Menuju konten utama

Sugiyanto & Potret Muram Deretan Koran di Kota Yogyakarta

Dulu aroma tinta korannya bisa menyekolahkan tiga anak. Kini, Sugiyanto harus puas meski merasa kurang rezeki yang didapati.

Sugiyanto & Potret Muram Deretan Koran di Kota Yogyakarta
Sugiyanto (50) yang sedang mengendalikan setang sepeda tua itu. Dia menembus dinginnya pagi Kota Yogyakarta dari kediamannya di daerah Gondolayu. foto/ cahyo purnomoedi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kayuhan sepeda berwarna hitam itu seirama dengan derak rantainya yang termakan usia. Guliran itu dipacu Sugiyanto (50) yang sedang mengendalikan setang sepeda tuanya. Dia menembus dinginnya pagi dari kediamannya di daerah Gondolayu, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta.

Dalam keranjang belakang sepeda, tumpukan kertas beraroma tinta segar menanti takdir hari ini. Kertas-kertas itu adalah tumpukan koran dari berbagai media massa baik nasional maupun lokal.

Sembari bersiul kecil dan melempar senyum hangat pada tetangga yang disapanya, kayuhan kaki Sugiyanto mantap mengarah ke satu titik yakni Jalan Jenderal Soedirman Nomor 18. Jarak tempuh dari rumah ke lokasi mengais nafkah itu tak sampai 1,5 kilometer.

Tempat Sugiyanto berjualan benar-benar di tengah Kota Yogyakarta. Bahkan, jaraknya dengan ikon Kota Gudeg, Tugu Pal Putih, hanya 100 meter.

Sugiyanto

Sugiyanto (50) yang sedang mengendalikan setang sepeda tua itu. Dia menembus dinginnya pagi Kota Yogyakarta dari kediamannya di daerah Gondolayu. foto/ cahyo purnomoedi

Setibanya di lokasi, Sugiyanto segera menambatkan sepedanya pada sebuah pagar rumah tua dengan angka 18 berwarna oranye. Jemari yang terampil mulai menata lembar demi lembar kabar dunia. Butuh waktu sekitar 15 menit baginya untuk menyulap pagar itu menjadi etalase berita dari berbagai lini media.

​Usai tatanan korannya rapi, Sugiyanto mengambil tempat duduk. Di depannya, deru mesin kendaraan di pusat Kota Yogyakarta mulai bersahut-sahutan memecah keheningan pagi.

​Di antara bising lalu lintas, sesekali langkah pejalan kaki melintas di atas trotoar. Pandangan mereka sempat tertuju pada deretan judul berita yang dipajang Sugiyanto. Namun, kerap kali lirikan itu berlalu begitu saja tanpa ada jemari yang merogoh kocek untuk membawa pulang lipatan kabar.

"Ya begini, sepi sekarang jualan koran," ucap Sugiyanto di sela hening, Jumat (31/7/2026).

Sudah lebih dari 15 tahun, Sugiyanto menjadi pelapak media cetak di Jalan Jenderal Soedirman 18. Sebelumnya sempat berjualan di tempat lain, namun akhirnya memilih bertahan di lokasi saat ini. Sugiyanto menyebut dirinya sudah 25 tahun berjualan koran di Kota Yogyakarta.

Ingatan Sugiyanto kemudian melayang ke dekade 90-an, era emas ketika aroma tinta koran bak wewangian yang dicari banyak orang setiap pagi. Kala lembaran-lembaran kertas mengepulkan dapur rumah tangganya. Juga, rupiah dikumpulkan mampu membesarkan tiga buah hatinya hingga lulus Sekolah Menengah Atas.

​"Dulu sempat merasakan masa jayanya koran. Bisa buat hidup layak dan menyekolahkan tiga anak saya,” lontarnya.

Namun binar mata Sugiyanto segera hilang, sadar betapa kenangan sudah kontras dengan kenyataan di hari ini.

"Sehari paling banyak cuma bisa jual 20 koran saja. Itu kalau pas ramai. Kalau lagi sepi, ya kurang dari itu. Sehari dapat Rp50 ribu saja rasa sudah senang," ungkap Sugiyanto.

“Kalau sekarang? Hasilnya cuma cukup buat makan hari ini saja. Kalau pas sepi, bahkan kurang," keluh Sugiyanto.

Sugiyanto

Sugiyanto (50) yang sedang mengendalikan setang sepeda tua itu. Dia menembus dinginnya pagi Kota Yogyakarta dari kediamannya di daerah Gondolayu. foto/ cahyo purnomoedi

​Sugiyanto menyadari bahwa zaman sudah berubah. Layar kaca ponsel pintar yang kini digenggam hampir setiap orang perlahan menelan popularitas tumpukan koran dagangannya di pagar tua. Masyarakat kini lebih memilih menggulirkan layar telepon ketimbang membalik lembaran kertas.

"Sekarang orang-orang pada baca berita lewat handphone," kata Sugiyanto.

Meski begitu, Sugiyanto tak berniat melempar handuk. Di usianya yang berkepala lima, berjualan koran bukan sekadar pilihan profesi, melainkan satu-satunya keterampilan yang ia miliki untuk menautkan hidup.

Anak-anaknya kini telah 'mentas', mengarungi bahtera rumah tangga mereka masing-masing. Sementara Sugiyanto, memilih untuk terus berdiri di atas kakinya sendiri.

​"Ya bisanya cuma ini, Mas. Anak-anak sudah berkeluarga semua. Saya cari duit sendiri, buat makan sendiri saja. Yang penting bisa bertahan hidup dan tetap ada penghasilan halal," tutup Sugiyanto.

​Di bawah naungan bayang-bayang Tugu Yogyakarta, Sugiyanto tetap duduk setia di samping sepedanya. Menunggu satu dua orang yang mungkin masih rindu akan sensasi membaui aroma kertas berita dan kemudian membeli koran yang dijajakannya.

Baca juga artikel terkait KORAN atau tulisan lainnya dari Cahyo PE

tirto.id - News Plus
Kontributor: Cahyo PE
Penulis: Cahyo PE
Editor: Siti Fatimah