Menuju konten utama
Mozaik

Jejak Seni Tertua Bukan di Eropa, Buktinya Ada di Sulawesi

Penemuan arkeologis di Pulau Muna menjadi antitesis terhadap narasi sejarah seni dunia yang diklaim lahir dari dunia Barat. Studi terbaru membuktikannya.

Jejak Seni Tertua Bukan di Eropa, Buktinya Ada di Sulawesi
Header Mozaik Jejak Seni Tertua. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, pada dinding gua Liang Metanduno, terpatri jejak tangan manusia purba yang kini dinobatkan sebagai seni cadas tertua di dunia. Usianya diperkirakan 67.800 tahun.

Masyarakat lokal sebenarnya sudah lama mengetahui keberadaan situs ini. Namun secara ilmiah, itu baru dibuktikan oleh para peneliti lewat jurnal Nature. Adhi Agus Oktaviana, arkeolog BRIN, bersama tim dari Griffith University dan Southern Cross University, menyingkap tabir sejarah yang lama terkunci.

Temuan menunjukkan simbol dan seni sebagai bukti kematangan berpikir manusia, jauh sebelum yang ditulis buku-buku sejarah konvensional.

Teka-teki Jari Misterius

Saat menelusuri garis merah di dinding Liang Metanduno, para peneliti menemukan cap tangan yang ganjil, sebuah jiplakan sederhana dari telapak tangan yang ditempel lalu disembur pewarna. Jari-jari itu tampak ramping, meruncing, menyerupai cakar binatang atau makhluk yang tak sepenuhnya manusia.

Para peneliti menyebutnya sebagai “jari runcing” atau narrow finger. Maxime Aubert, arkeolog dari Griffith University, menilai teknik khas jari tersebut sementara hanya ditemukan di Sulawesi.

“Ujung jari dibentuk ulang dengan hati-hati agar tampak runcing,” tutur Aubert, dikutip dari Aljazeera.

Adhi Agus Oktaviana dan tim menduga, sang seniman sengaja memanipulasi bentuk tangan saat penyemburan pigmen, atau melakukan retouch setelahnya. Ada kesadaran untuk mengubah anatomi manusia menjadi sesuatu yang lain, sebuah transformasi visual yang lahir dari imajinasi.

Pertanyaan pun muncul, mengapa mereka melakukannya? Para peneliti berspekulasi, itu terkait dengan hubungan spiritual manusia dan hewan; bisa jadi merupakan representasi kekuatan buruan, atau bagian dari ritual syamanistik ketika batas manusia dan alam liar melebur.

Adam Brumm, peneliti lainnya dari Griffith University, menambahkan, modifikasi jari menunjukkan lonjakan imajinasi simbolik. Di Muna, seniman purba bermain dengan realitas, menjadikan tubuh sebagai simbol penuh makna.

Keunikan lain muncul ketika ditemukan adanya cap tangan bercakar yang tersembunyi di balik lapisan lukisan lebih muda. Di dinding yang sama, ada gambar unggas (seperti ayam) serta manusia menunggang kuda, dibuat ribuan tahun kemudian. Liang Metanduno pun tampak sebagai kanvas suci, terus dikunjungi dan digambari ulang lintas generasi.

Penemuan Seni Cadas

Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN Adhi Agus Oktaviana saat melakukan riset penemuan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia 67.800 tahun di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. ANTARA/HO-BRIN

Para ilmuwan bisa memastikan usia cap tangan di Liang Metanduno berkat trik alam yang bekerja seperti jam. Pigmen cat purba memang sulit ditanggali langsung. Akan tetapi, lapisan mineral yang tumbuh di atasnya bisa menjadi penunjuk waktu yang akurat.

Di gua kapur lembap, air yang menetes membawa kalsium karbonat. Saat menguap, ia meninggalkan endapan kalsit yang menumpuk perlahan. Bentuknya berbintil-bintil, disebut coralloid speleothem, tetapi lebih akrab dikenal sebagai “popcorn gua”. Jika lapisan tersebut menutup lukisan, jelas lukisan sudah ada lebih dulu. Singkatnya, usia mineral menandai batas bawah umur karya seni itu.

Untuk membacanya, para peneliti memakai metode uranium-series. Kalsit gua mengandung uranium yang tak stabil, lalu meluruh menjadi torium. Karena torium tak larut dalam air, lapisan baru terbentuk nyaris tanpa torium. Seiring waktu, torium muncul sebagai jejak peluruhan. Rasio uranium dan torium itulah yang menjadi penanda usia.

Dengan laser ablasi, sampel mikroskopis diambil tanpa merusak lukisan. Analisis yang dilakukan Griffith University dan Southern Cross University menunjukkan, lapisan kalsit berumur sekitar 71.600 tahun. Itu berarti cap tangan di bawahnya berusia minimum 67.800 tahun.

Meski telah menyebut perkiraan usianya, para peneliti menekankan, lukisan tangan tersebut bisa saja jauh lebih tua, dibuat sebelum mineral pertama menutupinya, dan tersimpan di pigmen oker (pewarna dinding) yang melekat pada batu.

Mengubah Peta Sejarah Seni Dunia

Temuan di Sulawesi menggeser sejarah yang digaungkan sejak lama. Selama bertahun-tahun, narasi global tentang asal-usul kreativitas manusia sangatlah Eurosentris. Buku-buku teks dan kurikulum akademis sering kali berkiblat ke gua-gua di Eropa Barat, seperti Altamira di Spanyol atau Lascaux di Prancis, sebagai tempat kelahiran ledakan kreatif manusia.

Bahkan, menurut Journal of Archaeological Science (2025), cap tangan di Gua Maltravieso, Spanyol, yang berusia sekitar 66.700 tahun, memegang rekor sebagai seni cadas tertua yang dikaitkan dengan Neanderthal.

