Menuju konten utama
Mozaik

Pejabat VOC Korupsi, Malah Dapat Promosi dan Bagi-Bagi Jabatan

Upaya melindungi terduga koruptor bukanlah hal baru di Nusantara. Di masa lalu, ada pejabat VOC yang tanpa malu memperolehnya. Namanya Arent Gardenijs.

Pejabat VOC Korupsi, Malah Dapat Promosi dan Bagi-Bagi Jabatan
Header Mozaik Pejabat VOC Korupsi. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Salah satu penyebab cerai-berainya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada 1799 adalah korupsi. Utang mereka mencapai 136,7 juta gulden di masa itu, yang cukup membikin mereka bangkrut. Lebih-lebih, mereka punya tanggungan banyak demi kebutuhan perang.

Lebih dari satu abad menjajah Indonesia, VOC meraup keuntungan luar biasa besar dari bisnis dagang di Nusantara. Namun di ujung tanduknya, kelenaan para pejabatnya berkontribusi atas merajalelanya korupsi. Budaya buruk korupsi dan nepotisme menjadi momok yang menghancurkan.

Menurut sejarawan Susan Blackburn, dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun (2011), penyalahgunaan kekuasaan itulah salah satu faktor hancurnya VOC.

“Orang-orang Eropa yang merupakan pejabat VOC di wilayah koloni berpartisipasi dalam bisnis ilegal yang menyebar luas yang menggerogoti monopoli VOC dan keuntungannya. Sebagian dana yang didapatkan dari usaha-usaha pribadi pegawai VOC yang menyelundupkan barang dagangan mereka ke dalam kapal-kapal perusahaan itu kemudian digunakan untuk membangun kediaman-kediaman mewah di luar kota,” tulis Blackburn.

Pada masa VOC, upaya pemberantasan korupsi memang pernah ditempuh. VOC sempat membuat komisi antikorupsi bernama Hoge Commissie. Namun, lembaga tersebut tak berumur panjang. Dibentuk pada 23 Mei 1791, lembaga itu sudah bubar pada 23 September 1799.

Arent Gardenijs, Terduga Korupsi yang Justru Beroleh Promosi

Umumnya, ketika seorang pejabat terciduk korupsi, pihak berwenang menghukum mereka. Namun, ada seorang pejabat yang, karena koneksinya, justru mendapat promosi, bahkan membagi-bagikan jabatan kepada orang lain. Dia adalah Arent Gardenijs, Gubernur Jenderal Pantai Coromandel pada 1632.

Dari keterangan Erik Odegard dalam Patronage, Patrimonialism, and Governors’ Careers in the Dutch Chartered Companies, 1630-1681: Careers of Empire (2022: 159), Gardenijs sempat dipanggil ke Batavia belum lama ketika menjabat gubernur jenderal. Pemanggilan itu dilatarbelakangi tuduhan terkait perdagangan pribadi yang dilakukannya lewat ekspedisi Coromandel dengan Batavia.

Namun, pemanggilan itu tak berarti apa-apa sebab Dewan Kehakiman Batavia tak menjatuhkan vonis apa pun untuknya.

Bukannya jera, dua tahun kemudian, tepatnya pada 1634, Gardenijs kembali melakukan persekongkolan dagang.

Anehnya, meski Gardenijs terseret korupsi penggelapan dana dua kali, dia kembali dibebaskan dan masih melanjutkan karier di VOC. Pemanggilannya ke Batavia pun terdengar serupa sandiwara karena inspeksi dan pemeriksaan kasusnya berlangsung sangat cepat. Ada dugaan bahwa kuasa dan koneksi yang Gardenijs miliki menjadi modal penting menangkis segala macam tuduhan kepadanya.

Analisis W. Wijnaendts van Resandt, dalam De gezaghebbers der Oost-Indische Compagnie op hare buiten-comptoiren in Azië (1944: 93), menyatakan, Gardenijs memiliki koneksi kuat sebab dia menikah dengan Geertruyt Buys, saudara perempuan dari istri Gubernur Jenderal Jacques Specx (1629-1632). Hubungan keluarga itu disinyalisasi melindungi Gardenijs dari hukuman.

Pada Oktober 1632, sebelum pemanggilan kasus korupsi pertamanya ke Batavia, Gardenijs menulis surat kepada Specx. Ia memberitahu gubernur jenderal VOC tersebut bahwa putrinya Sara telah menikah dengan Pendeta Georgius Candidus.

Tak cuma itu, Gardenijs juga menulis tentang bongkar pasang personel di Pantai Coromandel. Upaya tersebut dianggap sebagai strategi memuluskan langkah penggelapan perdagangannya.

“Pedagang Barendt Pietersz dan Carel Reyniers akan dikirim ke Batavia pada kesempatan pertama karena, ‘kami tidak dapat memastikan seberapa besar loyalitas dan upaya yang pedagang lain berikan kepada Perusahaan VOC,” dikutip dari manuskrip Nationaal Archief, “Collectie Sweers—1.10.78, inv. No. 5”.

Selepas berita penangkapan Gardenijs sampai di Belanda, Philip Lucas dan Specx segera menghubungi para direktur VOC di Batavia. Keduanya berpendapat bahwa penangkapan Gardenijs tidak mencerminkan “pelanggaran ringan” yang dilakukannya. Dalihnya, ada pejabat lain yang melakukan pelanggaran lebih berat dari Gardenijs—tanpa menyebut kasusnya—tetapi tidak dihukum sesuai peraturan di masa itu.

Setelah lobi para direktur di Batavia, sekonyong-konyong permintaan pembebasan dan pengembalian jabatan untuk Gardenijs dikabulkan oleh Dewan Kehakiman Batavia.

Sementara itu, menurut Alfons van der Kraan dalam “A Baptism of Fire: The van Goens Mission to Ceylon and India (Part 1)” yang termuat di The Great Circle, Vol. 21, No. 1 (1999), pengusutan kasus yang menjerat Gardenijs besar kemungkinan berkaitan dengan pergantian gubernur jenderal VOC di Batavia.

Pada September 1632, masa jabatan Jacques Specx habis dan setelahnya digantikan oleh Hendrik Brouwer (1632-1636).

“Hal ini dapat dipahami, sebab besarnya pengaruh hubungan kekerabatan di antara pejabat VOC tak hanya membantu mereka untuk mendapatkan jabatan penting dan strategis, tetapi juga melindungi mereka dari berbagai kemungkinan buruk yang berkaitan dengan aktivitasnya di wilayah koloni,” tulis Van der Kraan.

Tak heran bilamana ketika salah satu pion mereka kesandung kasus, para patron yang mengendalikan kekuasaan lebih tinggi berusaha melindunginya. Sebab, mengganti pion itu dengan pion lain akan berisiko besar bagi bisnis mereka selanjutnya. Selain itu, belum tentu penggantinya memiliki kapasitas loyalitas sepadan.

Gardenijs memang sempat dicopot dari jabatannya sebagai Gubernur Jenderal Coromandel setelah korupsinya yang kedua. Akan tetapi, dia justru mendapat promosi menjadi wakil komandan di Ambon pada 1635, kemudian kembali lagi ke Coromandel sebagai gubernur pada periode 1638-1643.

Korupsi yang Diwariskan

Saat menjabat sebagai Gubernur Jenderal Coromandel di periode pertama, Gardenijs pernah mempekerjakan akuntan junior guna menjadi asistennya. Namanya Rijckloff van Goens.

Rijckloff mengenal Gardenijs setelah dihubungkan oleh pamannya, Boycke Boyckes van Goens.

Rijckloff sebenarnya tahu bahwa dirinya bekerja di bawah komando koruptor yang picik. Namun bukannya mempersoalkan, ia justru seolah turut “menikmati” korupsi yang dilakukan Gardenijs.

“Ia [Rijckloff] justru menampilkan foto yang memuji Gardenijs dalam memoarnya. Gardenijs mungkin membantunya mendapatkan pekerjaan sebagai asisten di gudang setelah kembali ke Batavia, mengingat Gardenijs baru meninggalkan Batavia menuju Ambon pada tahun berikutnya,” tulis Erik Odegard (hlm. 160).

Rijckloff Volckertsz van Goens

Rijckloff Volckertsz van Goens. FOTO/id.wikipedia.org

Karier Rijckloff cukup moncer sejak ikut Gardenijs. Atas rekomendasi tuannya, ia dengan cepat naik pangkat, menjadi pegawai perusahaan non-resmi di Batavia dengan gaji 12 guilder per bulan pada 1636.

Pada Oktober 1642, Rijckloff dipromosikan ke posisi pedagang (koopman). Lalu, pada Februari 1645, ia menjadi kepala sementara kantor pembayaran di Batavia (soldijcomptoir). Pada tahun selanjutnya, dia diangkat menjadi kepala dagang di Batavia.

Rijckloff adalah pendamping setia Gardenijs. Ketika Gardenijs dipanggil ke Batavia berulang kali karena kesandung korupsi, Rijckloff tak pernah absen membersamai tuannya.

Memoar “Rijckloff van Goens” dalam surat kabar Oost en West edisi 23 Oktober 1948 menyebut, Rijckloff bekerja untuk Gardenijs sampai 1634.

Di Batavia untuk waktu yang lama, Rijckloff berprofesi sebagai seorang penjaga buku di gudang-gudang milik VOC. Ia dikenal sebagai seorang ahli bahasa ulung, dan karena itu pemerintah berulang kali mengangkatnya sebagai utusan kehormatan untuk negosiasi dagang.

“Dari Juli hingga September ia menjadi kepala kedutaan besar untuk Palembang, Jambi dan Johor. Dari September 1649 hingga Januari 1650, [ia] bekerja sama dengan Raja Siam dan antara tahun 1649 dan 1654 ia melakukan 'perjalanan istana' yang sulit dan berbahaya ke Mataram lima kali,” demikian dikutip dari memoarnya.

Puncaknya, Rijckloff diangkat sebagai anggota Dewan Kehakiman Batavia pada 1649 dan mengukuhkan diri sebagai Dewan Luar Biasa Hindia Belanda pada 1654. Dengan kata lain, ia adalah pejabat serba bisa yang boleh jadi selalu “dapat diandalkan”.

Baca juga artikel terkait SEJARAH VOC atau tulisan lainnya dari Abi Mu'ammar Dzikri

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Abi Mu'ammar Dzikri
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin