tirto.id - Bagi Dadang, 35, dari Karawang ini, sahabat istri direken macam bacem tempe saja. Ny. Etik, 30, sering main ke rumahnya untuk curhat pada istri, eh...malah di-‘currr’ sekalian. Ketika tahu HP miliknya ‘digeledah’ istri, Dadang langsung ngaku saja bahwa pernah mesum dengan Etik. Katanya, ‘tapi baru sekali kok!’
Itulah cerita yang tayang di 'Nah Ini Dia', salah satu rubrik harian Pos Kota edisi 9 April 2021 dengan gaya khasnya. Kolom ini menampilkan kisah kriminal ringan, perselingkuhan, hingga konflik rumah tangga dengan gaya jenaka, satire, dan kadang vulgar. Dari sini, kita bisa membaca dinamika sosial kota, perkembangan bahasa populer, serta bagaimana media membentuk dan merefleksikan gender dan moralitas.
Saat koran besar sibuk dengan politik dan bahasa intelektual, Pos Kota justru menunduk, menyorot gang sempit dan rumah petak tempat drama rakyat kecil berlangsung. Rubrik 'Nah Ini Dia' menjadi ikon yang melekat pada identitasnya. Ia bak cermin retak yang memantulkan hasrat, ketakutan, dan humor masyarakat yang terus bernegosiasi antara tradisi dan modernitas di Ibu Kota.
Lahir dari Kejayaan Koran Kuning
'Nah Ini Dia' berdiri dalam tradisi panjang jurnalisme koran kuning (Yellow Journalism) yang sejak abad ke-19 telah memikat pembaca di pelbagai belahan dunia. Membandingkannya dengan praktik internasional memperlihatkan betapa universalnya selera manusia terhadap berita kriminal dan skandal.
Di Amerika Serikat, istilah koran kuning lahir pada 1890-an dari persaingan Joseph Pulitzer dan William Randolph Hearst. Keduanya mengandalkan judul bombastis, ilustrasi mencolok, serta fokus pada kejahatan dan skandal seks untuk mendongkrak tiras.
Seperti Pos Kota yang menampilkan komik Doyok atau Ali Oncom, istilah Yellow Journalism berasal dari komik strip populer The Yellow Kid. Bedanya, di AS jurnalisme kuning punya dampak politik besar, bahkan dituduh memicu Perang Spanyol–Amerika. Sementara di Indonesia, 'Nah Ini Dia' lebih berfungsi sebagai katup sosial, hiburan yang jarang menyentuh agenda politik makro.
Harian Pos Kota lahir sebagai jawaban atas kondisi sosial Jakarta di awal Orde Baru. Didirikan pada 14 April 1970 oleh Harmoko bersama Jahja Surjawinata, Tahar S. Abiyasa, dan Pansa Tampubolon, Pos Kota sejak awal membawa visi "jurnalisme rakyat".
Seturut antropolog Lukman Solihin, Harmoko yang kala itu masih wartawan dan kartunis, turun langsung ke pusat keramaian seperti Tanjung Priok, Jatinegara, Tanah Abang, dan Senen. Dari survei lapangan itu, ia menemukan bahwa masyarakat akar rumput merasa jauh dari berita politik yang berat. Mereka lebih ingin membaca kisah kriminal di lingkungan mereka, ketidakadilan hukum, gosip seksualitas, olahraga, dan hiburan.
Strategi menyasar "wong cilik" terbukti jitu. Edisi perdana hanya 3.500 eksemplar, tapi dalam hitungan bulan, oplah melonjak menjadi 30 ribu hingga 60 ribu per bulan. Pos Kota tampil dengan gaya visual mencolok, huruf besar, warna merah, foto dan ilustrasi dominan. Tata letak yang kacau justru memikat mata pembaca yang lelah, membuat koran ini mudah dikonsumsi di terminal bus atau warung kopi.
Dominasi Pos Kota mencapai puncaknya pada 2005. Survei Nielsen menempatkannya sebagai koran dengan penjualan terbesar di Indonesia, menembus 600 ribu eksemplar dengan 2,5 juta pembaca. Angka itu bahkan melampaui Kompas, menegaskannya sebagai bagian dari konsumsi utama masyarakat.
Memasuki era digital, Pos Kota meluncurkan versi online. Meski medium berubah, jiwa koran tetap sama.
Membedah 'Nah Ini Dia'
Gunarto Tjakra Sutino (TS), sang pengampu 'Nah Ini Dia', merupakan wartawan senior yang bergabung dengan Pos Kota pada 1977. Ia yang punya latar belakang sebagai guru agama serta pengalaman di media berbahasa Jawa seperti MingguanKembang Brayan Yogyakarta, jadi penulis tunggal rubrik ini.
'Nah Ini Dia' yang dimulai pada November 1987, awalnya bermula dari kolom lama bernama 'Singkat Daerah' yang berisi berita-berita unik dan pendek sekitar 6-7 baris. Saat itu, Wakil Pemimpin Redaksi Pos Kota, Saiful Rahim, mengganti namanya menjadi 'Nah Ini Dia' secara spontan dan meminta Gunarso menulis ulang dengan gaya humoris.
"Edisi berikutnya langsung saya ganti gaya tulisannya. Ternyata respons pembaca bagus. Akhirnya sampai sekarang 'Nah Ini Dia' terus ada," tutur Gunarso dalam wawancara dengan Vice Indonesia.
Menurut Gunarso, pada tahun 1992 survei yang dilakukan oleh litbang grup Pos Kota menyebut bahwa dua rubrik unggulan Pos Kota yang memiliki rating tinggi adalah 'Nah Ini Dia' dan 'Doyok' yang diasuh kartunis Keliek Siswoyo.
Rubrik 'Nah Ini Dia' merupakan genre yang memadukan fakta dengan gaya penceritaan fiksi. Kekuatan utamanya ada pada pola berulang yang memberi rasa akrab, namun tetap menyelipkan kejutan lewat variasi kasus dan permainan bahasa.
Setiap cerita biasanya dibuka dengan pengenalan tokoh yang digambarkan secara stereotipikal. Gunarso mengakui nama tokohnya memang sengaja disamarkan, sebab menurutnya pernah ada kejadian Pos Kota dituntut pemilik nama sebesar 7,5 juta rupiah pada tahun 1990-an.
Dalam rubrik itu, pria hidung belang muncul dengan metafora seperti "tua-tua keladi" atau "mesin tua yang baru diservis". Kerap dilekatkan pada figur terhormat seperti Pak RT atau aparat.
Sementara perempuan penggoda digambarkan lewat tubuhnya, dengan istilah seperti "bodi gitar Spanyol" atau "janda kembang". Menurut D. Mahmudah dalam Jurnal Studi Ilmu Komunikasi dan Media (2012), tujuan penggunaan istilah ini untuk menjustifikasi secara naratif, mengapa tokoh pria kemudian "khilaf" atau tergoda.
Pengenalan itu lantas menempatkan pembaca pada konflik siapa yang sah, siapa yang menyimpang. Untuk menggambarkan sosok perempuan dalam cerita, kata Gunarso, inspirasinya datang dari sosok yang ia taksir saat zaman sekolah di Pendidikan Guru Agama dulu.
Pada bagian berikutnya menampilkan inti cerita, mulai perselingkuhan atau tindakan asusila. Karena batasan etika, adegan seksual tak pernah ditulis gamblang. Sebagai gantinya, bahasa metaforis digunakan dengan kreatif.
Dunia otomotif, kuliner, hingga olahraga menjadi sumber eufemisme. Istilah "turun mesin", "mencicipi sayur lodeh tetangga", atau "mencetak gol" membuat teks aman dari sensor, tapi justru lebih merangsang imajinasi pembaca dewasa.
Puncak cerita hampir selalu berupa penggerebekan. Kata ini muncul berulang sebagai ritual penutup. Warga, hansip, atau pasangan sah hadir sebagai eksekutor moral.
Seturut riset BRIN bertajuk "Social Criticism on 'Nah Ini Dia' Rubric in Poskota Online Newspaper" (2023), fungsi penggerebekan berlapis, dari hukuman sosial, komedi slapstick, sekaligus resolusi konflik. Pelaku dipermalukan, berlari terbirit-birit, atau bersembunyi di kolong ranjang. Adegan ini menutup cerita dengan ironi sekaligus tawa.
Riset tersebut juga menyebut ciri paling menonjol 'Nah Ini Dia' ialah campuran gaya tutur antara bahasa Indonesia dan dialek daerah. Kata-kata seperti naksir, bini, ngutang, sembrono, doyan, dan sejenisnya yang menjadi kosakata standar. Kombinasi itu memberi kesan spontan dan egaliter, meruntuhkan jarak hierarkis.
Seorang pejabat atau orang kaya yang digambarkan dengan bahasa kasar saat ketahuan selingkuh, langsung diturunkan derajatnya menjadi manusia biasa yang konyol. Kedekatan ini membuat pembaca yang didominasi kelas pekerja urban, merasa bahasa koran adalah bahasa mereka sendiri, memvalidasi identitas budaya yang jarang mendapat ruang di media arus utama.
Judul-judul 'Nah Ini Dia' juga punya estetika khas, menyerupai puisi jalanan. Rima dan asonansi membuatnya menarik, ambiguitas memancing penasaran, ironi menyoroti kontradiksi status dan perilaku, sementara metafora mengganti kata vulgar dengan ungkapan halus. Hasilnya adalah judul yang tampak sopan di permukaan, tapi tetap nakal dan penuh daya tarik.
Rubrik Serupa di Media Lain
Posisi 'Nah Ini Dia' semakin jelas ketika dibandingkan dengan rubrik serupa di sejumlah media Indonesia lainnya. Perbandingan ini menampilkan spektrum jurnalisme, dari yang sensasional hingga intelektual.
Koran Lampu Merah (kemudian menjadi Lampu Hijau) adalah versi lebih ekstrem dari genre yang dirintis Pos Kota. Jika 'Nah Ini Dia' masih menjaga struktur cerita dengan metafora, Lampu Merah justru menabrak aturan dengan judul panjang, vulgar, dan bombastis.
Filosofinya pun berbeda. Pos Kota tetap memberi pesan moral di akhir cerita, sementara Lampu Merah merayakan absurditas tanpa pretensi. Pos Kota ibarat paman yang bercanda jorok tapi menasihati, Lampu Merah seperti teman mabuk yang berteriak di jalan.
Beda lagi dengan harian Kompas melalui rubrik 'Pojok Mang Usil' yang menunjukkan perbedaan kelas sosial. 'Pojok Mang Usil' hadir sebagai satire intelektual, menyindir kebijakan pemerintah atau korupsi dengan humor yang membutuhkan literasi politik.
Rubrik lainnya ialah 'Om Pasikom' yang diciptakan kartunis senior GM Sudarta. Kompas menggunakan gaya aman pada dua rubrik itu untuk bertahan di era otoriter, mengkritik tanpa memancing pemberedelan.
Sebaliknya, 'Nah Ini Dia' fokus pada moralitas individu dan peristiwa mikro, dengan sentuhan lelucon kasar. Kritiknya bukan pada negara, melainkan pada tetangga serakah atau suami tak setia.
Di Jawa Timur, Jawa Pos punya rubrik 'Mr. Pecut'. Formatnya terdiri dari pernyataan berita dan komentar singkat yang menyentil isu hangat. Jika 'Nah Ini Dia' menarasikan ulang peristiwa menjadi cerita tiga babak, 'Mr. Pecut' tetap berada di ranah editorial, menjadi suara redaksi yang langsung menyorot fenomena aktual.
Dengan perbandingan ini, 'Nah Ini Dia' terlihat sebagai bagian dari tradisi jurnalisme populer yang menekankan hiburan dan kontrol moral komunitas, berbeda dari satire politik Kompas atau komentar editorial Jawa Pos.
Di luar negeri, paralel menarik muncul di Inggris. The Illustrated Police News sejak 1864 menyajikan berita pembunuhan sadis, serangan binatang, hingga kecelakaan tragis dengan ilustrasi grafis. Seperti Pos Kota, ia menyasar kelas pekerja dan sering dicap bacaan murahan.
Tabloid modern seperti News of the World dan The Sun melanjutkan tradisi ini dengan skandal seks, olahraga, dan kriminalitas. Kasus eksposur pesta seks bos F1, Max Mosley, menunjukkan obsesi yang sama terhadap perilaku menyimpang figur publik.
Di sisi lain, majalah satire Private Eye menyindir proses hukum dengan humor, mirip cara 'Nah Ini Dia' menertawakan aparat, meruntuhkan wibawa institusi lewat komedi.
Di Prancis, tradisi berita aneka ragam (fait divers) menyoroti kejadian aneh, kriminalitas, dan kecelakaan. Roland Barthes melihatnya sebagai mitologi modern, di mana pembaca mencari hubungan antara takdir, karakter, dan peristiwa. Rubrik 'Nah Ini Dia' bisa dibaca sebagai fait divers versi Jakarta, di mana takdir berupa penggerebekan selalu menanti mereka yang dianggap lemah moral.
Dengan perbandingan tersebut, jelas bahwa 'Nah Ini Dia' merupakan bagian dari arus global jurnalisme populer yang menyalurkan rasa ingin tahu, ketakutan, sekaligus hiburan masyarakat.
Ketahanan rubrik 'Nah Ini Dia' selama lebih dari lima dekade menunjukkan bahwa ia menjawab kebutuhan psikologis mendalam pembacanya. Ada rasa kenikmatan melihat orang lain tertimpa kesialan (schadenfreude), terutama ketika mereka melanggar norma. Pembaca merasa lebih bermoral dan aman dibanding tokoh dalam cerita.
Di tengah kehidupan urban Jakarta yang sering kacau dan tanpa norma jelas, 'Nah Ini Dia' menghadirkan kepastian moral. Kejahatan selalu terbongkar, perselingkuhan selalu berakhir dengan penggerebekan. Narasi ini memberi rasa keadilan semu sekaligus menjadi mekanisme peringatan: jangan macam-macam, nanti masuk Pos Kota.
Bagi kelas pekerja yang lelah, Pos Kota menawarkan tawa terjangkau. Leluconnya menjadi pelepas tekanan ekonomi dan sosial, menghadirkan hiburan di sela rutinitas sehari-hari.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