Namun, temuan di Pulau Muna lebih tua sekitar 1.100 tahun dari cap tangan di Spanyol. Bukti arkeologis itu juga lebih tua sekitar 16.600 tahun dibandingkan seni cadas yang sebelumnya ditemukan pada 2019 di kawasan karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, yang berusia sekitar 51.200 tahun.

Hal itu membuktikan bahwa ledakan kreativitas manusia tidak terjadi secara eksklusif atau tiba-tiba di Eropa pada Zaman Es. Lain itu, jejak di Muna menunjukkan, seni sudah menjadi bagian alami dari Homo sapiens, dibawa sejak mereka meninggalkan Afrika, atau mungkin bahkan sudah ada jauh sebelumnya.

Cap tangan di Liang Metanduno lantas menjadi petunjuk perjalanan manusia menuju Sahul, daratan purba yang menyatukan Australia, Papua, dan Tasmania, saat laut masih surut. Perdebatan tentang waktu manusia pertama tiba di benua selatan berlangsung lama. Studi yang kerap diperdebatkan di Nature pada 2017 menunjukkan kehadiran manusia sekitar 65.000 tahun lalu.

Jika manusia sudah ada di Sulawesi sekitar 68.000 tahun lalu dan cukup mapan untuk menciptakan seni cadas, masuk akal jika mereka mencapai Australia beberapa ribu tahun kemudian. Sulawesi, di jantung Wallacea, menjadi batu loncatan strategis menuju timur.

Para peneliti menegaskan, para pembuat lukisan di Muna mungkin bagian dari gelombang populasi yang sama yang terus bergerak hingga ke Sahul. Mereka menyeberangi pulau-pulau Wallacea, lalu tiba di pantai utara Sahul, menjadi leluhur orang Aborigin dan Papua modern.

Penemuan lukisan di Muna memperkuat teori “jalur utara”, bahwa nenek moyang orang Sahul berangkat dari Kalimantan, menyeberang ke Sulawesi, Maluku, lalu ke Kepala Burung Papua, sebelum menyebar ke seluruh daratan.

Sulawesi kala itu tetap terpisah oleh laut-dalam dari Asia maupun Sahul. Fakta manusia sudah ada di sana hampir 70.000 tahun lalu membuktikan mereka pelaut ulung. Mereka mampu menyeberangi garis Wallace dengan arus laut ganas, rintangan yang tak bisa dilewati hewan besar Asia.

Manusia di Balik Pigmen Oker

Siapa sebenarnya para seniman misterius di Liang Metanduno? Walaupun fosil tubuh mereka tak ditemukan di situs tersebut, jejak yang tertinggal mengarah kuat pada Homo sapiens. Teknik stensil “jari cakar” yang rumit, pilihan gua yang spesifik, dan konteks kedatangan manusia modern di Nusantara, mendukung dugaan itu.

Namun, Sulawesi menyimpan sejarah hunian yang panjang. Pulau tersebut pernah dihuni pembuat alat batu di Talepu ratusan ribu tahun lalu. John Hawks, ahli paleoantropologi, bahkan menduga ada kemungkinan kehadiran Denisovan, kerabat misterius manusia yang jejak genetiknya masih hidup pada populasi Asia Tenggara dan Oseania. Hawks keberatan dengan hasil penelitian yang menunjukkan kehadiran manusia modern.

“Aku tidak setuju. Tradisi penandaan tersebar luas di kalangan hominin Pleistosen. Dalam jaringan interaksi antar-pulau dan antar-kelompok hominin, saya berharap transfer pengetahuan dan tradisi dapat mengambil jalan yang mengejutkan,” tukasnya di situs web pribadinya.

Terlepas dari siapa mereka, tradisi seni gua di Muna berlapis-lapis. Dari cap tangan di Liang Metanduno, yang berusia 67.800 tahun, sampai jejak peradaban lebih muda, seperti lukisan ayam dan manusia serta figur manusia. Dinding gua merekam transisi besar, dari pemburu-pengumpul nomaden menjadi masyarakat yang menetap.

Motif Perahu pada Gua

Motif perahu pada gua-gua di kawasan karst Pulau Muna. KTI/Kemdikbud/Adhi AGus

Kiwari, keberadaan situs seni cadas di Sulawesi, termasuk Pulau Muna, menghadapi ancaman kelestarian. Perubahan iklim global menjadi musuh tak kasatmata. Peningkatan suhu dan pergeseran pola cuaca mempercepat pengelupasan dinding gua. Garam dalam batuan mengkristal, mendesak permukaan hingga pecah dan rontok, menyeret lukisan berharga yang menempel di atasnya. “Popcorn gua”, yang dulu melindungi, kini rapuh oleh lingkungan yang tak stabil.

Ancaman lain datang dari manusia. Kawasan karst Sulawesi sering dijadikan target pertambangan semen dan marmer. Perluasan perkebunan kelapa sawit mengubah iklim mikro gua, merusak keseimbangan suhu dan kelembapan yang menjaga lukisan selama puluhan ribu tahun. Debu, getaran, dan perubahan tata air tanah akibat industri, mempercepat kerusakan sebelum sempat dipelajari tuntas.

Ada harapan bahwa Liang Metanduno dan kawasan karst sekitarnya mendapat pengakuan, entah status Cagar Budaya atau Warisan Budaya UNESCO. Dengan begitu, perlindungannya dapat terjamin. Apalagi, bagi para peneliti, penemuan di Pulau Muna hanyalah awal. Mereka berencana kembali ke lapangan, menelusuri hutan dan sungai, mencari gua lain yang mungkin menyimpan rahasia lebih tua.

Baca juga artikel terkait ARKEOLOGI atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin