Menuju konten utama
Round Up

Kasus Yurizal dan Komen Nirempati Nakes: Etika Dipertanyakan

Gego menilai para tenaga kesehatan seharusnya tidak mencaci pasien, melainkan memberikan pemahaman terkait pengetahuan di bidang kesehatan.

Kasus Yurizal dan Komen Nirempati Nakes: Etika Dipertanyakan
Yurizal Tri Chaerawan. instagram/hilperd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Seorang pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan dikabarkan meninggal setelah diduga terlambat ditangani saat berobat ke sebuah rumah sakit. Ia telah menanti 8 jam untuk bisa mendapatkan ruangan pada 22 Juli 2026. Namun, sebelum meninggal dunia, Yurizal mendapat banyak komentar nirempati dari dokter dan tenaga kesehatan (nakes) saat menyampaikan keluhannya di media sosial.

Kabar Yurizal meninggal diumumkan sepupunya, Hilda Aprianti Perdana, melalui akun media sosial milik Yurizal pada Sabtu (1/8/2026). Dalam kabar duka yang diunggah Hilda, Yurizal disebut meninggal dunia pada 31 Juli lalu.

“Selamat jalan ya, Wi. Semoga husnul khotimah. Semoga diberikan tempat terbaik di sisi Allah,” tulis Hilda.

Kabar duka ini kemudian menjadi perhatian warganet secara luas. Sebab, Yurizal sempat menceritakan pengalamannya tak kunjung dapat ruangan untuk berobat di rumah sakit beberapa hari sebelum meninggal.

“8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake BPJS,” tulis Yurizal melalui akun Threads miliknya @yurizaltrich.

Akan tetapi, unggahan itu rupanya menjadi sumber duka yang berlapis bagi keluarga Yurizal. Sebelum wafat, curhatan Yurizal itu telah ditanggapi dengan sinis dan nirempati oleh berbagai akun yang sebagiannya berasal dari komentar-komentar akun yang dimiliki para dokter dan nakes. Sejumlah tenaga kesehatan hingga dokter turut serta memberikan komentar yang tidak pantas.

Beberapa di antaranya memberikan penjelasan dengan nada menghakimi, sementara yang lain mengejek Yurizal dan mengoloknya agar cepat meninggal jika ingin cepat ditangani.

Salah satu akun yang memberi penjelasan dengan nada menghakimi itu adalah pemilik akun @bennychrstn. Ia memberikan penjelasan tentang prosedur pemberian ruangan bagi pasien di rumah sakit, namun ia menulis dengan nada yang merendahkan.

“Kalo full, mau dipindahkan ke mana? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak BPJS yang make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri. Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong. Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha bantuin, masyarakatnya malah gini,” tulis akun @bennychrstn.

Usai ditilik dari informasi terbuka tentang akun tersebut, @bennychrstn merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dalam unggahan Instagram yang ditemukan warganet, @bennychrstn tampak pernah menjadi mahasiswa Departemen Kardiologi di UI.

Ada pula akun @erudarahaadini yang mengolok Yurizal. Dalam komentarnya, pemilik akun tersebut tidak memberikan penjelasan prosedural medis, tetapi hanya sekadar mengolok pasien tersebut.

“PP-nya kayak orang Have tapi aslinya Haven’t kah? Haven’t some brain cells,” tulisnya, menyebut Yurizal sebagai orang yang sel otaknya tak lengkap karena mengeluh di media sosial.

Komentar Nirempati di Threads Yurizal

Komentar nirempati di utas Threads milik mendiang Yurizal. Threads/Sunyidibaliksenyum

Warganet juga menemukan bahwa akun @erudarahaadini rupanya seorang dokter. Pemiliknya diduga adalah dr. Elda Putri Rahardini, seorang alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) dan penerima beasiswa LPDP.

Cemoohan juga diutarakan pemilik akun @1amdika. Pemilik akun ini mencemooh Yurizal dengan menyarankan pasien untuk sakit jantung jika ingin cepat ditangani.

“Serangan jantung mas nek pingin cepet, IGD langsung Cathlab terus budal ICU,” katanya dengan menyarankan agar Yurizal sakit jantung agar segera mendapat penanganan di ICU.

Pemilik @1amdika diduga merupakan lulusan program Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip). Ia juga diduga merupakan lulusan program profesi Ners di universitas yang sama.

Cemoohan nirempati lainnya diutarakan pemilik akun @nandafadyla_. Ia tak memberikan penjelasan terkait prosedur medis, tetapi hanya mencemooh Yurizal karena telah berkeluh kesah tentang dunia medis di internet.

“Bacot nih pasien,” tulisnya singkat.

Usai ditelisik informasi terbuka terkait pemilik akun tersebut, @nandafadyla_ rupanya merupakan seorang dokter bernama Renanda Maulidya Fadyla. Ia tercatat pernah bekerja di RSUD Inche Abdoel Moeis di Samarinda.

Komentar Nirempati di Threads Yurizal

Komentar nirempati di utas Threads milik mendiang Yurizal. Threads/Sunyidibaliksenyum

Mungkinkah Pemberian Sanksi?

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menanggapi mengenai peristiwa tersebut. Kemenkes menyayangkan perbuatan para nakes, meski komentar itu dilontarkan melalui akun media sosial pribadi.

"Kami menyayangkan adanya komentar-komentar seperti itu di sosmed. ⁠Terkait adanya dugaan pelanggaran etika, publik bisa menyampaikan pengaduan ke KKI (Konsil Kedokteran Indonesia) sebagai lembaga yang membina named/nakes," ucap Jubir Kemenkes, Widyawati, saat dikonfirmasi, Selasa (4/8/2026).

Sementara itu, dokter sekaligus legal konsultan dari Universitas Katolik Soegijapranata, Gregorius Yoga Panji Asmara, menilai bahwa seorang tenaga medis telah menjalani sumpah profesi sejak awal. Artinya, apapun yang dilakukan tenaga medis setelah sumpah itu dijalani, maka setiap perbuatan secara langsung maupun di media sosial tetap harus mengikuti aturan yang berlaku.

Terlebih, dalam konteks Kode Etik Kedokteran Indonesia yang terbaru di tahun 2025, termasuk juga berbagai hal terkait dengan media sosial sudah diberikan panduannya. Sehingga, dia menilai bahwa sanksi harus diberikan.

"Dalam konteks ini, kode etik itu tidak hanya bicara tentang cita-cita atau harapan yang dianggap baik seperti apa, tetapi juga berlaku sebagai code of conduct, pedoman berperilaku. Sehingga sangat penting menindak tegas hal-hal tersebut," tutur pria disapa Gego kepada reporter Tirto, Selasa (4/8/2026).

Menurut Gego, jika para nakes itu memiliki penilaian sendiri atas dasar pengetahuannya, maka bukan cacian yang seharusnya dilakukan. Dia menilai, perbedaan pemahaman justru di sanalah peran nakes atau named (tenaga medis) untuk kemudian punya bahasa yang membumi sehingga dapat menjadi seseorang.

"Saya kira pengetahuan yang dimiliki secara kompetensi tentu lebih paham. Namun, tingginya keilmuan, pemahaman terhadap suatu hal tertentu bukan menjadi suatu alasan kemudian katakanlah untuk merendahkan pihak lainnya," kata Gego.

Ilustrasi Dokter dan Perawat

Ilustrasi Dokter dan Perawat. FOTO/iStockphoto

Baca juga artikel terkait TENAGA KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Ayu Mumpuni

tirto.id - GWS
Reporter: Ayu Mumpuni
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Andrian Pratama Taher