Menuju konten utama
Mozaik

Diplomasi Teripang dan Jejak Orang Makassar di Australia

Selama ratusan tahun, orang Makassar menjalin hubungan erat dengan suku asli Australia, jauh sebelum Barat menjajah. Jejaknya terabadikan hingga kini.

Diplomasi Teripang dan Jejak Orang Makassar di Australia
Header Mozaik Diplomasi Teripang- Jejak Orang Makassar di Australia. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Februari 1803, di tengah badai perairan timur laut Arnhem Land, Matthew Flinders, penjelajah Inggris yang tengah mengelilingi benua Australia, terkejut melihat armada besar di wilayah yang ia kira masih perawan dari dunia luar.

Waspada, ia menduga mereka bajak laut Cina dan segera memerintahkan awaknya bersiaga dengan meriam dan senapan. Ketegangan mereda ketika komunikasi terjalin lewat juru masaknya yang fasih berbahasa Melayu pasar.

Flinders lalu naik ke salah satu perahu dan bertemu dengan pemimpin armada, yang ia catat bernama Pobassoo. Pertemuan ini menjadi kontak terdokumentasi pertama antara otoritas kolonial Eropa dan pedagang Asia di perairan Australia.

Dengan tenang, Pobassoo menjelaskan bahwa ia merupakan satu dari enam kapten pencari teripang di kawasan itu. Sekitar 60 perahu beroperasi di sepanjang pantai musim itu, dengan total awak mencapai 1.000 orang. Pelayaran itu sudah berjalan rutin dalam waktu lama dan turun temurun.

Flinders akhirnya sadar, pantai utara Australia bukanlah tanah kosong seperti yang dibayangkan London.

Sejarah resmi Barat kerap menggambarkan Australia sebagai terra nullius (tanah kosong tak bertuan, sunyi, terputus dari dunia luar). Namun arsip kuno masyarakat Yolngu, sekelompok masyarakat Aborigin yang tinggal di Australia utara, menyimpan kisah tentang hubungan antara para pelaut Makassar dan penduduk asli.

Mereka bertukar logam dengan teripang, tembakau dengan cangkang penyu, sekaligus berbagi bahasa, cerita, dan budaya. Tradisi itu akhirnya melebur dalam lagu, tarian, dan seni rupa.

Dari Teripang, Mutiara, Hingga Kayu Cendana

Menurut Campbell Macknight, sejarawan dan antropolog Australia, dalam buku The Voyage to Marege: Macassan Trepangers in Northern Australia (2008), industri teripang (timun laut yang tampak tak menarik bagi mata awam, mulai masif pada tahun 1750–1780 di Australia utara sehingga mengundang pelaut Makassar untuk berburu

Namun, analisis seni cadas Aborigin di gua Arnhem Land menggambarkan, perahu Asia Tenggara telah hadir di sana pada tahun 1517-1664 (berdasarkan penanggalan radiokarbon pada lilin lebah yang menutupi salah satu lukisan). Artinya, kunjungan pelaut Nusantara terjadi jauh sebelum industri teripang abad ke-18.

Sejarah lisan Yolngu menambah bukti lain. Kisah tentang Bayini—kaum berkulit terang yang datang sebelum orang-orang Makassar—sering dikaitkan dengan pedagang suku Bajau atau kelompok maritim lain dari Nusantara.

Menurut Marshal Clark dalam buku Macassan History and Heritage: Journeys, Encounters and Influences (2013), Bayini digambarkan membawa keluarga, menenun kain di atas perahu, dan berinteraksi berbeda dengan penduduk lokal. Para pelaut datang sebagai tamu musiman yang mengikuti angin muson, lalu pergi ketika angin berganti.

Pendorong utama pelaut Nusantara melintasi Laut Timor itu tentu saja teripang, yang nilainya setara emas. Setiap Desember, ketika angin muson barat bertiup, ratusan perahu tradisional (padewakang) berlayar dari Makassar. Mereka membawa peralatan, beras, kelapa, dan barang dagangan. Setiba di Marege (pesisir Arnhem Land dan Teluk Carpentaria di Australia Utara), teluk-teluk berubah menjadi pusat industri.

Orang-orang Makassar mengajarkan pengolahan teripang kepada Yolngu, dari proses membersihkan hingga cara memasak yang benar (sehingga awet).

Pada pertengahan abad ke-19, armada Makassar memasok sekitar 900 ton teripang per tahun, sepertiga dari total permintaan Cina. Pantai utara Australia pun menjelma mata rantai vital ekonomi maritim Asia, jauh sebelum benua itu dikenal sebagai penghasil gandum atau wol.

Header Mozaik Teripang

Header Mozaik Teripang. tirto.id/Fuad

Meskipun teripang menjadi komoditas utama yang menggerakkan armada, pelaut Makassar tidak hanya bergantung pada satu hasil laut. Artikel bertajuk “The History of Makassan Trepang Fishing and Trade” menyebut, mereka juga berburu penyu, mutiara, dan kulit kerang. Perairan Kimberley dan Arnhem Land kaya tiram mutiara, dan orang Makassar, sering dibantu penyelam lokal, mengumpulkan kulit kerang berkilau untuk diolah menjadi kancing dan hiasan.

Para pelaut juga memanfaatkan cendana dan kayu keras sebagai komoditas utama. Cendana, dengan aroma wangi yang menenangkan, dijadikan dupa, ukiran, dan minyak wangi, sangat diminati di Cina serta India.

Karena perjalanan panjang dari Sulawesi kerap merusak bagian kapal, kayu keras juga vital untuk perbaikan perahu. Penebangan dilakukan atas izin dan kerja sama orang Yolngu. Sebagai imbalan, Makassar memberi kain, tembakau, dan besi—barang yang mengubah pola hidup masyarakat lokal.

Warisan Makassar Bagi Yolngu

Bukti kehadiran Makassar di Australia utara ada di situs arkeologi di Arnhem Land dan Kimberley. Salah satu yang paling luas dan terawat adalah Anuru Bay, atau dikenal sebagai Malara dalam sejarah lisan Makassar. Di lokasi ini, arkeolog memetakan sisa pabrik pemrosesan, termasuk tungku batu untuk merebus teripang.

Dinukil dari majalah Australian Archaeology edisi Desember 2014, di permukaan tanah Anuru Bay, ditemukan beberapa pecahan tembikar berserakan. Sebagian besar wadah tanah liat itu berasal dari Sulawesi Selatan, dibawa ribuan kilometer sebagai wadah air, makanan, atau barang dagangan. Begitu juga dengan pecahan kaca botol, paku besi berkarat, dan koin Belanda kuno.

Situs Port Essington di Cobourg Peninsula juga menyimpan lapisan sejarah Makassar. Sisa permukiman mereka berdampingan dengan reruntuhan kolonial Inggris, menciptakan palimpsest (manuskrip kuno) yang unik. Lukisan kulit kayu dari abad ke-19 menggambarkan detail perahu Makassar: layar tanja segi empat, rumah kemudi tinggi, dan tiangnya yang kokoh.

Peninggalan yang masih hidup dan paling tampak adalah pohon asam jawa. Di Darwin’s Gardens, misalnya, pohon asam tua masih berdiri, ditanam ketika para pelaut gagal mendapatkan teripang. Tanaman ini bukan flora asli Australia, melainkan dibawa pelaut Makassar sebagai bumbu masakan dan sumber vitamin C.

Kedatangan orang Makassar juga membawa revolusi teknologi bagi masyarakat Yolngu, terutama dalam mengenalkan logam, yang kemudian mengubah cara hidup mereka. Sebab, sebelumnya, masyarakat lokal hanya memanfaatkan alat dari batu, tulang, dan kayu.

Bahkan, lambat laun, dampak logam merambat ke ranah sosial dan budaya. Prestise seorang pria sering diukur dari kepemilikan alat besi.

Lepas dari bukti arkeologi, kedekatan orang Makassar dan Yolngu dapat dilihat dari warisan linguistik. Dalam Yolngu Matha (bahaya masyarakat Yonglu) terdapat ratusan kata serapan dari Makassar, Bugis, dan Melayu. Misalnya sebutan rupiya untuk merujuk pada uang, lipalipa (perahu), bunker (palka perahu, dari kata bungka), bandirra (bendera), jelang (jenis perahu, dari kata jolloro), serta jama (kerja berupah, dari bahasa Makassar). Bahkan, istilah balanda untuk orang kulit putih diserap oleh Yolngu sebelum mereka bertemu langsung dengan orang Eropa. Penamaan tempat pun dan ritual pun masih banyak menggunakan nama-nama atau istilah dari Makassar.

Kemampuan berbahasa Makassar menjadi tanda kebanggaan dan status di kalangan Yolngu. Antropolog Donald Thomson mencatat, pada 1930-an, pemimpin klan Wonggu Mununggurr kerap menyelipkan kalimat Makassar untuk menguji, bercanda, atau menunjukkan keakraban, seolah bahasa itu menjadi kode rahasia kaum elit berpengetahuan.

Tradisi keislaman Makassar juga meresap perlahan ke dalam spiritualitas Yolngu. Dalam ritual pemakaman dan upacara sakral, muncul entitas Walitha’walitha. Ian S. McIntosh (1996) mencatat, istilah ini diyakini sebagai adaptasi fonetik dari Allah Ta’ala. Namun bagi Yolngu, Walitha’walitha digambarkan sebagai roh pencipta atau leluhur yang duduk harmonis bersama totem tradisional seperti buaya dan hiu.

Gerakan ritual tertentu menyerupai salat, seperti sujud, membungkuk, menengadahkan tangan, disertai seruan mirip zikir, masih dikenali. Orientasi ke arah barat—arah kiblat sekaligus arah pulang ke Makassar saat matahari terbenam—juga masih diterapkan dalam tata cara pemakaman.

“Jika Anda pergi ke timur laut Arnhem Land, ada [jejak Islam] dalam lagu, ada dalam lukisan, ada dalam tarian, ada dalam ritual pemakaman,” ujar antropolog bernama John Bradley.

Ilustrasi kapal pelayar Makassar

Ilustrasi kapal pelayar Makassar. wikimedia/publik domain/ Institute of Aboriginal and Torres Strait Islander Studies

Hubungan dagang juga membuat beberapa orang Yolngu ikut berlayar ke Makassar bersama armada teripang saat angin muson berbalik. Mereka tinggal berbulan-bulan, menunggu musim berganti untuk pulang, atau menetap selamanya. Mereka-yang-kembali membawa cerita tentang keramaian pasar, rumah batu bertingkat, raja kaya, dan masyarakat beragam yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Kisah perjalanan ini terekam dalam lagu "Manikay" yang diwariskan turun-temurun. Ada yang menggambarkan detail pelabuhan Makassar, kilau uang perak, dan hiruk pikuk pasar. Sementara itu, bukti fisik kehadiran orang Aborigin di Makassar diabadikan dalam Arsip fotografi abad ke-19. Bukti itu meruntuhkan mitos kolonial bahwa Aborigin penakut laut.

Pajak dan Politik Supremasi Kulit Putih

Setelah ratusan tahun, perdagangan yang harmonis akhirnya terhenti akibat birokrasi kolonial yang dingin dan penuh curiga. Menjelang akhir abad ke-19, pemerintah kolonial Australia Selatan—yang saat itu mengelola Northern Territory—mulai memandang armada Makassar sebagai ancaman.

Pemerintah kolonial menilainya sebagai pelanggaran kedaulatan Inggris, jalur penyelundupan candu dan alkohol, serta kompetitor bagi industri teripang lokal yang ingin mereka kuasai. Sentimen rasisme, yang kemudian mengeras menjadi kebijakan White Australia, makin memperkuat sikap permusuhan terhadap pendatang Asia.

Pemerintah lalu memberlakukan pajak bea masuk dan lisensi penangkapan ikan yang mencekik. Pada 1880-an, pajak bahkan dikenakan pada bekal mereka (beras, arak, tembakau) hingga memicu protes keras Konsul Belanda di Adelaide.

Konsul menegaskan bahwa pelaut Makassar telah berdagang di sana jauh sebelum koloni Australia berdiri, sehingga tidak adil memajaki dan membatasinya. Namun, protes itu diabaikan.

Puncaknya, pada 1906 pemerintah melarang perahu Makassar berlabuh dan beroperasi di perairan Australia.

Tahun 1907 menjadi kunjungan terakhir armada Makassar ke Arnhem Land. Sumber pendapatan utama lenyap, dan sahabat lama tak pernah lagi muncul di cakrawala saat angin barat bertiup. Larangan ini memutus urat nadi ekonomi dan budaya yang telah menghidupi dua masyarakat selama berabad-abad.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin