Menuju konten utama
Mozaik

Sejak Ribuan Tahun Silam, Papua Bukan Tanah Kosong

Temuan kepurbakalaan baru-baru ini membuktikan jejak manusia di Raja Ampat sekaligus peran kuncinya dalam migrasi manusia ke wilayah Pasifik.

Sejak Ribuan Tahun Silam, Papua Bukan Tanah Kosong
Tetua Adat Kampung Kapatcol Yoseph Weutot (tengah) bersama Petuanan Adat Yohanis Hey (kanan) dan Alex Mangar (kiri) melarung pon fapo saat prosesi Tradisi Buka Sasi di Perairan Misool, Distrik Misool Barat, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Papua bukan tanah kosong. Meski kiwari tergolong salah satu pulau besar berpenduduk paling sedikit, Papua memegang peran kunci dalam migrasi manusia dari Eurasia ke Pasifik, ribuan tahun lampau.

Para arkeolog telah menemukan jawaban mengenai kapan manusia pertama tiba di Nusantara, yakni 80.000-60.000 tahun lalu. Namun, migrasi kelompok Australomelanesid ke Pasifik masih menjadi perdebatan, terutama terkait waktu dan jalurnya.

Baru-baru ini, para arkeolog menemukan bukti bahwa Raja Ampat, kepulauan kecil yang disebut-sebut sebagai "surga terakhir Indonesia", memegang peran krusial dalam migrasi tersebut.

Raja Ampat telah diakui oleh para ahli sebagai jalur kunci migrasi manusia pertama ke Pasifik. Lokasinya yang strategis menjadikannya pintu masuk penting menuju Sahul, benua kuno yang menghubungkan Papua dan Australia.

Raja Ampat, Salah Satu Hunian Tertua Manusia di Pasifik

Para peneliti internasional dari Inggris, Austria, Australia, Jerman, Filipina, Selandia Baru, AS, Papua Nugini, Jepang, Italia, dan Indonesia, berhasil membuktikan keberadaan Homo sapiens di Papua Barat jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Penelitian yang terbit di jurnal Antiquity (Volume 98, Issue 400, Agustus 2024) itu menyebut, jejak eksistensi manusia di Papua Barat ditemukan di pulau terbesar di Raja Ampat, yakni Pulau Waigeo, tepatnya di Gua Malolo.

Gua Malolo merupakan gua batu kapur raksasa yang membentang hingga 100 meter di tengah hutan hujan tropis. Istilah dalam nama malolo bermakna 'tempat pertemuan arus' dalam bahasa Ambel, bahasa yang dituturkan oleh masyarakat setempat.

Di gua tersebut, para arkeolog menemukan jejak-jejak kehidupan manusia, mulai dari arang, cangkang, tulang hewan, hingga pecahan batu. Penanggalan radiokarbon yang dilakukan mengonfirmasi usia artefak tersebut mencapai 55.000 tahun.

Salah satu temuan paling menarik adalah potongan resin berukuran lebar 13,5 milimeter yang tampak sengaja dipotong dan diambil dari pohon. Karakteristiknya sama sekali tidak menunjukkan bahwa resin tersebut keluar secara alami.

Setelah dianalisis, para arkeolog berkesimpulan bahwa resin yang ditemukan itu merupakan hasil pengolahan yang kompleks: memotong kulit pohon, membiarkan resin mengeras, lalu membentuknya sehingga mudah dipakai. Mereka juga menduga, resin itu digunakan sebagai bahan bakar api, pewangi, atau perekat, mirip praktik di Papua Barat abad ke-20.

Penemuan artefak resin dan terkaan mengenai metode pembuatannya membuktikan bahwa Homo sapiens yang menghuni Papua Barat, tepatnya Raja Ampat, sudah berkemampuan mengolah bahan dari alam untuk kebutuhan mereka. Itu juga menjadi bukti yang menguatkan untuk membantah anggapan bahwa mereka primitif.

Penggalian di Raja Ampat juga menemukan tulang hewan dan cangkang kerang. Itu membuktikan, para penghuni gua mampu bertahan hidup dengan berburu burung, marsupial, dan kelelawar buah, sambil memanfaatkan sumber daya laut. Strategi bertahan hidup mereka sangat fleksibel: menggabungkan berburu di hutan dengan mencari makanan di pesisir.

Bukti dari Gua Mololo memperlihatkan adaptasi luar biasa Homo sapiens di lingkungan pulau tropis yang menantang. Mereka bukan hanya pelaut ulung, tapi juga ahli strategi yang mengembangkan ekonomi spektrum luas untuk bertahan di ekosistem beragam dengan sumber daya terbatas.

Rute Migrasi Utara ke Sahul

Tidak hanya bukti modernitas Homo sapiens yang ditemukan di Gua Malolo. Penggalian di wilayah Raja Ampat itu juga membuktikan bahwa manusia modern awal telah menggunakan jalur migrasi utara menuju Pasifik lebih dari 50.000 tahun silam. Rute ini melewati kepulauan Raja Ampat di barat laut Papua, yang menjadi koridor penting menuju benua Sahul.

Teori migrasi jalur utara tersebut berbeda dengan temuan Chris Clarkson dan kolega pada 2017. Sebelumnya, bukti arkeologis menunjukkan, Homo sapiens bermigrasi lewat rute selatan, melalui Jawa-Bali-Timor kemudian menyeberang ke Australia Utara.

Temuan di Gua Mololo sekaligus mengubah status rute utara dari sekadar hipotesis menjadi teori yang terkonfirmasi secara arkeologis. Raja Ampat kini menjadi mata rantai yang hilang dalam memahami penyebaran manusia awal ke Pasifik.

Keberadaan Homo sapiens di kepulauan Raja Ampat menunjukkan kemampuan maritim yang luar biasa. Meski teknologi perahu masih sederhana, para pelaut Paleolitik memiliki pengetahuan mendalam tentang arus laut untuk mencapai pulau-pulau yang tak terlihat dari daratan.

Homo sapiens masa itu ternyata sudah menjadi pelaut ulung yang mampu menjelajahi kepulauan dengan sengaja. Menurut makalah Daud Aris Tanudirjo, penelitian yang dilakukan oleh Erwin Doran dan Wahdi Waruno menunjukkan bahwa pelaut Austronesia mengembangkan teknologi perahu dari rakit bambu sederhana hingga kano tunggal, kemudian kano ganda menggunakan teknik ruang istirahat. Kapal-kapal ini berevolusi menjadi kapal bercadik ganda.

Para pelaut purba di Papua Barat bukan sekadar ahli maritim. Mereka juga sangat adaptif dalam memanfaatkan berbagai sumber daya, baik di darat maupun laut. Kemampuan serbaguna inilah yang memungkinkan mereka bertahan di lingkungan pulau yang baru dan terisolasi. Mereka bahkan berhasil melewati Wallacea, zona peralihan antara fauna Asia dan Australia, untuk mencapai daratan Sahul melalui Pulau Gebe di Maluku Utara.

Jejak perpindahan manusia modern awal dari Papua menuju Sahul dapat dilihat dari temuan arkeologis di Pulau Gebe. Di salah satu gua bernama Golo tersimpan sejumlah artefak yang membuktikan kehidupan manusia dalam periode 28.000 hingga 12.000 tahun lalu. Letaknya hanya 60 meter dari pantai barat laut pulau.

Seturut catatan Peter Bellwood dalam bukunya, Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia (2000:279), Gua Golo menyimpan alat-alat canggih seperti batu koral untuk memasak, beliung dari cangkang kerang tridacna dan hippopus berusia 12.000 tahun, salah satu alat cangkang laut tertua buatan Homo sapiens.

Temuan di situs tersebut didominasi oleh moluska laut dan alat cangkang, serta sedikit sisa ikan dan kail, yang menunjukkan bahwa manusia di zaman itu punya strategi khusus memanfaatkan sumber daya laut lokal. Mereka juga meninggalkan tembikar dan artefak tulang.

Penggunaan artefak cangkang kemungkinan bukan sekadar untuk bertahan hidup, tapi juga simbol status dan prestise, tanda budaya yang sudah kompleks.

Gua Golo bahkan mendahului temuan Raja Ampat dalam hal usia alat cangkang. Bersama situs-situs lain di Wallacea, jaringan ini membuktikan pemukiman manusia awal yang saling terhubung, masing-masing dengan strategi adaptasi uniknya.

Posisi Gebe yang berada di antara Halmahera dan Papua membuatnya menjadi lokasi ideal untuk persinggahan. Bersama situs lain seperti Kepulauan Aru (28.000 tahun lalu), Gebe membuktikan betapa pentingnya pulau-pulau Maluku sebagai jalur migrasi menuju Australia.

Keberhasilan pelayaran antarpulau menunjukkan bahwa Homo sapiens yang hidup di sana sangat memahami arus, angin, dan teknik navigasi. Fondasi keterampilan itulah yang kemudian berkembang menjadi teknologi pelayaran yang lebih maju pada budaya Austronesia, lengkap dengan kano bercadik dan sistem layar yang canggih.

Kerusakan Situs Sejarah

Penambangan nikel yang marak belakangan ini mengancam situs bersejarah Indonesia, termasuk Gua Golo di Pulau Gebe. Sejak 2020, aktivitas tambang telah merusak wilayah adat, kebun, dan tempat-tempat sakral masyarakat setempat. Hampir semua situs arkeologi di area konsesi tambang Halmahera Tengah, termasuk Gebe terancam rusak parah.

Dampak serupa terjadi di Raja Ampat. Walau Gua Mololo belum dilaporkan hancur, penambangan nikel memicu kerusakan lingkungan masif: tanah longsor, sedimentasi pesisir, kerusakan terumbu karang, dan deforestasi.

Selain dampak terhadap lingkungan, tampak kaki tambang nikel juga berimpak langsung pada kehidupan masyarakat setempat. Sebagaimana temuan arkeologis Cambridge University di atas, sejak puluhan ribu tahun lampau, masyarakat bergantung pada hasil hutan. Tanpa mengeruk apa pun jauh dari dalam tanah, mereka mampu mempertahankan kelestarian hutan hujan di wilayahnya hingga saat ini.

Perubahan lingkungan akibat industri ekstraktif juga bakal menciptakan ancaman tak langsung bagi situs arkeologi. Erosi meningkat, habitat terdegradasi, dan iklim mikro berubah. Semua berpotensi merusak integritas situs bersejarah dan menghambat penelitian masa depan.

Operasi tambang nikel di Raja Ampat dan Pulau Gebe telah memicu kerusakan lingkungan masif yang dampaknya menyebar hingga ke negara tetangga. Air laut yang sebelumnya jernih berubah keruh akibat racun dan logam berat yang dilepaskan ke ekosistem.

Pencemaran meluas jauh melampaui lokasi tambang, dari Tawi-Tawi Filipina hingga berpotensi mencapai Great Barrier Reef Australia. Di Gebe, racun menyebar sampai Halmahera, sementara deforestasi menyebabkan longsor lumpur yang mengendap di laut dan menekan terumbu karang.

Hutan bakau yang vital untuk perlindungan pantai dan penyerapan karbon ikut ditebang. Limbah tambang mengancam sumber air bersih hingga Papua Nugini dan Selat Torres Australia, bahkan ketika air bersih sudah langka sejak lama.

Krisis perikanan memaksa nelayan melaut lebih jauh, memicu ketegangan sosial. Masyarakat kehilangan mata pencarian tradisional dan terpaksa menghadapi kesulitan ekonomi atau pindah, mengganggu tatanan budaya. Perubahan hidrologi dan kimia tanah mempercepat pembusukan bahan organik serta mengaburkan lapisan stratigrafi.

Ketidakstabilan sosial-politik menghambat penelitian arkeologi masa depan, memutus potensi penemuan baru tentang pemukiman Sahul dan sejarah manusia di kawasan tersebut.

Baca juga artikel terkait RAJA AMPAT atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin