumkan pada 2027.

Baca juga artikel terkait ARKEOLOGI atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi